• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Mengapa yg Struggle yg Dipertontonkan?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Mengapa yg Struggle yg Dipertontonkan?


Cangkeman.net -Misalkan, ada temanmu yg punya kendala dalam memahami suatu pelajaran & guru pengampu paham betul akan hal itu. Namun, yg dilakukan oleh pengajar, ia sengaja menunjuk anak tersebut maju ke depan kelas untuk mengerjakan suatu soal. Namanya sedangstruggle, murid tersebut dapat saja mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas yg diberikan. Barangkali satu-dua sindiran & keluh kesah dialamatkan kepada sang murid, hingga peserta didik sanggup menyelesaikannya.

Berbagai fenomena di atas tidak cuma satu-dua kali terjadi, tetapi berkali-kali. Tidak cuma terjadi di satu instansi pendidikan. Penulis pikir, kejadian macam ini kerap terjadi di setiap jenjang. Juga ditemukan pula dengan berbagai ragam dengan inti yg sama. Misalkan, saat duduk dibangku perkuliahan & anda sedang memberikan suatu presentasi, sayangnya, dianggap tidak paham. Besar kemungkinan anda akan jadi santapan dosen pengampu atau rekan-rekan sekelasmu.

Nah, balik lagi. Mengapa hal semacam ini malah sengaja dipertontonkan? Malah dianggap wajar, lumrah, tidak aneh.

Padahal, dalam kondisi yg penuh tekanan tetapi malah diberikan berbagai aspek lain yg berpotensi meningkatkan kadar stres dalam diri tentunya bukan hal yg baik. Sedangstrugglekok malah dipertontonkan ke khalayak ramai. Pasti yg bersangkutan akan mengalami suatu gangguan mental. Barangkali begitu sebentuk cuap-cuap netizen masa kini.

Yah, kalau membicarakan kemungkinan, apa sih, yg tidak mungkin di dunia ini? Namun, kalau memang punya akibat sebegitu buruk, mengapa tetap dipertahankan? Mengapa hal semacam ini seakan-akan diwariskan dari generasi terdahulu ke generasi selanjutnya? Perkara disengaja atau tidak, lain soal memang.

Jika ditanya demikian, saya tidak sanggup memberikan kepastian jawaban. Terkadang, saya malah berandai-andai. Ah, andai proses pendidikan agak lebihsoftseperti yg digembor-gemborkan dunia barat sana. Setidaknya melalui industri hiburan yg tak pernah absen mempertontonkan hal ini. Tenaga pendidik yg di-frame-kan lebih sabar dalam mendidik murid, jarang memberikan hukuman. Toh pun kalau terpaksa memberikannya, dilakukan secara diam-diam. Seakan-akan peserta didik lain tak perlu tahu bagaimana jalannya proses sanksi tersebut. Hal ini cukup kontras dengan proses pendidikan ala dunia timur. Setidaknya di wilayah Asia. Tentu saja Indonesia termasuk didalamnya.

Bayangkan kalau hal tersebut terjadi,titelguru atau dosenkillerakan lenyap dari pentas pendidikan. Hal ini terjadi lantaran tenaga pendidik lebih mengedepankan sisi humanis. Tentu saja kalau dijelaskan lebih lanjut, humanis yg dimaksud berupa kelembutan sikap tenaga pendidik kepada peserta didik mereka. Malah sekarang, sikap semacam ini sudah jadi semacam tuntutan dari masyarakat, atau setidaknya netizen kepada para guru atau semacamnya. Mulai deh, melupakan cara mendidik yg keras atau kasar. Metode macam ini sudah antik & lebih banyak mudharat-nya.

Betulkah demikian?

Lagi, tidak ada kepastian jawaban yg dapat saya berikan. Justru yg menciptakan saya tertarik adalah upaya dalam menemukan motif di balik cara mendidik yg sudah dianggap antik ini. Jika saya bertanya akan hal ini kepadamu, mampukah anda memberikan jawaban? Mengapa yangstrugglemalah dipertontonkan, & cara mengajar macam ini tak lekang oleh zaman di dunia timur?

Pada hari Rabu, 12 Oktober 2022, di sore hari saat ngaso, saya sengaja menyempatkan diri mengunjungi sebuah kanal youtube. Sebuah kanal yg berisi kehidupan masyarakat pedesaan dengan sedikit bumbu acara memasak. Betul, tidak ada hubungannya dengan tulisan ini. Toh, seperti biasa, saya sengaja menonton video terbaru yg diunggah sang konten kreator demi mendapatkan resep memasak terbaru yg ia tunjukan. Barangkali dapat dipraktikkan pada akhir pekan. Ternyata tak mungkin dilakukan. Namun, saya mendapatkan hal lain. Setidaknya, tak ada kesia-siaan akan hilangnya beberapa kuota internet yg saya punya.

Pada penghujung video tersebut, berisi tentang kenangan konten kreator bersama dengan sang nenek yg mungkin belum lama dijemput kematian. Selain dimunculkan berbagai potongan video mereka berdua, satu-dua ajaran ditampilkan dalam bentuk narasi. Salah satunya yg menciptakan saya terperangah adalah,Manusia lahir memang untuk menderita. Maka, jangan takut (untuk menderita).

Demi Tuhan. Seberapa akbar penderitaan yg almarhumah rasakan selama hidup hingga-hingga melahirkan kutipan di atas? Mungkin juga dipengaruhi oleh agama atau keyakinan yg almarhumah peluk. Mengingat mayoritas agama yg dianut oleh masyarakat setempat sangat kental dengan ajaran Budha, saya pikir jadi tidak aneh. Karena ajaran tersebut memang erat kaitannya dengan konsepsamsaraatau penderitaan.

Jika dikaitkan dengan tulisan ini, mungkin, ya, mungkin, para tenaga pendidik yg masih gemar mengpakai metode klasik dalam proses belajar, harap mengajarkan kepada peserta didik, bahwa kalau mereka tidak paham suatu subjek pembelajaran, maka akan ada penderitaan yg didapatkan.

Bentuknya sangat jelas. Entah disuruh maju ke depan kelas untuk menyelesaikan suatu soal, atau pengajar sekedar memberikan rentetan pertanyaan hingga peserta didik dianggap paham.

Dalam sudut peserta didik kalau mendapatkan hal semacam ini, sangat sanggup mereka mengalami suatu penderitaan. Semakin lama berada di fasestruggleatau berjuang, tekanan akan semakin meningkat dalam bentuk apa pun. Dari sekadar sindiran yg diberikan dari pengajar & atau rekan sekelas hingga berbentuk rasa kesal atau semacamnya.

Berdasarkan dari kutipan yg didapatkan dari video yg saya tonton, saat seseorang berada dalam fase berjuang, yg paling dibutuhkan memang keberanian supaya berjuang hingga tuntas. Tak perlu berharap belas kasihan dari orang lain. Hal semacam ini memang kuasa mereka & tidak dapat kita kendalikan. Yah, memang terkesan agak seram juga cara mengajar & apa yg diajarkan dari tenaga pendidik kepada murid-murid mereka: tentang upaya keluar dari penderitaan dengan mempertahankan sikap untuk berjuang, meski dalam kondisi yg semakin lama kian tak menyenangkan kalau terlalu lama berada di fase ini.

Nah, pada akhirnya, apakah mereka yangstruggleselama proses belajar masih layak dipertontonkan pada masa sekarang? Saya pikir, perkara ini para komentator punya beragam jawaban.


Tulisan ini ditulis oleh Angga Prasetyo diCangkemanpada tanggal 4 November 2022. Hari ini 11:11
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.