• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Mengenal Bandit/Klitih/Begal Era Kolonial

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Mengenal Bandit/Klitih/Begal Era Kolonial

Haji Rais, salah satu bandit terkenal yg berhasil merampok 40.000 gulden dari Steurwald Jewellers.

Pencurian bukanlah hal yg baru di Indonesia. Tidak ada yg tahu pasti kapan pencurian perdana kali terjadi di Indonesia, namun yg pasti pada masa kolonial, bandit atau pencuri sudah muncul & mengerjakan aksinya. Berbicara tentang perbanditan masa kolonial maka sulit dilepaskan dari kondisi yg dihadapi penduduk Hindia-Belanda saat itu. Kondisi ekonomi yg serba sulit jadi pemicu suburnya aksi perbanditan di tanah Jawa masa kolonial. Namun masalah ekonomi bukanlah satu-satunya faktor tumbuh suburnya perbanditan di Hindia-Belanda.

Sepak Terjang Bandit-Bandit Masa Kolonial

Pada akhir zaman ke-19 & awal zaman ke-20, perbanditan sudah jadi salah satu dari sedikit sumber pendapatan yg menguntungkan di pedesaan Jawa.

Angka pencurian di Jawa terbilang cukup tinggi. Sayangnya angka pasti tindak kriminalitas sulit dilacak, karena menurutWelvaartsrapporten(laporan kolonial tentang masalah kesejahteraan), pejabat administrasi berpangkat rendah cenderung tidak melaporkan tindak kejahatan.

Pada umumnya orang akan berasumsi bahwa perbanditan muncul & berkembang karena faktor ekonomi. Asumsi tersebut tidak salah, namun di Hindia Belanda & khususnya Batavia perbanditan tidak cuma tumbuh karena masalah ekonomi.

Apabila melihat data statistik kolonial, sebelum tahun 1880an pencurian cukup jarang terjadi di wilayah Batavia meskipun beberapa kali terjadi kelangkaan pangan.


Perbanditan yg terjadi pada akhir zaman ke-19 memang masih terkait masalah kelangkaan & mahalnya harga pangan, namun di sisi lain modernisasi senjata api & meningkatnya kesenjangan kelas sosial juga berperan penting kepada munculnya perbanditan.

Margreet van Till (2011: 50) menyatakan pencurian terus tumbuh bahkan saat Hindia-Belanda sedang mengalami periode yg relatif cukup makmur. Pada periode tersebut terjadi peningkatan jumlah orang yg sanggup mengkoleksi barang-barang mewah. Golongan inilah yg sering jadi target perbanditan.

Beberapa daerah di Jawa terkenal karena jadi markas para bandit. Pantai Utara Jawa, Kediri-Madiun, Banyumas & Batavia jadi daerah-daerah yg terkenal karena rawan terjadi perampokan. Pada tahun 1919 & 1920, jumlah bandit semakin banyak, di daerah Meester Cornelis (Jatinegara) saja terdapat total 170rampokpartijen(kelompok perampok) (Cribb, 1991: 18-19).

Di dunia kriminal atau sering disebutalam peteng, bandit dapat dibagi ke dalam tiga tipe utama, yakni maling krowdan, maling tengah & maling ketut. Sebagian akbar pencuri termasuk dalam maling krowdan atau penjahat non-profesional. Maling tengah biasanya beroperasi secara individual & ruang gerak mereka terbatas di suatu wilayah. Sementara maling ketut atau kecu merupakan perampok yg beroperasi secara berkelompok. Seringkali kecu berkelana ke tempat yg jauh dari tempat tinggal mereka (Quinn, 1975: 37).

Sebelum jadi pencuri, kebanyakan dari para bandit tersebut berprofesi sebagai petani. Kendati sebelumnya mereka adalah petani bukan berarti target utama perampokan mereka adalah golongan kelas atas. Realitas yg terjadi malah sebaliknya, terkadang korban perampokan justru berasal dari kalangan petani.

Anton Blok (2001: 33) dalam tulisannya berjudulHonour and Violencememaparkan bahwa para bandit justru tinggal berdekatan dengan para korbannya. Bahkan beberapa tinggal di desa yg sama & kenal dekat dengan para korban.

Dalam mengerjakan aksinya para bandit tidak segan mengpakai kekerasan kepada para korbannya apabila melawan. Bahkan seringkali menyebabkan korban jiwa seperti yg dilaporkan harianJava Bode4 Juni 1918.

Dalam artikel berjudulrampok, dilaporkan perampokan yg terjadi di kampung pecinan. Perampok yg membawa senjata api itu menembak penghuni rumah yg mengerjakan perlawanan, dua orang terbunuh akibat peristiwa ini. Perampok berhasil mengambil 2000 gulden, sementara polisi yg menuju ke letak datang terlambat karena sempat salah rumah.

Walaupun tindak kekerasan terkadang ditemui dalam aksi pencurian, namun para bandit berupaya untuk mengpakai metode non-kekerasan dalam operasi mereka. Para bandit lebih memilih mengpakai mantra untuk menciptakan tidur yg diketahui sebagaiaji sirep.

Seorang kepala bandit atau yg disebut jugabenggolbiasanya memiliki jimat yg diyakini memberikan kekebalan & kekuatan. Karena dianggap sakti & berkharisma, para benggol di pedesaan Jawa seringkali memimpin kelompok perampok hingga usia tua.

Tidak dapat dipungkiri dalam setiap aksinya para bandit memperoleh uang dalam jumlah banyak. Karena itu tidak mengherankan apabila seorang bandit yg sukses dapat hidup bergelimang harta. Di sebuah kampung bernama Dukuh Gabus Batavia, seorang bandit sukses dilaporkan memiliki banyak sawah, kerbau & beberapa rumah. Bahkan ia juga memiliki 56.000 gulden tabungan di bunk di Batavia.

Upaya Memberantas Perbanditan

Mengenal Bandit/Klitih/Begal Era Kolonial


Potret polisi masa kolonial & seorang pencuri​

Membasmi para bandit bukanlah perkara mudah, bahkan pemerintah kolonial pun kesulitan untuk menangani bandit yg semakin merajalela pada awal zaman ke-20.

Pemerintah kolonial memang memiliki satuan polisi di bawah komandoAlgemeene Politie(Polisi Umum) yg terdiri dariStadspolitie(Polisi Kota),Veldpolitie(Polisi Lapangan),Gewestelijke RecherchedanBestuurspolitie, namun jumlah mereka tidaklah mencukupi (Sierevelt, 1932: 387).

Untuk mengatasi para bandit, punggawa keamanan setempat yg disebutjagabayadikerahkan. Mereka secara resmi merupakan asisten polisi.


Jagabayamemiliki peran sebagai agen rahasia, tetapi tugas utama mereka adalah menjaga keamanan desa. Karena itu mereka memiliki peran penting menangani perkara kriminal, termasuk perbanditan (Pribad, 2014i: 56).



Jagabayabukanlah warga biasa, banyak dari mereka diyakini memiliki kesaktian, sehingga mereka disegani. Namun, posisi jagabaya di masyarakat dapat dibilang ambigu. Kehidupan mereka yg akrab dengan dunia kejahatan menciptakan masyarakat takut, di sisi lain mereka juga dikagumi karena berani menentang kesewenangan pejabat kolonial.



Sebagai agen rahasia,jagabayasering berkumpul di sarang opium. Mereka juga terlibat dalam perjudian & prostitusi. Dunia kriminal bukanlah dunia yg dapat ditembus oleh sembarang orang, bahkan polisi sekalipun, karena itujagabayamemerankan penting untuk menghimpun informasi dari dunia kriminal.


Polisi danjagabayabiasanya bekerjasama dalam menangkap bandit. Mereka menangkap para bandit dengan cara brutal. Mereka tidak mengenal rasa takut, karena percaya mereka tidak akan mati sebelum waktunya. Semangat untuk menangkap bandit semakin bertambah karena mereka dijanjikan insentif 1000 gulden apabila berhasil menangkap bandit. Akibat kebrutalan polisi danjagabayapara bandit seringkali tewas di tempat.

Sumber:https://wawasansejarah.com/bandit-kolonial/


Hari ini 15:15
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.