Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Hidup terlalu lurus kadang membosankan. Membosankankan karena hambar cerita. Sekali-kali tempuhlah jalur berkelok, karena di situ akan ada banyak cerita. Untuk itu, alamilah rasa sedih yg luar biasa, supaya ketika ada orang yg cerita soal kesedihan kita terbiasa ikut merasakan. Alami juga rasa bahagia yg luar biasa, supaya ketika ada orang yg cerita tentang kesenangan, kita dapat ikut bersenang-senang dengan mereka.
Setelah itu, luangkan waktumu untuk mempelajari sesuatu di luar bidangmu, supaya ketika berjumpa orang yg berada di luar bidang kita, kita dapat nyambung. Lakukan juga aktifitas yg berlawanan dengan aktifitas harianmu, supaya ketika suatu saat cucumu memohon supaya diceritakan sesuatu di luar aktifitas harianmu, anda punya sesuatu yg diceritakan di luar aktifitas harianmu.
Dalam menempuh jalur berkelok itu, sebetulnya cuma ada dua kemungkinan keadaan yg akan terjadi: 1) Situasi yg sesuai harapan. 2) Situasi yg tidak sesuai harapan. Dua-duanya bagus. Tidak perlu kita memihak salah satu situasi. Lagi pula bukan soal situasinya yg penting, tetapi bagaimana sikap & respon kita kepada keadaan itu.
Misalkan kita sering dihadapkan pada keadaan yg mantap, maksudnya keadaan itu sering sesuai dengan harapan, tetapi kalau itu menciptakan kita lupa diri & bangga akan diri sendiri ya buat apa? Sebaliknya, andaikata kita sering dihadapkan pada keadaan yg tidak sesuai harapan, tetapi kalau itu menciptakan level pencerahan kita berkembang, menciptakan kita sadar akan eksistensi The Best Planner (baca: Tuhan), bukankah itu mantap? Kita jadi manusia yg down-to-earth, alias tidak angkuh.
Sekali lagi, bukan soal situasinya yg harus diperdebatkan, tetapi bagaimana reaksi kita kepada sebuah situasi, itulah yg terpenting. Sehingga, apapun keadaan yg terjadi, kita sanggup memaknainya secara maksimal, tentu memaknai secara positif. Nah, uniknya, segala kemungkinan keadaan yg terjadi itu terlahir dari jalur hidup yg berkelok. Bagi mereka yg hidupnya lurus-lurus saja, entah secara mindset, sikap, aktivitas, ataupun gaya hidup, biasanya ceritanya, kalau gak boleh dikatakan basi, ya begitu-begitu saja.
Simpelnya begini, kalau aktifitas harianmu cuma update status facebook di kamar, atau posting photo masa kecilmu, atau memantau dinding akun orang lain, sehari saja luangkan waktumu untuk meng-off-kan seluruh akses internetmu, simpan di lemari. Kamu pergi ke luar, tidak perlu bawa motor apalagi hape, jalan kaki saja sepanjang yg anda mau. Ada warkop, mampir, pesan kopi, ajak ngobrol mamang warkopnya, gali core-value mamang warkopnya. Dari dialog itu, bukan tidak mungkin anda akan menemukan sebuah mutiara yg tidak anda dapatkan ketika duduk di depan penceramah mingguan. Bukan tidak mungkin juga anda akan menemukan sebuah kutipan yg tidak mungkin anda dapatkan dari kutipan Jalaluddin Ar-Rumi atau Shakespeare.
Kemudian anda berjalan lagi, & kebetulan anda menemukan sebuah rel kereta, jalanlah di atasnya. Kamu berjalan di atas rel & menyeimbangkan posisi tubuhmu seperti seorang akrobat yg berjalan di atas tambang. Lantas orang-orang yg melihatmu menganggap seperti orang kaburan dari RSJ, abaikan saja. Kamu tidak sedang merugikan mereka, hidup anda tidak dibiayai mereka, cicilan kreditmu pun tidak dibayar mereka. Yang penting anda tahu rasanya berjalan di atas rel. Dan ini akan jadi bahan cerita kalau anda mengobrol dengan mantan masinis.
Kemudian saat anda berjalan di atas rel itu ada kereta hendak melintas. Kamu tentu saja harus ke pinggir dulu, biarkan kereta itu lewat. Di saat kereta itu lewat, jangan ragu untuk berteriak, Keretaaaa, minta uaaaang! Aku tahu kereta itu tidak akan melemparkanmu sebuah koin. Tapi coba sajalah! Teriak itu tidak harus di pantai atau di atas gunung. Kamu juga berhak mengpakai pita suara dalam level maksimal. Bukan SteelHeart saja. Kemudian saat kereta itu sudah lewat sempurna, & yg terlihat cuma gerbong belakang, ucapkan dengan lirih, Terima kasih kereta, kau sudah mengajarkanku bahwa kalau mau punya uang itu harus bekerja, bukan sekedar berteriak atau berdoa.
Kamu boleh melanjutkan analogi cerita di atas. Semaumu. Tapi pointku satu saja: Jika hidupmu dirasa terlalu lurus, ambillah jalur berliku itu sekali-kali! Sekali-kali itu artinya jangan sering-sering. Dan terakhir, yg dapat mewarnai hidupmu itu anda sendiri. Bukan saya ataupun orang lain.[]
Hari ini 09:25
Setelah itu, luangkan waktumu untuk mempelajari sesuatu di luar bidangmu, supaya ketika berjumpa orang yg berada di luar bidang kita, kita dapat nyambung. Lakukan juga aktifitas yg berlawanan dengan aktifitas harianmu, supaya ketika suatu saat cucumu memohon supaya diceritakan sesuatu di luar aktifitas harianmu, anda punya sesuatu yg diceritakan di luar aktifitas harianmu.
Dalam menempuh jalur berkelok itu, sebetulnya cuma ada dua kemungkinan keadaan yg akan terjadi: 1) Situasi yg sesuai harapan. 2) Situasi yg tidak sesuai harapan. Dua-duanya bagus. Tidak perlu kita memihak salah satu situasi. Lagi pula bukan soal situasinya yg penting, tetapi bagaimana sikap & respon kita kepada keadaan itu.
Misalkan kita sering dihadapkan pada keadaan yg mantap, maksudnya keadaan itu sering sesuai dengan harapan, tetapi kalau itu menciptakan kita lupa diri & bangga akan diri sendiri ya buat apa? Sebaliknya, andaikata kita sering dihadapkan pada keadaan yg tidak sesuai harapan, tetapi kalau itu menciptakan level pencerahan kita berkembang, menciptakan kita sadar akan eksistensi The Best Planner (baca: Tuhan), bukankah itu mantap? Kita jadi manusia yg down-to-earth, alias tidak angkuh.
Sekali lagi, bukan soal situasinya yg harus diperdebatkan, tetapi bagaimana reaksi kita kepada sebuah situasi, itulah yg terpenting. Sehingga, apapun keadaan yg terjadi, kita sanggup memaknainya secara maksimal, tentu memaknai secara positif. Nah, uniknya, segala kemungkinan keadaan yg terjadi itu terlahir dari jalur hidup yg berkelok. Bagi mereka yg hidupnya lurus-lurus saja, entah secara mindset, sikap, aktivitas, ataupun gaya hidup, biasanya ceritanya, kalau gak boleh dikatakan basi, ya begitu-begitu saja.
Simpelnya begini, kalau aktifitas harianmu cuma update status facebook di kamar, atau posting photo masa kecilmu, atau memantau dinding akun orang lain, sehari saja luangkan waktumu untuk meng-off-kan seluruh akses internetmu, simpan di lemari. Kamu pergi ke luar, tidak perlu bawa motor apalagi hape, jalan kaki saja sepanjang yg anda mau. Ada warkop, mampir, pesan kopi, ajak ngobrol mamang warkopnya, gali core-value mamang warkopnya. Dari dialog itu, bukan tidak mungkin anda akan menemukan sebuah mutiara yg tidak anda dapatkan ketika duduk di depan penceramah mingguan. Bukan tidak mungkin juga anda akan menemukan sebuah kutipan yg tidak mungkin anda dapatkan dari kutipan Jalaluddin Ar-Rumi atau Shakespeare.
Kemudian anda berjalan lagi, & kebetulan anda menemukan sebuah rel kereta, jalanlah di atasnya. Kamu berjalan di atas rel & menyeimbangkan posisi tubuhmu seperti seorang akrobat yg berjalan di atas tambang. Lantas orang-orang yg melihatmu menganggap seperti orang kaburan dari RSJ, abaikan saja. Kamu tidak sedang merugikan mereka, hidup anda tidak dibiayai mereka, cicilan kreditmu pun tidak dibayar mereka. Yang penting anda tahu rasanya berjalan di atas rel. Dan ini akan jadi bahan cerita kalau anda mengobrol dengan mantan masinis.
Kemudian saat anda berjalan di atas rel itu ada kereta hendak melintas. Kamu tentu saja harus ke pinggir dulu, biarkan kereta itu lewat. Di saat kereta itu lewat, jangan ragu untuk berteriak, Keretaaaa, minta uaaaang! Aku tahu kereta itu tidak akan melemparkanmu sebuah koin. Tapi coba sajalah! Teriak itu tidak harus di pantai atau di atas gunung. Kamu juga berhak mengpakai pita suara dalam level maksimal. Bukan SteelHeart saja. Kemudian saat kereta itu sudah lewat sempurna, & yg terlihat cuma gerbong belakang, ucapkan dengan lirih, Terima kasih kereta, kau sudah mengajarkanku bahwa kalau mau punya uang itu harus bekerja, bukan sekedar berteriak atau berdoa.
Kamu boleh melanjutkan analogi cerita di atas. Semaumu. Tapi pointku satu saja: Jika hidupmu dirasa terlalu lurus, ambillah jalur berliku itu sekali-kali! Sekali-kali itu artinya jangan sering-sering. Dan terakhir, yg dapat mewarnai hidupmu itu anda sendiri. Bukan saya ataupun orang lain.[]
Hari ini 09:25