• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Mengapa Perempuan Rentan Terlibat Gerakan Terorisme?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Quote:
Hanya berselang empat hari pasca aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, aksi teror kembali terjadi. Kali ini sasarannya tidak main-main; Markas Besar Polri di Jakarta. Seorang perempuan bersenjata api menerobos kantor Mabes Polri & mengacung-acungkan senjatanya ke petugas kepolisian. Polisi pun sigap melumpuhkannya dengan timah panas.

Belakangan terungkap, pelaku berinisial ZA, perempuan berusia 26 tahun itu merupakan simpatisan ISIS. Peristiwa ini menambah daftar panjang aksi terorisme yg dilakukan perempuan. Sebelumnya, kita juga menyaksikan keterlibatan perempuan dalam sejumlah aksi terorisme, mulai dari bom Surabaya tahun 2018 hingga bom Makassar beberapa hari lalu.

Mengapa Perempuan Rentan Terlibat Gerakan Terorisme?


Selain itu, ada beberapa aksi teror yg juga dilakukan oleh perempuan seorang diri, antara lain aksi bom panci di Bekasi yg dilakukan oleh Dian Yulia Novi pada tahun 2016. Pada tahun 2018, dua perempuan yakni Siska & Dita berencana mengerjakan penyerangan ke Mako Brimob Depok. Keduanya juga merupakan anggota ISIS.

Mengapa Perempuan Rentan Terlibat Gerakan Terorisme?


Mengapa Perempuan Rentan Terlibat Gerakan Terorisme?


Deretan aksi terorisme yg melibatkan perempuan sebagai pelaku utamanya ini menandai adanya pergeseran pola. Dulu, aksi terorisme identik dengan maskulinisme & cuma dilakukan oleh laki-laki. Jika pun perempuan terlibat, perannya tidak lebih dari sekadar perantara. Namun, kini polanya mulai berubah. Banyak perempuan yg tidak lagi memegang peran minor dalam aksi teror, namun jadi pelaku utama, bahkan pelaku tunggal.

Hal ini dilatari oleh kemunculan ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria). Berbeda dengan organisasi teroris seperti al Qaeda, Taliban, Jamaah Islamiyyah & sebagainya, ISIS cenderung memiliki pola baru dalam mempropagandakan kekerasan & menyebarkan ideologi teror. Salah satu titik pembedanya ialah melibatkan keluarga (termasuk perempuan & anak-anak) dalam aksi-aksi teror mematikan.

Propaganda ideologi kekerasan yg dilancarkan ISIS memang tidak cuma menyasar laki-laki, namun juga perempuan & anak-anak. Hal inilah yg menciptakan perempuan naik kelas tidak cuma sekedar jadi perantara dalam aksi teror namun jadi bagian dari aktor utama. Di Indonesia, keterlibatan langsung perempuan dalam terorisme mulai tampak pada tahun 2014 & berlangsung hingga sekarang.

Aksi teror lone-wolf yg dilakukan ZA di Mabes Polri ialah bukti tidak terbantahkan bagaimana perempuan memiliki peran strategis dalam jaringan teroris. Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutkan bahwa pada tahun 2018 ada setidaknya 13 perempuan terlibat aksi terorisme. Jumlah itu meningkat jadi 15 orang pada tahun 2019.

Ada banyak tinjauan terkait keterlibatan perempuan dalam terorisme. Para pegiat isu gender melihat fenomena ini sebagai bentuk perlawanan kepada ketimpangan yg dialami perempuan. Selama ini, perempuan cenderung dianggap inferior, utamanya ketika dibandingkan dengan laki-laki. Keterlibatan perempuan dalam aksi teror dapat dipahami sebagai bentuk perlawanan kepada stigma tersebut.

Perempuan Sebagai Agen Perdamaian

Namun, beberapa kalangan justru menilai sebaliknya. Keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme justru merupakan wujud dari masih kentalnya budaya patriarkisme di masyarakat. Perempuan yg tidak memiliki otonomi & diposisikan sebagai subordinat laki-laki kerapkali dipaksa terlibat dalam aksi terorisme oleh laki-laki (suami, teman, atau keluarga) tanpa dapat mengelak. Artinya, perempuan kerap dalam posisi fait accomply alias tidak punya pilihan.

Posisi perempuan yg lemah & cenderung memiliki loyalitas tinggi lantas dimanfaatkan oleh organisasi jaringn teroris. Perempuan pun lantas jadi target utama indoktrinasi & rekrutmen dari kelompok jaringan teror. Di saat yg sama, perempuan yg tidak memiliki wawasan keagamaan yg luas & tingkat literasinya rendah sangat mudah terpapar ideologi & gerakan radikal-terorisme.

Namun, di luar analisis gender itu, ada faktor lain yg tidak kalah signifikan. Yakni bahwa banyak perempuan yg memang secara prinsip mendukung ide khilafah sebagai sistem yg sesuai syariah Islam. Sejumlah survei menunjukkan bahwa banyak perempuan yg secara sadar mendukung gagsan khilafah & bersimpati pada gerakan atau paham radikal-teroris.

Sampai di sini dapat disimpulkan bahwa keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme merupakan akumulasi dari setidaknya dua faktor, yakni internalisasi ideologi radikal sekaligus posisi perempuan yg cenderung lemah di masyarakat. Dalam kasus penyerangan di Mabes Polri misalnya misalnya, jelas bahwa faktor utamanya ialah internalisasi ideologi radikalisme. Hal ini terlihat dalam surat wasiat yg ditinggalkan pelaku untuk keluarga.

Dalam surat wasiat itu, pelaku menulis bahwa ibadah paling tinggi ialah jihad yg ia terjemahkan sebagai mengerjakan aksi teror kepada simbol negara. Ia meyakini aksinya itu akan mengantarkannya ke surga & dapat dijadikan syafaat alias penolong bagi keluarganya di akhirat kelak.

Mengapa Perempuan Rentan Terlibat Gerakan Terorisme?


Berkaca dari fenomena di atas, penting kiranya kita (pemerintah & masyarakat) untuk merumuskan strategi bagaimana mencegah perempuan terlibat gerakan terorisme. Penting kiranya pemerintah menjadikan perempuan sebagai salah satu target narasi kontra-ekstremisme. Perempuan sebagai kelompok rentan terpapar paham radikal-terorisme harus diberikan perhatian & porsi spesifik dalam konteks kontra-radikalisasi.

Disinilah pentingnya penguatan wawasan kebangsaan bagi perempuan sekaligus penanaman moderasi keberagamaan yg kuat. Penting pula untuk melibatkan perempuan dalam pengambilan kebijakan khususnya menyangkut persoalan radikalisme-terorisme. Hal ini akan menciptakan perempuan tidak lagi merasa cuma jadi obyek kebijakan, namun juga memiliki pencerahan penuh untuk melawan radikalisme & terorisme.

Dalam lingkup internal atau domestik keluarga, perlunya memberikan otonomi pada perempuan, baik sebagai istri maupun anak. Perempuan perlu diberdayakan pemikiran & tenaganya supaya tidak semata jadi subordinat dari laki-laki (suami atau ayahnya). Otonomi perempuan penting untuk membangun kemandirian berpikir supaya tidak mudah terjerumus ke dalam narasi-narasi yg bertentangan dengan ideologi bangsa.

Arkian, perempuan idealnya jadi agen perdamaian, sebagaimana citranya sebagai sosok makhluk yg lembut & penyayang. Jangan hingga citra perempuan itu luntur oleh ulah segelintir oknum yg terjerumus dalam gerakan radikal-terorisme.


Sumber Hari ini 05:39
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.