• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Meteor Rusia, Obyek Terbesar Seabad Terakhir

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48

vACb3.jpg

Dalam satu abad terakhir, meteor yang meledak di Rusia, Jumat (15/2/2013) pagi, adalah benda langit terbesar yang jatuh ke Bumi.

"Meteor Rusia merupakan yang terbesar sejak 1908 ketika sebuah meteor menghantam Tunguska, Siberia," demikian pernyataan yang dirilis NASA di situs web resmi lembaga tersebut.

Margaret Campbell-Brown, seorang astronom dari Universitas Ontario, Kanada, mengatakan, obyek tersebut mungkin berasal dari sabuk asteroid yang berada antara Mars dan Jupiter. Meteorit yang jatuh sampai permukaan kemungkinan berupa batu yang juga mengandung nikel dan besi.

Meteor tersebut diperkirakan berdiameter 15 meter dan seberat 7.000 ton. Namun, saat meledak, ukuran lebih kecil karena sebagian massanya telah terbakar saat menembus atmosfer Bumi.

Berdasarkan data rekaman infrasonik di jaringan pemantau senjata nuklir menunjukkan bahwa meteor itu melepaskan kekuatan ratusan kiloton energi. Kekuatannya jauh lebih besar ketimbang senjata nuklir yang baru saja diuji coba Korea Utara.

Para ahli di NASA memperkirakan, meteor melesat dengan kecepatan 18 kilometer per detik. Sementara Akademi Sains Rusia memperkirakan meteor meledak di ketinggian antara 30-50 kilometer di atas permukaan tanah.

Kekuatan ledakannya mencapai ratusan kiloton atau setara puluhan bom nuklir sehingga gelombang kejutnya sampai menghancurkan kaca-kaca bangunan di bawahnya. Laporan terakhir sudah 1.200 orang menjadi korban luka-luka akibat ledakan tersebut. Umumnya, korban terkena pecahan kaca bangunan.

Mengingatkan Tunguska

Peristiwa ledakan meteor di atas kota Chelyabinsk, Rusia bagian tengah, itu mengingatkan kembali peristiwa Tunguska yang terjadi di daratan Siberia pada 30 Juni 1908. Saat itu, sebuah benda langit yang diduga meteor atau pecahan komet juga meledak di udara.

Sebagai perbandingan, obyek yang meledak di Tunguska pada ketinggian 5-10 kilometer dan dari obyek berdiameter sekitar 100 meter. Kekuatan ledakannya diperkirakan setara 10-15 megaton TNT atau 1.000 kali kekuatan bom atom Hiroshima.

Akibat ledakan yang begitu dahsyat, hutan seluas 2.150 kilometer persegi hangus terbakar. Ledakan juga diperkirakan menimbulkan gempa di darat sekuat 5 skala Richter dan terdengar dari ribuan kilometer. Hanya saja, karena terjadi di daerah pedalaman, tidak tercatat jatuhnya korban dalam peristiwa Tunguska ini.
 
Berburu Harta Karun di Serpihan Meteor Rusia
o5cLu.jpg

Bola api besar jatuh di wilayah Chelyabinsk, salah satu kota di Ural, Rusia, Jumat pagi, 15 Februari 2013 waktu setempat. Ratusan rumah hancur dan ribuan orang terluka.
Ini disebut-sebut salah satu meteor terbesar yang jatuh di bumi dalam rentang satu abad terakhir. Banyak pihak yang kemudian bertanya-tanya, kenapa kedatangan meteor itu tidak bisa dilihat?

Amy Mainzer, seorang Peneliti NASA yang bekerja pada Program Near Earth Objects (new) atau badan antariksa yang meneliti objek dekat bumi, mencoba memberikan penjelasan.

"Kami masih belajar dari bola api yang jatuh di Rusia. Bola api itu cukup kecil, hanya sekitar 15 meter dan berat 7000 ton, itulah yang membuatnya tidak terdeteksi," kata Mainzer dilansir laman io9, 16 Februari 2013.

Ia menambahkan, objek itu sebelumnya hanya terlihat samar-samar, dan tidak akan terlihat saat melakukan pengamatan pada malam hari. "Sebagian survei telah berhasil menemukan asteroid-asteroid besar di luar angkasa, tapi kami belum menemukan dan akan terus melacak keberadaan asteroid yang berukuran kecil," tambahnya.

Pria yang bekerja sebagai peneliti utama di proyek satelit NEOWISE untuk memetakan Neos atau objek-objek lain di langit ini, berjanji untuk meningkatkan kemampuannya untuk mengetahui benda-benda lain di luar angkasa.

"Saat ini proyek satelit NEOWISE sudah menggunakan teleskop inframerah, sehingga dapat lebih detail menemukan objek-objek di langit. Proyek ini juga sudah mendapat tambahan anggaran dalam tiga tahun terakhir, diharapkan proyek ini akan berhasil menangkap objek-objek lain," kata Mainzer.

Jumlah asteroid yang berukuran kecil sangat banyak di luar angkasa. Beberapa teleskop lain tidak dapat menemukan keberadaannya, karena keadaan di luar angkasa sangat gelap. Oleh karena itu, dibutuhkan Teleskop inframerah yang ada di satelit NEOWISE untuk mengidentifikasi benda-benda langit yang tidak terlihat oleh perangkat lain.

Sementara menurut Donald Yeomans, Kepala Program new NASA, saat ini NASA sangat serius mengawasi ribuan Neos dan menemukan Neos baru di luar angkasa. "Saat ini NASA bekerjasama dengan University of Arizona, para astronom profesional, lembaga penelitian Neos, dan para amatir, untuk menemukan lebih banyak lagi Neos di luar angkasa," kata Yeomans.

Benda-benda langit yang berukuran kecil sangat sulit untuk dideteksi. Dengan adanya proyek penelitian Neos, diharapkan dapat mencegah terjadinya bencana meteor di bumi.

"Ketika meteor kecil itu datang lagi kebumi dan kita tak melihatnya, mudah-mudahan tidak terjadi ledakan besar di bumi," kata Yeomans.
 
Kekuatan Meteor Rusia Setara 20 Bom Hiroshima

Dengan cahaya yang menyilaukan dan gelombang kejut yang luar biasa, sebuah meteor jatuh di Chelyabinks, Siberia, Rusia, Jumat (15/2/2013). Dampak ledakannya telah melukai lebih dari 1.000 orang serta membuat kepanikan massal di kota berpopulasi 1 juta orang itu.

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memperkirakan meteor itu hanya seukuran bus dan berbobot sekitar 7.000 ton. Namun, kekuatannya sangat dahsyat, 20 kali bom atom dan bola api yang ditimbulkannya terlihat sangat dramatis.

Menurut warga kota itu, peristiwa alam itu seperti yang mereka saksikan seperti di film-film. "Saya terbangun karena ada ledakan. Rasanya, seluruh gedung ini terlempar," kata Igor Chudnovsky, seorang eksekutif perusahaan di Chelyabinsk, seperti dikutip USA Today.

"Saya melihat cahaya, seperti ledakan nuklir, seperti yang saya lihat di film-fim dokumenter," lanjutnya.

Meteor yang meluncur ke wilayah barat Siberia itu masuk atmosfer Bumi pada pukul 09.20 pagi waktu setempat dengan kecepatan sedikitnya 54.000 kilometer per jam dan meledak di ketinggian 30-50 kilometer, kata Akademi Sains Rusia.

Sementara NASA memperkirakan kecepatannya 64 kilometer per jam dan meledak di ketinggian 19-24 kilometer. Meteor itu mengeluarkan 300-500 kiloton energi dan meninggalkan jejak sepanjang 480 kilometer.

"Ada kepanikan. Orang-orang tidak tahu yang sedang terjadi," kata Sergey Hametov, warga Chelyabinks.

"Kami melihat ledakan cahaya di udara, lalu keluar rumah untuk melihat yang terjadi dan kami mendengar ledakan yang sangat keras menggelegar di udara," tutur Hametov kepada Associated Press.

Gelombang kejutnya diperkirakan memecahkan kaca seluas 100.000 meter persegi, menurut pejabat kota. Tak kurang dari 3.000 gedung di kota itu rusak.

Menurut Kementerian Dalam Negeri, lebih dari 1.000 orang dirawat di rumah sakit. Sebagian besar korban terluka akibat pecahan kaca.

Para ilmuwan memperkirakan kekuatan yang dikeluarkan meteor itu 20 kali kekuatan bom atom Hiroshima, meskipun benda ruang angkasa itu meledak di altitud yang lebih tinggi.

Ilmuwan dari Jet Propulsion Laboratory NASA, Amy Mainzer, mengatakan, atmosfer Bumi menjadi semacam tameng. Mainzer menjelaskan, gelombang kejut yang ditimbulkan memang menghancurkan kaca, tetapi "atmosfer menyerap sebagian besar energi itu."

Juru bicara Kementerian Situasi Tanggap Darurat Vladimir Purgin mengatakan, banyak korban terkena pecahan kaca karena mereka berdiri sangat dekat dengan jendela untuk melihat penyebab cahaya yang menyilaukan, yang bahkan lebih terang dari matahari itu.

Sampai saat ini belum ada laporan soal adanya korban tewas dalam peristiwa yang sangat langka itu.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.