yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Anda Orang Jakarta ?
Pasti sudah tidak asing lagi dengan Nama MH Thamrin.
nGomong nGomong, Tahukah Anda siapa MH Thamrin ?
simak postingan ane berikut ini .....
Perjuangan MH Thamrin
Pasti sudah tidak asing lagi dengan Nama MH Thamrin.
nGomong nGomong, Tahukah Anda siapa MH Thamrin ?
simak postingan ane berikut ini .....
LEBIH dari 20 ribu orang mengantar kepulangan Muhammad Husni Thamrin ke peraduan terakhirnya di Pekuburan Karet, 11 Januari 1941 silam. Mereka begitu kehilangan politikus santun yang banyak berjasa bagi kepentingan bangsa dan negara ini.
Terlebih lagi, kematiannya penuh intrik. Putra Betawi ini diduga dibunuh, tetapi laporan resmi pemerintah Belanda menyebut Thamrin bunuh diri saat menjadi tahanan rumah. Dia ditahan karena dianggap main mata dengan Jepang.
Di rumahnya di Jalan Sawah Besar No 32, Thamrin muntah-muntah dan demam tinggi. Istrinya sempat menghubungi polisi untuk membawanya ke dokter, namun polisi malah mengutus dokter untuk memeriksa kesehatan Thamrin. Sayang, dokter terlambat. Kondisi Thamrin sudah kritis sampai tidak bisa berbicara.
Dokter memberi suntikan untuk menurunkan panasnya, namun penyakitnya tidak tertolong. Subuh keesokan harinya dia berpulang.
Terlebih lagi, kematiannya penuh intrik. Putra Betawi ini diduga dibunuh, tetapi laporan resmi pemerintah Belanda menyebut Thamrin bunuh diri saat menjadi tahanan rumah. Dia ditahan karena dianggap main mata dengan Jepang.
Di rumahnya di Jalan Sawah Besar No 32, Thamrin muntah-muntah dan demam tinggi. Istrinya sempat menghubungi polisi untuk membawanya ke dokter, namun polisi malah mengutus dokter untuk memeriksa kesehatan Thamrin. Sayang, dokter terlambat. Kondisi Thamrin sudah kritis sampai tidak bisa berbicara.
Dokter memberi suntikan untuk menurunkan panasnya, namun penyakitnya tidak tertolong. Subuh keesokan harinya dia berpulang.
Perjuangan MH Thamrin
Thamrin lahir di Sawah Besar, Jakarta, pada 16 Februari 1894. Ayahnya keturunan Eropa berdarah Inggris dan ibunya orang Betawi. Dia berasal dari keluarga berada. Kakeknya adalah pemilik hotel di kawasan Petojo dan ayahnya, Thamrin Mohamad Thabrie juga pernah menjadi Wedana Batavia pada 1908.
Thamrin fasih berbahasa Belanda dan mampu berdebat. Menurut Sejarawan LIPI Asvi Marwan Adam, Thamrin memulai karier sebagai pegawai magang di Residen Batavia dan pegawai klerk di perusahaan pelayaran KPM, selanjutnya duduk di Dewan Kota (Gemeenteraad, 1919-1941) lalu berjuang di Dewan Rakyat (Volksraad, 1927-1941).
Setelah dr. Sutomo wafat pada 1938, Thamrin menggantikannya sebagai wakil Ketua Partai Indonesia Raya (Parindra). Perjuangannya di Volksraad tetap dilanjutkan dengan sebuah mosi, agar istilah Nederlands Indie, Nederlands Indische dan Inlander diganti dengan istilah Indonesia, Indonesische dan Indonesiea.
Perjuangan Thamrin merebut kemerdekaan, kata Asvi, sedikit berbeda dengan tokoh pergerakan kemerdekaan kala itu. Seperti Soekarno yang terkesan blak-blakan dalam berjuang, Thamrin justru lebih kooperatif. Meski kooperatifnya Thamrin tidak berdasar atas loyalitas terhadap Belanda.
Modus Thamrin ini pun terbilang ampuh. Saat pergerakan Soekarno, Hatta, dan Sjahrir terkesan mandek, Thamrin tetap bergerak dengan bersemangat di Volksraad. Kendati kemudian, Thamrin tetap harus menanggung “cambuk” dari Belanda. Bedanya Bung Karno dibuang ke Ende, Nusa Tenggara Timur, Thamrin dikenakan tahanan rumah, setelah Soekarno berkunjung ke rumahnya.
Sebab lainnya, dia menolak mengibarkan bendera Belanda di rumahnya pada ulang tahun Ratu Wilhelmina, 31 Agustus 1940. Menurut Asvi, Thamrin juga sempat mempelesetkan JINTAN, obat kumur murah buatan Jepang, menjadi "Jenderal Japan Ini Nanti Toeloeng Anak Negeri". Selain itu, tokoh Jepang Kobajashi dipanjangkan menjadi "Koloni Orang Belanda akan Japan Ambil Seantero Indonesia".
Tahun 1960, MH Thamrin diangkat sebagai sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Soekarno dan namanya diabadikan menjadi nama jalan protokol di Jakarta.
Thamrin fasih berbahasa Belanda dan mampu berdebat. Menurut Sejarawan LIPI Asvi Marwan Adam, Thamrin memulai karier sebagai pegawai magang di Residen Batavia dan pegawai klerk di perusahaan pelayaran KPM, selanjutnya duduk di Dewan Kota (Gemeenteraad, 1919-1941) lalu berjuang di Dewan Rakyat (Volksraad, 1927-1941).
Setelah dr. Sutomo wafat pada 1938, Thamrin menggantikannya sebagai wakil Ketua Partai Indonesia Raya (Parindra). Perjuangannya di Volksraad tetap dilanjutkan dengan sebuah mosi, agar istilah Nederlands Indie, Nederlands Indische dan Inlander diganti dengan istilah Indonesia, Indonesische dan Indonesiea.
Perjuangan Thamrin merebut kemerdekaan, kata Asvi, sedikit berbeda dengan tokoh pergerakan kemerdekaan kala itu. Seperti Soekarno yang terkesan blak-blakan dalam berjuang, Thamrin justru lebih kooperatif. Meski kooperatifnya Thamrin tidak berdasar atas loyalitas terhadap Belanda.
Modus Thamrin ini pun terbilang ampuh. Saat pergerakan Soekarno, Hatta, dan Sjahrir terkesan mandek, Thamrin tetap bergerak dengan bersemangat di Volksraad. Kendati kemudian, Thamrin tetap harus menanggung “cambuk” dari Belanda. Bedanya Bung Karno dibuang ke Ende, Nusa Tenggara Timur, Thamrin dikenakan tahanan rumah, setelah Soekarno berkunjung ke rumahnya.
Sebab lainnya, dia menolak mengibarkan bendera Belanda di rumahnya pada ulang tahun Ratu Wilhelmina, 31 Agustus 1940. Menurut Asvi, Thamrin juga sempat mempelesetkan JINTAN, obat kumur murah buatan Jepang, menjadi "Jenderal Japan Ini Nanti Toeloeng Anak Negeri". Selain itu, tokoh Jepang Kobajashi dipanjangkan menjadi "Koloni Orang Belanda akan Japan Ambil Seantero Indonesia".
Tahun 1960, MH Thamrin diangkat sebagai sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Soekarno dan namanya diabadikan menjadi nama jalan protokol di Jakarta.