Mengilas Pesawat Raib di Dunia
Minggu, 07/01/2007
FENOMENA pesawat hilang atau missing plane sudah terjadi sejak dulu.Tidak hanya di Indonesia (seperti yang baru saja dialami AdamAir), tapi juga di luar negeri. Puluhan pesawat berbagai jenis dilaporkan hilang dan hingga kini tak pernah kembali.
Ratusan nyawa pun lenyap dalam serangkaian tragedi yang memunculkan berbagai teori dan skenario itu. Pada pertengahan 1944,tujuh pesawat pengebom milik Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) hilang setelah lepas landas dari pangkalan udara di kawasan Bermuda. Pesawat-pesawat tersebut menempuh perjalanan ke Italia. Sebelum lenyap, pilot sempat menghubungi pangkalan udara di Bermuda. Berbagai usaha ditempuh,tapi mereka tak kembali.
Setahun kemudian, tepatnya 5 Desember 1945,lima pesawat pelempar torpedo Grumman TMB-3 Avenger milik militer AS bernasib serupa. Pesawat tempur itu berangkat dari Pangkalan Udara Fort Lauderdale di utara Miami,pada pukul 14.10 untuk latihan terbang.Awalnya berjalan mulus, tetapi sekitar pukul 15.45 waktu setempat,komandan penerbangan, Letnan Udara Charles Taylor— yang sudah mengantungi 2.500 jam terbang— mendadak mengaku berada di lokasi yang sama sekali tidak dikenalnya. Petugas bandar udara yang mencoba menghubungi Taylor terpaksa menahan nafas saat sinyal kelima pesawat itu melemah sebelum akhirnya hilang sama sekali.
Tak ingin berdiam diri, sebuah pesawat amfibi PBM-5 Martin Mariner langsung dikirim ke angkasa untuk melacak keberadaan lima pesawat nahas tersebut. Sayang, pesawat berawak 13 orang itu pun akhirnya lenyap. Lagi-lagi, tidak ada bangkai pesawat yang ditemukan dalam tragedi beruntun itu. Tim SAR yang dikerahkan untuk mencari pesawat-pesawat itu selalu gagal menjalankan tugasnya. Peristiwa misterius ini terulang pada 1963. Kala itu, dua pesawat bermesin empat hilang saat berada 300 mil di barat daya Bermuda. Pada Juni 1965, sebuah pesawat kecil berawak 10 orang juga dilaporkan hilang di kawasan yang sama.
Tidak berhenti di sini,dua tahun kemudian, beberapa penumpang kapal Queen Elizabeth I mengaku menyaksikan dengan mata kepala sendiri sebuah pesawat yang terbang pada jarak 100 yard dari kapal mendadak menghilang di udara. Sehari kemudian, pesawat tersebut dilaporkan tidak pernah kembali lagi. Guna memburu misteri ini, tak kurang 20 kapal angkatan laut,300 pesawat terbang militer, dan sejumlah kapal selam dari beberapa negara pernah dikerahkan untuk mencari sisa-sisa kecelakaan terbesar di Bermuda.Sayang,tak satu pun dari tim pencari jejak ini yang pulang dengan membawa hasil memuaskan.
Segi tiga Bermuda adalah sebuah kawasan seluas 770.000 kilometer persegi yang terdiri atas gugusan pulau sebanyak 350 pulau.Letaknya di Samudra Atlantik, sekitar 930 kilometer dari daratan Amerika. Selain di Bermuda,musibah pesawat hilang juga terjadi di beberapa lokasi lain di dunia.Empat kru dan enam penumpang sebuah pesawat Stardust yang lepas landas pada 2 Agustus 1947 dari Bandara Buenos Aires di Argentina menuju Ibu Kota Cile, Santiago, lenyap tak berbekas. Sebelum hilang, pilot pesawat sempat mengirimkan kode morse. Sayang, kode itu tak berhasil menuntun Tim SAR untuk menemukan keberadaan mereka, meski akhirnya pada 1998 lalu (setelah 51 tahun), puing pesawat akhirnya ditemukan di daerah Gletzer, pegunungan Andes.
Kecelakaan Stardust ini juga masih menimbulkan tanda tanya besar di dunia penerbangan karena sebelum hilang,kru sempat mengirim morse berbunyi ”STENDEC” sebanyak dua kali yang tak diketahui artinya hingga kini (baca halaman 12). Pada 10 Januari 2003 lalu, sebuah pesawat kecil berawak dua orang lenyap saat terbang dari Piper Tomahawk menuju bandar udara di Chichester, Inggris. Pesawat tersebut diperkirakan jatuh di perairan Pagham, sebelah barat Chichester. Meski telah berharihari dicari, tetap saja bangkai pesawat malang itu tak pernah ditemukan.
Pada 10 September 2004, pesawat jenis Cassa yang diawaki dua orang juga menghilang beberapa saat setelah lepas landas dari Bandara Le Startit, Spanyol, ke Bandara St Secondon, Prancis. Pesawat itu diperkirakan hilang saat melintas di daerah Pyrenees. Di samping insiden-insiden di atas,masih ada beberapa kasus pesawat hilang yang lain (lihat grafis di hal 12). Semua insiden ini menambah daftar kelam kecelakaan medium transportasi yang secara statistik tergolong masih ”paling aman”ini.
Berbagai Teori
Banyak teori yang dikemukakan untuk menguak fenomena pesawat hilang.Dari yang paling ilmiah dan logis hingga hal-hal yang berbau supranatural.Yang sederhana misalnya, pesawat-pesawat tersebut mengalami gangguan cuaca atau kerusakan mesin yang berakibat pada hilangnya kendali. Bisa jadi, pesawat tersebut meledak di udara dan akhirnya hancur berkeping-keping. Saking kecilnya, kepingan-kepingan tersebut tidak dapat ditemukan.
Atau bisa jadi, pesawat menabrak gunung di lokasi yang tidak dapat dijangkau manusia. Selain itu, pesawat mungkin hancur dan tenggelam setelah jatuh ke laut. Selain kerusakan mesin dan pengaruh cuaca, hilangnya pesawat dapat dijelaskan melalui teori alam. Disebutkan, banyak lokasi di bumi ini yang diduga mempunyai gaya medan magnet sangat kuat. Medan magnet ini yang menyedot pesawat hingga jatuh dan tak diketahui jejaknya. Bill Dillon dari US Geological Survey,Woods Hole Field Center, mengatakan, di daerah segi tiga maut Bermuda dan di beberapa daerah lain sepanjang tepi pesisir benua, terdapat tambang metana.
Tambang ini terbentuk jika gas metana menumpuk di bawah dasar laut. Gas ini dapat lolos secara tibatiba bila dasar laut retak. Dengan kekuatan yang luar biasa,tumpukan gas itu menyembur ke permukaan sambil mendidihkan air, membentuk persenyawaan metanahidrat. Peristiwa ini mirip dengan blow outyang sering terjadi pada pengeboran minyak bumi.Akibat semburan ini, pesawat yang berada di atasnya mengalami kerusakan mesin, lantas oleng sebelum akhirnya jatuh atau meledak di udara.
Guna meyakinkan teori ini, British Institute of Oceanographic Sciences (Institut Ilmu Kelautan Inggris) melakukan uji coba dengan pesawat miniatur yang di bawahnya dialiri gas metana. Dalam percobaan tersebut, pesawat dan benda-benda yang ada di atas air bermetana memang oleng. Meski berbagai teori terus saja bermunculan, tetap saja pesawatpesawat tersebut tidak pernah kembali.Tak heran, jika kemudian sebagian penduduk bumi meyakini misteri ini sebagai bagian dari rahasia alam yang belum terkuak.
Penulis Amerika Charles Berlitz menjadi kaya karena bukunya yang diberi judul The Bermuda Triangle, terbitan Doubleday & Co, New York, pada 1974 silam. Dalam buku itu, Berlitz mengemukakan dugaan bahwa semua pesawat yang hilang tak lain karena diserang makhluk angkasa luar (alien dan UFO) atau tersedot ke dalam lubang lorong waktu.Tapi, tentu semua itu juga masih perlu dikaji kebenarannya dengan pembuktian akurat dan bisa diterima nalar. (berbagai sumber/CR-22)
sumber : Koran SINDO, Satu Koran Segala Berita - Mengilas Pesawat Raib di Dunia
Minggu, 07/01/2007
FENOMENA pesawat hilang atau missing plane sudah terjadi sejak dulu.Tidak hanya di Indonesia (seperti yang baru saja dialami AdamAir), tapi juga di luar negeri. Puluhan pesawat berbagai jenis dilaporkan hilang dan hingga kini tak pernah kembali.
Ratusan nyawa pun lenyap dalam serangkaian tragedi yang memunculkan berbagai teori dan skenario itu. Pada pertengahan 1944,tujuh pesawat pengebom milik Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) hilang setelah lepas landas dari pangkalan udara di kawasan Bermuda. Pesawat-pesawat tersebut menempuh perjalanan ke Italia. Sebelum lenyap, pilot sempat menghubungi pangkalan udara di Bermuda. Berbagai usaha ditempuh,tapi mereka tak kembali.
Setahun kemudian, tepatnya 5 Desember 1945,lima pesawat pelempar torpedo Grumman TMB-3 Avenger milik militer AS bernasib serupa. Pesawat tempur itu berangkat dari Pangkalan Udara Fort Lauderdale di utara Miami,pada pukul 14.10 untuk latihan terbang.Awalnya berjalan mulus, tetapi sekitar pukul 15.45 waktu setempat,komandan penerbangan, Letnan Udara Charles Taylor— yang sudah mengantungi 2.500 jam terbang— mendadak mengaku berada di lokasi yang sama sekali tidak dikenalnya. Petugas bandar udara yang mencoba menghubungi Taylor terpaksa menahan nafas saat sinyal kelima pesawat itu melemah sebelum akhirnya hilang sama sekali.
Tak ingin berdiam diri, sebuah pesawat amfibi PBM-5 Martin Mariner langsung dikirim ke angkasa untuk melacak keberadaan lima pesawat nahas tersebut. Sayang, pesawat berawak 13 orang itu pun akhirnya lenyap. Lagi-lagi, tidak ada bangkai pesawat yang ditemukan dalam tragedi beruntun itu. Tim SAR yang dikerahkan untuk mencari pesawat-pesawat itu selalu gagal menjalankan tugasnya. Peristiwa misterius ini terulang pada 1963. Kala itu, dua pesawat bermesin empat hilang saat berada 300 mil di barat daya Bermuda. Pada Juni 1965, sebuah pesawat kecil berawak 10 orang juga dilaporkan hilang di kawasan yang sama.
Tidak berhenti di sini,dua tahun kemudian, beberapa penumpang kapal Queen Elizabeth I mengaku menyaksikan dengan mata kepala sendiri sebuah pesawat yang terbang pada jarak 100 yard dari kapal mendadak menghilang di udara. Sehari kemudian, pesawat tersebut dilaporkan tidak pernah kembali lagi. Guna memburu misteri ini, tak kurang 20 kapal angkatan laut,300 pesawat terbang militer, dan sejumlah kapal selam dari beberapa negara pernah dikerahkan untuk mencari sisa-sisa kecelakaan terbesar di Bermuda.Sayang,tak satu pun dari tim pencari jejak ini yang pulang dengan membawa hasil memuaskan.
Segi tiga Bermuda adalah sebuah kawasan seluas 770.000 kilometer persegi yang terdiri atas gugusan pulau sebanyak 350 pulau.Letaknya di Samudra Atlantik, sekitar 930 kilometer dari daratan Amerika. Selain di Bermuda,musibah pesawat hilang juga terjadi di beberapa lokasi lain di dunia.Empat kru dan enam penumpang sebuah pesawat Stardust yang lepas landas pada 2 Agustus 1947 dari Bandara Buenos Aires di Argentina menuju Ibu Kota Cile, Santiago, lenyap tak berbekas. Sebelum hilang, pilot pesawat sempat mengirimkan kode morse. Sayang, kode itu tak berhasil menuntun Tim SAR untuk menemukan keberadaan mereka, meski akhirnya pada 1998 lalu (setelah 51 tahun), puing pesawat akhirnya ditemukan di daerah Gletzer, pegunungan Andes.
Kecelakaan Stardust ini juga masih menimbulkan tanda tanya besar di dunia penerbangan karena sebelum hilang,kru sempat mengirim morse berbunyi ”STENDEC” sebanyak dua kali yang tak diketahui artinya hingga kini (baca halaman 12). Pada 10 Januari 2003 lalu, sebuah pesawat kecil berawak dua orang lenyap saat terbang dari Piper Tomahawk menuju bandar udara di Chichester, Inggris. Pesawat tersebut diperkirakan jatuh di perairan Pagham, sebelah barat Chichester. Meski telah berharihari dicari, tetap saja bangkai pesawat malang itu tak pernah ditemukan.
Pada 10 September 2004, pesawat jenis Cassa yang diawaki dua orang juga menghilang beberapa saat setelah lepas landas dari Bandara Le Startit, Spanyol, ke Bandara St Secondon, Prancis. Pesawat itu diperkirakan hilang saat melintas di daerah Pyrenees. Di samping insiden-insiden di atas,masih ada beberapa kasus pesawat hilang yang lain (lihat grafis di hal 12). Semua insiden ini menambah daftar kelam kecelakaan medium transportasi yang secara statistik tergolong masih ”paling aman”ini.
Berbagai Teori
Banyak teori yang dikemukakan untuk menguak fenomena pesawat hilang.Dari yang paling ilmiah dan logis hingga hal-hal yang berbau supranatural.Yang sederhana misalnya, pesawat-pesawat tersebut mengalami gangguan cuaca atau kerusakan mesin yang berakibat pada hilangnya kendali. Bisa jadi, pesawat tersebut meledak di udara dan akhirnya hancur berkeping-keping. Saking kecilnya, kepingan-kepingan tersebut tidak dapat ditemukan.
Atau bisa jadi, pesawat menabrak gunung di lokasi yang tidak dapat dijangkau manusia. Selain itu, pesawat mungkin hancur dan tenggelam setelah jatuh ke laut. Selain kerusakan mesin dan pengaruh cuaca, hilangnya pesawat dapat dijelaskan melalui teori alam. Disebutkan, banyak lokasi di bumi ini yang diduga mempunyai gaya medan magnet sangat kuat. Medan magnet ini yang menyedot pesawat hingga jatuh dan tak diketahui jejaknya. Bill Dillon dari US Geological Survey,Woods Hole Field Center, mengatakan, di daerah segi tiga maut Bermuda dan di beberapa daerah lain sepanjang tepi pesisir benua, terdapat tambang metana.
Tambang ini terbentuk jika gas metana menumpuk di bawah dasar laut. Gas ini dapat lolos secara tibatiba bila dasar laut retak. Dengan kekuatan yang luar biasa,tumpukan gas itu menyembur ke permukaan sambil mendidihkan air, membentuk persenyawaan metanahidrat. Peristiwa ini mirip dengan blow outyang sering terjadi pada pengeboran minyak bumi.Akibat semburan ini, pesawat yang berada di atasnya mengalami kerusakan mesin, lantas oleng sebelum akhirnya jatuh atau meledak di udara.
Guna meyakinkan teori ini, British Institute of Oceanographic Sciences (Institut Ilmu Kelautan Inggris) melakukan uji coba dengan pesawat miniatur yang di bawahnya dialiri gas metana. Dalam percobaan tersebut, pesawat dan benda-benda yang ada di atas air bermetana memang oleng. Meski berbagai teori terus saja bermunculan, tetap saja pesawatpesawat tersebut tidak pernah kembali.Tak heran, jika kemudian sebagian penduduk bumi meyakini misteri ini sebagai bagian dari rahasia alam yang belum terkuak.
Penulis Amerika Charles Berlitz menjadi kaya karena bukunya yang diberi judul The Bermuda Triangle, terbitan Doubleday & Co, New York, pada 1974 silam. Dalam buku itu, Berlitz mengemukakan dugaan bahwa semua pesawat yang hilang tak lain karena diserang makhluk angkasa luar (alien dan UFO) atau tersedot ke dalam lubang lorong waktu.Tapi, tentu semua itu juga masih perlu dikaji kebenarannya dengan pembuktian akurat dan bisa diterima nalar. (berbagai sumber/CR-22)
sumber : Koran SINDO, Satu Koran Segala Berita - Mengilas Pesawat Raib di Dunia
