Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Membunuh itu ilegal. Dilarang oleh hukum & dilarang oleh agama. Selesai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Masa gitu doang? Mari kita coba bahas lebih banyak tentang kejahatan yg disebut sebagai membunuh.
Kembali ke masa lalu, ada banyak sekali kisah tentang orang-orang yg saling membunuh satu sama lain. Entah itu di jaman perang atau di era samurai. Orang-orang ini biasanya membawa pedang di pinggang mereka, berjalan ke sana-kemari mencari lawan & saling membunuh cuma demi membuktikan siapa yg terkuat. Di jaman peperangan, membunuh bahkan dianggap sebagai sesuatu yg keren & mulia. Seorang prajurit yg membunuh sekian banyak musuh akan dipuja-puja & diberi kenaikan pangkat.
Meski begitu jaman berubah. Tentunya tak ada yg suka kalau seseorang tiba-tiba datang ke rumah kita membawa pistol & membunuh kita begitu saja. Demi menjaga kestabilan & ketenangan bermasyarakat, hukum dilarang membunuh pun diterapkan.
Meski begitu praktek untuk membunuh tidak pernah benar-benar hilang, salah satu buktinya adalah sanksi mati yg masih diterapkan di beberapa negara.
Tentunya orang-orang yg mendapat sanksi mati bukanlah orang sembarangan melainkan orang-orang yg mencoba merusak kestabilan & ketenangan di masyarakat dalam level yg sudah sedemikian parah, seperti mengerjakan pembunuhan contohnya.
Orang-orang ini dibunuh supaya mereka berhenti membunuh & pembunuhan itu dilakukan supaya orang lain tidak mencoba untuk membunuh(???). Membunuh itu dilarang tetapi membunuh seorang pembunuh tidak termasuk pelanggaran hukum seperti dalam kasus membela diri, setidaknya di luar negeri begitu. dengan mengatakan lain ada area abu-abu dalam sistem hukum ini.
Meski begitu itu dalam kasus membunuh manusia, bagaimana dengan membunuh hewan?
Manusia digolongkan sebagai mamalia, meski begitu ada disparitas begitu akbar antara membunuh manusia dengan membunuh kambing. Dewasa ini membunuh ayam atau kambing atau ikan untuk dimakan adalah hal yg sangat wajar. Memang benar ada beberapa golongan yg menganggap membunuh hewan sama saja seperti membunuh manusia, tetapi mayoritas penduduk dunia tak keberatan memakan hewan-hewan itu.
Selain itu membunuh hewan-hewan kecil seperti nyamuk juga sama ringannya dengan menepukkan tangan. Keduanya sama-sama disebut membunuh, tetapi apa bedanya manusia dengan nyamuk di mata seorang pembunuh?
Jawaban itu terletak di psikologis seseorang. Contohnya begini; pernah dengar tentang seseorang yg menangis saat kambingnya akan disembelih? Si gembala kambing memiliki semacam keterikatan batin dengan kambingnya & itu jugalah yg menciptakannya tak rela kalau kambingnya dibunuh.
Kebanyakan manusia memang seperti itu. Kita cenderung tak harap kehilangan sesuatu yg kita sayangi, karena itulah hingga sekarang saya belum pernah lihat berita seseorang memakan kucing. Kucing adalah makhluk pintar yg sering dijadikan hewan peliharaan, spesies satu ini sudah memiliki koneksi psikologi dengan manusia.
Seekor kucing dapat mengerti perasaan manusia, lalu bagaimana dengan manusia yg dapat mengerti sekaligus dapat berbicara dengan bahasa?
Manusia dapat saling berkomunikasi & karena itulah simpati dapat muncul dengan mudah. Simpati & afeksi, itulah alasan manusia tidak membunuh sesama manusia atau hewan yg dapat memancing emosi positif. Orang-orang yg dapat membunuh manusia dengan mudah adalah orang yg tak lagi punya hati (atau kalap dibutakan amarah).
Membunuh memang kejahatan yg tidak main-main. Sekali kita membunuh maka orang yg dibunuh tak akan hidup lagi, tak akan berbicara dengan kita lagi. Tentunya kita tak mengharapkan itu terjadi. Kita pasti harap supaya keluarga atau orang-orang yg kita sayangi terus hidup sehat & bahagia.
Jika kita membunuh atau berniat untuk membunuh, lalu memikirkan tentang keluarga atau kebahagiaan dari orang yg kita bunuh, rasa bersalah akan menghantui kita. Ketakutan, depresi, hingga kesedihan yg mungkin timbul dari membunuh seseorang dapat menyebabkan hal-hal tak mengenakkan seperti bunuh diri & untuk melindungi kita dari hal tersebut, pemerintah pun melarang untuk membunuh manusia.
Larangan hukum memiliki sugesti kuat untuk mencegah kita mengerjakan sesuatu. Sama seperti kalau orangtua melarang kita pergi ke suatu tempat, kita tidak akan mengerjakannya meski tidak mengerti kenapa. Sugesti-sugesti itu akhirnya menciptakan kita takut & ketakutan itulah yg mengontrol hidup kita ke arah yg benar (dalam artian yg baik, tentunya).
Jadi kalau ada yg bertanya mengapa membunuh itu dilarang, jawabannya bukan sekedar ilegal atau haram melainkan karena ada alasan lain yg akan memberikan efek buruk kalau kita mengerjakannya. Meski dalam prakteknya sering keliru, saya percaya aturan yg dibuat secara musyawarah memiliki tujuan yg baik. Baik itu larangan membunuh atau larangan memiliki nama panjang sekali pun.
Sekian dari saya mari berjumpa di thread saya yg lainnya.