• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Merintis Bisnis tanpa Restu Orangtua

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
ePj9Q.jpg

“SAYA di Singapura sejak lulus SMP. Setelah lulus kuliah, saya langsung mendirikan usaha katering ini akhir 2010. Bisnis ini kusiapkan sejak lama,” ujar Gibran Rakabuming Raka saat ditemui di kantornya, Solo, Jawa Tengah, pekan lalu. Sebuah gudang mebel milik ayahnya dijadikan kantor dan dapur katering. Dipilih nama Chilli Pari yang katanya bermakna keberanian dan kemakmuran.

Di akhir kuliah, Gibran bisa bolak-balik Singapura–Solo untuk mewujudkan impiannya itu. Maklum, dia harus mencari sendiri modal untuk membuka usahanya sekitar Rp 1 miliar. “Aku cari modal ke bunk karena bisnis ini nggak disetujui orangtua. Nggak disetujui dan nggak dikasih modal. Ini 100 persen dari pinjaman bunk,” ungkapnya.

Orangtuanya tidak menyetujui karena bisnis yang dipilih Gibran melenceng jauh dari kebiasaan keluarga yang turun-temurun masuk di sektor mebel. Namun, keyakinan Gibran itu tidak asal-asalan. Sebab, dia melihat besarnya potensi mendirikan bisnis katering di kota tersebut.

”Aku memang nggak punya background tata boga, tapi aku melihat potensi besar. Di sini banyak katering, tapi sistemnya masih rumah tangga. Belum ada yang industri,” katanya.

Apalagi dia melihat gedung pertemuan milik ayahnya, Graha Saba Buana, sudah tujuh tahun tanpa katering. Jadi, jika ada penyewa, harus menyewa katering dari pihak lain. “Saya dari dulu usul kenapa katering nggak digarap? Mungkin karena kesibukannya di mebel, jadi nggak sempat. Padahal, bisnis katering cukup menggiurkan karena setiap ada hajatan, biaya terbesar biasanya tersedot untuk membayar katering,” katanya.

Sayang, idenya tersebut tidak pernah ditanggapi ayahnya. Orangtuanya terus saja mendesak Gibran untuk meneruskan usaha keluarga di bidang mebel. Namun, keteguhan hatinya tetap menyala. Dia bersikeras tidak memiliki ketertarikan di bidang mebel. “Bapak bilang, lha terus sing ngelanjutke sopo? Kalau saya jadi wali kota, siapa yang ngelanjutin? Kamu nggak nurut sama orangtua,” ungkap Gibran menirukan ucapan ayahnya.

Di antara sekitar tujuh bunk yang dikirimi proposal, hanya satu yang menyetujui untuk memberikan pinjaman. Akhirnya, pada Desember 2010, Chilli Pari berdiri. “Awalnya, kami garap order kecil-kecilan untuk puluhan orang, baru Januari (2011) bisa garap ribuan orang. Sekarang pun sudah mulai rutin katering wedding di Graha Saba,” jelasnya.

Anak pertama di antara tiga bersaudara itu mengakui bahwa bisnis katering yang ditanganinya sekarang berdiri tanpa restu orangtua. Maklum, adik-adiknya masih kuliah dan bersekolah sehingga belum bisa diserahi tanggung jawab. “Saya nggak tahu nanti adik-adik saya apakah mau melanjutkan usaha Bapak atau tidak. Kalau saya, jelas sudah tidak mau,” tegasnya.

Dia menyadari bahwa modal terbesar bisnis katering adalah kepercayaan. Setiap ada momen pernikahan, pasti yang dicari perusahaan katering yang sudah mapan dan tepercaya. Sementara itu, katering baru yang dibuat Gibran awalnya sama sekali belum dikenal. “Yang sulit adalah meyakinkan calon konsumen bahwa kami beda. Kami kasih edukasi ke pasar. Kalau yang lain masih skala rumah tangga, sistem kami sudah tertata,” sebutnya.

Menurut Gibran, masyarakat Solo memiliki perbedaan jika dibandingkan dengan kota-kota lain. Sebab, budaya masyarakatnya masih memegang konsep penyajian “piring terbang”. “Itu semacam istilah untuk sistem di Solo. Jadi, tamu-tamunya duduk. Pelayannya yang nganter-nganterin makanan. Kalau di Jakarta dan Surabaya, kan sudah sistem buffet. Mereka ngambil sendiri,” terangnya.

Selain itu, katering di Solo hanya menyajikan menu-menu yang standar, seperti kroket, sup matahari, atau lauk sambal goreng hati. Padahal, dia menilai masyarakat Solo sudah jenuh dengan menu-menu tersebut. “Oleh karena itu, saya sajikan menu-menu baru yang belum lazim di Solo, tapi penyajiannya tetap dengan piring terbang,” ujarnya.

Sistem piring terbang seperti itu, lanjut dia, cukup menyulitkan bagi dirinya dan para karyawan. Sebab, Chilli Pari harus menyediakan personel yang cukup banyak untuk melayani para tamu. “Kalau ada order besar, kami menyewa tenaga ibu-ibu sekitar untuk bekerja sambilan. Ya, lumayanlah buat mereka ada uang tambahan,” ungkapnya.

Pada saat pertama memegang order seribu orang, Chilli Pari rela mendapatkan kritik dari beberapa tamu. Maklum, pengalaman pertama itu cukup membuat sajian terlambat dihidangkan. “Waktu itu, aku pakai batik, pura-pura tanya ke tamu. Mereka bilang, makanannya terlambat mungkin karena kateringnya baru. Jadi, itu kami sampaikan ke karyawan supaya ke depan lebih baik lagi. Alhamdulillah, sekarang semuanya lancar,” kata dia.

Apalagi persiapan matang dia lakukan sejak jauh hari. Untungnya, order katering biasanya dilakukan sejak enam sampai satu tahun sebelumnya sehingga Chilli Pari bisa melakukan perencanaan. “Selama 2011, kami sudah melayani ratusan wedding dan event-event, baik skala nasional maupun internasional. Sekarang semua orang percaya,” katanya bangga.

Menurut dia, kunci bisnis katering di Solo dengan budaya piring terbang adalah kecepatan. Oleh karena itu, jumlah personel yang memadai diperlukan. “Di Solo ini banyak kejadian desert (makanan penutup) belum keluar, tamu sudah pulang. Sebab, orang Solo itu yang penting ada nasi, ada es, langsung pulang. Jadi, intinya kami harus cepet keluarin makanannya,” tambahnya.

Untuk menyiasati keterlambatan penyajian makanan, dia harus bekerja sama dengan panitia. Sebab, biasanya orang Indonesia selalu suka moloro sehingga mengacaukan semuanya. “Harus ada koordinasi. Kami mendesak panitia untuk segara keluarkan makanan. Karena kalau tidak, tamu biasanya langsung pulang. Katering yang kena getahnya,” jelasnya.

Lambat laun dia bisa mencirikan karakteristik orang Solo yang lain. “Kalau yang datang anaknya, pasti minta buffet. Tapi, kalau sama orangtuanya, pasti ngotot piring terbang. Karena orang Solo bilang, kalau tamu nggak dilayani, itu nggak sopan. Biasanya, memang begitu kalau orang Jawa yang tradisional. Tapi, kalau yang sudah modern, pasti pilih buffet,” ungkapnya.
d0HPF.jpg
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.