byakuya
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 46894
- Sejak
- 25 Jun 2008
- Pesan
- 14.460
- Nilai reaksi
- 288
- Poin
- 83
Pada bulan September 2009 lalu, harga rata-rata minyak mentah Indonesia mengalami penurunan sebanyak USD5,4 per barel. Yakni menjadi USD67,07 per barel jika dibandingkan dengan bulan Agustus yang sebesar USD72,47 per barel.
Hal tersebut seperti yang terungkap dalam situs resmi Ditjen MIgas, Minggu (4/10/2009).
Sedangkan harga Minas/SLC bulan September mencapai USD68,91 per barel, turun sebanyak USD6,31 per barel dari USD 75,22 per barel.
"Penurunan harga minyak mentah Indonesia tersebut sejalan dengan penurunan harga minyak mentah utama di pasar internasional yang diakibatkan beberapa faktor," tuturnya.
Beberapa faktor tersebut antara lain laporan Energi Information Administration (EIA) mengenai peningkatan stok minyak mentah komersial, gasoline dan distillate fuel oil Amerika Serikat yang cukup signifikan dan rendahnya tingkat pengoperasian kilang minyak AS, Eropa, dan Jepang yang mencapai level terendah dalam 20 tahun terakhir. Hal itu diakibatkan rendahnya marjin kilang, rendahnya permintaan produk minyak terutama AS setelah berakhirnya driving season, serta dimulainya masa pemeliharaan berkala kilang minyak untuk beralih memproduksi heating oil sebagai persiapan menjelang musim dingin.
Selain itu, meningkatnya perkiraan suplai minyak mentah dunia oleh beberapa lembaga analis pasar, antara lain OPEC memperkirakan suplai minyak mentah Non OPEC untuk tahun 2009 meningkat sebesar 0,34 juta barel per hari menjadi 50,81 juta barel per hari yang dihasilkan dari peningkatan produksi dari lapangan-lapangan baru. International Energy Agency (IEA) dalam laporan bulan September 2009 mengatakan, suplai minyak mentah OPEC pada bulan Agustus 2009 mengalami peningkatan sebesar 55.000 barel per hari menjadi 28,9 juta barel per hari yang dihasilkan dari peningkatan produksi Nigeria, Venezuela, dan Angola.
Menurunnya tingkat kepatuhan anggota OPEC terhadap kesepakatan pengurangan produksi menjadi 66 persen dari sebelumnya 68 persen, akibat peningkatan produksi sebesar 1,4 juta barel per hari yang melebihi kesepakatan produksi yang telah ditetapkan dan milisi Movement for Emancipation of Niger Delta (MEND) memperpanjang gencatan senjata dengan pemerintah Nigeria selama 30 hari sehingga produksi minyak mentah Nigeria lebih stabil.
Untuk kawasan Asia Pasifik, penurunan harga minyak mentah juga disebabkan masih melemahnya permintaan produk minyak untuk industri di Cina dan menurunnya impor minyak mentah Jepang yang merupakan konsumen energi ketiga terbesar dunia sebesar 12,4 persen, dibandingkan tahun sebelumnya. Hal lainnya adalah dioperasikannya kembali reaktor nuklir stasiun Fukushima Daiini milik TEPCO.
Berikut ini adalah harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional pada bulan September 2009 dibandingkan bulan sebelumnya.
WTI (Nymex) turun USD1,67 per barel dari USD71,14 per barel menjadi USD69,47 per barel. Brent (ICE) turun USD4,91 per barel dari USD73,06 per barel menjadi USD68,15 per barel. Tapis (Platts) turun USD6,52 per barel dari USD76,28 per barel menjadi USD69,76 per barel. Basket OPEC turun USD4,11 per barel dari USD71,35 per barel menjadi USD67,24 per barel.
apakah presiden sby berani menurunkan harga bbm kita lihat saja??
Hal tersebut seperti yang terungkap dalam situs resmi Ditjen MIgas, Minggu (4/10/2009).
Sedangkan harga Minas/SLC bulan September mencapai USD68,91 per barel, turun sebanyak USD6,31 per barel dari USD 75,22 per barel.
"Penurunan harga minyak mentah Indonesia tersebut sejalan dengan penurunan harga minyak mentah utama di pasar internasional yang diakibatkan beberapa faktor," tuturnya.
Beberapa faktor tersebut antara lain laporan Energi Information Administration (EIA) mengenai peningkatan stok minyak mentah komersial, gasoline dan distillate fuel oil Amerika Serikat yang cukup signifikan dan rendahnya tingkat pengoperasian kilang minyak AS, Eropa, dan Jepang yang mencapai level terendah dalam 20 tahun terakhir. Hal itu diakibatkan rendahnya marjin kilang, rendahnya permintaan produk minyak terutama AS setelah berakhirnya driving season, serta dimulainya masa pemeliharaan berkala kilang minyak untuk beralih memproduksi heating oil sebagai persiapan menjelang musim dingin.
Selain itu, meningkatnya perkiraan suplai minyak mentah dunia oleh beberapa lembaga analis pasar, antara lain OPEC memperkirakan suplai minyak mentah Non OPEC untuk tahun 2009 meningkat sebesar 0,34 juta barel per hari menjadi 50,81 juta barel per hari yang dihasilkan dari peningkatan produksi dari lapangan-lapangan baru. International Energy Agency (IEA) dalam laporan bulan September 2009 mengatakan, suplai minyak mentah OPEC pada bulan Agustus 2009 mengalami peningkatan sebesar 55.000 barel per hari menjadi 28,9 juta barel per hari yang dihasilkan dari peningkatan produksi Nigeria, Venezuela, dan Angola.
Menurunnya tingkat kepatuhan anggota OPEC terhadap kesepakatan pengurangan produksi menjadi 66 persen dari sebelumnya 68 persen, akibat peningkatan produksi sebesar 1,4 juta barel per hari yang melebihi kesepakatan produksi yang telah ditetapkan dan milisi Movement for Emancipation of Niger Delta (MEND) memperpanjang gencatan senjata dengan pemerintah Nigeria selama 30 hari sehingga produksi minyak mentah Nigeria lebih stabil.
Untuk kawasan Asia Pasifik, penurunan harga minyak mentah juga disebabkan masih melemahnya permintaan produk minyak untuk industri di Cina dan menurunnya impor minyak mentah Jepang yang merupakan konsumen energi ketiga terbesar dunia sebesar 12,4 persen, dibandingkan tahun sebelumnya. Hal lainnya adalah dioperasikannya kembali reaktor nuklir stasiun Fukushima Daiini milik TEPCO.
Berikut ini adalah harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional pada bulan September 2009 dibandingkan bulan sebelumnya.
WTI (Nymex) turun USD1,67 per barel dari USD71,14 per barel menjadi USD69,47 per barel. Brent (ICE) turun USD4,91 per barel dari USD73,06 per barel menjadi USD68,15 per barel. Tapis (Platts) turun USD6,52 per barel dari USD76,28 per barel menjadi USD69,76 per barel. Basket OPEC turun USD4,11 per barel dari USD71,35 per barel menjadi USD67,24 per barel.
apakah presiden sby berani menurunkan harga bbm kita lihat saja??