Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Belum sebulan lamanya kita menikmati tahun 2022 namun persaingan memperebutkan kursi presiden jadi semakin & semakin memanas. Setiap ada kesempatan kita akan melihat para kandidat saling sindir & kirim kritik, setiap ada bencana kita akan melihat baliho & sembako bergambarkan si calon. Beberapa orang masih malu-malu menunjukkan motif aslinya namun kebanyakan rakyat sudah paham polanya.
Padahal pemilu masih 2 tahun lagi namun kampanye sudah digaskan sejak dini hari. Tampaknya para calon & partai pendukungnya punya begitu banyak uang untuk dihambur-hamburkan, semua demi menghantarkan calon idaman menuju kursi tertinggi di negara ini.
Tapi sebenarnya mengapa begitu banyak orang yg rela menghalalkan segala cara demi meraih kursi presiden? Jika para calon presiden ditanya satu persatu maka jawabannya tak akan jauh-jauh dari "memimpin Indonesia kearah yg lebih baik" atau "menyatukan Indonesia" atau "mensejahterakan rakyat." Tak ada yg tahu apakah jawaban itu jujur atau tidak tetapi saya pribadi menganggap jawaban template semacam itu terlalu sederhana untuk jadi alasan sebuah obsesi.
Jadi begini, apa gunanya jadi presiden kalau dalam prosesnya anda akan memecah belah bangsamu sendiri? Bukankah itu berlawanan dengan visi kesatuan & kesejahteraan?
Dalam sejarah politik Indonesia tak ada yg namanya pemilu yg benar-benar bersih. Sogokan, kepentingan bersama & balas budi sudah jadi bumbu gelap dalam pesta demokrasi ini. Seluruh pihak seolah mencoba bertaruh pada kandidat mereka dengan asa mendapat imbalan berupa jabatan atau kemudahan administrasi saat sang kandidat sudah jadi presiden. Dengan banyaknya faktor yg mengikat seperti itu maka jadi presiden yg benar-benar objektif terasa mustahil dilakukan.
Sekilas jadi orang nomor satu di Indonesia memang terdengar begitu luar biasa. Berdiri di puncak, memiliki kekuasaan tertinggi, diketahui oleh semua orang. Hal-hal seperti itu jelas menciptakan beberapa orang merasa mabuk sehingga tak segan segan menghabiskan banyak uang demi meraih kursi presiden.
Namun bicara dari kacamata bisnis, jadi presiden bukanlah pekerjaan yg mendatangkan banyak uang, terlebih lagi pekerjaannya amatlah banyak & mendapat monitor 24 jam. Gaji presiden itu kecil kalau dibandingkan dengan youtuber terkenal atau pengusaha akbar jadi mustahil (sangat-sangat mustahil) untuk mengembalikan danang yg hilang semasa kampanye.
Dan karnanya godaan korupsi sangat sulit untuk dilawan. Korupsi disini bukan cuma sekedar mengambil uang pajak rakyat, ada ratusan cara untuk menggelapkan uang seperti memanfaatkan kekuasaan untuk menjalin hubungan 'akrab' dengan para pejabat. Dengan kekuasaan sebagai orang nomor satu maka tak sulit bagi seorang presiden untuk menunda keputusan yg tidak menguntungkan, mengijinkan sesuatu yg tidak semestinya diijinkan & bahkan meringankan sanksi seseorang yg penting baginya.
Fyuhh, jadi ujung-ujungnya kembali ke korupsi. Well, segala hal di dunia ini memang butuh uang & presiden sekalipun perlu makan. Meski begitu sering kali saya terheran, apakah uang yg anda dapatkan setimpal dengan hal-hal buruk yg akan anda lakukan? Perang fitnah, sewa buzzer, saling menghina hingga sewa oknum-oknum untuk memanaskan keadaan. Dan meski berhasil jadi presiden anda harus siap menanggung malu atas setiap keputusan anda lakukan demi keuntungan sendiri & tentunya juga harus siap bertahan melawan para musuh politik yg sering mencari kesempatan.
Singkatnya, jadi presiden bukanlah pekerjaan yg enak & tidak menguntungkan secara finansial. Karnanya orang yg benar-benar berniat jadi presiden harus memiliki niat yg murni tanpa adanya motif mengejar keuntungan. Namun begitulah manusia, di depan bilang begini di belakang rupanya begitu. Pilihannya kembali ke tangan rakyat yg memilih.
Tapi saya sungguh berharap supaya rakyat dapat memilih dengan akal sehat yg tidak dipengaruhi oleh pihak manapun. Gunakan kepalamu, pikirkanlah mana yg benar-benar pantas jadi pemimpinmu. Apakah orang yg katanya harap menyatukan Indonesia akan mengpakai strategi kampanye yg memecah belah bangsa? Apakah orang yg katanya harap menegakkan nilai kejujuran akan menyogok suara Anda mengpakai amplop?
Sekian dari saya mari berjumpa di thread saya yg lainnya. Hari ini 11:27