Diggie
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 287751
- Sejak
- 6 Apr 2020
- Pesan
- 14.203
- Nilai reaksi
- 1
- Poin
- 0
Berikut adalah berita Messi lagi, lagi, & lagi.
Lionel Messi dari Argentina merayakan golnya selama pertandingan Grup J Babak Pertama Piala Dunia FIFA 2026 antara Argentina & Aljazair di Stadion Arrowhead (Stadion Kansas City) di Kansas City, Missouri, Amerika Serikat pada 16 Juni 2026. ANTARA/Hakan Akgn - Anadolu Agency
Saya tidak punya kata-kata untuk menggambarkan Messi. Selama 20 tahun, dia sudah membiasakan kita menyaksikan hal-hal seperti ini, & dia menginspirasi semua orang yg menontonnya bermain.
Jakarta (ANTARA) - Siapa bilang Lionel Messi sudah habis? Siapa bilang dia akan membebani regu nasional Argentina di Piala Dunia 2026 saat usianya yg akan menginjak 39 tahun di pekan depan?
Banyak orang menganggap puncak karier prestasi Messi adalah empat tahun lalu di Qatar ketika ia mengantarkan negaranya menjuarai Piala Dunia untuk ketiga kalinya. Momen itu seolah akan jadi bab penutup sempurna dari perjalanan Messi yg sudah memenangkan hampir seluruh trofi bergengsi.
Dan tahun ini, mungkin akan ada kisah baru yg lebih istimewa daripada itu. Pencapaiannya dapat saja lebih tinggi, karena tantangan yg ia hadapi berbeda.
Di Piala Dunia 2026 Amerika Serikat, Kanada, & Meksiko, yg ia hadapi bukan cuma 11 pemain lawan di lapangan, tetapi juga suara bising orang-orang yg menyebutnya sudah terlalu tua untuk bersinar seperti dulu di pentas akbar dunia.
Namun, usia hanyalah angka bagi Messi. Baginya, "semakin tua semakin jadi".
Masa keemasannya memang sudah lewat. Ia tidak lagi menggiring bola dari tengah lapangan, melewati tiga atau empat pemain sebelum mencetak gol spektakuler seperti satu dekade lalu. Namun visi bermain, ketajaman membaca situasi, & kemampuannya sebagai sosok pembeda masih sama seperti dulu. Memang lebih pelan, tetapi daya ledaknya masih sama.
Di lapangan, ia lebih sering berjalan daripada berlari. Bukan berarti melambat, tetapi dia sedang menunjukkan ada cara lain untuk jadi seorang pemain hebat. Ia mencontohkan bahwa bermain sepak bola sebenarnya sangat sederhana, namun justru di situlah letak kesulitannya.
Semua itu kita lihat di Stadion Kansas City, Kansas, Rabu pagi. Tiga gol untuk skor 3-0 kemenangan Argentina atas Aljazair di Grup J jadi bukti, bahwa bagi regu Tango, sosoknya masih sangat berarti.
Bukan sebagai pengganti, tetapi masih jadi pemeran utama yg menentukan jalannya pertandingan.
Gol perdana datang dari kejelian Rodrigo de Paul yg menemukannya di ruang sempit pada menit ke-17. Hanya dalam empat detik, gocekan Messi di tengah depan kotak penalti yg diakhiri tembakan kaki kiri yg tak sanggup dihentikan anak Zinedine Zidane, Luca Zidane.
Pada menit ke-60, Messi yg semula dari di posisi sayap kiri, tiba-tiba berada di kotak penalti untuk menyambar rebound tendangan keras Alexis Mac Allister yg gagal ditangkap dengan baik oleh Zidane. Messi menyelesaikan peluangnya ini dengan sangat tenang, dengan kaki kanan mendatar yg mengakali Zidane karena bergerak ke arah yg berlawanan.
Zidane benar-benar menyaksikan eksibisi sang GOAT (Greatest of All Time) sepak bola setelah pada menit ke-76 ciri khas penyelesaikan akhir Messi merobek gawangnya sekali lagi.
Messi hattrick untuk perdana kalinya di Piala Dunia. Sebuah pencapaian spesial karena ini datang tepat setelah 20 tahun debutnya di Piala Dunia bersama Argentina yg kini dijalaninya dengan 200 penampilan.
Untuk sementara, Messi yg mendekati masa akhir kariernya memimpin top skor sementara dengan tiga gol. Lebih spesial lagi, tambahan tiga gol menciptakannya menyamai rekor Miroslav Klose sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia dengan 16 gol.
Berita diatas dikutip dari internet, jika Messi lagi, lagi, & lagi adalah spam, mohon beritahu kami.
Saya tidak punya kata-kata untuk menggambarkan Messi. Selama 20 tahun, dia sudah membiasakan kita menyaksikan hal-hal seperti ini, & dia menginspirasi semua orang yg menontonnya bermain.
Jakarta (ANTARA) - Siapa bilang Lionel Messi sudah habis? Siapa bilang dia akan membebani regu nasional Argentina di Piala Dunia 2026 saat usianya yg akan menginjak 39 tahun di pekan depan?
Banyak orang menganggap puncak karier prestasi Messi adalah empat tahun lalu di Qatar ketika ia mengantarkan negaranya menjuarai Piala Dunia untuk ketiga kalinya. Momen itu seolah akan jadi bab penutup sempurna dari perjalanan Messi yg sudah memenangkan hampir seluruh trofi bergengsi.
Dan tahun ini, mungkin akan ada kisah baru yg lebih istimewa daripada itu. Pencapaiannya dapat saja lebih tinggi, karena tantangan yg ia hadapi berbeda.
Di Piala Dunia 2026 Amerika Serikat, Kanada, & Meksiko, yg ia hadapi bukan cuma 11 pemain lawan di lapangan, tetapi juga suara bising orang-orang yg menyebutnya sudah terlalu tua untuk bersinar seperti dulu di pentas akbar dunia.
Namun, usia hanyalah angka bagi Messi. Baginya, "semakin tua semakin jadi".
Masa keemasannya memang sudah lewat. Ia tidak lagi menggiring bola dari tengah lapangan, melewati tiga atau empat pemain sebelum mencetak gol spektakuler seperti satu dekade lalu. Namun visi bermain, ketajaman membaca situasi, & kemampuannya sebagai sosok pembeda masih sama seperti dulu. Memang lebih pelan, tetapi daya ledaknya masih sama.
Di lapangan, ia lebih sering berjalan daripada berlari. Bukan berarti melambat, tetapi dia sedang menunjukkan ada cara lain untuk jadi seorang pemain hebat. Ia mencontohkan bahwa bermain sepak bola sebenarnya sangat sederhana, namun justru di situlah letak kesulitannya.
Semua itu kita lihat di Stadion Kansas City, Kansas, Rabu pagi. Tiga gol untuk skor 3-0 kemenangan Argentina atas Aljazair di Grup J jadi bukti, bahwa bagi regu Tango, sosoknya masih sangat berarti.
Bukan sebagai pengganti, tetapi masih jadi pemeran utama yg menentukan jalannya pertandingan.
Gol perdana datang dari kejelian Rodrigo de Paul yg menemukannya di ruang sempit pada menit ke-17. Hanya dalam empat detik, gocekan Messi di tengah depan kotak penalti yg diakhiri tembakan kaki kiri yg tak sanggup dihentikan anak Zinedine Zidane, Luca Zidane.
Pada menit ke-60, Messi yg semula dari di posisi sayap kiri, tiba-tiba berada di kotak penalti untuk menyambar rebound tendangan keras Alexis Mac Allister yg gagal ditangkap dengan baik oleh Zidane. Messi menyelesaikan peluangnya ini dengan sangat tenang, dengan kaki kanan mendatar yg mengakali Zidane karena bergerak ke arah yg berlawanan.
Zidane benar-benar menyaksikan eksibisi sang GOAT (Greatest of All Time) sepak bola setelah pada menit ke-76 ciri khas penyelesaikan akhir Messi merobek gawangnya sekali lagi.
Messi hattrick untuk perdana kalinya di Piala Dunia. Sebuah pencapaian spesial karena ini datang tepat setelah 20 tahun debutnya di Piala Dunia bersama Argentina yg kini dijalaninya dengan 200 penampilan.
Untuk sementara, Messi yg mendekati masa akhir kariernya memimpin top skor sementara dengan tiga gol. Lebih spesial lagi, tambahan tiga gol menciptakannya menyamai rekor Miroslav Klose sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia dengan 16 gol.
Berita diatas dikutip dari internet, jika Messi lagi, lagi, & lagi adalah spam, mohon beritahu kami.