Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cangkeman.net -Akhir-akhir ini kalangan anak muda, khususnya para laki-laki sedang menggandrungi salah satu tokoh di dalam serial film yg bertajuk mafia dengan judul Peaky Blinders. Yah, tokoh itu bernama Thomas Shelby. Banyak dari kawan-kawan saya memperbincangkan tabiat tokoh yg diperankan oleh Cillian Murphy tersebut. Bahkan tak cuma di realitas sosial saja, di realitas media, seperti di TikTok, Instagram, & YouTube sudah banyak saya temui konten-konten yg mempublikasikan tentang kepribadian si Thomas Shelby ini.
Tentu yg paling mengesankan bagi mereka adalah tabiat Thomas Shelby yg ganteng, karismatik & sikapnya yg katanya cool bak kulkas dua pintu. Tapi, lebih dari itu, bagi saya, ketika setelah menamatkan 6 serial film Peaky Blinders, kayaknya bukan cuma sekadar ganteng, karismatik dancoolyang menyebabkan para laki-laki mengidolakan Thomas Shelby. Ada hal yg lebih filosofis dari itu yg mungkin orang-orang belum sadari.
Sebab, kalau bicara karismatik dancoolmah, saya pikir semua orang sudah tahu, bahwa kedua hal itu yg sedari dulu menjadivocal pointpara laki-laki. Tapi, yg jadi pertanyaan, kan: Mengapa, sih, seorang Thomas Shelby sebagai tokoh fiktif dapat menciptakan manusia seakan-akan harap keluar dari eksistensinya, & harap mengambil peran seperti dia? Untuk mengetahuinya, mari ikuti uraian saya terkait pengamatan tabiat dari Thomas Shelby. Siapkan kopi atau camilan, karena ini mungkin sedikit butuh mikir. Heuheu.
Pertama-tama yg jadi titik berangkat pengamatan saya adalah perihal: Apa sih yg disebut mengidolakan? Loh, mengapa berangkat pada titik itu? Karena bagi saya, terjadinya fenomena Thomas Shelby sebagai tokoh populer, adalah karena adanya sikap pengidolaan. Maka dari itu, saya perlu menelisik dari sebab awalnya dulu, sebelum akhirnya masuk pada substansinya.
Ini terlepas dari pengertian KBBI atau Wikipedia, saya pribadi mengasumsikan bahwa mengidolakan adalah berupaya meninggalkan yg lama, untuk menuju yg baru. Ini artinya secara tersirat kita dapat lihat, bahwa ketika manusia mengidolakan, artinya merasa ada yg sudah tidak asli dari eksistensinya; keberadaan di dalam dirinya. Loh, kok dapat, gimana logikanya? Jadi, selama ini kita kan, sebagai manusia terus mencari sesuatu yg lebih; yg inti, atau sederhananya kalau pakai bahasa agama ituihdinas shirothol mustaqim, tunjukkanlah kami jalan yg lurus. Nah, saya pikir, pengidolaan itu adalah representasi dari itu. Dalam kajian filosofi humanisme, misalnya, biasanya itu disebutthe ontology of not yet, yakni inti yg belum tiba sering mengundang kita kesana.
Jadi, kalau kita konotasikan, pengidolaan adalahintrinsiclydari yg disebut harapan. Manusia pasti tidak lepas dengan yg namanya harapan. Tanpa harapan, manusia tak akan dapat mengada, atau menuju pada sesuatu yg hendak ia capai. Lantas, apa hubungannya semua argumentasi itu dengan Thomas Shelby sebagai suatu fenomena yg digandrungi para manusia, khususnya laki-laki?
Pertama-tama adalah gaya bicara Thomas Shelby yg khas akan kesederhanaan. Yang dimaksud sederhana bukan dalam pengertian sedikit bicara & tanpa makna. Melainkan gaya bicara yg otentik sebagai makhluk eksistensial (manusia). Nadanya yg terkesan rendah, tetapi juga tak luput dari ketegasan makna dari setiap kata-katanya. Itulah yg dalam filosofi disebut sebagairede(bahasa Jerman), yakni perasaan dasar dari dalam diri manusia sebelum diartikulasikan ke dalam bahasa. Jadi, kayak semacam kejujuran dalam diri manusia untuk mengungkapkan makna dalam kata-kata. Tanpa adanya hiperbolik yg terkesan tidak jujur.
Dari situ kita dapat menelisik ulang, kalau gaya bicara Thomas Shelby yg kita gandrungi, itu mempunyai filosofi bahwa bicara itu tak perlu muluk-muluk & bernada tinggi, sebab esensi dari berbicara bukan tentang kerasnya suara & indahnya bahasa, tetapi tentang kejujuran dalam pengungkapan perasaan lewat kata-kata. Tentu yg disebut jujur bukan semata bicara ngawur apa adanya. Tapi, kejujuran yg sudah diolah dalam pikiran secara bulat & otentik, sehingga memungkinkan untuk dibicarakan.
Yang kedua adalah sikapnya yg dharap. Mungkin, selama ini kita mengartikan dharap sebagai sikap yg apatis; cenderung sombong karena tidak merespon keadaan di sekitarnya. Namun, sebenarnya bukan itu yg disebut dharap. Sikap dharap adalah sikap yg eksistensial (kemengadaan). Sikap yg muncul setelah berpikir, mengamati, memilih & memilah mana yg tidak perlu & mana yg perlu untuk ditanggapi. Hal itu yg kemudian memantik pada salah satu sikap Thomas Shelby yg lain, yakni ketenangan.
Orang yg punya sikap eksitensial biasanya adalah orang yg tenang, tidak tergopoh-gopoh dalam mengambil keputusan. Karena di dalam keadaan tenang, mereka sedang berpikir & mengamati keadaan. Bagi orang eksistensial, keadaan adalah sesuatu yg sublime dalam kehidupan. Keadaan adalah semacam modal dasar sebelum menjalani kehidupan. Oleh sebab itu, mengapa kita mengidolakan Thomas Shleby? Yah, karena keotentikan pribadinya yg filosofis dalam menjalani kehidupan. Tidak terburu-buru, tidak tenggelam pada arus sosial, namun mengikutinya dengan caranya yg asli sebagai makhluk yg berakal.
Yang terakhir adalah sayang keluarga. Sudah tidak diragukan lagi bahwa sikap kekeluargaan dari Thomas Shelby jadi pemantik para laki-laki untuk mengidolakannya. Akan tetapi, apakah arti dari kekeluargaan? Apakah yg disebut keluarga adalah ekosistem sosial terdekatnya saja? Tentu tidak. Yang dimaksud kekeluargaan lebih luas lagi, yakni sikap yg pekat kepada sosialitas. Meskipun sikapnya yg dharap, Thomas Shelby juga menaruh sikap sosialis yg humanis. Itu terbukti di beberapa scene film Peaky Blinders yg menayangkan dia jadi anjing Winston Churcill dengan segala misi kotornya, cuma supaya keluarganya tidak dieksekusi mati di dalam penjara.
Kalau diartikan lebih luas, sikap kekeluargaannya adalah representasi dari kemanusiaan. Yah meskipun film Peaky Blinders di beberapascenekadang pekat dengan pembunuhan, namun kita dapat ambil filosofinya, bahwa berbuat baik kepada keluarga, artinya berterima kasih kepada dirinya sendiri, karena tanpa adanya mereka, kita tak akan dapat menikmati eksistensi kehidupan. Inilah yg saya pikir jadi latar belakang mengapa kita mengidolakan Thomas Shelby. Rasa kemanusiaan secara intrinsik jadi suatu keniscayaan bagi keberadaan kita.
Mengapa cuma tiga point? Di mana karaktergeniusdan don juan yg ada di Thomas Shelby? Menurut saya, sikap genius & don juan akan otomatis mengikuti ketika ketiga sikap di atas tadi sudah teraktualisasi. Bagi saya,geniusyang ada pada tabiat Thomas Shelby adalah sikap yg hadir akibat algoritma berpikir & pengalaman eksistensialnya. Bila kita mengartikan genius sebagai sikap yg cerdas, kreatif, & orisinal, maka itu tidak lepas dari Thomas Shelby sebagai pribadi yg kritis, tenang, & pengalaman perangnya. Jadi, sangat masuk akal bila kita mengidolakan Thomas Shelby. Karena seyogianya kita sebagai manusia yah harus sering berpikir kritis, tenang, & sering mengambil kesempatan supaya punya pengalaman.
Begitupun dengan tabiat don juannya. Bila don juan kita artikan sebagai suatu sikap yg pakar dalam memikat Wanita, maka itu juga tidak lepas dari kepribadian Thomas Shelby dengan gaya kepemimpinannya yg kekeluargaan & tidak otoriter, tenang, tidak banyak berjanji, serta caranya yg sederhana dalam berbicara. Wanita membutuhkan itu dalam sebuah hubungan. Jadi, untuk dapat jadi don juan seperti Thomas Shelby, maka tirulah sikap ke-eksistensial-an dia yg sudah saya rangkum di atas. Sederhana dalam berbicara, berpikir kritis, bersikap tenang, & bersikap seperti pemimpin yg orientasinya pada kemanusiaan.
Tulisan ini ditulis oleh Achmad Fauzan Syaikhoni diCangkemanpada tanggal 24 Juli 2022.
Hari ini 12:00