Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
I Gusti Nyoman Lempad
Sejarah & perkembangan seni lukis di Bali tidak dapat dipisahkan dari nama I Gusti Nyoman Lempad. Tidak diketahui secara pasti kapan ia dilahirkan, tetapi banyak sumber mengatakan ia dilahirkan pada tahun 1862. Menikah ketika gunung Krakatau meletus di tahun 1883. Menghembuskan nafas terakhirnya pada 25 April 1978 saat usianya menginjak 116 tahun
Sejarah & perkembangan seni lukis di Bali tidak dapat dipisahkan dari nama I Gusti Nyoman Lempad. Tidak diketahui secara pasti kapan ia dilahirkan, tetapi banyak sumber mengatakan ia dilahirkan pada tahun 1862. Menikah ketika gunung Krakatau meletus di tahun 1883. Menghembuskan nafas terakhirnya pada 25 April 1978 saat usianya menginjak 116 tahun
Penghargaan : Anugerah Seni dalam bidang seni lukis dari Pemerintah RI (1970),Hadiah Udayana (1975), Penghargaan Dharma Kusuma (1982), Pemberian nama Lempad Award oleh Sanggar Dewata Indonesia
Tidak susah mencari kediaman pelukis I Gusti Nyoman Lempad. Anda cuma berjalan sepanjang 500 m kearah Timur Puri Ubud & akan melihat papan tandanya. Siapapun yg anda tanya, pastilah tahu di mana rumahnya. Lempad sudah jadi bagian dari seni lukis Bali. Ia adalah sumber inspirasi yg tidak pernah kering untuk generasi seni berikut. Sejarah & pengembangan seni lukis Bali tidak dapat dipisahkan darinya.
Tidak diketahui dengan pasti kapan ia dilahirkan, tetapi banyak sumber mengatakan anak ketiga dari empat bersaudara ini dilahirkan tahun 1862, & sudah menikah ketika gunung Krakatau meletus ditahun 1883. Menghembuskan nafas terakhirnya pada 25 April 1978, diusia 116 tahun.
Lempad tidak dapat membaca, karena ia tidak berekolah secara formal, namun ia dapat menulis namanya di atas lukisannya dengan cuma mencontoh. Walaupun bapaknya adalah seorang pengukir, namun ia tidak memiliki ketrampilan ayahnya. Tetapi dari seorang Brahmin yg hidup di Puri Lempad mendapatkan kemampuannnya. Brahmin ini menguasai berbagai bidang, seperti ; perancang bangunan, pemahat, pelukis & pakar dalam peraturan adat. Darinya Lempad belajar segalanya tentang tarian, agama & masyarakat.
Ketika berusia 40 tahun, ia menolong Walter Spies membangun rumahnya di Campuhan, Ubud. Suatu ketika, Spies melihat coretan lukisan Lempad diatas secarik kertas, ia lalu mengagumi & membayarnya dengan kemeja, kain dll. Ia lalu menasehati Lempad untuk terus melukis apapun yg ada dikepalanya & tetap fokus pada gaya melukisnya Menurut Lempad, berjumpa dengan Spies adalah suatu karunia, sebab ia sudah diajari teknik melukis
Lempad akhirnya berkonsentrasi pada lukisan wayang, dengan mengambil tema Ramayana & Mahabharata. Gayanya yg mengesankan mudah untuk ingat, seperti memahat gaya Tjokot. Ia sering mengpakai cat hitam di atas kertas putih yg menghasilkan bentuk yg bagus, gaib & kuat & nampak tak terputuskan. Banyak orang yg ridak mengetahui apa yg ada dalam pikiran Lempad ketika ia menorehkan kuas diatas kertas.
Sepanjang hidupnya Lempad tidak pernah jauh dari kayu, kertas, pensil atau tinta Cina. Salah satu aspek yg menarik dari pekerjaannya adalah ketidak-sempurnaan. Ia menyenangi semua dari pekerjaannya yg belum selesai, karena dari sana ia dapat menyempurnakan menurut inspirasinya.
Meskipun Alat yg dipakainya untuk melukis sangat sederhana. Tetapi dari sanalah kita dapat melihat kekuatan garis & ketelitian. Ia jarang menonjolkan warna, kecuali untuk memperkenalkan aksen atau untuk memperkuat corak tertentu. Ia bekerja menurut tema Jayaprana & Dukuh Suladri.
Spoiler for Karya lukisan:
Lempad juga aktif dalam pembentukan Pita Maha, suatu organisasi seni yg didirikan oleh Tjokorde Gde Agung Sukawati, Walter Spies, & Rudolf Bonnet di tahun 1935. Organisasi ini sudah dipimpin oleh Spies & sejumlah seniman Bali hingga tahun 1950-an. Pita Maha memperkenalkan gaya lukisan barat kepada seniman muda Bali & memperkenalkan karya mereka kepada pengunjung dari luar negeri. Melauli pameran didalam maupun diluar negeri.
Ciri khas Lempad dengan jelas terlihat dalam setiap dari karyanya walaupun sederhana namun mengandung suatu bukti diri unik. Karya-karyanya mempengaruhi para pelukis asal bali hingga hari ini. Tidak ada seorangpun yg sanggup menirunya kecuali cucu lelaki nya Gusti Nyoman Sudara, seorang guru SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) di Ubud, di mana ia mengajar Studi Bali klasik.
Mendapatkan penghargaan dari pemerintah RI pada HUT RI ke-25, berupa medali emas & uang Rp. 100.000,- yg berikan kepada cucunya untuk membeli sepeda motor. Penghargaan lain adalah Hadiah Udayana [(1975), & penghargaan Dharma Kusuma (1982). Lempad beserta karya-karyanya juga didokumentasikan dalam film oleh Lome Blair & Yohanes Darling yg bekerja sama dengan televisi Australia. Film Dokumenter Lempad itu menerima penghargaan sebagai film dokumenter terbaik dalam festival film Asia yg ke-26 di Yogyakarta (1980). Sementara itu Sanggar Dewata Indonesia menamakan penghargaannnya dengan nama Lempad Prize, yg diberikan kepada seseorang yg concern atas kesenian Bali.
Karya lukisannya dapat kita lihat dirumahnya, Puri Ubud, Neka Musium Ubud, Pusat Seni Denpasar, Tropen Musium (Amsterdam), Rijkmuseum voor Volkenkunde (Leiden), Musium fur Volkenkunda Basel (Jerman).
Penjelasan mengenai PITAMAHA
Istilah Pitamaha berasal dari bahasa Jawa Kuno/ Kawi, yg dapat diartikan sebagai great grandfather, yg bermakna ide kreasi. Pitamaha merupakan kelompok seni yg didirikan pada 1936 oleh Walter Spies, Rudolph Bonnet, bersama dengan Cokorda Gede Agung Sukawati, & seniman Bali maupun seniman Belanda lainnya.
PITAMAHA : seni wayang klasik
Karakteristik awal seni Bali (sebelum masuknya pengaruh Pitamaha) :
dekoratif
komposisi penuh
warna yg hidup
detail garis dinamis
tema religi/ mitologis.
PITAMAHA : latar belakang
Akhir tahun 1920-an, para peneliti & seniman Eropa mulai banyak berdatangan. Mereka tertarik dengan citra eksotik Bali yg menyebar ke Barat melalui publikasi & promosi saat itu. Beberapa di antara mereka memutuskan untuk menetap. Cokorda Gede Agung Sukawati, seorang pangeran Ubud, menerima kehadiran mereka & membiarkan mereka tinggal. Beliau merasa bahwa para seniman Barat tersebut dapat jadi pengimbang bagi keberadaan pemerintah kolonial Belanda, & mereka dapat membawa keuntungan bagi rakyatnya.
Tujuan Pitamaha :
Melestarikan kualitas kesenian Bali
Menstimulasi perkembangan seni
Mencari kemakmuran bagi anggotanya
Peran PITAMAHA
Spies & Bonnet mulai bekerja dengan tugas seperti:
Mendistribusikan bahan & peralatan melukis (kanvas, kertas, cat, dll)
Membuka pasar bagi lukisan & ukiran kayu Bali dengan mengorganisir pameran ke seluruh dunia & menciptakan kebutuhan akan tema-tema baru.
Menyusun sistem untuk menghindari akibat negatif komersialisasi, yg disebabkan keberhasilan sektor pariwisata.
Memberi pelajaran teknik lukis baru kepada pelukis Bali.
Memperkenalkan ide baru tentang bentuk & tema, & menjadikan hal tersebut sebagai bagian dari warisan seni budaya Bali
Membebaskan seniman lokal dari sistem aturan seni atau tradisi, dengan mengajarkan mereka gambar anatomi & perspektif, obyek detail, bayangan, figur naturalis, tema sehari-hari, komposisi, dll.
Yang lebih menarik lagi adalah mereka mulai diarahkan untuk jadi seniman yg individualis. Sejak saat itu mereka mulai berani menuliskan nama mereka pada lukisan yg dibuat.
Kelak seniman Bali menciptakan karya-karya yg distilasi, figur yg didistorsi serta gaya-gaya perseorangan lainnya. Semua hal diupayakan tanpa menghilangkan bukti diri Bali (seperti: dekoratif, komposisi penuh, warna yg hidup, detail garis dinamis, tema religi/ mitologis. Semenjak lahirnya Pita Maha, karya-karya baru mulai bermunculan dengan nama-nama seniman: Anak Agung Gede Sobrat, Ida Bagus Made, Ida Bagus Nyana (bergaya figuratif), Cokot (bergaya ekspresif). Selain itu seorang maestro juga lahir, ia bernama Nyoman Lempad selain melukis ia juga berprofesi sebagai arsitek & pematung
PITAMAHA : I Gusti Nyoman Lempad.
Nyoman Lempad memberikan kontribusinya yg luar biasa pada seni di Bali terlebih karena hidupnya yg berumur panjang (hingga 116 tahun).
Ciri khas karya lukis & gambarnya adalah komposisi yg mengijinkan ruang kosong, tarikan garis yg jelas, & transformasi gaya wayang. Gaya yg ia ciptakan ini jadi salah satu pembaruan pada masa-nya
PITAMAHA : teknik lukis batuan.
Nyawi menciptakan garis-garis tipis halus-dan memasukkan unsur cerita
Ngucek memperjelas bagian-bagian tertentu
Nyawi 2 & Manyunan mengpakai tinta memperjelas pola & motif
Ngabur menciptakan highlight dengan warna hitam & putih
Tampilan menyeluruh dari sebuah lukisan
Ngewarna memberi warna dengan cat acrylic
PITAMAHA : teknik lukis ubud.
Ngorten cerita digambarkan dengan sketsa
Nyawi menciptakan garis pinggir (Outline) dengan tinta hitam
Ngabur memberikan warna hitam namun dengan tarikan garis yg lebih ekspresif
Nguap (tergantung dengan 2 teknik sebelumnya)- memberikan depth dengan cara yg berbeda-di sederhanakan
Nyenter memberi highlight pada beberapa bagian tertentu dengan warna.
sumberhttp://pariwisatadanteknologi.blogspot.com/2010/06/maestro-lukis-i-gusti-nyoman-lempad.html
sumber foto dari google
Sekian Thread dari ane gan Semoga dapat menambah pengetahuan
Kemarin 18:59