Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Simbah Kakung (Dokumen Pribadi)
Mungkin setiap orang, memiliki pahlawan masing-masing baik yg masih hidup maupun sudah tiada. Pahlawan yg sudah sangat berjasa pada kita. Mungkin lebih dari satu malah.
Gue sendiri punya banyak pahlawan dalam kehidupan gue. Salah satunya adalah kakek gue. Yang biasa gue panggil Simbah Kakung. Maklum, kakek ini ayah dari bapak yg asli dari Jawa Tengah.
Saat kedua orang tua berpisah karena perceraian, simbah lah yg menampung & merawat gue & adik di Jawa Tengah. Dari gue TK hingga gue kelas 1 SMA. Kelas 2 SMA barulah gue kembali ke Jakarta.
Selama tinggal & dirawat simbah, gue & adik sekolah & mengaji tak jauh dari rumah. Setiap pagi kami pergi sekolah dengan berjalan kaki. Begitupun pulang sekolah. 6 tahun jalan kaki menciptakan kami sehat. Baru setelah gue SMP, karena jauh jadi gue dibelikan sepeda. Malam hari gue & adik pergi mengaji. Keseimbangan dunia & akhirat yg belum tentu kami dapatkan kalau kami tinggal di Jakarta.
Merawat 1 anak bukan perkara mudah, apalagi simbah merawat 2 cucu. Tanpa dibayar & tanpa mengeluh. Ada kejadian yg kalau gue inget, gue jadi sangat kangen sama simbah.
Sebulan sekali, simbah akan membonceng dengan sepeda gue ke pasar untuk potong rambut. Dan pulangnya kita akan mampir ke rumah makan nasi rames. Hal mewah saat itu makan di rumah makan. Dan sebelum makan, simbah akan bertanya ke gue mau makan pake ayam atau telur. Karena sehari-hari, nunggu ada yg hajatan atau dapet nasi berkat kami baru dapat makan dengan ayam atau telur.
Suatu saat gue memilih makan dengan telur. Tapi ada perasaan menyesal. Namanya masih anak-anak. Ayam sepertinya enak. Sehingga gue niat dalam hati, bulan depan gue akan memilih makan pake ayam.
Sebulan kemudian gue dibonceng ke pasar lagi untuk potong rambut. Tapi abis potong rambut langsung pulang karena uang simbah pas-pasan. Panen di sawah gagal. Jadi simbah nggak punya uang cukup untuk mengajak gue makan di rumah makan.
Saat gue sudah di Jakarta, simbah pernah datang berkunjung. Gue & simbah mengenang momen ini. Dan saat dia gue tanya mau makan pake ayam atau telur, dia ketawa & memeluk gue terharu.
Kini simbah sudah tenang di sisi Tuhan untuk selama-lamanya. Selamat jalan, Simbah... Salah satu pahlawan dalam hidup gue.