• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Menjual Rasa Iba

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Menjual Rasa Iba


Cangkeman.net -Menggantikan sifat malas dengan paras memelas dapat menghasilkan, lo! Yaitu dengan memanfaatkan orang-orang baik yg nggak tegaan. Orang baik memang sangat mudah untuk dimanipulasi, karena mereka biasanya sangat gampang terenyuh & tersentuh setiap melihat paras yg di-settingsememelas mungkin, terlebih lagi kalau ditambah dengan tampilan dibuat lusuh sehingga mencitrakan seakan-akan penderitaan tak pernah mau pergi dari hidup mereka. Maka tak jarang, tipe-tipe orang seperti ini sering dijadikan ATM berjalan untuk dikeruk isinya oleh para manipulator tadi.

Apakah kalau ada orang yg tidak mau berbagi, tidak mudah tersentuh & tidak terenyuh oleh penampilan maupun suatu kejadian yg menuntut empati bukan merupakan orang baik? Gak gitu juga, sih. Karena sebenarnya konsep berbagi atau sedekah tidak dapat kita terapkan cuma dengan melihat darioutfit-nya yg terlihat miskin saja, tetapi kita juga harus memilah mana yg memang terlihat membutuhkan & mana yg terlihat meminta-minta untuk dijadikan sebuah profesi. Jika seseorang sudah menjadikan mengemis sebagai profesi, maka saya lebih memilih untuk tidak memberi se-menyedihkan apapun kelihatannya. Setidaknya itulah prinsip saya. Ini bukan sebuah alasan pembenaran untuk tidak memberi, tetapi lebih pada ke-tepat target pada siapa kita berbagi.

Sebagai contoh pada video yg belakangan sempattrending, seorang pengemis dengan enaknya menoyor seorang wanita yg sedang makan di sebuah warung makan karena si pengemis tidak mendapatkan rupiah dari si wanita yg sedang makan tersebut. Banyak dari komen-komen yg menghujat si pengemis, tetapi ada juga yg menyebut si wanita yg ditoyor sangat pelit padahal cuma uang receh saja. Saya berpendapat apa yg dilakukan oleh wanita yg ditoyor dengan tidak memberi uang bukan sesuatu yg menunjukkan bahwa si wanita tidak memiliki rasa empati kepada orang miskin, melainkan itu adalah hal benar karena memberi kepada orang yg mengemis & menjadikannya sebagai profesi hanyalah menciptakan masalah sosial yg satu ini semakin menjamur. Lantas ke mana kalau kita harap berbagi? Saya sendiri lebih memilih menyerahkan kepada lembaga sosial penyalur yg sudah memiliki legalitas karena mereka sering mengirimkan bukti-bukti penyaluran yg sudah mereka lakukan.

Maaf, koreksi saya kalau salah. Yang saya tahu, mengemis adalah perbuatan yg boleh dilakukan, tetapi dengan syarat & ketentuan yg berlaku. Syaratnya adalah si orang yg mengemis berada dalam kondisi darurat, ketika kondisi daruratnya sudah gugur, maka orang tersebut harus kembali mengerjakan atau mencari pekerjaan untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya dengan tidak meminta-minta. Maka kesimpulannya, silakan mengemis tetapi tidak untuk dijadikan profesi, melainkan cuma ketika ada pada kondisi di mana kalau kita tidak memenuhi kondisi tersebut maka kondisi kita sangat rentan.

Tetapi, semua syarat & ketentuan yg berlaku seakan tidak lagi berlaku. Perhatikan saja bagaimana banyak sekali di jalanan, lampu merah, bus kota, emperan toko, & tempat-tempat lain yg mereka anggap sangat strategis untuk melancarkan aksi, mereka semua hadir ada di sana. Kebanyakan dari apa yg mereka lakukan itu adalah sebuah kamuflase dari sanggup menciptakan diri mereka jadi terlihat tidak mampu. Tak jarang mereka mengerjakan kebohongan-kebohongan dengan berpura-pura cacat supaya dapat meyakinkan orang-orang supaya mau memberi. Seiring dengan besarnya potensi di bisnis ini, maka pelaku-pelaku yg menjalani bisnis ini juga semakin marak karena sangat potensial untuk mendulang rupiah demi rupiah tanpa dituntut terlalu lelah, cuma cukup modal berani malu saja.

Ketika jumlah mereka semakin banyak, kompetitor pun semakin merajalela, maka hukum ekonomi pun berlaku, harus ada inovasi-inovasi supaya mereka dapat bertahan dalam persaingan bisnis ini. Misalnya dengan menyaru sebagai pengamen dengan modal kemampuan & alat musik seadanya. Tetapi yg mereka jual bukan suara, melainkan rasa iba. Pernah saya temui di bus seorang pengamen yang, maaf, tunawicara alias bisu membawa gitar kecil usang.

Entahtrainingmotivasi seperti apa yg sudah diikuti oleh pengamen tersebut hingga-hingga dia berani menjual suara yg dia tidak punya disertai permainan gitar yg tidak paham dengan kunci, cuma asal genjreng saja. Kemudian ada pula anak kecil yg berkamuflase sebagai pedagang cobek yg dipikul, mereka berharap ada yg terjerat oleh rasa iba yg mereka tebar sehingga ada yg tidak tega kemudian membeli jualannya. Atau emak-emak yg berjualan sapu lidi sambil menggendong anak kecil tanpa baju, mereka tidak menjual sapu lidi, melainkan berharap dikasihani dengan mengatakan"Belilah sapu ini, saya sedang cari uang untuk membeli susu anak saya ini".

Padahal sering sekali kita temui kasus-kasus mereka yg berprofesi sebagai pengemis justru jauh lebih berduit ketimbang yg memberi. Salah satunya adalah pengemis bernama Suwadi, pria asal Mojokerto ini viral di tahun 2015 silam karena ketika terkena razia & ditanya penghasilannya, dia memberi keterangan bahwa pendapatannya adalah 15 juta dalam sebulan.What?itu melampaui UMR Jakarta & dia tak harus berlelah-lelah bekerja di pabrik, tidak merasakan diomelin atasan ketika kerjaan salah atau sejenisnya. Rata-rata sehari penghasilan Suwadi adalah 300 ribu hingga 500 ribu. Dan yg bikin kaget lagi ketika rumahnya ditelusuri oleh Dinas Sosial Sidoarjo, Suwadi tinggal di rumah yg jauh lebih bagus daripada rumah tetangganya. Percayalah, banyak sekali Suwardi yg lain yg kita tidak sadari.

Ini adalah sebuah masalah sosial. Masalah yg sebenarnya sudah ada solusi dari pemerintah dengan memberikan pembinaan-pembinaan, tetapi mendapat uang dengan cara mudah sering menciptakan mereka mengerjakan hal itu lagi. Apakah mereka mengganggu? Bagi saya tegas saya katakan sangat mengganggu. Karena keberadaan mereka menciptakan rasa nyaman berada di tempat biasa jadi jauh berkurang.

Oleh karena itu, salah satu solusi yg dapat diterapkan untuk masalah ini sepertinya penertiban & pembinaan saja tidaklah cukup, harus ada pencerahan dari masyarakat pengguna fasilitas biasa yg lain untuk tidak memberikan mereka kemudahan-kemudahan dalam upayanya mencari uang. Karena segala sesuatunya kembali pada hukum sebab & akibat. Mereka tidak akan hadir kalau tidak ada lagi yg memberi mereka rupiah-rupiah tersebut. Sama halnya dengan hukum dagang, kalau suatu produk tak ada yg membeli, maka produk tersebut lama-lama akan menghilang dengan sendirinya di pasaran.


Tulisan ini ditulis oleh Latatu Nandemar diCangkemanpada tanggal 12 Juli 2022 Hari ini 19:30
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.