Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Kita diberikan panca indera + akal & pikiran guna nerima informasi & ngolah informasi itu jadi pengetahuan, kan? Nah, pernah nggak sih, agan-sista baca artikel dari salah satu portal berita, tetapi artikelnya itu kayak cuman ngambil dari satu sudut pandang doang? Ngerasa nggak sih, kalo "kayak ada yg kurang nih"?
Dalam dunia jurnalisme ada yg disebut dengan jurnalisme ludah. Jadi, media menyajikan informasi tetapi cuma dari perspektif satu orang, trus diberitain. Nah, berita ludah sebutan ane buat hasil dari jurnalisme ludah itu. Alif Nurlambang mengartikan jurnalisme ludah :
Quote:
Alif Nurlambang juga bilang kalo jurnalisme ludah emang sengaja dilakukan, dibuat sensasional, supaya menarik pembaca demi mengejar jumlah klik.
Pemberitaan kayak gitu kan dapat memicu persepsi pembaca yg kemana-mana (yah emang itu sih yg diharapkan industri media), ujung-ujungnya pembaca jadi men-generalisasi informasi, yg jadi asumsi, & berujung ke hoax. Hal yg kayak ginilah yg musti disikapi dengan semestinya.
Sebenernya ada rumusnya, tetapi mungkin itu untuk lain waktu aja. Yang perlu digarisbawahi untuk menyikapi berita ludah adalah mindset. Tanamkan mindsetdi diri kita kalo
Quote:
"apa yg dihinggakanTIDAK SEPENUHNYAmewakilikejadianYANG SEUTUHNYAterjadidi lapangan."
Artinya apa? Ada hal-hal yg belum dapat atau mungkin tidak dapat dihinggakan dalam informasi yg diberitakan itu karna keterbatasan tertentu, misalnya keterbatasan waktu liputan atau pengambilan data, keterbatasan pemahaman wartawan, keterbatasan narasumber untuk dimintai keterangan, dsb.
Kalo kita udah berpegang pada mindsetitu, ketika membaca suatu artikel kita harusnya sudah memiliki pandangan bahwa apayang kita baca BELUM SEPENUHNYA benar.
Agan-sista pasti pernah denger teori ini, karna setau ane teori ini dipake di hampir setiap bidang ilmu.
Di bidang ilmu psikologi, teori ini dipakai untuk menjelaskan pikiran manusia, dimana sisi gunung es yg nampakadalah alam sadar manusia (conscious mind), sisi gunung es yg tak nampak adalah pikiran prasadar (subconscious mind), & sisi gunung es paling dalam adalah pikiran tak sadar (unconscious mind). Dalam dunia kesehatan & keselamatan kerja (K3), teori ini dipakai untuk menggambarkan bahwa "kerugian yg diakibatkan oleh kecelakaan kerja tidak cuma disebabkan oleh biaya langsung (sisi gunung es di atas permukaan), tetapi juga oleh biaya tidak langsung (sisi gunung es di bawah permukaan)".
Spoiler for Gunung Es:
Gambar itu sering dipakai untuk menjelaskan kalo kesuksesan itu cuma apa yg terlihat, padahal di balik itu ada banyak usaha & bahkan kegagalan yg gak diketahui orang. Kalo orang cuman ngeliat kesuksesannya doang, mereka pasti bikin kesimpulan "Wah enak banget jadi si ini, cuman gitu doang dapat kaya. Gua juga ngelakuin itu ah!"
Jadi dalam konteks ini, hubungan gunung es di atas dengan berita ludah adalah kita musti tauapa yg NAMPAK&apa yg TIDAK/BELUM NAMPAKdari berita yg disajikan itu. Kalo masih ada yangTIDAK NAMPAK,akan lebih bijak kalo kita
Quote:
Perlu diketahui gansis, pemberitaan yg dilakukan oleh media sekarang menurut ane ada sisi positifnya juga.
Kita jadi lebih cepat untukup-to-date. Model pemberitaan yg cuma 'nyaplok' dari satu orang tetapi dekat dengan kejadian atau fenomena yg mau diberitakan itu penting biar kita segera tau apa yg sedang terjadi, & emang itu tantangan industri media di era digital sekarang, kan? Kalo mengatakan Bang Komeng, biar...
Spoiler for Yang Lain, Makin Ketinggalan!:
Itulah kenapa ane gak bilang kita musti ngelawan, tetapi kitanya aja yg membekali diri kalo nemuin artikel yg kayak gitu.
SEKIAN
Spoiler for SUMUR:
dosenpsikologi.com
katigaku.top
Hari ini 18:37
Dalam dunia jurnalisme ada yg disebut dengan jurnalisme ludah. Jadi, media menyajikan informasi tetapi cuma dari perspektif satu orang, trus diberitain. Nah, berita ludah sebutan ane buat hasil dari jurnalisme ludah itu. Alif Nurlambang mengartikan jurnalisme ludah :
Quote:
"hanya menyajikan hasil rekaman atau stenografi (penulisan yg ringkas & cepat)pernyataan narasumber"
sumber :https://www.dw.com/id/memperingati-hari-pers-sedunia-pers-waktunya-detoksifikasi/a-53199107
sumber :https://www.dw.com/id/memperingati-hari-pers-sedunia-pers-waktunya-detoksifikasi/a-53199107
Alif Nurlambang juga bilang kalo jurnalisme ludah emang sengaja dilakukan, dibuat sensasional, supaya menarik pembaca demi mengejar jumlah klik.
Kalo kayak gitu, APA BEDANYA AMA EMAK-EMAK YANG NGERUMPI??
Pemberitaan kayak gitu kan dapat memicu persepsi pembaca yg kemana-mana (yah emang itu sih yg diharapkan industri media), ujung-ujungnya pembaca jadi men-generalisasi informasi, yg jadi asumsi, & berujung ke hoax. Hal yg kayak ginilah yg musti disikapi dengan semestinya.
Dengan semestinya maksudnya gimana? DILAWAN?!?!
Bukan dilawan, tetapi ditangkis. Mosok apa-apa dilawan? Nggak capek saling lawan-melawan di Pilpres kemaren? :hehe
Bukan dilawan, tetapi ditangkis. Mosok apa-apa dilawan? Nggak capek saling lawan-melawan di Pilpres kemaren? :hehe
Sebenernya ada rumusnya, tetapi mungkin itu untuk lain waktu aja. Yang perlu digarisbawahi untuk menyikapi berita ludah adalah mindset. Tanamkan mindsetdi diri kita kalo
Quote:
"apa yg dihinggakanTIDAK SEPENUHNYAmewakilikejadianYANG SEUTUHNYAterjadidi lapangan."
Artinya apa? Ada hal-hal yg belum dapat atau mungkin tidak dapat dihinggakan dalam informasi yg diberitakan itu karna keterbatasan tertentu, misalnya keterbatasan waktu liputan atau pengambilan data, keterbatasan pemahaman wartawan, keterbatasan narasumber untuk dimintai keterangan, dsb.
Kalo kita udah berpegang pada mindsetitu, ketika membaca suatu artikel kita harusnya sudah memiliki pandangan bahwa apayang kita baca BELUM SEPENUHNYA benar.
Nah, mindset kayak gitu ane analogikan kayakGUNUNG ES.
Agan-sista pasti pernah denger teori ini, karna setau ane teori ini dipake di hampir setiap bidang ilmu.
Di bidang ilmu psikologi, teori ini dipakai untuk menjelaskan pikiran manusia, dimana sisi gunung es yg nampakadalah alam sadar manusia (conscious mind), sisi gunung es yg tak nampak adalah pikiran prasadar (subconscious mind), & sisi gunung es paling dalam adalah pikiran tak sadar (unconscious mind). Dalam dunia kesehatan & keselamatan kerja (K3), teori ini dipakai untuk menggambarkan bahwa "kerugian yg diakibatkan oleh kecelakaan kerja tidak cuma disebabkan oleh biaya langsung (sisi gunung es di atas permukaan), tetapi juga oleh biaya tidak langsung (sisi gunung es di bawah permukaan)".
Cara ane memandang teori ini sebenarnya juga terinspirasi dari gambar ini
Spoiler for Gunung Es:
Gambar itu sering dipakai untuk menjelaskan kalo kesuksesan itu cuma apa yg terlihat, padahal di balik itu ada banyak usaha & bahkan kegagalan yg gak diketahui orang. Kalo orang cuman ngeliat kesuksesannya doang, mereka pasti bikin kesimpulan "Wah enak banget jadi si ini, cuman gitu doang dapat kaya. Gua juga ngelakuin itu ah!"
Jadi dalam konteks ini, hubungan gunung es di atas dengan berita ludah adalah kita musti tauapa yg NAMPAK&apa yg TIDAK/BELUM NAMPAKdari berita yg disajikan itu. Kalo masih ada yangTIDAK NAMPAK,akan lebih bijak kalo kita
Quote:
TIDAK TERBURU-BURU MEMBUAT KESIMPULAN DARI PEMBERITAAN ITU, SEBELUM MENGGALI SISI YANG LEBIH DALAM DARI INFORMASI ITU.APALAGI KALO PEMBERITAAN ITU CUMAN NGAMBIL DARI SATU SUDUT PANDANG
Lah, berarti salah medianya dong?? Kenapa gak digugat aja medianya? Masa' nyebarin berita setengah-tengah??
Lah, berarti salah medianya dong?? Kenapa gak digugat aja medianya? Masa' nyebarin berita setengah-tengah??
Perlu diketahui gansis, pemberitaan yg dilakukan oleh media sekarang menurut ane ada sisi positifnya juga.
Kita jadi lebih cepat untukup-to-date. Model pemberitaan yg cuma 'nyaplok' dari satu orang tetapi dekat dengan kejadian atau fenomena yg mau diberitakan itu penting biar kita segera tau apa yg sedang terjadi, & emang itu tantangan industri media di era digital sekarang, kan? Kalo mengatakan Bang Komeng, biar...
Spoiler for Yang Lain, Makin Ketinggalan!:
"Yang Lain, Makin Ketinggalan!"
Itulah kenapa ane gak bilang kita musti ngelawan, tetapi kitanya aja yg membekali diri kalo nemuin artikel yg kayak gitu.
Spoiler for SUMUR:
Teori Gunung Es Dalam Psikologi - DosenPsikologi.com
Teori Gunung Es Dalam Psikologi , Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan dan teknologi akan selalu mengalami perkembangan dan pasti tidak akan stagnan
Teori Gunung Es dalam K3 | Iceberg Theory Keselamatan Kesehatan Kerja - Katigaku.top
Teori gunung es dalam K3 merupakan teori yang menggambarkan bahwa akibat tidak langsung dari kecelakaan lebih besar dari akibat langsung
katigaku.top
Hari ini 18:37