• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Menggantungkan Hidup dari Tirisan Minyak

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
cjGU6.jpg

Banyak jalan menuju ke Roma, banyak jalan pula mendapatkan rezeki untuk memenuhi kebutuhan keluarga tercinta. Mungkin ungkapan itu tepat bagi Anan (40) yang menghidupi istri dan empat anaknya. Mereka bermukim di kawasan padat penduduk, di tepi Danau Rio Rio, Kampung Pedongkelan, Jakarta Timur. Ia mendapatkan rupiah dari mengumpulkan tetesan bahan bakar minta dari tanki-tanki kosong.

Biasanya, Anan mengumpulkan tirisan minyak dari tanki-tanki milik Pertamina yang akan mengisi pasokan BBM di Depo Pertamina, Plumpang, Jakarta Utara. Dalam satu hari, Anan bisa mengumpulkan sekitar 20 liter minyak yang ditempatkannya pada botol air mineral, tergantung jenisnya, seperti premium, solar atau pertamax.

Dalam sekali "niris" dari kran di tanki tersebut, Anan akan mendapatkan sisa minyak antara 2-3 liter.

"Lumayan, Mas. Kalau lagi mujur, satu hari dapat sekitar 20 liter-an minyak. Kalau sudah terkumpul, saya jual ke pengecer terutama tukang tambal ban dengan harga Rp 3.500 per liternya" ujar Anan, saat ditemui, Sabtu (8/9/2012) pagi.

Anan enggan menjual minyaknya secara eceran. Alasannya, harus menunggu untuk "berubah" jadi rupiah. Padahal, keluarganya membutuhkan uang untuk membiayai kehidupan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anaknya.

Meski hanya menggantungkan pendapatan dari meniris tetesan minyak, Anan berpendirian, tetap bisa bertahan hidup dan menyekolahkan anak-anaknya dengan rezeki yang halal.

"Saya kan ambil minyak dari sisa minyak di mobil tanki, jadi bukan maling minyak. Sopir-sopir tanki paling cuma ngelirik dari balik spion saja apa yang saya lakukan" kata Anan.

Tetapi, siapa sangka, dari meniris tetesan minyak yang dijalaninya sejak tahun 1987, Anan kini sudah memiliki rumah di KampungSukamantri, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Sementara, keempat anaknya masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Dasar (SD).
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.