Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Was this a showdown by a country to show the region what havoc can be created?(India Daily Editorial, 29 December 2005).
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, pertanyaan di atas kurang lebih berbunyi begini: "Apakah ini suatu unjuk kekuatan oleh sebuah negara untuk memperlihatkan pada sebuah wilayah tentang bagaimana malapetaka dapat diciptakan?"India Daily Editorial mengajukan pertanyaan ini menyusul penolakan pemerintah India tanggal 27 Desember 2005 kepada bantuan dari IMF & bunk Dunia untuk korban bencana alam. Lalu, pada tanggal 28 Desember 2005, pemerintah India meminta dengan hormat supaya militer Amerika Serikat (AS) menjauh dari wilayah India, karena pemerintah India mencurigai bahwa gempa & tsunami yg melanda beberapa negara di Asia (bahkan goncangan gempanya hingga terasa ke Benua Afrika) ketika itu bukanlah bencana alam normal, alias ada tangan manusia yg ikut andil. Dengan mengetahui pemberitaan India Daily Editorial & sikap pemerintah India begini rupa, maka diketahui bahwa secara implisit India mencurigai AS ikut andil dalam terjadinya gempa bumi & tsunami di kawasan Asia pada tanggal 26 Desember 2004, termasuk bencana gempa bumi & tsunami di Aceh. Kecurigaan India kepada AS memang cukup beralasan, bila dihubungkan dengan fakta tentang disparitas laporan gempa penyebab tsunami Aceh antara pihak Indonesia dengan versi Amerika Serikat.
Sebagaimana diberitakan dari tabloid IntelijenNo. 24 Th I/2005/11-24 Februari, bahwa Badan Meteorologi, Klimatologi & Geofisika di Jakarta mendeteksi letak episentrum (titik pusat gempa pada permukaan bumi) berada di sebelah barat-laut pulau Simeulue, Aceh dengan kekuatan 6,4 skala Richter. Sementara itu, NOAA (The National Oceanic and Atmospheric Administration) menyatakan bahwa bahwa episentrum terletak di sebelah barat-daya Aceh dengan puncak kekuatan gempa fleksibel(?): 8,0 lalu 8,5 naik lagi jadi 8,9 hingga akhirnya 9,0 skala Richter. Sementara U.S Geological Survey menyebut bahwa kekuatan gempa berada cuma pada angka 8,9 skala Richter. Selanjutnya, fakta ini melahirkan dua keganjilan:
Spoiler for Keganjilan:
1. Seismograf milik NOAA & U.S Geological Surveymampu mendeteksi kekuatan gempa lebih seksama daripada seismograf milik Badan Meteorologi, Klimatologi & Geofisika (BMKG).
2. NOAA & U.S Geological Surveyyang terletak di Amerika Serikat sanggup mengetahui kekuatan getaran gempa jauh lebih akbar daripada Badan Meteorologi, Klimatologi & Geofisika (BMKG) di Jakarta, Indonesia.
Berdasarkan fakta & dua keganjilan di atas, maka cukup logis bila India menaruh curiga pada AS. Namun sayang, hingga tulisan ini dibuat, India tidak pernah menunjukkan alasan & bukti kecurigaannya kepada dunia. Oleh sebab itu, wajar saja kalau banyak pihak yg lantas penasaran bertanya-tanya tentang bagaimana caranya menaikkan getaran gempa yg sanggup menciptakan tsunami.
Seperti diberitakan dari majalah SAKSINo.10/Tahun VII/16 Februari 2005, Nurhayati (18 tahun), seorang perempuan warga Aceh yg selamat, ketika menceritakan tentang gempa & tsunami yg melanda kampungnya di daerah Krueng Raya, berkata: Saat gempa masih kecil, Kami semua mendengar ada bunyi dentuman keras tiga kali, seperti bom, lalu gempa makin kencang. Penuturan Nurhayati ini cukup menggelitik, kalau dihubungkan dengan kapabilitas militer & teknologi nuklir negara-negara maju. Oleh karena Nurhayati mendengar letusan tiga kali seperti bom, maka ada kemungkinan ledakan itu bersumber dari tiga buah thermonuklir. Selanjutnya, pakar demolisi sekaligus veteran tentara Australia bernama Joe Vialls, memperkirakan caranya seperti dipaparkan sebagai berikut.
Menurut Joe Vialls, secara teoritis, sebuah negara sanggup meningkatkan getaran gempa dengan mengpakai thermonuklir dengan cara menaruhnya di dasar sebuah palung tanpa diketahui siapapun & entah kapan. Thermonuklir itu dapat saja dimasukkan ke dalam sebuah kotak mirip saturation diving chamber, supaya terlindung dari tekanan air laut sebesar 10.000 pon per inchi. Sebagai contoh, total berat paket angkutan sebuah thermonuklir berkekuatan 9 megaton adalah kurang dari 5 ton. Karena sebuah palung menyempit di bagian dasar (mirip kerucut), maka tiga thermonuklir itu mungkin ditaruh di sekeliling dasar palung. Jika diledakkan ketika terjadi gempa kecil, maka tiga buah thermonuklir ini akan meningkatkan getaran gempa tersebut. Di dalam dunia militer moderen, cara ini disebut Sea Burst(ledakan laut). Beberapa negara maju sudah menguasai teknik menciptakan Sea Burst sejak 40 tahun lalu. Negara penguasa teknik Sea Burst sanggup mengirimkan gempa & tsunami kepada wilayah tertentu di negara lain yg dianggapnya tidak bersahabat (unfriendly) atau bandel (rough), sehingga mudah dimasuki.
Thermonuklir Saturation Diving Chamber
Berdasarkan pemaparan di atas, diperoleh skenario sebagai berikut: ketika terjadi gempa masih berkekuatan 6,4 skala Richter, meledaklah tiga buah thermonuklir secara berurutan di sekeliling dasar palung Sumatra. Total kekuatan ledakan 27 megaton tersebut menghasilkan puncak kekuatan gempa fleksibel sebagai berikut:
Spoiler for Skenario:
1. Ledakan perdana meningkatkan kekuatan gempa dari 6,4 jadi 8,0 skala Richter.
2. Ledakan kedua meningkatkan kekuatan gempa dari 8,0 jadi 8,5 skala Richter.
3. Ledakan ketiga meningkatkan kekuatan gempa dari 8,5 jadi 8,9 skala Richter.
Kemudian karena tekanan air laut kepada sebuah thermonuklir meningkat hingga 10.000 psi (pounds per square inch) di dalam palung Sumatra, maka tekanan air laut kepada tiga buah thermonuklir sebesar 30.000 psi itu menghasilkan tenaga hempasan ekstra yg berakibat meningkatnya daya guncang gempa hingga 9,0 skala Richter. Akhirnya, terciptalah Sea Burstberbentuk gelombang tsunami setinggi lebih dari 20 meter.
Oleh sebab itu, logis kalau ada orang bertanya: Apakah ada campur tangan negara lain dalam peningkatan puncak gempa bumi fleksibel di Aceh tanggal 26 Desember 2004, sehingga menciptakan gelombang tsunami setinggi lebih dari 20 meter? Entahlah, namun sebagai perbandingan tolong ingat kembali ujicoba bom hidrogen oleh AS pada 1 April 1946 di daerah Alaska yg menimbulkan efek samping berupa gempa bumi berkekuatan 7,8 Skala Richter & gelombang ombak setinggi 35 meter yg daya rusaknya hingga hingga ke Kepulauan Hawaii. Lalu ada satu lagi hal menarik yg layak dipertanyakan: Mengapa IMF ikut serta menghitung anggaran kebutuhan untuk rekonstruksi Aceh pasca tsunami padahal IMF itu adalah sebuah lembaga yg semestinya fokus mengurusi kebijakan fiskal & keuangan banyak negara, bukannya mengurusi bantuan bencana alam di dalam sebuah negara? Hanya Tuhan yg tahu.
Sumber:
The role of World Bank and IMF post-tsunami in Indonesia - Bretton Woods Project
The Paris Club communiqu