• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Mie "Lethek" yang Masih Diburu

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
1KV5p.jpg

Warnanya tak menarik seperti mie pada umumnya. Namun, mie yang berbahan dasar terigu itu rasanya tak kalah dengan mie yang bahan utama harus diimpor dan jelas lebih mahal. Mie yang berwarna cenderung kecoklatan dan terkesan kotor ini masih diburu wisatawan domestik.

Warga setempat menyebut mie yang berbahan dasar adonan gaplek dan tepung tapioka ini dengan nama Mie Lethek. Perajin mie sengaja tidak menambah zat pewarna agar Mie Lethek berwarna putih.

"Kalau diberi pewarna agar tampak putih maka tidak lagi disebut Mie Lethek," kata Yasir Ferri Ismatrada, pembuat mie yang terletak di Dusun Bendo, Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, DIY, Sabtu 1 Desember 2012.

Selain tak menggunakan zat pemutih kimia, Mie Lethek juga tak menggunakan campuran zat pengawet makanan, seperti formalin atau boraks. Selain terasa lebih kenyal dan lezat, mie ini mampu bertahan hingga satu tahun.
"Pak Presiden juga pernah mengatakan kalau mie ini rasanya berbeda dengan mie lainnya," ungkap bapak dua anak ini. Tak seperti pembuatan mie kebanyakan yang menggunakan teknologi modern, pembuatan Mie Lethek masih menggunakan teknologi kuno yakni tenaga sapi dan manusia.

Tenaga sapi digunakan untuk menghaluskan gaplek dan tepung tapioka. Gaplek dan tepung tapioka ditaruh dalam satu tempat berbentuk lingkaran raksasa yang berlubang. Kemudian dihaluskan dengan batu pengiling seberat satu ton yang ditarik memutar dengan bantuan tenaga sapi.

"Batunya ini dari China. Sejak dari awal berdiri hingga sekarang masih tetap menggunakan batu itu dan tidak pernah rusak," kata dia.

Setelah bahan baku mie tercampur, adonan itu dipanaskan selama satu jam. Agar proses pengovenan efisien, adonan mie yang telah dicetak berbentuk persegi empat itu diletakkan secara berlapis di atas anyaman bambu dalam oven berukuran raksasa. "Setelah itu, diblender lagi untuk mengukur kadar airnya," paparnya.

Setelah proses ini, bahan dasar mie yang masih berupa adonan kering ini ditekan. Pada proses untuk menghasilkan buliran-buliran mie panjang ini juga menggunakan tenaga manusia. Adonan dimasukkan dalam satu lubang, kemudian lubang yang berdiameter sekitar 30 centimeter itu ditekan dengan kayu. Agar tekanan lebih kuat, di atas kayu itu terpasang balok kayu panjang yang ditarik ke bawah oleh sekitar lima orang.

"Lalu di bawah lubang itu keluar mienya. Setelah itu, kemudian dipanaskan lagi, kemudian dicetak dan dijemur," timpal seorang karyawan, Jiman (65 tahun).
Perusahaan ini sempat gulung tikar pada awal dekade 80an. Namun pada tahun 2002 perusahaan keluarga Mie Lethek yang telah berusia tiga generasi ini kembali menggeliat. Menurut Yasir, pada awal tahun 80an di Indonesia marak pembuatan mie instan. Karena kalah bersaing, pada 1982 perusahaan ini pun gulung tikar.

Namun demikian, pada tahun 2002 maraknya pemberitaan mie instan yang menggunakan bahan pengawet makanan, mendorong Yasir menghidupkan kembali perusahaan yang kini mempunyai karyawan 30 orang itu. "Awalnya pembuatan Mie Lethek ini dimulai mbah pada tahun 1940an," tutur Yasir bangga.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.