Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Apa itu Stockholm Syndrome?
Menurut Wikipedia, Stockholm Syndrome atau Norrmalmstorgssyndromet dalam bahasa Swedia, merupakan sebuah kondisi yg menciptakan para sandera membentuk ikatan psikologis dengan penyanderanya, sebagai cara untuk tetap bertahan hidup selama masa penyanderaan. Walaupun para penyandera tersebut secara berselang mengerjakan kekerasan, pemukulan, ancaman, pelecehan, atau intimidasi kepada para sanderanya.
Istilah Stockholm Syndrome ini dimunculkan perdana kali oleh seorang kriminolog & psikiater Swedia yg bernama Nils Bejerot.
Pada tahun 1973, Bejerot diminta untuk menganalisa reaksi para korban yg disandera & status mereka tersebut dalam perampokan yg terjadi di bunk Kreditbanken pada masa itu.
Dalam Wikipedia juga dijelaskan bahwa ada empat komponen yg secara biasa mengarah pada pembentukan Stockholm Syndrome ini.
- Para sandera memiliki perasaan yg positif kepada penyanderanya.
- Tidak ada hubungan yg pernah terbentuk sebelumnya antara yg disandera dengan penyanderanya.
- Penolakan yg dilakukan oleh para sandera untuk bekerja sama dengan pihak kepolisian atau instansi pemerintah lainnya.
- Keyakinan para sandera akan rasa kemanusiaan yg dimiliki penyanderanya, dengan alasan bahwa ketika para sandera memiliki nilai yg sama dengan penyanderanya, maka mereka dianggap bukan lagi sebuah ancaman.
Keempat komponen ini pernah ditunjukkan oleh para sandera dalam kasus perampokan bunk Kreditbanken pada tahun 1973. Dimana para sandera justru bahkan sempat menggalang danang untuk para penyanderanya atas dasar kemanusiaan.
Stockholm Syndrome terjadi bukan cuma dalam kasus penyanderaan, namun dalam keadaan yg bermacam-macam. Seperti contoh dalam kasus pelecehan kepada anak, kasus perdagangan manusia, atau bahkan kasus incest yg terjadi dalam sebuah keluarga.
Selain itu, tahanan perang, terorisme politik, anggota aliran sesat, tahanan kamp konsentrasi, prostitusi, juga dapat terjerat dalam Stockholm Syndrome ini. Dan beberapa akbar dari mereka adalah perempuan.
Selanjutnya, Stockholm Syndrome ini juga sempat dialami oleh Patty Hearst. Cucu dari pemilik publisher ternama di Amerika, William Randolph Hearst. Patty diculik oleh Symbionese Liberation Army pada tahun 1974. Patty bukannya merasa takut, tetapi dia justru merasa simpati & bahkan ikut merampok salah satu bunk di San Fransisco setelah mengubah namanya jadi "Tania". Kemudian Patty ditangkap pada tahun 1975 & dijatuhi sanksi penjara.
Kasus lainnya adalah penculikan yg dilakukan oleh Wolfgang Priklopil kepada korbannya, Natascha Kampusch. Natascha yg saat itu berumur 10 tahun, disekap selama 8 tahun disebuah basement. Dan setelah mendengar penculiknya meninggal, Natascha justru menangis & sempat menyalakan lilin di kamar mayat.
Pada tanggal 23 Agustus 1973 disalah satu bunk terbesar di Stockholm, Swedia, yg bernama Kreditbanken, terjadi sebuah perampokan. Pelaku yg diketahui bernama Jan-Erik Olsson itu, merupakan mantan narapidana yg dibebaskan secara bersyarat.
Dua orang polisi Swedia sempat memasuki letak kejadian, namun salah satu polisi terluka karena ditembak Olsson. Sedangkan yg lainnya diperintahkan untuk duduk dikursi & menyanyikan lagu yg berjudul "Lonesome Cowboy".
Spoiler for Para sandera:
Olsson kemudian menyandera empat orang yg merupakan karyawan bunk Kreditbanken tersebut. Tiga diantaranya perempuan yg bernama Birgitta Lundblad, Elizabeth Oldgren, & Kristin Enmark. Serta seorang laki-laki yg bernama Sven Safstrom.
Spoiler for Lundblan, Oldgren, Enmark, & Safstrom:
Dia juga sempat mengerjakan negosiasi dengan pihak kepolisian, & menuntut mereka untuk membebaskan salah satu temannya yg bernama Clark Olofsson, yg merupakan seorang narapidana atas beberapa kasus perampokan bersenjata & tindak kekerasan, yg dilakukannya sejak dia berumur 16 tahun.
Selain itu, Olsson juga menuntut disediakan uang sejumlah 3 juta Kronos Swedia, dua buah senjata, rompi anti peluru, helm, & sebuah mobil berkecepatan tinggi.
Pemerintah akhirnya memberikan ijin untuk mengeluarkan Olofsson dari penjara. Oleh pihak kepolisian, dia dipakai sebagai alat penghubung antara Olsson dengan para negosiator. Dan para negosiator tersebut pun setuju untuk memenuhi tuntutan penyediaan mobil berkecepatan tinggi sebagai cara untuk Olsson & temannya melarikan diri. Namun, mereka berdua tidak diijinkan membawa serta para sandera.
Selama 6 hari sejak tanggal 23 hingga 28 Agustus, Olsson & temannya memblokir ruang utama bunk Kreditbanken. Mereka juga menakut-nakuti para sandera dengan dinamit. Olsson bahkan sempat menghubungi Perdana Menteri Olof Palme, & mengatakan padanya bahwa dia akan membunuh semua sandera. Ancamannya tersebut disertai teriakan dari salah satu sandera yg bernama Kristin Enmark.
Keesokan harinya, Enmark menghubungi Palme. Dia justru mengatakan bahwa dia tidak bahagia dengan sikap Palme yg tidak membiarkan Olsson & temannya, serta para sandera untuk bebas.
Spoiler for Para sniper yg sedang membidik Olsson & temannya:
Pada tanggal 26 Agustus, polisi menciptakan lubang akses untuk melihat keadaan & keadaan penyanderaan dari atas apartemen yg menyatu dengan gedung Kreditbanken. Ketika salah satu polisi sedang mengawasi, Olofsson justru menembak polisi itu melalui lubang akses tersebut. Dan polisi itu langsung terluka dibagian mata serta wajahnya.
Saat itu, Olsson sempat mengancam akan membunuh semua sandera kalau polisi berusaha untuk mengerjakan penyerangan kepada mereka.
Spoiler for Olsson didampingi polisi bermasker ketika dia menyerahkan diri:
Namun, pada tanggal 28 Agustus, polisi melemparkan gas air mata kedalam ruangan tempat Olsson & temannya berada. Dan satu setengah jam kemudian, mereka menyerahkan diri.
Pasca perampokan disertai penyanderaan tersebut, Olsson & Olofsson, keduanya didakwa & dijatuhi sanksi penjara selama 10 tahun. Olofsson sempat menyatakan bahwa dia tidak menolong Olsson, tetapi dia cuma berusaha untuk menenangkan keadaan. Namun pernyataannya tersebut dibatalkan.
Spoiler for Clark Olofsson:
Saat dipenjara, Olsson mendapat banyak surat dari para pengagumnya yg kebanyakan adalah perempuan. Dan pada tahun 1996, Olsson menikah dengan perempuan Thailand & pindah kesana. Lalu pada tahun 2013, dia kembali lagi ke Swedia & sempat menulis autobiografi yg berhubungan dengan penyanderaan yg dilakukannya pada tahun 1973.
Sedangkan temannya, Olofsson, diketahui sempat beberapa kali berjumpa dengan Kristin Enmark setelah kejadian itu. Dan bahkan kedua keluarga mereka berteman sangat baik.
Sekian, & terimakasih
*
*
*
*
*
Sumber 1
Sumber 2
Sumber 3
Hari ini 07:30