• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Milinda Panha: Kelahiran Kembali

imhereyahum

IndoForum Beginner C
No. Urut
44294
Sejak
23 Mei 2008
Pesan
827
Nilai reaksi
7
Poin
18
Milinda Panha: Kelahiran Kembali


1. "Orang yang terlahir kembali, Nagasena, apakah dia orang yang sama atau berbeda?"

"Bukan sama namun juga bukan berbeda."
"Berikanlah ilustrasi."
"Sama halnya seperti susu yang pertama-tama berubah menjadi dadih lalu menjadi mentega dan kemudian menjadi ghee. Tidak benar bila dikatakan bahwa ghee, mentega, dan dadih tersebut sama dengan susu, tetapi semuanya itu berasal dari susu. Begitu juga tidaklah benar bila dikatakan bahwa ghee, mentega, dan dadih itu sesuatu yang bukan susu."

2. "Apakah orang yang tidak akan terlahir kembali itu menyadari tentang kenyataan ini?"
"Ya, baginda."
"Bagaimana dia tahu?"
"Dengan lenyapnya semua yang menjadi penyebab atau kondisi dari kelahiran kembali. Seperti halnya seorang petani yang tidak membajak atau menabur atau memanen akan mengetahui bahwa lumbungnya tidak akan terisi."

3. "Nagasena, di dalam diri seseorang di mana pengetahuan telah timbul, apakah kebijaksanaan juga timbul?"
"Ya, baginda."
"Apakah pengetahuan sama dengan kebijaksanaan?"
"Ya, baginda."
"Kalau begitu, apakah dengan pengetahuan dan kebijaksanaan itu ada kemungkinan dia tidak mengetahui tentang suatu hal?"
"Dia akan tetap berada di dalam ketidaktahuan tentang hal-hal yang belum dipelajarinya. Akan tetapi mengenai hal yang telah dicapai oleh kebijaksanaan -yaitu pemahaman tentang ketidakkekalan, ketidakpuasan, dan tidak-adanya-diri- dia tidak akan tidak tahu."
"Kalau begitu, apa yang terjadi pada pandangan kelirunya tentang hal-hal itu tadi?"

"Pada saat pengetahuan muncul, pada saat itu pula pandangan salahnya lenyap. Seperti ketika sinar datang, maka kegelapan pun hilang."
"Tetapi apa yang terjadi pada kebijaksanaannya?"
"Setelah melakukan tugasnya, kebijaksanaan itu kemudian lenyap; tetapi pengertian orang itu tentang ketidakkekalan, ketidakpuasan dan tidak-adanya-diri tidak ikut lenyap."
"Berikanlah ilustrasi."

"Seperti halnya orang yang ingin menulis surat pada malam hari akan menyalakan lampu dan kemudian menulis surat tersebut. Setelah selesai dia akan memadamkan lampu. Tetapi meskipun lampu telah dipadamkan, suratnya tetap ada."

4. "Apakah orang yang tidak akan terlahir kembali merasakan kesakitan?"
"Mungkin dia merasakan kesakitan fisik, O baginda, tetapi bukan kesakitan mental."
"Jika dia merasakan kesakitan fisik, mengapa dia tidak mati saja dan mencapai keadaan lenyapnya kemelekatan, dan menghentikan penderitaan?"
"Arahat tidak memiliki kesukaan atau kebencian terhadap kehidupan. Dia tidak menggoncangkan pohon agar buahnya yang masih belum matang jatuh, melainkan menanti sehingga buahnya masak. Demikian ini dikatakan oleh Bhante Sariputta, siswa utama Sang Buddha:

'Bukan kematian, atau kelahiran yang kunantikan;
Bagaikan pekerja menantikan upah, aku menantikan waktuku.
Bukan kematian atau kelahiran yang kurindukan,
Dengan waspada dan jelas mengerti,
Begitulah aku menantikan waktuku'.

5. "Apakah perasaan yang menyenangkan itu bermanfaat, tidak bermanfaat, atau netral?"
"Mungkin salah satu di antara tiga itu."
"Tetapi, Yang Mulia, tentunya jika kondisi yang bermanfaat itu tidak menyakitkan, sedangkan yang menyakitkan itu tidak bermanfaat, maka tidak akan mungkin ada keadaan yang bermanfaat yang sekaligus menyakitkan."
"Bagaimana pendapat baginda seandainya saja ada orang yang memegang bola besi panas di satu tangannya, dan di tangan lain menggenggam bongkah es, apakah kedua-duanya akan menyakitkan orang itu?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu hipotesa baginda pasti keliru. Jika keduanya tidak sama-sama panas, tetapi rasa panas itu menyakitkan, atau jika keduanya tidak sama-sama dingin, tetapi rasa dingin itu menyakitkan, maka rasa sakit itu tidak datang dari rasa panas atau dingin."
"Aku tidak mampu berbantahan dengan Anda. Tolong jelaskan."
Kemudian Nagasena mengajarkan Abhidhamma:- "Ada enam rasa senang yang berhubungan dengan kehidupan duniawi dan enam yang berhubungan dengan kehidupan orang yang telah meninggalkan keduniawian; enam kesengsaraan di dalam kehidupan duniawi dan enam di dalam kehidupan orang yang telah meninggalkan keduniawian; dan enam perasaan netral pada kedua-duanya. Semuanya ada tiga puluh enam. Kemudian ada tiga puluh enam perasaan pada masa lalu, pada masa kini, dan semuanya ada seratus delapan perasaan."

6. "Apa yang terlahir kembali itu, Nagasena?'

"Batin dan jasmani."
"Apakah batin dan jasmani yang ini juga yang terlahir kembali?"
"Bukan, tetapi oleh batin dan jasmani inilah maka perbuatan-perbuatan dilakukan, dan oleh karena perbuatan-perbuatan itulah maka batin dan jasmani yang lain terlahir kembali. Walaupun demikian, batin dan jasmani itu tidak begitu saja terlepas dari hasil perbuatan sebelumnya."
"Berikanlah ilustrasi."
"Seperti halnya api yang dinyalakan seseorang. Setelah merasa hangat, mungkin orang itu pergi meninggalkan dalam keadaan menyala. Andaikan saja api tersebut kemudian menjalar dan membakar ladang orang lain, lalu pemilik ladang itu menyeretnya ke hadapan raja serta menuntut orang yang menyalakan api tersebut. Bila dia berkata, 'Baginda yang mulia, saya tidak membakar ladang orang ini. Api yang saya tinggalkan itu berbeda dengan api yang membakar ladang orang ini. Saya tidak bersalah', apakah dia patut dihukum?"
"Tentu saja, karena tak peduli apa pun yang dia katakan, api itu berasal dari api sebelumnya."
"Demikian juga, O baginda, oleh batin dan jasmani ini perbuatan-perbuatan dilakukan, dan oleh karena perbuatan-perbuatan itu maka batin dan jasmani baru akan terlahir kembali; tetapi batin dan jasmani tersebut tidak begitu saja terlepas dari hasil perbuatan sebelumnya."

7. "Apakah Anda, Nagasena, akan terlahir kembali?"
"Apa gunanya menanyakan hal itu lagi? Bukankah telah saya katakan bahwa jika saya mati dengan nafsu keinginan di pikiran saya, maka saya akan terlahir kembali? Jika tidak, ya tidak."

8. "Anda tadi baru saja menjelaskan tentang batin dan jasmani. Apakah batin itu, dan apakah jasmani itu?"
"Apa pun yang kasar adalah jasmani (materi). Apa pun yang halus dan pikiran atau keadaan mental, adalah batin (mentalitas)."
"Mengapa jasmani dan batin ini tidak dilahirkan secara terpisah?"
"Kondisi-kondisi ini saling berhubungan seperti halnya kuning telur dan kulitnya. Keduanya selalu timbul bersama dan hubungan ini sudah ada sejak waktu yang lama sekali."

9. "Nagasena, ketika Anda mengatakan, 'Waktu yang lama sekali', apakah artinya? Apakah 'waktu' itu ada?"
"Waktu berarti masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Bagi beberapa orang, waktu itu ada; bagi orang lain tidak. Di mana ada makhluk yang akan dilahirkan kembali, bagi mereka waktu itu ada; di mana ada makhluk yang tidak akan terlahir kembali, bagi mereka waktu itu tidak ada."
"Bagus sekali, Nagasena, Anda pandai menjawab."
 
@TS

Keren bro...

Ngomong2 Nagasena itu siapa ya?
kisah ini diambil dari kitab apa?
 
@TS

Keren bro...

Ngomong2 Nagasena itu siapa ya?
kisah ini diambil dari kitab apa?

Milinda Panha ditulis 500 thn setelah Sidharta Gautama wafat. Kitab ini dianggap memiliki nilai sastra yg tinggi shg oleh orang2 Burma dimasukkan kedalam kitab suci pali (total 17 bab). Isinya merupakan percakapan antara Nagasena seorang biksu yg cerdas dengan raja Milinda ( Raja Menander) dari Yunani.

Didlm kitab Milinda Panha disebutkan Nagasena adalah titisan dari dewa yg cerdas dari surga ke-33 yg bernama Mahasena. Nm dewa ini mgkn trasa asing, bhkan oleh kalangan Budhisme sendiri
 
Milinda Panha ditulis 500 thn setelah Sidharta Gautama wafat. Kitab ini dianggap memiliki nilai sastra yg tinggi shg oleh orang2 Burma dimasukkan kedalam kitab suci pali (total 17 bab). Isinya merupakan percakapan antara Nagasena seorang biksu yg cerdas dengan raja Milinda ( Raja Menander) dari Yunani.

Didlm kitab Milinda Panha disebutkan Nagasena adalah titisan dari dewa yg cerdas dari surga ke-33 yg bernama Mahasena. Nm dewa ini mgkn trasa asing, bhkan oleh kalangan Budhisme sendiri
bikkhu nagasena dari titisan dewa?......info dari mana?..gw juga baru tau.

tempo hari saya sempat melihat relik dari bikkhu nagasena loh,,waktu pameran relik.
 
Nice posting,

kayanya udah ampir 1 bulan ga buka IF, begitu buka dapet pengetahuan baru....

Thanks bro....
 
;)

@marcedes

Tentang Nagasena:


PERTANYAAN RAJA MILINDA
PROLOG
Di kota Sagala bertahta Raja Milinda, orang yang sangat pandai dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan, dengan sifatnya yang sangat ingin tahu. Dia pandai berdebat tetapi selama itu tak seorang pun mampu menghapus keraguannya mengenai persoalan keagamaan. Raja telah menanyai guru-guru terkenal tetapi tak satu pun yang memuaskan hatinya.

Assagutta, salah satu dari sekian banyak Arahat yang hidup di pegunungan Himalaya, dengan kekuatan supra-normalnya mengetahui keraguan raja. Maka dia lalu mengadakan pertemuan untuk bertanya apakah ada orang yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan raja. Karena tak ada yang sanggup, maka mereka semua naik ke Surga Tiga Puluh Tiga dan memohon pada Dewa Mahasena agar lahir sebagai manusia sehingga agama dapat terlindungi. Salah satu bhikkhu yang bernama Rohana setuju pergi ke Kajangala di mana Mahasena telah lahir kembali dan menungguinya sampai besar. Ayah si anak, Brahmana Sonuttara, menyuruh agar anaknya mempelajari tiga Kitab Veda, tetapi si anak, Nagasena, menyatakan:

"Ketiga kitab Veda ini kosong, dan bagaikan sekam!
Di dalamnya tak ada realita, kebenaran yang penting atau berharga."

Menyadari bahwa anak ini telah siap, Rohana lalu muncul. Kedua orang tua Nagasena menyetujui anaknya menjadi samanera. Maka Nagasena mempelajari Abhidhamma. Setelah menguasai dengan sempurna pengetahuan tentang tujuh buku Abhidhamma, Nagasena diizinkan masuk ke Sangha para bhikkhu dan Rohana mengirimnya ke Petapaan Vattaniya untuk belajar dari Assagutta. Sementara menghabiskan musim penghujan di sana, Nagasena diminta berkhotbah pada seorang wanita saleh yang merupakan pendukung Assagutta. Sebagai hasil dari percakapan ini, baik si wanita maupun Nagasena mencapai dhammacakkhu: pengetahuan bahwa apa pun yang mempunyai awal juga pasti bersifat mempunyai akhir. Assagutta kemudian mengirim Nagasena kepada Dhammarakkhita di Taman Asoka di Pataliputta. Di sana, dalam waktu tiga bulan, Nagasena telah menguasai kitab-kitab Tipitaka lainnya. Dhammarakkhita mengingatkan muridnya agar tidak hanya puas dengan pengetahuan dari buku saja. Pada malam hari itu juga, Nagasena -si murid yang rajin itu- mencapai tingkat Arahat. Kemudian dia pergi bergabung dengan para Arahat lainnya yang masih tinggal di Himalaya. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Nagasena siap untuk berdebat dengan siapa pun.

Sementara itu, Raja Milinda terus melanjutkan pencaharian spritualnya dengan cara mengunjungi bhikkhu Ayupala di Petapaan Samkheyya dan bertanya mengapa para bhikkhu meninggalkan kehidupan duniawi. Bhikkhu itu menjawab, "Agar dapat hidup dengan benar dan berada dalam ketenangan spiritual." Lalu raja pun bertanya, "Adakah, Yang Mulia, orang awam yang hidup sedemikian itu?" Sang bhikkhu mengakui bahwa banyak orang awam seperti itu. Maka raja pun berkata dengan pedas:

"Kalau begitu, Yang Mulia Ayupala, tidak ada gunanya meninggalkan kehidupan duniawi. Pastilah karena dosa-dosa yang telah dilakukan di dalam kehidupan sebelumnya maka para petapa meninggalkan kehidupan duniawi, dan bahkan menjalani juga praktek-praktek penyiksaan petapa seperti misalnya: hanya mengenakan pakaian dari kain buruk, makan hanya sekali sehari, atau tidak tidur berbaring. Di situ tidak ada nilai-nilai luhur, tidak ada pantangan yang bermanfaat, tidak ada kehidupan yang benar!"

Setelah raja berkata demikian, Bhikkhu Ayupala terdiam dan tidak berkata apa pun. Lalu lima ratus orang Yunani Bactria yang menemani raja berkata: "Sang bhikkhu itu terpelajar tetapi dia tidak berani, jadi dia tidak menjawab." Mendengar ini, raja berseru: "Seluruh India ini kosong, bagai sekam! Tidak ada orang yang mampu berdebat denganku dan mampu mengusir keraguanku!"

Tetapi orang-orang Yunani Bactria masih tidak bergerak, maka raja pun bertanya lagi, "Hai para pengawalku yang setia, adakah orang terpelajar lain yang mampu berdiskusi denganku dan dapat mengusir keraguanku?"

Maka menteri Devamantiya berkata, "Ada, baginda yang agung, seorang bhikkhu bernama Nagasena yang terpelajar, bersifat tenang namun penuh dengan keberanian. Beliau mampu berdiskusi dengan baginda. Sekarang ini beliau tinggal di Petapaan Samkheyya. Baginda harus pergi ke sana dan mengajukan pertanyaan kepadanya." Pada waktu nama 'Nagasena' disebut, raja menjadi gelisah dan bulu romanya berdiri. Kemudian raja mengirimkan utusan ke sana untuk memberitahukan kedatangannya. Diiringi lima ratus orang Yunani Bactria, raja menaiki kereta kencananya dan pergi menuju tempat tinggal Nagasena.
 
nah ini dia....yang sering di salah artikan.. ataukah saya yang salah paham sendiri ^^

se-waktu menjadi dewa...dewa mahasena tidaklah sebijaksana ketika menjadi bikkhu nagasena
dan sering disalah artikan bahwa bikkhu tersebut titisan dewa.

apakah bisa dikatakan bahwa sammasambuddha Gotama adalah titisan dewa dari surga tusita?
se-waktu beliau jadi dewa...adalah dewa
tapi ketika beliau jadi sammasambuddha adalah sammasambuddha
dewa tidak sama dengan sammasambuddha.^^
 
hmm..
g dah baca milinda panha ini..
tapi yang g tau ternyata ini hanyalah cerita belaka dengan nilai sastra yang sangat tinggi..

hmm.. raja milinda merupakan orang yunani yang mengambil ajaran Buddhis sebagai agamanya.. nah literatur Milinda Panha ini adalah sebuah karangan seorang Bhikku pada zaman tersebut yang di anugrahkan kepada raja.

di sini terlihat Raja Milinda memiliki kecerdasan yang sangat tinggi, namun menurut lampiran pada buku Milinda Panha (sampul kuning) yang saya baca, bahwa kitab/buku ini ditulis agar Raja Milinda terlihat bijaksana..

walaupun cerita ini tidak terjadi dalam realita.. namun pertanyaan dan jawabannya betul adanya.. karena pertanyaan dan jawabannya dibuat oleh Bhikku tersebut. ^^

hehe.. g juga berandai2.. kalo saja ini memang terjadi.. wew keren skali..

hehe..

pada permulaan Bhikku Nagasena berbicara mengenai annata dengan penganalogian kereta.. wew.. sangat menginspirasi ^^
 
walaupun cerita ini tidak terjadi dalam realita.. namun pertanyaan dan jawabannya betul adanya.. karena pertanyaan dan jawabannya dibuat oleh Bhikku tersebut. ^^
wah,anda kira dongeng?...coba cari di google nama raja menander
Menander = milinda

raja itulah yang ada pada milinda panha(pertanyaan-pertanyaan raja milinda)

http://buddha2.wordpress.com/
coba lihat di situs itu.....patung buddha yang besar di ledakkan.

Buddharupam raksasa ini dipahat seniman Yunani Bactria yang memiliki citarasa seni tinggi 800 tahun setelah disusunnya kitab Milinda Panha, satu dari kitab suci agama Buddha. Pada abad 3 sebelum masehi saat Raja Milinda atau Raja Menander adalah seorang gubernur jendral atau raja vasal dari kerajaan Yunani Bactria. Raja ini bertanya dan berdebat dengan seorang bhikkhu arahat bernama Nagasena yang dengan indah disusun ke dalam sebuah buku yang lalu dijadikan salah satu kitab suci agama Buddha. Di daerah Bamiyan inilah dulu raja Menander pernah berkuasa di tanah yang dulu subur, rakyatnya makmur dan menjadi pusat berkembangnya agama Buddha di Afghanistan.

Patung raksasa Buddha di Bamiyan Afghanistan tengah ini dipahat dengan gaya Indo-Yunani. Dengan kata lain patung ini perpaduan gaya Yunani yang menggambarkan Buddha dengan wajah yang menyerupai dewa Yunani Zeus atau Apollo dan figur patung yang menyerap gaya Hindu. Ini adalah salah satu patung dari dua patung raksasa di Afghanistan Tengah dan ini adalah patung terbesar yang diledakkan fisiknya oleh rezim Taliban. Patung ini adalah salah satu maha karya rakyat Afghanistan dari abad ke 6 masehi dan telah berdiri tegak menghiasi gunung batu ini selama 1500 an tahun! Menurut penuturan seorang peziarah asal Tiongkok yang pernah berkunjung ke sini 632 Masehi bernama Hsuan Tsang menceritakan selain Buddharupam raksasa ini masih ada lagi sebuah Buddharupam raksasa dengan pose Buddha berbaring dengan tangan menyanggah kepala. Tetapi keberadaan patung ini masih dicari arkeolog karena diduga patung ini masih terkubur dalam tanah. Pada waktu itu menurut penuturan tulisan diary nya, Buddharupam ini berkilauan emas dan berhiaskan permen mata. Dari atas patung dapat melihat ke bawah terdapat pemandangan lembah dengan 10 vihara dan didiami oleh 1000 bhikkhu di sana.

800 tahun lalu Genghis Khan menjadikan Buddharupam ini sebagai sasaran latihan tembak meriamnya.

Pada pergantian abad ke20 dari tahun 1880-1901 seorang raja Afghanistan bernama Emir Abdurrahman saat sedang mengejar kelompok gerilyawan pemberontak Bamiyan dari suku Hazara melampiaskan kekesalannya dengan merusak Buddharupam ini. Emir Abdurrahman membantai puluhan ribu suku minoritas Hazara, yang mana seperti kebanyakan kaum minoritas di dunia islam selalu beragama aliran Islam Shi’ah. Aliran Shi’ah terkenal dengan pola berpikirnya yang kritis terhadap politik penguasa di negeri-negeri Islam sehingga dibenci raja Emir Abdurrahman. Kaum Hazara ini memiliki ciri-ciri wajah seperti nenek moyangnya yang berasal dari keturunan Mongol, Chinese dan Tibet. Dan dikarenakan kebetulan wajah Buddharupam raksasa ini memilik wajah yang seperti wajah orang Mongol-Chinese-Tibet, maka Emir Abdurrahman makin tersinggung dan kesal lalu memerintahkan pasukan menembakinya dengan meriam. Akibatnya wajah kedua Buddharupam raksasa itu dipahat dan lengan serta kakinya putus dihajar tembakan meriam.

Akhirnya Buddharupam ini baru benar-benar musnah dari muka Bumi ini oleh bahan peledak modern dan niat kemauan rezim Taliban sampai hancur jadi debu.
 
^ario_botax

Raja Milinda (menander) memang pernah hidup. Ada kok sejarahnya, coba digoogling..;)

kl bro hobi main game pc jg, coba main game empire earth.. ini game perang yg menceritakan urutan sejarah perang dibumi ini.

Raja Menander ada termasuk didlm sejarah itu...:P
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.