• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Mengapa Sekejam Itu kepada Arie Hanggara

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Mengapa Sekejam Itu kepada Arie Hanggara

Ilustrasi: Edi Wahyono

Tino & Santi memiliki latar belakang keluarga broken home. Arie Hanggara jadi pelampiasan akibat ketidakmampuan kedua orangtuanya itu menyelesaikan masalah keluarga.

"Orangtua jahat, bunuh saja!" teriak massa yg memadati sebuah rumah kontrakan di Jalan Haji Maun, Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan, pertengahan November 1984. Warga yg geram terus merangsek mendekti Machtino Eddiwan (Tino) & Santi. Mereka emosi harap memukul paras kedua pasangan yg tega menyiksa anaknya sendiri, Arie Hanggara, hingga tewas.

Massa yg kian menyemut itu akhirnya tak berani mendekat ketika mendengar tembakan peringatan dari polisi. Saat itu penyidik dari Polsek Mampang Prapatan tengah mengerjakan rekonstruksi kasus penyiksaan Arie di rumah tersebut. Ayah kandung & ibu tiri Arie itu mengerjakan beberapa adegan penyiksaan yg mereka lakukan.

Masyarakat juga terlihat membludak saat menghadiri sidang Tino & Santi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Ruang sidang yg biasanya menampung 100 pengunjung bertambah dua kali lipat. Penonton sidang itu merupakan warga yg penasaran dengan sosok Tino & Santi atau sekadar harap mengikuti jalannya persidangan.

Kebanyakan dari pengunjung adalah emak-emak & anak sekolah. Bahkan mereka mengikuti sidang yg berjalan selama tiga jam. Bukan itu saja, mereka menunggui hingga kedua terdakwa keluar dari ruang sidang & dimasukan ke mobil tahanan untuk dibawa ke Rumah Tahanan Salemba, Jakarta Pusat.

Quote:
Kok, mereka dapat sekejam itu, ya? begitu celotehan beberapa pengunjung melihat Tono & Santi, seperti dikutip dari Majalah Tempo edisi 26 Januari 1985.


Tino yg kala itu berumur 36 tahun didakwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) JR Bangun dengan ancaman sanksi 20 tahun penjara. Sedangkan, Santi, saat itu berumur 28 tahun, didakwa ancaman sanksi 15 tahun penjara. Tapi setelah beberapa kali persidangan, majelis hakim yg diketuai Reni Reynowati memutuskan Tino divonis 5 tahun penjara & Santi divonis 2 tahun penjara.

Baca juga :Duka Nasional Kematian Bocah Arie Hanggara

Mengapa Sekejam Itu kepada Arie Hanggara

Gambaran penyiksaan kepada Arie Hanggara seperti terlihat dalam film "Arie Hanggara" tahun 1985 - Foto: YouTube

Sejak kasus penyiksaan kepada Arie terungkap hingga dibawa ke persidangan, banyak masyarakat yg 'menghukum' Tino & Santi. Muncul pertanyaan ketika pengadilan berjalan, benarkah kedua terdakwa bersalah? Mungkihkah kedua pasangan itu berbuat keji karena memiliki riwayat hidup yg juga berasal dari keluarga yg mudah bersikap kasar? "Tino setahu saya adalah anak kesayangan papanya," tutur Dahlia, mantan istri perdana Tino atau ibu kandung Arie.

Dari persidangan terkuak fakta bahwa Tino yg merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara itu sejak kecil hingga dewasa mendapatkan perlakuan spesifik dari ayahnya sendiri, Eddiwan. Ayahnya yg tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Karya Pembangunan (FKP) bercerai dengan istrinya atau ibu Tino. Tino dengan tujuh saudara kandungnya terpaksa tinggal bersama ibunya.

Sementara Eddiwan menikah lagi dengan istri keduanya yg membawa tiga orang anak. Eddiwan kepada anaknya tetap sebagai anak-anaknya & diwajibkan rutin untuk datang satu pekan sekali. Kalau kami tak muncul, papa akan marah, ungkap Tino.

Tino pernah berkelahi dengan salah satu anak bawaan istri muda Eddiwan. Tapi ayahnya sering membelanya, karena dianggap sering benar. Tino dinggap ayahnya memiliki disparitas dengan saudara-saudara lainnya, bahkan hingga ia beranjak dewasa. Dia itu sering tidak berhasil. Padahal sudah cukup banyak saya bantu, terang Eddiwan atau kakek Arie Hanggara.

Tino pun mengakui, walau wajib berjumpa dengan ayahnya, ia & kakak-adiknya jarang diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapat atau perasaannya. Eddiwan sering mengambil peran di depan. Ia sering tak bosan mengulang cerita berjalan kaki ketika sekolah & berhasil berkat kerja kerasnnya sendiri. Karena itulah, Tino mengidolakan ayahnya sendiri, Eddiwan.

Memang Eddiwan sejak remaja sudah lepas dari orangtuanya. Selepas lulus dari MULO (setingkat SMP), Eddiwan diterima diperusahaan penerbangan Belanda, KLM. Di era kemerdekaan ayah Tino mendirikan Koperasi Perikanan Indonesia (KPI), lalu jadi Sekretaris bunk Kopersi Indonesia, juga mengajar sebagai dosen di Akademi Usaha Perikanan & Akademi Koperasi.

Mengapa Sekejam Itu kepada Arie Hanggara

Persidangan kasus penganiayaan Arie Hanggara dengan terdakwa ayah kandung & ibu tirinya - Foto : Istimewa

Kesuksesan ayahnya membayang-bayangi hidup Tino. Celakanya, bayang-bayang itu tak dianggap sebagai tantangan, tetapi cuma sesuatu yg enak diangan-angankan saja. Terkesan Tino sebagai orang yg malas untuk bekerja keras. "Ia kurang dapat memecahkan persoalannya sendiri. Meski supel, ia banyak kecewa dengan kenyataan yg berbeda dengan apa yg diangankannya, mengatakan Kepala Biro Psikologi Polda Metro Jaya, Sumarningsih.

Sumarningsih juga mengungkapkan fakta soal Santi. Tino berjumpa sosok Santi, istri keduanya yg dianggap wanita pekerja. Santi sama dengan Tino. Orangtuanya bercerai & memaksanya untuk belajar hidup sendiri tanpa kasih sayang dari sosok ayah atau ibu. Tino berjumpa Santi yg sudah bekerja di perusahaan swasta & kursus bahasa Inggris & Perancis.

Santi seakan menemukan sosok ideal pada diri Tino. Sebaliknya Tino menemukan sosok wanita sukses. Namun, setelah mereka hidup serumah, Santi mulai rewel & sering menanyakan kapan suaminya mendapatkan pekerjaan. Kedua pasangan ini dinilai kurang terbuka. Tino takut kehilangan Santi, sedangkan Santi yg belum memiliki anak tak hingga hati meninggalkan anak-anak Tino.

Hal itu menyebabkan, bila muncul tingkah laku anak dalam anggota keluarga yg tak berkenan di hati mereka, anak itu mudah jadi pelampiasan konflik terpendam. Malangnya itu yg harus dialami Arie, anak kedua Tino. Bocah itu memang berbeda dengan saudaranya yg lebih penurut.

Tino & Santi dalam persidangan itu menyesali apa yg sudah mereka lakukan. Saya akan menjalani dengan kepasrahan yg sepenuhnya, ucap Tino. Sementara Santi & Dahlia sudah berjumpa & berbaikan menjelang jalannya persidangan. Santi meminta maaf kepada Dahlia sambil bercucuran air matanya. Sedangkan Dahlia mencoba menghibur Santi & dirinya sendiri. Yang sudah biarlah. Sudah kehendak Tuhan, mengatakan Dahlia.

Baca juga :Duka Nasional Kematian Bocah Arie Hanggara




sumber
Hari ini 13:22
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.