Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Sekarang ane baru paham, mengapa banyak yg mengatakan warga Jakarta/Jabodetabek cenderung individualis. Pengalaman ane tinggal di townhouse yg berlokasi di tengah pemukiman di Jakarta Selatan. Secara letak sih cuma masuk 300 meter dari jalan akbar - masuk jalan kecil muat 2 mobil, terus masuk lagi sepanjang 100 meter jalan yg cuma muat 1 mobil & 1 motor. Lalu ketemu deh gerbang perumahan tempat ane pernah tinggal. Jadi ada 2 townhouse dengan akses masuk yg sama, townhouse A terdiri dari 10 unit rumah, townhouse B (tempat ane) terdiri dari 12 unit rumah. Setelah dihuni semua & dikelola penghuni, kita sepakat untuk dikelola bersama, dengan 2 sekurity.
Townhouse A punya jalan masuk 3x20 meter, townhouse B jalan masuk 4x20 meter. Di antara townhouse A & townhouse B, ada gang 1 meter, yg asalnya dimiliki pemilik tanah townhouse B, kemudian dihibahkan untuk gang sebagai akses kampung di belakang townhouse. Pemukiman warga di belakang townhouse cukup luas, ada 1 RT, & ada 3 akses masuk dari jalan.
Sebelum jadi townhouse, dulunya townhouse A kebun kosong & ada tembok pemisah dengan townhouse B, yg asalnya adalah 1 unit rumah, kolam renang, kebun seluas 1200 meter persegi. Persoalan mulai muncul, ketika tembok pemisah dirobohkan oleh developer & jalan masuk townhouse A & townhouse B jadi satu, seluas (3+4) x 20 meter persegi.
Apa itu?
Warga sekitar melihat lahan masuk seluas 7x20 m2 tersebut, sebagai peluang untuk beli mobil & menjadikannya tempat parkir, termasuk jadi parkir tamu warga, bongkar muat mobil barang (ada beberapa warung dekat situ). Awalnya kami tidak terlalu ambil pusing, selama masih dapat keluar masuk. Tapi lama kelamaan jadi brutal. Cukup sering terjadi hingga 3 mobil parkir berjejer, sehingga benar-benar tidak dapat keluar masuk.
Akhirnya warga townhouse berunding & meminta kedua developer untuk membangun gerbang utama, mengembalikan seperti gerbang milik townhouse B, tetapi kali ini ditambah dengan 3 meter. Plus membikin posko sekurity di sebelah gerbang yg akan dibangun. Karena tanah masik milik developer, tentu warga townhouse tidak meminta ijin warga cuma pemberitahuan kepada pak RT. Untuk warga yg mengpakai gang dengan motor/jalan kaki, sengaja disisakan 1.2 meter. Posko 1.2 meter, gerbang 4.6 meter.
Baru saja pemborong bikin pondasi, malamnya sekitar 50 warga sekitar mendatangi townhouse. Mereka mendesak warga townhouse untuk membatalkan rencana bikin gerbang.
Celakanya, itu kejadian malam minggu. Ane intip dari lantai 2, beberapa akbar warga pergi (mobiilnya ngga ada) - akhirnya cuma ane & tetangga ane yg menghadapi (setelah di grup WA ngga ada respon). Last minute, ada inget sorenya berpapasan dengan Pak Juki, tetangga ane di pojok. Beliau anggota kesatuan garda pertahanan negeri ini, yg beberapa bulan terakhir dinas di Papua. Ane call, ternyata ada di rumah. Dia bersedia menemui warga.
Singkatnya, di halaman parkir, beberapa warga senior (biang keroknya, para pemilik mobil tetapi ngga punya tempat parkir), kami persilakan bicara. Mereka komplain ini itu dll.
Setelah selesai bicara, giliran ane yg bicara. Basa basi busuk. Seterusnya ane serahkan pak Juki. Beliau dengan tinggi 175 cm, mengenakan kaos hijau olahraga & celana training - lengkap dengan nama kesatuannya - kemudian berdiri di atas bangku semen, jadi menjulang.
ane inget kata2nya:
1. Saya cuma harap tahu, sebelum townhouse ini berdiri, artinya masih berupa rumah pak Dodi, bapak2 selama ini parkir mobil di mana?
2. Adakah hak milik bapak2 yg kami zalimi, dengan kami membangun gerbang & posko keamanan?
Suasana hening ....
satu-satu menjawab memang selama ini tidak ada yg parkir karena memang lahannya tidak tersedia.
ada juga yg menjawab, melunak,mohon kebijakan, sebagai bentuk kepedulian sosial.
tapi ada juga yg sotoy, mengatakan bagusnya lahan tersebut dihibahkan untuk parkir warga & lapangan badminton. Anjirrrrrrrr.
Ane menutup forum dengan kalimat santun: "apabila ada gangguan & intimidasi selama kami membangun di lahan milik sendiri, akan ada konsekwensi hukum"
akhirnya, kami tetap meneruskan bikin gerbang.
Tinggal di pemukiman memang keras & ada seninya hu ....
ada aja kejadian absurd - ada yg datang bawa telur ayam kampung, setengah memaksa beli dengan harga 2x indomaret, kita iba, & beli. masih ada kembalian 30 ribu, dengan enteng "bu, kembaliannya untuk saya aja ya. lagi butuh banget" - & si ibu ini saban 2 bulan pasti nyamperin tiap rumah.
ada juga, ibu2 yg dengan santuy, joging di dalam townhouse, artinya buka pintu pagar tanpa izin, ditegur malah nyolot "wong cuma jalan-jalan aja"
ada anak2 kampung yg maen bola di dalam townhouse, diusir, pergi besok balik lagi. Pernah ane pulang kerja sore, ane tegur, ini rumah orang bukan lapangan bola. eh, ada emak2 lewat "kenapa pak? memang ngga boleh?" ane jawab emang ngga saya izinkan ini halaman milik pribadi.
ada juga tiba2 anak2 datang bawa piring kosong, disuruh emaknya minta lauk.Ini terjadi beberapa kali.
ada juga emak2 datang, minta bantuan danang, entah untuk apa.
ajaibnya gaes, kami ini ngga kenal & ngga pernah kenalan dengan mereka semua.
setelah 5 tahun bertahan, alhamdulillah ane berhasil pindah, & bikin rumah di kawasan yg nyaman ngga jauh dari exit tol Cibubur. Good bye warga kampung!!!
Hari ini 09:33
Townhouse A punya jalan masuk 3x20 meter, townhouse B jalan masuk 4x20 meter. Di antara townhouse A & townhouse B, ada gang 1 meter, yg asalnya dimiliki pemilik tanah townhouse B, kemudian dihibahkan untuk gang sebagai akses kampung di belakang townhouse. Pemukiman warga di belakang townhouse cukup luas, ada 1 RT, & ada 3 akses masuk dari jalan.
Sebelum jadi townhouse, dulunya townhouse A kebun kosong & ada tembok pemisah dengan townhouse B, yg asalnya adalah 1 unit rumah, kolam renang, kebun seluas 1200 meter persegi. Persoalan mulai muncul, ketika tembok pemisah dirobohkan oleh developer & jalan masuk townhouse A & townhouse B jadi satu, seluas (3+4) x 20 meter persegi.
Apa itu?
Warga sekitar melihat lahan masuk seluas 7x20 m2 tersebut, sebagai peluang untuk beli mobil & menjadikannya tempat parkir, termasuk jadi parkir tamu warga, bongkar muat mobil barang (ada beberapa warung dekat situ). Awalnya kami tidak terlalu ambil pusing, selama masih dapat keluar masuk. Tapi lama kelamaan jadi brutal. Cukup sering terjadi hingga 3 mobil parkir berjejer, sehingga benar-benar tidak dapat keluar masuk.
Akhirnya warga townhouse berunding & meminta kedua developer untuk membangun gerbang utama, mengembalikan seperti gerbang milik townhouse B, tetapi kali ini ditambah dengan 3 meter. Plus membikin posko sekurity di sebelah gerbang yg akan dibangun. Karena tanah masik milik developer, tentu warga townhouse tidak meminta ijin warga cuma pemberitahuan kepada pak RT. Untuk warga yg mengpakai gang dengan motor/jalan kaki, sengaja disisakan 1.2 meter. Posko 1.2 meter, gerbang 4.6 meter.
Baru saja pemborong bikin pondasi, malamnya sekitar 50 warga sekitar mendatangi townhouse. Mereka mendesak warga townhouse untuk membatalkan rencana bikin gerbang.
Celakanya, itu kejadian malam minggu. Ane intip dari lantai 2, beberapa akbar warga pergi (mobiilnya ngga ada) - akhirnya cuma ane & tetangga ane yg menghadapi (setelah di grup WA ngga ada respon). Last minute, ada inget sorenya berpapasan dengan Pak Juki, tetangga ane di pojok. Beliau anggota kesatuan garda pertahanan negeri ini, yg beberapa bulan terakhir dinas di Papua. Ane call, ternyata ada di rumah. Dia bersedia menemui warga.
Singkatnya, di halaman parkir, beberapa warga senior (biang keroknya, para pemilik mobil tetapi ngga punya tempat parkir), kami persilakan bicara. Mereka komplain ini itu dll.
Setelah selesai bicara, giliran ane yg bicara. Basa basi busuk. Seterusnya ane serahkan pak Juki. Beliau dengan tinggi 175 cm, mengenakan kaos hijau olahraga & celana training - lengkap dengan nama kesatuannya - kemudian berdiri di atas bangku semen, jadi menjulang.
ane inget kata2nya:
1. Saya cuma harap tahu, sebelum townhouse ini berdiri, artinya masih berupa rumah pak Dodi, bapak2 selama ini parkir mobil di mana?
2. Adakah hak milik bapak2 yg kami zalimi, dengan kami membangun gerbang & posko keamanan?
Suasana hening ....
satu-satu menjawab memang selama ini tidak ada yg parkir karena memang lahannya tidak tersedia.
ada juga yg menjawab, melunak,mohon kebijakan, sebagai bentuk kepedulian sosial.
tapi ada juga yg sotoy, mengatakan bagusnya lahan tersebut dihibahkan untuk parkir warga & lapangan badminton. Anjirrrrrrrr.
Ane menutup forum dengan kalimat santun: "apabila ada gangguan & intimidasi selama kami membangun di lahan milik sendiri, akan ada konsekwensi hukum"
akhirnya, kami tetap meneruskan bikin gerbang.
Tinggal di pemukiman memang keras & ada seninya hu ....
ada aja kejadian absurd - ada yg datang bawa telur ayam kampung, setengah memaksa beli dengan harga 2x indomaret, kita iba, & beli. masih ada kembalian 30 ribu, dengan enteng "bu, kembaliannya untuk saya aja ya. lagi butuh banget" - & si ibu ini saban 2 bulan pasti nyamperin tiap rumah.
ada juga, ibu2 yg dengan santuy, joging di dalam townhouse, artinya buka pintu pagar tanpa izin, ditegur malah nyolot "wong cuma jalan-jalan aja"
ada anak2 kampung yg maen bola di dalam townhouse, diusir, pergi besok balik lagi. Pernah ane pulang kerja sore, ane tegur, ini rumah orang bukan lapangan bola. eh, ada emak2 lewat "kenapa pak? memang ngga boleh?" ane jawab emang ngga saya izinkan ini halaman milik pribadi.
ada juga tiba2 anak2 datang bawa piring kosong, disuruh emaknya minta lauk.Ini terjadi beberapa kali.
ada juga emak2 datang, minta bantuan danang, entah untuk apa.
ajaibnya gaes, kami ini ngga kenal & ngga pernah kenalan dengan mereka semua.
setelah 5 tahun bertahan, alhamdulillah ane berhasil pindah, & bikin rumah di kawasan yg nyaman ngga jauh dari exit tol Cibubur. Good bye warga kampung!!!
Hari ini 09:33