Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
sumber: solopos
Assalamualaikum.
Setelah lama nggak muncul, akhirnya saya kembali bersuara. Elah, lebay!
Selamat malam, Gan/Sist. Udah selesai tarawihnya? Betapa rakaat tadi? 8 apa 20? Berapa pun yg kalian kerjakan itu lebih baik daripada yg suka teriak benar 8 atau bilang benar 20, tetapi dirinya malah di rumah rebahan.
Ya ampun, cukup! Keluar jalur lagi.
Malam ini, saya mau bahas tentang makam & tradisi. Aku bawa berita antara lucu, terkesan, tetapi ... emm, baca dulu, deh;
Quote:
Solopos.com, KLATEN -- Warga Jetis RT 003 & RT 004 di RW 002, Desa Bakungan, Kecamatan Karangdowo, Klaten, mengecat warna-warni seratusan kijing di tempat pemakaman biasa (TPU) Sasono Palereman dukuh setempat, Minggu (21/3/2021). Hal itu dilakukan guna menghilangkan kesan angker.
Berdasarkan informasi yg dihimpun Solopos.com, pengecatan kijing jadi warna-warni itu berawal saat sebanyak 80 warga laki-laki menggelar kerja bakti membersihkan TPU Sasono Palereman di RW 002 pada Minggu kemarin. Di saat bersamaan, sejumlah ibu rumah tangga (IRT) bertugas menyiapkan makanan & minuman untuk orang yg bekerja bakti.
Samiyono mengatakan pembersihan & pengecatan jadi tradisi tahunan menjelang sadranan. Nantinya, warga akan menggelar zikir & tahlil di letak tersebut.
"Jadi awalnya itu resik-resik, mengecat pagar, terus mengecat kijing. Setelah dicat itu, suasana memang jadi meriah. Kesan wingit atau horornya hilang," katanya.
Apa nih pendapat kalian?
Kalau aku, makam memang terkesan angker supaya anak-anak tidak bermain di sekitarnya. Agar aura angker ini menepuk orang-orang yg lewat untuk berhenti sejenak lalu mengirimkan doa kepada ahi kubur.
Lalu berhubungan untuk ruwahan (sadranan) maka makam diwarnai. Di Klaten sendiri, tradisi ruwahan berupa kirim doa untuk arwah leluhur. Namanya saja ruwahan, ya dilaksanakan di bulan ruwah alias sya'ban. Biasanya satu kampung akan dibagi beberapa kelompok kecil. Para bapak akan berkumpul di rumah yg sudah disepakati, biasanya tempatnya menetap, tidak berpindah-pindah. Mereka akan membawa nasi kenduri. Tapi, spesifik ruwahan menunya ditambah buah-buahan juga apem.
sumber: merahputih.com
Setelah semua berkumpul, mereka akan membaca dzikir & tahlil yg dipimpin oleh satu orang. Selesai dzikir tahlil versi pendek, biasanya buah-buahan tersebut akan diperebutkan oleh anak-anak yg hadir. Perbaikan gizi, kan! Biasanya dapat makan buah pisang sama pepaya aja dari kebun, ini mumpung tetangga kaya bawa buah-buahan impor, kan, anggur, pir, apel, dll.
Nah, balik lagi ke pengecatan makam. Di beberapa tempat, acara kenduri ini dibuat lebih meriah & dengan peserta yg lebih banyak.
sumber: viva.co.id
Saat ruwahan dilaksanakan di makam, biasanya, pakar waris dari jenazah yg dimakamkan di tempat itu akan hadir dengan nasi kenduri & pelengkapnya. Meskipun mereka tinggal beda wilayah. Mereka juga akan mengajak sanak famili anggota keluarga lengkap.
Setelah selesai kenduri & perebutan buah, pakar waris akan membersihkan makam leluhur/famili mereka.
Momen ruwahan pun sering dijadikan alasan mudik & kumpul keluarga bagi perantau. Jadi, ramainya mirip saat lebaran.
Balik lagi ke makam, mungkin maksud panitia dengan mewarnai makam ialah supaya anak-anak kecil tidak takut diajak masuk ke kompleks makam. Tapi, menurutku kok malah menghilangkan nilai 'makam' itu sendiri, ya. Kapan-kapan saya bahas permakaman lagi, deh.
Di tempat kalian ada tradisi semacam ini juga kah?
See you, soon.
Hari ini 22:36Setelah lama nggak muncul, akhirnya saya kembali bersuara. Elah, lebay!
Selamat malam, Gan/Sist. Udah selesai tarawihnya? Betapa rakaat tadi? 8 apa 20? Berapa pun yg kalian kerjakan itu lebih baik daripada yg suka teriak benar 8 atau bilang benar 20, tetapi dirinya malah di rumah rebahan.
Ya ampun, cukup! Keluar jalur lagi.
Malam ini, saya mau bahas tentang makam & tradisi. Aku bawa berita antara lucu, terkesan, tetapi ... emm, baca dulu, deh;
Quote:
Solopos.com, KLATEN -- Warga Jetis RT 003 & RT 004 di RW 002, Desa Bakungan, Kecamatan Karangdowo, Klaten, mengecat warna-warni seratusan kijing di tempat pemakaman biasa (TPU) Sasono Palereman dukuh setempat, Minggu (21/3/2021). Hal itu dilakukan guna menghilangkan kesan angker.
Berdasarkan informasi yg dihimpun Solopos.com, pengecatan kijing jadi warna-warni itu berawal saat sebanyak 80 warga laki-laki menggelar kerja bakti membersihkan TPU Sasono Palereman di RW 002 pada Minggu kemarin. Di saat bersamaan, sejumlah ibu rumah tangga (IRT) bertugas menyiapkan makanan & minuman untuk orang yg bekerja bakti.
Samiyono mengatakan pembersihan & pengecatan jadi tradisi tahunan menjelang sadranan. Nantinya, warga akan menggelar zikir & tahlil di letak tersebut.
"Jadi awalnya itu resik-resik, mengecat pagar, terus mengecat kijing. Setelah dicat itu, suasana memang jadi meriah. Kesan wingit atau horornya hilang," katanya.
Apa nih pendapat kalian?
Kalau aku, makam memang terkesan angker supaya anak-anak tidak bermain di sekitarnya. Agar aura angker ini menepuk orang-orang yg lewat untuk berhenti sejenak lalu mengirimkan doa kepada ahi kubur.
Lalu berhubungan untuk ruwahan (sadranan) maka makam diwarnai. Di Klaten sendiri, tradisi ruwahan berupa kirim doa untuk arwah leluhur. Namanya saja ruwahan, ya dilaksanakan di bulan ruwah alias sya'ban. Biasanya satu kampung akan dibagi beberapa kelompok kecil. Para bapak akan berkumpul di rumah yg sudah disepakati, biasanya tempatnya menetap, tidak berpindah-pindah. Mereka akan membawa nasi kenduri. Tapi, spesifik ruwahan menunya ditambah buah-buahan juga apem.
sumber: merahputih.com
Setelah semua berkumpul, mereka akan membaca dzikir & tahlil yg dipimpin oleh satu orang. Selesai dzikir tahlil versi pendek, biasanya buah-buahan tersebut akan diperebutkan oleh anak-anak yg hadir. Perbaikan gizi, kan! Biasanya dapat makan buah pisang sama pepaya aja dari kebun, ini mumpung tetangga kaya bawa buah-buahan impor, kan, anggur, pir, apel, dll.
Nah, balik lagi ke pengecatan makam. Di beberapa tempat, acara kenduri ini dibuat lebih meriah & dengan peserta yg lebih banyak.
sumber: viva.co.id
Saat ruwahan dilaksanakan di makam, biasanya, pakar waris dari jenazah yg dimakamkan di tempat itu akan hadir dengan nasi kenduri & pelengkapnya. Meskipun mereka tinggal beda wilayah. Mereka juga akan mengajak sanak famili anggota keluarga lengkap.
Setelah selesai kenduri & perebutan buah, pakar waris akan membersihkan makam leluhur/famili mereka.
Momen ruwahan pun sering dijadikan alasan mudik & kumpul keluarga bagi perantau. Jadi, ramainya mirip saat lebaran.
Balik lagi ke makam, mungkin maksud panitia dengan mewarnai makam ialah supaya anak-anak kecil tidak takut diajak masuk ke kompleks makam. Tapi, menurutku kok malah menghilangkan nilai 'makam' itu sendiri, ya. Kapan-kapan saya bahas permakaman lagi, deh.
Di tempat kalian ada tradisi semacam ini juga kah?
See you, soon.