Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Pada tahun 2017, The World's Most Literate Nations (WMLN) merilis peringkat negara-negara dengan tingkat literasi tertinggi di dunia yg mana negara Finlandia menyabet peringkat perdana dengan hasil yg mengagumkan. Sebaliknya, Bostwana menduduki peringkat terakhir dari 61 negara yg masuk dalam survey & berkat Bostwana lah Indonesia tidak hingga jatuh ke posisi terakhir.
Tingkat literasi di suatu negara ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya Perpustakaan, surat kabar, pendidikan & ketersediaan komputer. Fakta bahwa negara Indonesia menduduki peringkat kedua terbawah adalah bukti bahwa jumlah perpustakaan & tingkat pendidikan Indonesia masih amat rendah.
TAPI, jangan cepat-cepat menyalahkan penduduk negara atas hasil survey tersebut. Meskipun minat baca di negara ini memang patut di pertanyakan namun mari kita melihat fakta-fakta lain yg sepertinya mendukung kurangnya minat baca di Indonesia ini.
Yang perdana adalah jumlah buku bacaan di Indonesia. Menurut pantauan Gramedia, jumlah buku yg terbit di Indonesia masih tergolong rendah, cuma sekitar 18 ribu judul buku pertahun. Jumlah ini amat kalah jauh dari Jepang yg dalam hal jumlah penduduk maupun luas wilayah jauh lebih kecil dari Indonesia. Kenyataan yg lebih parah adalah bahwa jumlah total eksemplar buku yg beredar di perpustakaan Indonesia kurang dari 25 juta eksemplar, bahkan tak hingga 10 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. (Data Perpusnas)
Selain itu persebaran buku itu sendiri tidaklah merata. Bisa dibilang 90 persen dari total perpustakaan di Indonesia ada di pulau Jawa & persebaran di pulau Jawa pun terpusat di jakarta. Dengan perbandingan seperti itu maka jangan salah kalau orang Indonesia kekurangan bacaan gratis. Jika tidak harap menunggu lama dari perpustakaan maka orang-orang harus beli buku sendiri & disinilah masalah kedua.
Harga buku di Indonesia itu MAHAL. Oh ya, harga buku memang tidak sebanding dengan harga kopi di Starbuck atau harga makanan di restoran bintang 2 namun menurut standar internasional harga buku di Indonesia itu tergolong mahal & alasannya adalah PAJAK.
Tere Liye, seorang penulis Best Seller, pernah mengeluh tentang tingginya pajak menulis di Indonesia. Dia menyebutkan bahwa diantara seluruh pekerjaan di Indonesia, pajak penghasilan yg dibebankan pada penulis adalah yg tertinggi, lebih tinggi dibandingkan seniman maupun PNS. Tere menyebutkan bahwa pajak penulis 24 kali lebih akbar dibanding pelaku UMKM & yg lebih parah penulis sama sekali tak dapat menutupi penghasilannya (karna diatur oleh penerbit) sedangkan profesi lain dapat dengan mudah berbohong tentang income mereka.
Tere Liye menambahkan bahwa meskipun dia sudah menyurati pemerintah namun tetap tak ada tanggapan dari atas & saat postingannya virallah baru ada tanggapan dari Sri Mulyani. Pajak yg begitu mencekik inilah yg menciptakan para penulis merasa malas untuk menciptakan karya-karya baru. Namun keadaan ini sudah mulai membaik sejak Agustus 2020 yg mana pemerintah mengumumkan akan menanggung pajak kertas untuk media cetak (meski begitu tetap saja pajak penulis tidak menurun).
Dan masalah terakhir yg menciptakan survey minat baca Indonesia rendah adalah banyaknya orang yg lebih memilih membaca secara online. Mungkin saja sebenarnya masih banyak orang di negara ini yg gemar membaca namun karna mahalnya harga buku mereka lebih memilih untuk 'membajak.' Pembajakan buku, meski bukunya dibaca dalam bentuk online, sama sekali tidak memberikan kontribusi pada perhitungan minat membaca. Selain pembajakan buku, membaca artikel online semacam ini juga tidak berkontribusi apapun pada tingkat literasi Indonesia.
Dan dengan pengaruh ketiga faktor diatas maka tidak aneh bila Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara dalam masalah tingkat literasi. Meski begitu hal yg paling mengerikan disini adalah bagaimana cara untuk meningkatkannya.
Memperbanyak produksi buku sama sekali tidak berguna kalau tak ada orang yg harap membacanya & memproduksi lebih banyak kertas sama dengan menebang lebih banyak pohon. Dua masalah inilah yg perlu dipecahkan terlebih dahulu yakni meningkatkan minat baca (tentunya membaca buku cetak) & mencari alternatif untuk tidak lagi menebang pohon demi memproduksi kertas (kebayang nggak kalau di masa depan kertas dibuat mengpakai plastik?)
Peradaban semakin maju & teknologi internet terus melesat. Apakah industri buku cetak sanggup bertahan dalam revolusi industri ini? itu andalah yg memutuskan jawabannya. Sekian dari saya mari berjumpa di thread saya yg lainnya.
sumursumur Hari ini 15:16