Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Kembali lagi bersama Alam, semoga Agan & Sista nggak bosan, ya. Hari ini Alam mau membahas sesuatu yg sering dilakukan orang-orang, padahal hal itu tidak diperbolehkan. Apakah itu? Self diagnosis.
Karena semakin canggihnya teknologi & segala informasi dapat ditemukan di internet termasuk informasi mengenai kesehatan fisik & psikis. Hal tersebut tak ayal menciptakan masyarakat mencoba mencari informasi sendiri tanpa berkonsultasi kepapa ahlinya.
Apa, Sih, Self Diagnosis?
Self diagnosisadalah kegiatan seseorang yg mencoba mendiagnosis dirinya sendiri tengah mengidap gangguan dengan beralaskan sumber-sumber yg ditemukannya seperti internet, buku, konten, & beberapa sumber yg tidak profesional.
Contohnya:
"Kok, mood-ku akhir-akhir gampang berubah, ya. Jangan-jangan saya bipolar."
Dari contoh di atas, si pendiagnosa mengira dirinya mengidap bipolar karena kesamaan yg dirasakan dengan ciri-ciri orang yg mengalami bipolar yg ia temukan di beberapa media sosial atau situs karena itu beberapa orang yg menciptakan konten/tulisan tentang gangguan mental pasti menyantumkan mengatakan 'tidak dianjurkan self diagnosis'.
Nggak Boleh, Ya, Self Diagnosis?
Nggak boleh, apa pun alasannya kecuali kalau anda termasuk pakar tenaga medis, misalnya psikolog, psikiater, atau dokter.
Larangan orang awam untuk mengerjakan self diagnosis adalah karena anggapan belum tentu tepat & dapat saja akan berdampak buruk kepada si pendiagnosa. Oleh karena itu kalian disarankan untuk berkonsuntasi kepada ahlinya.
Selain dapat mengetahi apa yg diidap pasien, si pasien juga dapat bertanya-tanya tentang keluhan yg dirasakan.
Apa, Sih, Bahayanya Melakukan Self Diagnosis?
Berikut hal bahaya yg disebabkan self diagnosis:
1. Salah mendiagnosa
Untuk mengerjakan diagnosa tidaklah mudah karena harus ditetapkan berdasarkan analisis yg menyeluruh. Kesalahan dalammendiagnosis dapat terjadi karena ada beberapa faktor penting yg terlewat hingga akhirnya menyimpulkan diagnosa yg salah.
2. Merasa benar saat mengerjakan diagnosa
Karena merasa hal yg dirasakan pasien sama dengan ciri-ciri penyakit atau gangguan yg pernah ia baca, biasanya orang tersebut akan langsung menyimpulkan ia mengidap apa.
3. Tidak menghiraukan tenaga medis
Karena merasa dapat mendiagnosa secara mandiri, si pendiagnosa biasanya akan tutup mata dengan adanya tenaga medis yg lebih pakar padahal hal yg tidak dapat terdeteksi olehnya dapat ditemukan oleh para ahli.
4.Penanganan yg salah
Saat salah menyimpulakan, otomatis penangannya akan salah. Si pendiagnosa akan membeli obat yg salah, padahal untuk setiap penyakit atau gangguan akan memerlukan penanganan, tipe obat, & juga takaran yg berbeda-beda.
5. Berpotensi mengalami gangguan yg lebih parah
Penanganan serta obat yg salah dapat memicu timbulnya penyakit baru karena penggunaan yg salah atau mungkin menciptakan penyakit atau gangguan si penderita semakin parah daripada yg sebelumnya.
Nah, hayo ngaku, siapa yg biasanya ngelakuin self diagnosis? Mulai sekarang berhenti, ya, karena belum tentu yg kalian diagnosa benar & dapat saja semakin memperburuk kondisi kalian. Jika kalian merasakan beberapa keluhan, lebih baik kalian pergi berkonsultasi dengan ahlinya supaya cepat tertangani dengan tepat.
Semoga hari kalian menyenangkandan tetap dalam lindungan Tuhan. Sampai berjumpa di thread berikutnya.
Kelabu Malam,
Gresik, 8 Oktober 2021
Gresik, 8 Oktober 2021
Hari ini 14:13