• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Minta pendapat about "aborsi"

kesakesa

IndoForum Beginner B
No. Urut
14027
Sejak
12 Apr 2007
Pesan
1.025
Nilai reaksi
127
Poin
63
Belum lama ini bapak Paus Benedictus XVI berkunjung ke Brazil. Salah satu pesan yang paling ditekankan untuk warga Katolik di sana adalah penghentian aborsi.
Nah gw mau nanya neh ma temen2. Menurut kalian sikap apa yang sebaiknya di ambil Gereja menyikapi fenomena aborsi ini? Paus mewakili Gereja dengan tegas menolak aborsi dengan alasan apapun (kecuali dengan alasan khusus seperti untuk menyelamatkan si ibu dari kematian). Tapi di sisi lain, pergeseran gaya hidup membuat aborsi bukan lagi sesuatu yang harus ditabukan. Bahkan di beberapa negara Eropa (persisnya lupa) ada fasilitas yang terang-terangan (nggak sembunyi2 seperti di Indo) disediakan untuk orang yang hendak melakukan aborsi. Alasannya aborsi itu adalah hak pribadi setiap orang dan tidak merugikan orang lain.
Benarkah Gereja Katolik itu "kolot" dan tidak berjalan seiring dengan perkembangan zaman?
Minta pendapat temen2 dunk. Setuju atau nggak setuju? Uneg2nya sekalian ya. Makin panjang makin bagus. Hehehe. (Kayak ujian Bahasa Indonesia ajah)
 
Menurut w aborsi dalam hal apapun adalah tidak dibenarkan bahkan, KB pun tidak di benarkan karena sebenarnya menurut iman, kehadiran setiap manusia di dunia ini sudah di rancang oleh Allah Bapa. Jadi kesimpulannya jangankan aborsi yang sudah berbentuk dalam pembuahan, sedangkan sebelumnya aja udah gak boleh.
Ada beberapa dampak dalam aborsi dan KB, terhadap moral kita terutama anak muda, salah satunya adalah free sex. karena dengan menggunakan kontrasepsi adalah cara yang paling mudah untuk menghindari akibat kehamilan diluar nikah, yang merupakan beban bagi pasangan yang blm siap. Sehingga kesannya nanti kita merestui adanya praktek free sex yang nota bene adalah Zinah. dan selanjutnya juga sepertinya kita mendukung praktek prostitusi.
Dalam hal ini Gereja sangat tegas menentang dua hal itu, walau kadang kita dipandang berseberangan dengan kebijakan pemerintah kita. Memang rumit adanya terutama masalah KB. Tinggal bagaimana iman kita ke Allah Tritunggal yang selalu membimbing kita dalam kehidupan ini.
 
Belum lama ini bapak Paus Benedictus XVI berkunjung ke Brazil. Salah satu pesan yang paling ditekankan untuk warga Katolik di sana adalah penghentian aborsi.
Nah gw mau nanya neh ma temen2. Menurut kalian sikap apa yang sebaiknya di ambil Gereja menyikapi fenomena aborsi ini? Paus mewakili Gereja dengan tegas menolak aborsi dengan alasan apapun (kecuali dengan alasan khusus seperti untuk menyelamatkan si ibu dari kematian). Tapi di sisi lain, pergeseran gaya hidup membuat aborsi bukan lagi sesuatu yang harus ditabukan. Bahkan di beberapa negara Eropa (persisnya lupa) ada fasilitas yang terang-terangan (nggak sembunyi2 seperti di Indo) disediakan untuk orang yang hendak melakukan aborsi. Alasannya aborsi itu adalah hak pribadi setiap orang dan tidak merugikan orang lain.
Benarkah Gereja Katolik itu "kolot" dan tidak berjalan seiring dengan perkembangan zaman?
Minta pendapat temen2 dunk. Setuju atau nggak setuju? Uneg2nya sekalian ya. Makin panjang makin bagus. Hehehe. (Kayak ujian Bahasa Indonesia ajah)

Sundul lagi!

Bagi saya,
Aborsi sangat kejam!
Membunuh seorang manusia, tanpa manusia tersebut sanggup untuk membela diri, menyatakan protes, dll.

Bagaimanapun juga, semua pihak harus mengusahakan keselamatan bersama.
Tindakan medis apapun tidak bisa membenarkan untuk sebuah pilihan antara 2 nyawa, siapa yg akan dibunuh walaupun itu untuk menyelamatkan nyawa yg lain!
Tetapi seandainya upaya penyelamatan kedua nyawa tersebut sudah dilakukan dengan sepenuhnya, tetapi tetap menimbulkan kematian salah satu darinya, itu bukanlah dosa!


Salam
Jebling
 
Syalom.....
Saya ambil dari http://http://yesaya.indocell.net/id1223.htm
Ajaran Biblis Menentang Aborsi

oleh: Romo Frank A. Pavone *



Kitab Suci dengan jelas mengajarkan bahwa aborsi adalah salah. Ajaran ini muncul dengan berbagai macam cara dan dengan berbagai macam alasan. Sebagian orang berkeberatan karena kata “aborsi” tidak didapati dalam Kitab Suci, dan memang benar demikian. Akan tetapi, ajaran mengenai aborsi ada di sana. Hal yang sama berlaku pula bagi banyak ajaran. Kata “Tritunggal” tidak didapati dalam Kitab Suci, tetapi ajaran mengenai Tritunggal sungguh ada di sana. Bagaimanapun, seorang yang bermaksud menyangkal ajaran mengenai aborsi akan tetap menyangkalnya juga bahkan andai kata itu ada di sana. Marilah kita lihat beberapa alasan Biblis mengapa aborsi, pembinasaan secara sengaja atas seorang kanak-kanak dalam rahim, adalah sungguh amat salah.


1. Kitab Suci mengajarkan bahwa kehidupan manusia berbeda dari segala bentuk kehidupan lainnya, sebab manusia diciptakan seturut gambar Allah Sendiri.

Kisah penciptaan laki-laki dan perempuan dalam Kitab Kejadian (Kej 1:26-31; 2:4-25) mengisahkan demikian, “Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej 1:27).

Kata “diciptakan” dipergunakan sebanyak tiga kali di sini, menekankan saat pemahkotaan yang istimewa dalam keseluruhan proses Tuhan menciptakan dunia dan segala yang ada di dalamnya. Laki-laki dan perempuan diberi-Nya “kuasa” atas segala ciptaan lainnya di atas bumi.

Bahkan dosa asal pun tidak menghapuskan gambar Allah dalam diri manusia. St Yakobus berbicara mengenai gambar Allah ini dan mengatakan bahwa oleh karena gambar ini kita bahkan tidak patut berbicara jahat satu sama lain. “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah … Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi” (Yakobus 3:9-10).

Gambar Allah! Inilah artinya menjadi manusia! Kita bukan hanya sekedar setumpuk sel-sel yang secara acak dilemparkan oleh suatu kekuatan yang tak dikenali. Melainkan, kita sungguh merefleksikan Allah yang abadi, yang mengenali kita sejak dari sebelum kita dijadikan, dan dengan sengaja menciptakan kita.

Dari lubuk tragedi aborsi terdapat pertanyaan seperti yang diangkat dalam Mazmur: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu” (Mazmur 8:5-7).

Inilah kuncinya. Bukan hanya Tuhan menciptakan kita, melainkan Ia menghargai kita. Kitab Suci mengisahkan kepada kita mengenai Allah yang tergila-gila mengasihi kita, begitu rupa hingga Ia menjadi seorang dari antara kita dan bahkan wafat bagi kita ketika kita masih berdosa (lih Roma 5:6-8). Di hadapan semua ini, dapatkah kita mengatakan bahwa manusia dapat dibinasakan dan dibuang begitu saja? “Tuhan tidak menjadikan sampah.” Tuhan juga tidak wafat demi sampah pula. Jika kita percaya Kitab Suci, kita wajib percaya bahwa hidup manusia adalah sakral, lebih sakral dari yang pernah dapat kita bayangkan!


2. Kitab Suci mengajarkan bahwa anak-anak adalah berkat.

Tuhan memerintahkan leluhur pertama kita, “Beranakcuculah dan bertambah banyak” (Kejadian 1:28). Mengapa? Tuhan Sendiri adalah kesuburan. Kasih senantiasa mengalir berlimpah ke dalam hidup. Ketika ibu pertama melahirkan anak pertamanya, ia berseru, “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN” (Kej 4:1). Pertolongan Tuhan itu amat penting, sebab Ia berkuasa atas hidup manusia dan asal-usulnya. Orangtua bekerjasama dengan Tuhan dalam meneruskan kehidupan. Oleh sebab keseluruhan proses ini ada dalam kuasa Tuhan, maka adalah dosa menginterupsinya. Nabi Amos mengutuk bani Amon, “Oleh karena mereka membelah perut perempuan-perempuan hamil di Gilead” (Amos 1:13). “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah.” (Mazmur 127:3).


3. Kitab Suci mengajarkan bahwa anak-anak dalam rahim adalah sungguh seorang anak manusia, yang bahkan memiliki hubungan dengan Tuhan.

Frasa “mengandung dan melahirkan” dipergunakan berulangkali (lih Kejadian 1:17) dan sang individu memiliki identitas yang sama baik sebelum maupun sesudah dilahirkan. “Dalam dosa aku dikandung ibuku,” demikian kata-kata pemazmur dalam Mazmur 51:7. Kata-kata yang sama dipergunakan bagi anak-anak sebelum dan sesudah dilahirkan (“Brephos”, yaitu “anak” dipergunakan dalam Luk 1:41 dan Luk 18:15).

Tuhan mengenal anak yang belum dilahirkan. “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku … Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi” (Mazmur 139:13,15). Tuhan juga membantu dan memanggil anak yang belum dilahirkan. “Ya, Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan … sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku” (Mazmur 22:10-11). “Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya” (St Paulus kepada jemaat di Galatia 1:15).


4. Kitab Suci berulangkali mengutuk pembunuhan orang-orang yang tak bersalah.

Hal ini mengalir dari segala yang telah kita lihat sejauh ini. Jari Tuhan sendiri menulis di atas loh batu, “Jangan membunuh” (Keluaran 20:13, Ulangan 5:17) dan Kristus mempertegasnya (Matius 19:18 - perhatikan bahwa Yesus menyebutkan perintah ini di urutan pertama.) Kitab Wahyu menegaskan bahwa orang-orang pembunuh tidak dapat masuk ke dalam kerajaan surga (Wahyu 22:15).

Pembunuhan anak-anak teristimewa dikutuk Tuhan melalui para nabi. Di tanah yang Tuhan berikan kepada umat-Nya untuk didiami, bangsa-bangsa asing mempunyai kebiasaan mengorbankan anak-anak mereka ke dalam api. Tuhan bersabda kepada umat-Nya bahwa mereka tidak boleh ikut dalam dosa ini. Namun demikian, mereka melakukannya, seperti dikisahkan dalam Mazmur 106, “Tetapi mereka bercampur baur dengan bangsa-bangsa, dan belajar cara-cara mereka bekerja … Mereka mengorbankan anak-anak lelaki mereka, dan anak-anak perempuan mereka kepada roh-roh jahat, dan menumpahkan darah orang yang tak bersalah, darah anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan mereka, yang mereka korbankan kepada berhala-berhala Kanaan, sehingga negeri itu cemar oleh hutang darah” (Mazmur 106: 35, 37-38). Dosa mengorbankan anak-anak ini, sesungguhnya disebut sebagai salah satu alasan utama mengapa Kerajaan Israel dihancurkan oleh bangsa Asyur dan orang-orangnya dibawa ke pembuangan. “Mereka mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban dalam api … Sebab itu TUHAN sangat murka kepada Israel, dan menjauhkan mereka dari hadapan-Nya” (2 Raja-raja 17:17-18).


5. Kitab Suci mengajarkan bahwa Tuhan adalah Tuhan Keadilan.

Tindakan keadilan adalah tindakan campur tangan bagi yang tak berdaya, suatu tindakan membela mereka yang terlalu lemah untuk membela diri mereka sendiri. Dalam menubutkan Mesias, Mazmur 72 mengatakan, “Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya … Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong” (Mazmur 72:7,12). Yesus Kristus adalah keadilan kita (1 Korintus 1:30) sebab Ia membebaskan kita dari dosa dan maut ketika kita tidak punya penolong (lih Roma 5:6, Efesus 2:4-5).

Jika Tuhan melaksanakan keadilan bagi umat-Nya, Ia berharap umat-Nya melaksanakan keadilan satu sama lain. “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Lukas 6:36). “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Lukas 10:37). “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7:12). “Kasihilah seorang akan yang lain” (Yohanes 15:17).

Aborsi melawan ajaran-ajaran ini. Aborsi adalah kebalikan dari keadilan. Aborsi adalah pembinasaan mereka yang tak berdaya, dan bukannya menolong mereka. Jika umat Tuhan tidak campur tangan untuk menyelamatkan mereka yang hidupnya terancam, maka orang tidak akan berkenan atau beribadat kepada-Nya.

Tuhan bersabda melalui Yesaya, “Siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh … Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya … Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah. Basuhlah, bersihkanlah dirimu … belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” (Yesaya 1:12-17).

Sungguh, mereka yang beribadat kepada Tuhan tetapi mendukung aborsi jatuh ke dalam pertentangan yang sama seperti umat Allah di masa silam, dan perlu mendengarkan pesan yang sama.


6. Yesus Kristus memberikan perhatian khusus kepada mereka yang miskin, mereka yang dipandang hina, dan mereka yang dipandang sebelah mata dalam masyarakat.

Ia merobohkan pembatas-pembatas semu yang didirikan orang antara satu dengan yang lainnya, dan sebaliknya Ia memperkenalkan martabat manusia yang sama bagi setiap individu, meski mungkin melawan pandangan umum orang. Sebab itu kita melihat-Nya meraih anak-anak, meski para rasul berusaha menghalang-halangi mereka (Matius 19:13-15); para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, meski para ahli Taurat berkeberatan (Markus 2:16); orang-orang buta, meski orang banyak menegor mereka (Matius 20:29-34); perempuan asing, meski membangkitkan keheranan para murid dan bahkan perempuan itu sendiri (Yohanes 4:9,27); orang-orang asing, meski membangkitkan kemarahan orang-orang Yahudi (Matius 21:41-16); dan orang-orang kusta, meski mereka dikucilkan dari masyarakat (Lukas 17:11-19).

Ketika sampai pada martabat manusia, Kristus menghapuskan perbedaan-perbedaan. St Paulus memaklumkan, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Galatia 3:28).

Senada dengan itu, kita pun dapat pula mengatakan, “tidak ada yang dilahirkan atau yang belum dilahirkan.” Mempergunakan perbedaan ini sebagai dasar dalam menghargai kehidupan atau memberikan perlindungan yang menjadi hak individu adalah tak berarti dan melanggar segala yang diajarkan Kitab Suci. Anak-anak yang belum dilahirkan adalah bagian dari masyarakat kita yang paling terabaikan dan terdiskriminasi. Kristus Sendiri sudah pasti memiliki kasih yang istimewa bagi mereka.


7. Kitab Suci mengajar kita untuk mengasihi.

St Yohanes mengatakan, “Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi; bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya” (1 Yohanes 3:11-12). Kasih secara langsung dipertentangkan dengan pembunuhan. Mencabut nyawa orang lain adalah melanggar perintah untuk mengasihi. Gagal menolong mereka yang membutuhkan pertolongan dan berada dalam bahaya juga berarti gagal untuk mengasihi.

Kristus mengajarkan hal ini dengan sangat jelas dalam Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati (Luk 10:25-37), dalam kisah Orang Kaya dan Lazarus (Luk 16:19-31), dan dalam banyak kesempatan lain. Tak ada kelompok manusia yang berada dalam keadaan bahaya yang terlebih serius daripada anak-anak dalam rahim. “Barangsiapa … melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” (1 Yohanes 3:17).


8. Hidup menang atas maut.

Inilah salah satu tema paling dasar dari Kitab Suci. Kemenangan hidup telah dinubuatkan dalam janji bahwa kepala ular, melalui siapa maut masuk ke dalam dunia, akan diremukkan (lihat Kejadian 3:15).

Yesaya menubuatkan, “Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya” (Yesaya 25:8). Dalam peristiwa pembunuhan pertama, tanah “mengangakan mulutnya” untuk menerima darah Habel. Dalam peristiwa kemenangan terakhir dari hidup, maut sendirilah yang akan “ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? … Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (1 Korintus 15:54-57).

Aborsi adalah maut. Kristus datang untuk menaklukkan maut, dan karenanya juga aborsi. “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10).

Hasil akhir dari pertempuran bagi kehidupan telah ditentukan oleh Kebangkitan Kristus. Adalah tergantung pada kita untuk menyebarluaskan kemenangan itu kepada setiap orang. Gerakan pencinta kehidupan (pro-live) adalah pergerakan dari kemenangan yang dimenangkan Kristus kepada kepenuhan atas kemenangan itu pada hari terakhir. “Dan maut tidak akan ada lagi” (Wahyu 21:4). “Amin, datanglah, Tuhan Yesus!” (Wahyu 22:20).

* Rev. Frank A. Pavone, the national director of Priests for Life, works for the Pontifical Council for the Family in Rome.

sumber : “The Bible's Teaching Against Abortion” by Rev. Frank A. Pavone; Priests for Life; P.O. Box 141172, Staten Island, NY 10314; Copyright © 2001 Priests for Life; www.priestsforlife.org

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

masih banyak kok tentang aborsi di website itu
 
jaran Biblis Menentang Aborsi

oleh: Romo Frank A. Pavone *



Kitab Suci dengan jelas mengajarkan bahwa aborsi adalah salah. Ajaran ini muncul dengan berbagai macam cara dan dengan berbagai macam alasan. Sebagian orang berkeberatan karena kata “aborsi” tidak didapati dalam Kitab Suci, dan memang benar demikian. Akan tetapi, ajaran mengenai aborsi ada di sana. Hal yang sama berlaku pula bagi banyak ajaran. Kata “Tritunggal” tidak didapati dalam Kitab Suci, tetapi ajaran mengenai Tritunggal sungguh ada di sana. Bagaimanapun, seorang yang bermaksud menyangkal ajaran mengenai aborsi akan tetap menyangkalnya juga bahkan andai kata itu ada di sana. Marilah kita lihat beberapa alasan Biblis mengapa aborsi, pembinasaan secara sengaja atas seorang kanak-kanak dalam rahim, adalah sungguh amat salah.


1. Kitab Suci mengajarkan bahwa kehidupan manusia berbeda dari segala bentuk kehidupan lainnya, sebab manusia diciptakan seturut gambar Allah Sendiri.

Kisah penciptaan laki-laki dan perempuan dalam Kitab Kejadian (Kej 1:26-31; 2:4-25) mengisahkan demikian, “Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej 1:27).

Kata “diciptakan” dipergunakan sebanyak tiga kali di sini, menekankan saat pemahkotaan yang istimewa dalam keseluruhan proses Tuhan menciptakan dunia dan segala yang ada di dalamnya. Laki-laki dan perempuan diberi-Nya “kuasa” atas segala ciptaan lainnya di atas bumi.

Bahkan dosa asal pun tidak menghapuskan gambar Allah dalam diri manusia. St Yakobus berbicara mengenai gambar Allah ini dan mengatakan bahwa oleh karena gambar ini kita bahkan tidak patut berbicara jahat satu sama lain. “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah … Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi” (Yakobus 3:9-10).

Gambar Allah! Inilah artinya menjadi manusia! Kita bukan hanya sekedar setumpuk sel-sel yang secara acak dilemparkan oleh suatu kekuatan yang tak dikenali. Melainkan, kita sungguh merefleksikan Allah yang abadi, yang mengenali kita sejak dari sebelum kita dijadikan, dan dengan sengaja menciptakan kita.

Dari lubuk tragedi aborsi terdapat pertanyaan seperti yang diangkat dalam Mazmur: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu” (Mazmur 8:5-7).

Inilah kuncinya. Bukan hanya Tuhan menciptakan kita, melainkan Ia menghargai kita. Kitab Suci mengisahkan kepada kita mengenai Allah yang tergila-gila mengasihi kita, begitu rupa hingga Ia menjadi seorang dari antara kita dan bahkan wafat bagi kita ketika kita masih berdosa (lih Roma 5:6-8). Di hadapan semua ini, dapatkah kita mengatakan bahwa manusia dapat dibinasakan dan dibuang begitu saja? “Tuhan tidak menjadikan sampah.” Tuhan juga tidak wafat demi sampah pula. Jika kita percaya Kitab Suci, kita wajib percaya bahwa hidup manusia adalah sakral, lebih sakral dari yang pernah dapat kita bayangkan!


2. Kitab Suci mengajarkan bahwa anak-anak adalah berkat.

Tuhan memerintahkan leluhur pertama kita, “Beranakcuculah dan bertambah banyak” (Kejadian 1:28). Mengapa? Tuhan Sendiri adalah kesuburan. Kasih senantiasa mengalir berlimpah ke dalam hidup. Ketika ibu pertama melahirkan anak pertamanya, ia berseru, “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN” (Kej 4:1). Pertolongan Tuhan itu amat penting, sebab Ia berkuasa atas hidup manusia dan asal-usulnya. Orangtua bekerjasama dengan Tuhan dalam meneruskan kehidupan. Oleh sebab keseluruhan proses ini ada dalam kuasa Tuhan, maka adalah dosa menginterupsinya. Nabi Amos mengutuk bani Amon, “Oleh karena mereka membelah perut perempuan-perempuan hamil di Gilead” (Amos 1:13). “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah.” (Mazmur 127:3).


3. Kitab Suci mengajarkan bahwa anak-anak dalam rahim adalah sungguh seorang anak manusia, yang bahkan memiliki hubungan dengan Tuhan.

Frasa “mengandung dan melahirkan” dipergunakan berulangkali (lih Kejadian 1:17) dan sang individu memiliki identitas yang sama baik sebelum maupun sesudah dilahirkan. “Dalam dosa aku dikandung ibuku,” demikian kata-kata pemazmur dalam Mazmur 51:7. Kata-kata yang sama dipergunakan bagi anak-anak sebelum dan sesudah dilahirkan (“Brephos”, yaitu “anak” dipergunakan dalam Luk 1:41 dan Luk 18:15).

Tuhan mengenal anak yang belum dilahirkan. “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku … Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi” (Mazmur 139:13,15). Tuhan juga membantu dan memanggil anak yang belum dilahirkan. “Ya, Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan … sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku” (Mazmur 22:10-11). “Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya” (St Paulus kepada jemaat di Galatia 1:15).


4. Kitab Suci berulangkali mengutuk pembunuhan orang-orang yang tak bersalah.

Hal ini mengalir dari segala yang telah kita lihat sejauh ini. Jari Tuhan sendiri menulis di atas loh batu, “Jangan membunuh” (Keluaran 20:13, Ulangan 5:17) dan Kristus mempertegasnya (Matius 19:18 - perhatikan bahwa Yesus menyebutkan perintah ini di urutan pertama.) Kitab Wahyu menegaskan bahwa orang-orang pembunuh tidak dapat masuk ke dalam kerajaan surga (Wahyu 22:15).

Pembunuhan anak-anak teristimewa dikutuk Tuhan melalui para nabi. Di tanah yang Tuhan berikan kepada umat-Nya untuk didiami, bangsa-bangsa asing mempunyai kebiasaan mengorbankan anak-anak mereka ke dalam api. Tuhan bersabda kepada umat-Nya bahwa mereka tidak boleh ikut dalam dosa ini. Namun demikian, mereka melakukannya, seperti dikisahkan dalam Mazmur 106, “Tetapi mereka bercampur baur dengan bangsa-bangsa, dan belajar cara-cara mereka bekerja … Mereka mengorbankan anak-anak lelaki mereka, dan anak-anak perempuan mereka kepada roh-roh jahat, dan menumpahkan darah orang yang tak bersalah, darah anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan mereka, yang mereka korbankan kepada berhala-berhala Kanaan, sehingga negeri itu cemar oleh hutang darah” (Mazmur 106: 35, 37-38). Dosa mengorbankan anak-anak ini, sesungguhnya disebut sebagai salah satu alasan utama mengapa Kerajaan Israel dihancurkan oleh bangsa Asyur dan orang-orangnya dibawa ke pembuangan. “Mereka mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban dalam api … Sebab itu TUHAN sangat murka kepada Israel, dan menjauhkan mereka dari hadapan-Nya” (2 Raja-raja 17:17-18).


5. Kitab Suci mengajarkan bahwa Tuhan adalah Tuhan Keadilan.

Tindakan keadilan adalah tindakan campur tangan bagi yang tak berdaya, suatu tindakan membela mereka yang terlalu lemah untuk membela diri mereka sendiri. Dalam menubutkan Mesias, Mazmur 72 mengatakan, “Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya … Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong” (Mazmur 72:7,12). Yesus Kristus adalah keadilan kita (1 Korintus 1:30) sebab Ia membebaskan kita dari dosa dan maut ketika kita tidak punya penolong (lih Roma 5:6, Efesus 2:4-5).

Jika Tuhan melaksanakan keadilan bagi umat-Nya, Ia berharap umat-Nya melaksanakan keadilan satu sama lain. “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Lukas 6:36). “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Lukas 10:37). “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7:12). “Kasihilah seorang akan yang lain” (Yohanes 15:17).

Aborsi melawan ajaran-ajaran ini. Aborsi adalah kebalikan dari keadilan. Aborsi adalah pembinasaan mereka yang tak berdaya, dan bukannya menolong mereka. Jika umat Tuhan tidak campur tangan untuk menyelamatkan mereka yang hidupnya terancam, maka orang tidak akan berkenan atau beribadat kepada-Nya.

Tuhan bersabda melalui Yesaya, “Siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh … Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya … Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah. Basuhlah, bersihkanlah dirimu … belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” (Yesaya 1:12-17).

Sungguh, mereka yang beribadat kepada Tuhan tetapi mendukung aborsi jatuh ke dalam pertentangan yang sama seperti umat Allah di masa silam, dan perlu mendengarkan pesan yang sama.


6. Yesus Kristus memberikan perhatian khusus kepada mereka yang miskin, mereka yang dipandang hina, dan mereka yang dipandang sebelah mata dalam masyarakat.

Ia merobohkan pembatas-pembatas semu yang didirikan orang antara satu dengan yang lainnya, dan sebaliknya Ia memperkenalkan martabat manusia yang sama bagi setiap individu, meski mungkin melawan pandangan umum orang. Sebab itu kita melihat-Nya meraih anak-anak, meski para rasul berusaha menghalang-halangi mereka (Matius 19:13-15); para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, meski para ahli Taurat berkeberatan (Markus 2:16); orang-orang buta, meski orang banyak menegor mereka (Matius 20:29-34); perempuan asing, meski membangkitkan keheranan para murid dan bahkan perempuan itu sendiri (Yohanes 4:9,27); orang-orang asing, meski membangkitkan kemarahan orang-orang Yahudi (Matius 21:41-16); dan orang-orang kusta, meski mereka dikucilkan dari masyarakat (Lukas 17:11-19).

Ketika sampai pada martabat manusia, Kristus menghapuskan perbedaan-perbedaan. St Paulus memaklumkan, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Galatia 3:28).

Senada dengan itu, kita pun dapat pula mengatakan, “tidak ada yang dilahirkan atau yang belum dilahirkan.” Mempergunakan perbedaan ini sebagai dasar dalam menghargai kehidupan atau memberikan perlindungan yang menjadi hak individu adalah tak berarti dan melanggar segala yang diajarkan Kitab Suci. Anak-anak yang belum dilahirkan adalah bagian dari masyarakat kita yang paling terabaikan dan terdiskriminasi. Kristus Sendiri sudah pasti memiliki kasih yang istimewa bagi mereka.


7. Kitab Suci mengajar kita untuk mengasihi.

St Yohanes mengatakan, “Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi; bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya” (1 Yohanes 3:11-12). Kasih secara langsung dipertentangkan dengan pembunuhan. Mencabut nyawa orang lain adalah melanggar perintah untuk mengasihi. Gagal menolong mereka yang membutuhkan pertolongan dan berada dalam bahaya juga berarti gagal untuk mengasihi.

Kristus mengajarkan hal ini dengan sangat jelas dalam Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati (Luk 10:25-37), dalam kisah Orang Kaya dan Lazarus (Luk 16:19-31), dan dalam banyak kesempatan lain. Tak ada kelompok manusia yang berada dalam keadaan bahaya yang terlebih serius daripada anak-anak dalam rahim. “Barangsiapa … melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” (1 Yohanes 3:17).


8. Hidup menang atas maut.

Inilah salah satu tema paling dasar dari Kitab Suci. Kemenangan hidup telah dinubuatkan dalam janji bahwa kepala ular, melalui siapa maut masuk ke dalam dunia, akan diremukkan (lihat Kejadian 3:15).

Yesaya menubuatkan, “Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya” (Yesaya 25:8). Dalam peristiwa pembunuhan pertama, tanah “mengangakan mulutnya” untuk menerima darah Habel. Dalam peristiwa kemenangan terakhir dari hidup, maut sendirilah yang akan “ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? … Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (1 Korintus 15:54-57).

Aborsi adalah maut. Kristus datang untuk menaklukkan maut, dan karenanya juga aborsi. “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10).

Hasil akhir dari pertempuran bagi kehidupan telah ditentukan oleh Kebangkitan Kristus. Adalah tergantung pada kita untuk menyebarluaskan kemenangan itu kepada setiap orang. Gerakan pencinta kehidupan (pro-live) adalah pergerakan dari kemenangan yang dimenangkan Kristus kepada kepenuhan atas kemenangan itu pada hari terakhir. “Dan maut tidak akan ada lagi” (Wahyu 21:4). “Amin, datanglah, Tuhan Yesus!” (Wahyu 22:20).

* Rev. Frank A. Pavone, the national director of Priests for Life, works for the Pontifical Council for the Family in Rome.

sumber : “The Bible's Teaching Against Abortion” by Rev. Frank A. Pavone; Priests for Life; P.O. Box 141172, Staten Island, NY 10314; Copyright © 2001 Priests for Life; www.priestsforlife.org

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
Bagus.... St. Yosef!

Saya tambah lagi:



Abortus

2270 Kehidupan manusia harus dihormati dan dilindungi secara absolut sejak saat pembuahannya. Sudah sejak saat pertama keberadaannya, satu makhluk manusia harus dihargai karena ia mempunyai hak-hak pribadi, di antaranya hak atas kehidupan dari makhluk yang tidak bersalah Bdk. (DnV 1, 1.) yang tidak dapat diganggu gugat.

"Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau" (Yer 1:5) Bdk. Ayb 10:8-12; Mzm 22:10-11..

"Tulang-tulangku tidak terlindung bagiMu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah" (Mzm 139:15).


2271 Sejak abad pertama Gereja telah menyatakan abortus sebagai kejahatan moral. Ajaran itu belum berubah dan tidak akan berubah. Abortus langsung, artinya abortus yang dikehendaki baik sebagai tujuan maupun sebagai sarana, merupakan pelanggaran berat melawan hukum moral:
"Engkau tidak boleh melakukan abortus dan juga tidak boleh membunuh anak yang baru dilahirkan" (Didache 2,2) Bdk. Surat Barnabas 19,5; Diognet 5,5; Tertulianus, apol. 9..

"Allah, Tuhan kehidupan, telah mempercayakan pelayanan mulia melestarikan hidup kepada manusia, untuk dijalankan dengan cara yang layak baginya. Maka kehidupan sejak saat pembuahan harus dilindungi dengan sangat cermat. Pengguguran dan pembunuhan anak merupakan tindakan kejahatan yang durhaka" (GS 51,3).

2272 Keterlibatan aktif dalam suatu abortus adalah suatu pelanggaran berat. Gereja menghukum pelanggaran melawan kehidupan manusia ini dengan hukuman Gereja ialah ekskomunikasi. "Barang siapa yang melakukan pengguguran kandungan dan berhasil terkena ekskomunikasi" (CIC, can. 1398), "(ekskomunikasi itu) terjadi dengan sendirinya, kalau pelanggaran dilaksanakan" (CIC, can. 1314) menurut syarat-syarat yang ditentukan di dalam hukum (Bdk. CIC, cane. 1323-1324.). Dengan itu, Gereja tidak bermaksud membatasi belas kasihan; tetapi ia menunjukkan dengan tegas bobot kejahatan yang dilakukan, dan kerugian yang tidak dapat diperbaiki lagi, yang terjadi bagi anak yang dibunuh tanpa kesalahan, bagi orang-tuanya dan seluruh masyarakat.


2273 Hak yang tidak dapat dicabut atas kehidupan dari tiap manusia yang tidak bersalah merupakan satu unsur mendasar bagi masyarakat dan bagi perundang-undangannya.
"Hak-hak pribadi yang tidak boleh dicabut harus diakui dan dihormati oleh masyarakat negara dan oleh kekuasaan negara: hak-hak manusia tidak bergantung pada individu masing-masing, juga tidak pada orang-tua dan juga tidak merupakan satu karunia masyarakat dan negara. Mereka termasuk dalam kodrat manusia dan berakar dalam pribadi berkat tindakan penciptaan, darinya mereka berasal. Di antara hak-hak fundamental ini orang harus menjabarkan dalam hubungan ini: hak atas kehidupan dan keutuhan badani tiap manusia sejak saat pembuahan sampai kepada kematian" (DnV 3).
"Pada saat, hukum positif merampas dari satu kelompok manusia perlindungan, yang harus diberikan kepada mereka oleh undang-undang negara, negara menyangkal kesamaan semua orang di depan hukum. Kalau kekuasaan negara tidak melayani hak setiap warga, dan terutama mereka yang paling lemah, maka dasar negara hukum diguncangkan.... Sebagai akibat dari penghormatan dan perlindungan, yang harus diberikan kepada anak yang belum lahir sejak saat pembuahannya, hukum harus dilengkapi dengan sanksi-sanksi yang memadai bagi setiap pelanggaran yang dikehendaki terhadap hak-hak seorang anak" (DnV 3).


2274 Oleh karena embrio sejak pembuahan harus diperlakukan sebagai pribadi, maka ia, sebagaimana setiap mangsia yang lain, sejauh mungkin harus dipertahankan secara utuh, dirawat, dan disembuhkan.
Diagnosis pranatal diperbolehkan secara moral, apabila ia "menghormati kehidupan dan keutuhan embrio dan janin manusiawi dan diarahkan kepada perlindungan dan perawatan embrio sebagai pribadi.... Tetapi ia bertentangan berat dengan hukum moral, kalau ini, - tergantung, bagaimana hasilnya, - dilakukan dengan pikiran mengenai kemungkinan abortus. Dengan demikian diagnosis... tidak boleh praktis merupakan hukuman mati" (DnV 1,2).


2275 "Pembedahan embrio manusia harus dilihat sebagai sesuatu yang diperbolehkan dengan syarat bahwa ia menghormati kehidupan dan keutuhan embrio dan tidak membawa risiko-risiko yang tidak sebanding, tetapi bertujuan demi penyembuhannya, perbaikan keadaan kesehatannya, atau kelanjutan kehidupan pribadinya" (DnV 1,3).
"Adalah tidak bermoral mengadakan embrio manusia dengan tujuan untuk memakainya sebagai 'bahan biologis' yang siap dipakai secara bebas" (DnV 1,5).
"Beberapa percobaan untuk memanipulasi kromosom dan pembawaan genetic, tidak bersifat terapeutis, tetapi bertujuan mengadakan makhluk manusia, yang dipilih menurut jenis kelamin atau sifat-sifat lain yang ditentukan lebih dahulu. Manipulasi ini bertentangan dengan martabat pribadi manusia, integritasnya, dan identitasnya" (DnV 1,6).


Hayo, siapa yg mengaku katolik tetapi pro aborsi....
silakan mengekskomunikasikan diri secara..... (emang ada ekskomunikasi secara baik2... :D:D )


Salam
Jebling
 
Syalom....
Saya tambah lagi deh.....
masih dari website yang sama.....
Pesan Bunda Maria Mengenai Aborsi

Pesan pada tanggal 5 November 1986

Yulia:
Aku melihat Bunda Maria, yang dipaku pada Salib, menderita sakit yang luar biasa. Aku ikut ambil bagian dalam sengsaranya. Penderitaan itu sungguh hebat tak terperi. Sementara Bunda Maria berbicara dari atas Salib, aku mengulangi perkataannya dengan tepat kata per kata tanpa aku sendiri menyadarinya. Beberapa relawan menuliskan apa yang mereka dengar.

BUNDA MARIA:
Adakah seseorang yang mau menurunkan aku dari Salib? Dari waktu ke waktu, semakin banyak saja orang yang menyalibkan aku. Aku menderita di atas Salib bersama Putraku Yesus.

Tolonglah aku. Aku tak dapat meredakan murka Allah Bapa tanpa bantuan kalian.

Maukah kalian ambil bagian dalam sengsaraku? …

Karena alat-alat pencegah kehamilan dan aborsi, aku merasakan sakit yang hebat di rahimku. Jiwa-jiwa kecil berkeliaran di dunia orang mati setelah dicampakkan dari martabat manusia mereka dan diperlakukan hanya sebagai seonggok daging berdarah, yang adalah akibat dari kekejian manusia, kebiadaban serta kegagalan manusia dalam mengenali martabat hidup manusia. Berdoalah dan ringankanlah luka-luka mereka, serta persembahkanlah silih atas dosa-dosa yang dilakukan malam hari.

Tidakkah kalian melihat darah mengalir dari tenggorokanku? Murka keadilan Allah Bapa telah meluap. Karena aku mengasihi kalian semua, aku bertahan demi kalian semua bahkan hingga muntah darah… agar dapat menyelamatkan meskipun hanya satu jiwa yang berdosa.

Aku akan tinggal dalam kalian, jika kalian menyangkal diri dan datang kepadaku. Bersatulah kalian satu sama lain dalam kasih. Jika kalian bersatu dalam kasih, setan akan lari. Jadilah rasul-rasul Hatiku Yang Tak Bernoda. Hiburlah hatiku dengan melaksanakan pesanku ini.


Pesan pada tanggal 12 Mei 1987

Bunda Maria meneteskan airmata sejak tengah malam hingga pukul 8 pagi. Aku melihat genangan airmata memenuhi matanya.

Yulia:
Bunda, mengapa engkau menangis?

Sejenak kemudian, aku roboh dan melihat banyak jiwa-jiwa. Sebagian dari mereka berjalan dengan tongkat; sebagian tidak mempunyai kaki; sebagian tanpa lengan; sebagian tidak mempunyai mata atau telinga; sebagian memiliki hidung atau mulut yang tidak sempurna. Mereka pergi ke suatu tempat, saling dorong-mendorong satu sama lain, saling berkelahi dengan gaduh dan liar, dan mereka jatuh dan jatuh lagi. Aku sangat ngeri dan menjerit. Aku pikir mereka adalah jiwa-jiwa di api penyucian.

BUNDA MARIA:
… Lihat! Banyak jiwa-jiwa berjalan menuju neraka karena aborsi. Aku harus memohon dengan sangat dengan bersimbah airmata seperti ini demi menyelamatkan banyak jiwa-jiwa itu. Aku hendak menyelamatkan mereka melalui engkau - melalui kurban-kurban dan silihmu. Bagaimana mungkin aku tidak memahami sengsara yang engkau derita? Sekarang, maukah engkau ambil bagian dalam penderitaan bayi-bayi kecil yang dibuang oleh orangtua mereka yang masa bodoh dan keji?

Yulia:
Ya, Bunda. Aku melakukan apa saja, jika engkau bersamaku.

Pada saat itu, postur tubuhku menjadi serupa dengan bayi dalam rahim - dengan lengan dan kaki yang meringkuk. Mukaku menjadi merah seperti darah. Aku menderita sakit selama empat setengah jam. Ketika sakit hebat itu berakhir, sakit bersalin pun dimulai. Mukaku membengkak bagai labu dan aku tak dapat bergerak. Aku menanggung sakit sepanjang hari. Sakit rohani ini lebih hebat daripada sakit fisik.


Pesan pada tanggal 29 Juli 1988

Aku menderita sakit bersalin dan sakit hebat yang diderita bayi-bayi dalam rahim yang berjuang sambil berteriak-teriak berusaha menghindarkan diri dari pembunuhan.

Hari itu hari Jumat, hari istirahat, tetapi, pagi hari ada tigabelas tamu yang menderita kusta. Meskipun sakit, aku keluar dengan dibopong yang lain dan menjabat serta mencium tangan mereka. Aku berdoa dengan sungguh-sungguh bagi mereka.

Sementara aku berjuang menanggung sakit seorang diri dalam kamar, Mark dan Martha datang berpamitan sebelum pulang ke rumah setelah melewatkan hari-hari kerja yang melelahkan. Waktu itu pukul 3.40 sore. Perutku mulai membuncit dan mulailah rasa sakit bersalin dan sakit bayi-bayi yang tidak dilahirkan. Aku mengalami ekstasi dan mendengar Bunda Maria berbicara.

BUNDA MARIA:
Puteriku terkasih! Maukah engkau menanggung lebih banyak sakit?

Yulia:
Ya, Bunda! Aku akan menanggung segala sakit, jika itu dapat membantu menyelamatkan mereka.

BUNDA MARIA:
Terima kasih, puteriku! Pada hari ini lima ribu jiwa akan bertobat dan dipersembahkan kepada Tuhan, terima kasih atas penderitaanmu. Kita harus memberitakan kepada banyak orang bahwa kita menderita bagi mereka. Banyak jiwa-jiwa juga akan menerima rahmat pertobatan dengan mengetahui gambaran akan bayi-bayi yang diaborsi.

Manusia berjalan di jalan menuju neraka, karena mereka melakukan pembunuhan-pembunuhan keji, namun demikian, mereka tidak menyadari bahwa mereka telah menjadi pembunuh. Jiwa-jiwa kecil ini dicampakkan dari martabat manusia mereka dan menerima siksa mengerikan yang layak bagi orangtua mereka. Tidakkah segala siksa ini terlalu kejam bagi mereka?

Aku larut dalam kesedihan, karena jiwa-jiwa tak berdosa ini, hidup yang berharga yang dikaruniakan oleh Tuhan, diinjak-injak dengan keji, diremukkan dengan brutal, dihancurkan, dikoyak-koyak dan dibunuh oleh para orangtua yang masa bodoh dan acuh tak acuh.

Sebab itu, aku hendak menunjukkan kepadamu bagaimana bayi-bayi kecil ini mohon agar dibiarkan hidup, dengan demikian banyak orang berdosa akan bertobat dan kembali kepadaku. Katakanlah kepada semua orang bahwa janin kecil bukanlah seonggok daging berdarah, melainkan memiliki hidup di dalamnya sejak dari saat pembuahan dalam rahim ibu.

Yulia:
Ya, Bunda! Biarlah segala kehendakmu terjadi.

Sakit hebat pun dimulai, sementara posturku menjadi serupa dengan bayi dalam rahim - dengan kedua lengan bersilang, kedua tangan memeluk lutut, dan kaki-kaki meringkuk.

“Tidak! Tidak! Jangan!” - terdengar jeritan-jeritan memekik karena sakit yang diakibatkan oleh alat-alat logam yang dipergunakan untuk membunuh bayi-bayi itu. Sungguh sulit menggambarkan jeritan-jeritan para bayi itu.

“Mama! Mama! Mama!” Jiwa-jiwa kecil berjuang menghindari alat-alat logam sambil tak henti-hentinya memanggil ibu mereka.

Sungguh tak ubahnya seperti neraka.

Dengan postur seorang bayi, aku meloncat dan berguling-guling sekeliling kamar sambil menggeliat kesakitan. Mark dan Martha tak dapat menguasaiku, jadi mereka memanggil beberapa relawan untuk datang menolong. Mereka semua kehabisan tenaga.

Seorang bayi dalam rahim yang ingin dibiarkan hidup memohon dengan sangat kepada ibunya.

Bayi:
Tidak, Mama! Tidak, Mama! Jangan, Mama! Aku ingin hidup, Mama! Biarkan aku hidup! Mama, biarkan aku hidup! Mama! Mama! Mama!!! …

Sambil tak henti-hentinya mengulangi jeritan yang sama, si bayi lari berputar-putar berjuang hidup. Sesungguhnya, aku tidak makan sama sekali hari itu dan letih sepenuhnya. Jika bukan karena misteri adikodrati, tak mungkin aku meloncat berputar-putar demikian hebat selama tiga jam. Aku menderita sakit dibunuh setelah berjuang empat kali….

Mereka semua yang ada di kamar menangis begitu hebat hingga mereka bahkan tak mampu berdoa.

Yulia:
Segala pujian dan kemuliaan bagi Tuhan…!


Pesan pada tanggal 25 Maret 1991

Patung Bunda Maria meneteskan airmata sejak tanggal 18 Februari dan pagi ini, meneteskan begitu banyak darah dari mata dan hidungnya. Pipi, pakaian dan taplak di bawah patung menjadi sangat basah. Suara Bunda Maria datang melalui patung, yang kedengaran sangat sedih.

BUNDA MARIA:
Puteri! Berdoalah lebih banyak. Jangan biarkan dunia ini dihancurbinasakan karena kejahatan yang dilakukan setan, musuh utama Salib, seperti Sodom dan Gomora dihancurbinasakan walau Abraham telah memohon dengan sangat, karena tak terdapat bahkan sepuluh saja orang benar. Terlalu banyak anak yang menolak permohonanku yang sungguh, yang aku sampaikan dengan mencucurkan darah, malahan mereka bersekutu dengan si Naga Merah, yang membangkitkan dalam diri mereka kesesatan serta kemerosotan moral, dan membuat mereka hidup dalam dosa. Dengan demikian, mereka menghancurkan martabat manusia dengan membujuk manusia untuk melakukan pembunuhan melalui begitu banyak aborsi. Aku mohon dengan sangat kepada kalian, sebab aku tak tahan melihat atau mendengarkan hal ini lagi.

Sambutlah aku dengan hangat, dengan doa-doa, kurban dan silih, serta persembahanlah hati yang kudus dan penderitaan-penderitaan. Dengan demikian, kalian menghapus airmata dan airmata darahku yang kucurahkan bagi kalian, yaitu dengan mengijinkan aku ada di tengah kehidupan kalian sehari-hari. Dengan berbuat demikian, kalian mempersiapkan suatu tempat di mana Yesus, yang akan datang dalam kemuliaan, dapat tinggal.

Patutlah kalian ingat bahwa, sementara saat kelahiran semakin dekat, semakin hebatlah rasa sakit. Karena penguasa-penguasa, bangsa-bangsa dan orang-orang menolak Allah yang Mahaadil, mereka diliputi suatu kegelapan yang dahsyat. Karena mereka tidak membuka pintu lebar-lebar bagi Kristus, yang akan segera datang, berbagai macam penderitaan serta kemalangan terjadi.

Sebab itu, segenap anak-anak di dunia! Jadilah jiwa-jiwa yang lebih rendah hati dan taatilah aku dengan kepercayaan penuh. Sementara pencobaan semakin hebat, aku akan tinggal lebih dekat pada jiwa-jiwa kecilku dan menjadi kekuatan mereka. Apabila segenap anak-anak menerimaku dengan baik serta melaksanakan pesan-pesan kasih, kegelapan akibat kekacauan akan dikalahkan melalui terang belas kasihan Allah yang besar. Aku berharap agar permohonanku yang mendesak ini sampai ke ujung-ujung dunia melalui kalian.

Bunda Maria kemudian menangis lagi dengan pilu.


Jerit Tangis dalam Keheningan
Doa Bagi Bayi yang Tidak Dilahirkan oleh Uskup Agung Fulton J. Sheen


sumber : “Mary's Touch By Mail”; Copyright © 2004. All rights reserved; www.marys-touch.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
 
Bayi aborsi itu, biar udah mati, tetep punya nyawa.
Jadi kalo anda aborsi bayi, arwah bayi itu mengikuti anda.
Ciri2nya anda merasa pinggang atau bahu sering pegal2 seperti ada yang menduduki.
Kalo setelah anda aborsi anda punya anak, biasanya anak itu bisa sakit2an.
Kalo anda ingin arwahnya tenang, anda pilihkan nama untuknya, doakan bapa kami 77 kali selama 7 hari, doakan pada misa arwah di hari ke-8 di gereja.
Puji Yesus, arwah bayi itu akan jadi malaikat bagi anda.

Sumber = Guru Agama Gw
 
Syalom....
@atas
Maaf, tetapi bukannya kita tidak mengimani arwah yang bergentayangan?
 
Bayi aborsi itu, biar udah mati, tetep punya nyawa.
Jadi kalo anda aborsi bayi, arwah bayi itu mengikuti anda.
Ciri2nya anda merasa pinggang atau bahu sering pegal2 seperti ada yang menduduki.
Kalo setelah anda aborsi anda punya anak, biasanya anak itu bisa sakit2an.
Kalo anda ingin arwahnya tenang, anda pilihkan nama untuknya, doakan bapa kami 77 kali selama 7 hari, doakan pada misa arwah di hari ke-8 di gereja.
Puji Yesus, arwah bayi itu akan jadi malaikat bagi anda.

Sumber = Guru Agama Gw

Maksudnya ngikutin "anda" itu, si ibunya atau si bapaknya ?

Guru agama nya beragama apa ?, terus boleh ngga tanya sumber berita nya yg kaya gitu itu dari mana ?

Tolong tanyain ya :D
 
mnding dilahirkan dan dirawat kalo gak sanggup taruh di panti asuhan atau berkan kepada yang mampu dan membutuhkan...jadi setidaknya kesalahan tidak dilakukan dua kali...

gw juga mau kok...jadi bapaknye..
 
Bayi aborsi itu, biar udah mati, tetep punya nyawa.
Jadi kalo anda aborsi bayi, arwah bayi itu mengikuti anda.
Ciri2nya anda merasa pinggang atau bahu sering pegal2 seperti ada yang menduduki.
Kalo setelah anda aborsi anda punya anak, biasanya anak itu bisa sakit2an.
Kalo anda ingin arwahnya tenang, anda pilihkan nama untuknya, doakan bapa kami 77 kali selama 7 hari, doakan pada misa arwah di hari ke-8 di gereja.
Puji Yesus, arwah bayi itu akan jadi malaikat bagi anda.

Sumber = Guru Agama Gw

iya tolong disebutkan sumber guru agama anda dari mana ...?
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.