Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Masa kampanye pilpres & pileg sudah usai. Rakyat sudah menentukan pilihan. Hingar bingar di jalanan & lapangan sudah menunjukkan keheningan seiring dengan pemandangan mata yg lebih jernih dari atribut-atribut partai politik yg dipasang tidak beraturan. Namun, battle war antara para kandidat & regu sukses masih terasa panas di semua lini media sosial. Perang kata-kata, perang argumen mewarnai semua akun media sosial.
Hampir semua saling berpendapat kepada pilihannya & mencari kesalahan paslon yg bukan pilihannya, & banyak yg mati-matian membela paslon pilihannya. Saling capture rekam jejak & saling menciptakan video pendek bak sedang berdagang di lapak akunnya masing-masing. Dan, ini sudah berlangsung satu tahun terakhir.
Mahal
Politik di Indonesia sangatlah mahal. Ia dibayar dengan permusuhan dalam perbedaan. Caci maki & kebencian hadir di setiap menjelang & setelah pemilu. Fitnah & berita hoax seperti hal biasa untuk menjatuhkan lawan yg berbeda opsi politik. Banyak orang mengerjakan berbagai cara dengan tidak mempedulikan norma & moral. Ongkosnya pun juga membutuhkan uang yg tidak sedikit.
Modal untuk menuju calon legislatif saja dapat miliaran rupiah. Tentu, bukan pengorbanan yg ringan mengingat kemampuan keuangan masyarakat Indonesia pada umumnya masih rendah. Dengan uang sejumlah itu pun, belum tentu berhasil melenggang ke gedung dewan, & modal uang tersebut belum tentu dapat kembali.
Akhir-akhir ini muncul istilah election stress disorder atau gangguan stres pemilu. Meskipun gangguan ini bukan merupakan diagnosis kejiwaan resmi, namun gangguan mental ini nyata adanya. Dibuktikan oleh survei dari American Psychological Association yg menemukan akibat stres pada pemilu Amerika Serikat pada 2020. Kemudian diperjelas oleh seorang psikiater yaitu Dr. Robert Brigt tentang akibat stres pemilu yg dijelaskan lengkap dengan gejala-gejala yg timbul.
Situasi pemilu, termasuk di Indonesia, dapat dianggap cukup menegangkan bagi orang-orang yg terlibat secara langsung. Baik itu sebagai paslon presiden & wakil, calon legislatif, regu sukses, & bahkan yg cuma ikut-ikutan mendukung saja. Politik mengubah segalanya; yg dahulu kawan sekarang saling serang. Bahkan, di suatu daerah ada anak yg menganiaya orangtua setelah selesai menonton debat calon presiden karena berbeda pilihan.
Para intelektual & politisi yg dahulu satu misi & visi, terpaksa berseberangan karena disparitas dukungan partai politik. Ketegangan semakin jelas menjelang hasil pemilu. Banyak terjadi perubahan perilaku & perkataan yg saling menyakiti terjadi antarkeluarga, rekanan teman & partner bisnis juga ikut terganggu dengan keadaan ini. Banyak orang belum siap dengan disparitas & belum dapat menerima kegagalan. Oleh karena itu, beberapa RSUD sudah mempersiapkan layanin spesifik untuk pasien dengan gangguan jiwa pascapemilu.
Reaksi
Dalam teori psikoanalisis Sigmund Freud, manusia akan cenderung menghindari kesengsaraan & mencari kesenangan. Ketika datang suatu bahaya atau sesuatu yg mengancam dirinya, maka manusia akan mengerjakan reaksi. Ancaman & bahaya yg gagal diadaptasi akan berubah wujud jadi kecemasan atau ketakutan. Dalam kondisi ini akan muncul dorongan secara tidak sadar untuk bagaimana manusia mempertahankan dirinya supaya tetap survive & hidup.
Secara tidak sadar manusia akan mengpakai prosedur pertahanan diri untuk merespon stres. Dorongan ini disebut insting. Dan, setiap manusia mengpakai prosedur ini secara berbeda berdasarkan tabiat kepribadian, hasil belajar, & pengalaman seseorang pada masa lalunya.
Dalam pemilu, alasan seseorang mengambil keputusan dalam memilih juga tidak dapat dihindari karena adanya dorongan untuk menghindari kesengsaraan & mencari kesenangan. Contoh perilaku seseorang menghindari kesengsaraan adalah mereka yg takut kehilangan hidup nyaman, takut miskin, takut kehilangan kekuasaan & jabatan, karena diancam seseorang, atau takut tidak diterima kelompok sosialnya, ini dapat lebih disebabkan karena pengaruh identifikasi & penerimaan kelompok.
Sedangkan, contoh perilaku seseorang yg mencari kesenangan adalah karena harap mendapatkan kekuasaan baru atau kepentingan terfasilitasi, karena adanya iming-iming atau janji-janji, harap idenya atau keharapannya direalisasikan. Dan, juga faktor emosional seperti tertarik dengan kepribadian atau sosoknya secara personal, atau dapat juga karena alasan memiliki idealisme yg sama mengenai sebuah nilai yg dianut. Serta, disebabkan karena keadaan tertentu, seperti pernah mendapatkan hadiah, pernah berjumpa & berinteraksi langsung sehingga membentuk pengalaman emosional yg akan mempengaruhi keputusan seseorang dalam memilih.
Maka, kampanye adalah bagian terpenting dalam sebuah pemilu karena menciptakan pengalaman & pengaruh kepada masyarakat yg masih belum berpikir menentukan pilihannya.
Pertahanan Diri
Makhluk hidup pada dasarnya akan cenderung bertarung untuk survive & menghindari kegagalan. Seperti pada binatang yg lapar, mereka cuma berpikir makan & makan untuk mempertahankan hidup, mereka berebut, & tidak peduli satu sama lain. Tapi itu binatang, makhluk dengan akak yg terbatas.
Sedangkan, manusia adalah makhluk yg kompleks; cara mempertahankan hidupnya tentu berbeda. Pemaknaan makanan sebagai sumber bertahan hidup bagi manusia dapat saja berupa kekuasaan, status sosial, harta yg banyak, seks & fisik atau penampakan benda yg bagus.
Namun, semua makhluk hidup akan mengerjakan reaksi yg sama ketika dirinya berada dalam keadaan yg terancam, & akan mengerjakan pertahanan diri ketika sedang berada dalam kondisi bahaya. Dalam menghadapi ancaman atau bahaya, tidak semua manusia melaluinya dengan mudah. Ibarat pertarungan, kegagalan & keberhasilan adalah suatu konsekuensi.
Kegagalan adalah ketika seseorang tidak dapat mengatasi ketakutan tersebut, tidak dapat merespons secara baik ancaman yg muncul. Sebagai konsekuensinya ada perubahan dalam perilaku & sikapnya yg mengganggu dalam aktivitas sehari-hari. Sebagai misal, muncul gangguan tidur, gangguan makan, gangguan bersosialisasi, & hal-hal yg berbeda di luar kebiasaannya sehari-hari. Inilah yg dinamakan kecemasan.
Perilaku ini sebenarnya sudah terlihat jauh sebelum hari pemilihan, artinya ancaman sudah terasa. Perilaku yg dapat terlihat saat itu adalah saling mencaci, membela terlalu berlebihan, menyebarkan berita bohong, menyuap, perang argumen untuk mengaburkan fakta, atau bahkan mengerjakan kecurangan untuk mendapatkan kekuasaan. Hal ini dilakukan karena manusia harap survive hidup, baik itu karena dorongan menghindari kesengsaraan atau untuk mencari kesenangan, & bahkan keduanya sekaligus. Insting bertindak karena adanya dorongan untuk mengurangi tegangan & stress karena takut akan kelaparan.
Keseimbangan Berpikir
Kekuasaan adalah puncak dari segala makanan. Dengan kekuasaan manusia sanggup menggerakkan & mengendalikan apapun yg diharapkan. Manusia adalah makhluk berakal, tak heran kalau ia sanggup mengerjakan cara-cara yg lebih luas untuk memenuhi kebutuhannya.
Kekuasaan bukanlah sesuatu hal yg harus dihindari. Sebab, dengan kekuasaan manusia dapat menyebarkan kebaikan & mencegah keburukan. Dengan kekuasaan seorang manusia sanggup menciptakan hidup yg lebih bermakna, nyaman, & minim stres. Salah satunya dengan cara memodifikasi lingkungan dengan menyusun kebijakan yg selaras.
Jika manusia tumbuh dalam lingkungan dengan pendidikan yg baik, keamanan yg terjamin, sumber makanan yg terjaga, & ada kebebasan mengutarakan perasaan, maka hal ini dapat mengurangi akibat kecemasan pada kelompok publik & akan menciptakan kesehatan mental. Meminjam kembali teori psikoanalisis Sigmund Freud mengenai struktur kepribadian, seorang manusia yg utuh adalah yg sanggup menjaga keseimbangan antara Id, Ego & Super ego.
Id merupakan dorongan naluriah, ego adalah realitas yg nyata ada, & Super ego sebagai moral & norma atau disebut nilai. Jika manusia sanggup menyeimbangkan ketiga hal tersebut, maka ia akan terhindar dari kecemasan. Jika cuma Id yg bekerja, maka manusia berperilaku berdasarkan instingnya saja, tidak memperhatikan realita. Jika Id & Ego yg bekerja, itu pun belum cukup karena tidak melibatkan moral & norma. Manusia adalah makhluk berpikir tentu sanggup untuk menyeimbangkan ketiganya supaya dapat bertarung dengan cara yg manusiawi.
Copy paste dari tulisan Penulis : Etik Rahmawati (Psikolog)
Sumber Link:
Mewaspadai Stres Pasca Pemilu