roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Senin, 17 November 2008 | 11:49 WIB
JEDDAH, SENIN - Setiap pagi, sekitar pukul 08.30 waktu Arab Saudi, sekelompok laki-laki berbadan tegap dengan seragam baju terusan berwarna hijau daun masuk ke Terminal Haji Bandara Raja Abdul Aziz Jeddah. Beberapa diantaranya berpeluang besar menjadi pemain sinetron jika hijrah ke Indonesia karena rupanya.
Di bandara yang beratap puluhan payung raksasa berwarna krem, orang-orang berkulit putih yang sebagian besar berasal dari Suriah itu duduk menunggu tak jauh dari pintu keluar bagian pemeriksaan imigrasi bandara.
Mereka baru bergerak setelah barang-barang bagasi jemaah haji tiba, mengangkat koper, mengantarnya ke lokasi transit jemaah dengan kendaraan pengangkut barang, menurunkannya dan kemudian mengangkutnya kembali ke bus-bus yang membawa jemaah ke Mekkah atau Madinah.
Dalam sehari, tak terhitung jumlah koper jemaah dari berbagai negara yang mereka angkat dan turunkan. Jumlah anggota jemaah haji Indonesia yang tiap hari tiba di bandara itu saja dalam sehari antara 2.000 hingga 3.000 orang. Berat koper yang dibawa setiap orang rata-rata 20 kilogram.
Diantara mereka ada Abud Matory (33) dan Omar Abdullah (31) yang tingginya sekitar dua meter. Mereka tiba di Jeddah delapan hari lalu untuk bekerja di Terminal Haji Bandara Raja Abdul Aziz selama musim haji. Tugasnya mengangkut barang-barang jemaah haji di bandara.
"Kami dikontrak dua bulan untuk bekerja di sini. Bekerja dari pukul 09.00 sampai 21.00," kata Omar. Mereka dibayar 40 riyal (satu riyal sekitar Rp 3.000) per hari untuk pekerjaan tersebut.
Pekerjaan itu, menurut dia, lebih berat dari pekerjaan sehari-harinya sebagai petani di Kota Idlib, Suriah. Di sana mereka hanya bekerja delapan jam sehari dan tidak berada di bawah kuasa orang lain. Penghasilannya pun lebih banyak. Omar punya satu hektar lahan sedang Abud punya sepuluh hektare lahan. Lahan mereka antara lain ditanami zaitun, gandum dan adas.
"Niat utama kami memang bukan untuk bekerja, tapi untuk berhaji," kata Abud, yang sekarang sudah punya dua anak laki-laki dan empat anak perempuan.
Laki-laki yang berencana menambah satu istri lagi itu menuturkan, di negaranya hanya penduduk berusia 63 tahun atau lebih yang boleh pergi haji. "Atau kalau punya bapak dan ibu berumur 63 tahun yang pergi haji," tambah Abud.
Ongkos naik haji di negara yang dianggap sebagai salah satu kantung peradaban dunia itu, menurut Omar, cukup mahal. "Naik haji biayanya 2.000 dolar AS. Kalau bekerja begini kami cuma hanya harus mengeluarkan uang 520 dolar AS," katanya.
Ketika waktu pelaksanaan ibadah haji tiba nanti Abud, Omar dan orang-orang Suriah yang bekerja di bandara mengajukan cuti selama beberapa hari untuk menunaikan ibadah haji. "Cuti diijinkan. Kami akan menunaikan haji ifrad. Haji dulu baru umrah," kata Abud.
Setelah itu mereka akan kembali bekerja di bandara, membantu mengangkut koper-koper jemaah yang meninggalkan Arab Saudi melalui Bandara Raja Abdul Aziz dan pulang ke Suriah setelah menyelesaikan kontrak kerjanya.
JEDDAH, SENIN - Setiap pagi, sekitar pukul 08.30 waktu Arab Saudi, sekelompok laki-laki berbadan tegap dengan seragam baju terusan berwarna hijau daun masuk ke Terminal Haji Bandara Raja Abdul Aziz Jeddah. Beberapa diantaranya berpeluang besar menjadi pemain sinetron jika hijrah ke Indonesia karena rupanya.
Di bandara yang beratap puluhan payung raksasa berwarna krem, orang-orang berkulit putih yang sebagian besar berasal dari Suriah itu duduk menunggu tak jauh dari pintu keluar bagian pemeriksaan imigrasi bandara.
Mereka baru bergerak setelah barang-barang bagasi jemaah haji tiba, mengangkat koper, mengantarnya ke lokasi transit jemaah dengan kendaraan pengangkut barang, menurunkannya dan kemudian mengangkutnya kembali ke bus-bus yang membawa jemaah ke Mekkah atau Madinah.
Dalam sehari, tak terhitung jumlah koper jemaah dari berbagai negara yang mereka angkat dan turunkan. Jumlah anggota jemaah haji Indonesia yang tiap hari tiba di bandara itu saja dalam sehari antara 2.000 hingga 3.000 orang. Berat koper yang dibawa setiap orang rata-rata 20 kilogram.
Diantara mereka ada Abud Matory (33) dan Omar Abdullah (31) yang tingginya sekitar dua meter. Mereka tiba di Jeddah delapan hari lalu untuk bekerja di Terminal Haji Bandara Raja Abdul Aziz selama musim haji. Tugasnya mengangkut barang-barang jemaah haji di bandara.
"Kami dikontrak dua bulan untuk bekerja di sini. Bekerja dari pukul 09.00 sampai 21.00," kata Omar. Mereka dibayar 40 riyal (satu riyal sekitar Rp 3.000) per hari untuk pekerjaan tersebut.
Pekerjaan itu, menurut dia, lebih berat dari pekerjaan sehari-harinya sebagai petani di Kota Idlib, Suriah. Di sana mereka hanya bekerja delapan jam sehari dan tidak berada di bawah kuasa orang lain. Penghasilannya pun lebih banyak. Omar punya satu hektar lahan sedang Abud punya sepuluh hektare lahan. Lahan mereka antara lain ditanami zaitun, gandum dan adas.
"Niat utama kami memang bukan untuk bekerja, tapi untuk berhaji," kata Abud, yang sekarang sudah punya dua anak laki-laki dan empat anak perempuan.
Laki-laki yang berencana menambah satu istri lagi itu menuturkan, di negaranya hanya penduduk berusia 63 tahun atau lebih yang boleh pergi haji. "Atau kalau punya bapak dan ibu berumur 63 tahun yang pergi haji," tambah Abud.
Ongkos naik haji di negara yang dianggap sebagai salah satu kantung peradaban dunia itu, menurut Omar, cukup mahal. "Naik haji biayanya 2.000 dolar AS. Kalau bekerja begini kami cuma hanya harus mengeluarkan uang 520 dolar AS," katanya.
Ketika waktu pelaksanaan ibadah haji tiba nanti Abud, Omar dan orang-orang Suriah yang bekerja di bandara mengajukan cuti selama beberapa hari untuk menunaikan ibadah haji. "Cuti diijinkan. Kami akan menunaikan haji ifrad. Haji dulu baru umrah," kata Abud.
Setelah itu mereka akan kembali bekerja di bandara, membantu mengangkut koper-koper jemaah yang meninggalkan Arab Saudi melalui Bandara Raja Abdul Aziz dan pulang ke Suriah setelah menyelesaikan kontrak kerjanya.