Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Mengapa Agama Menjadi Mulai Tidak Menarik?
Agama sejatinya adalah sebuah lembaga yg berisi aturan-aturan mengenai tata cara mendekatkan diri kepada entiti yg bernama Tuhan. Sebagian akbar masyarakat dunia diyakini adalah individu-individu pemeluk agama, which is terikat erat pada lembaga ini. Sebagai fakta setidaknya ada sejumlah agama akbar diyakini dijadikan sebagai preferensi pandangan hidup & hukum privat masyarakat dunia. Kristen, Islam, Yahudi, Hinduisme, Budhaisme, Taoisme, Konfusiusisme & Sikhisme adalah sederatan nama-nama akbar agama dengan penganut dominan.
Seiring perkembangan zaman & kemajuan sains & teknologi, skeptisime & kritisisme umat manusia yg dahaga akan ilmu pengetahuan mulai mengerjakan gugatan atau paling tidak mempertanyakan eksistensi agama. Doktrin yg seringkali tidak applicable & anti upgrading dianggap sebagai penghambat kemajuan oleh mereka yg menjadikan sains sebagai dewa (baca : Tuhan) yg baru. Fenomena kritis ini kemudian memunculkan kecemasan pada kaum religius & ultra konservatif tentang bagaimana kelangsungan eksistensi & relevansi agama & sumber-sumber yg bersifat teologia.
Keadaan ini kemudian diperparah lagi dengan kelakuan para kaum agamawan tradisional yg terkesan kaku & enggan membuka diri kepada realita. Diskusi-diskusi mengenai relevan atau tidaknya ajaran agama yg bersumber dari kitab suci adalah sesuatu yg haram hukumnya. Alih-alih memfasilitasi dialog yg berbasis pemikiran & sains, kelompok ini malah melabeli para ilmuwan sebagai pakar bid'ah. Bahkan tidak sedikit yg divonis sebagai kaum kafir & penghuni neraka. Sungguh pemandangan yg sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang manusia menjustifikasi manusia lain, mengerjakan tugas Tuhan.
Belum lagi gerakan-gerakan bernuansa kekerasan yg mengatasnamakan agama & begitu masif terjadi. Berbagai tindakan yg radikal dengan mengatasnamakan diri sebagai pembela hukum Tuhan ini menimbulkan korban yg tidak sedikit. Sebagai contoh, kekerasan dengan dalih menegakkan syariat berujung terbunuhnya Mahsa Amini, seorang gadis belia di Iran. Soalnya, Mahsa dianggap sudah melanggar aturan berpakaian di negara itu karena tidak memakai kerudung dengan sempurna sehingga memperlihatkan rambut & kepalanya di depan umum. Sungguh sebuah aturan yg bikin geleng-geleng sambil guling-guling & tidak substantif bagi kemaslahatan. Sesungguhnya, aturan-aturan ketat berkedok syariat Islam ini kerap dipakai sebagai modal untuk memperkuat hegemoni politik & kadang dijadikan sebagai bagian dari "jualan" saat kampanye politik. Pada dasarnya semua itu hanyalah tipu daya demi meraih kekuasaan & mempertahankan eksistensi kelompok penguasa. Jelas ini adalah tindakan zalim & brutal.
Keadaan-keadaan semacam ini tentunya akan menimbulkan tanya. Apakah jualan agama masih relevan dalam kehidupan sekarang? Apakah doktrik konservatif buta tanpa validasi dapat sering diterima padahal melawan akal sehat? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tentunya akan sering terlontar dari publik sejauh makin berkembangnya pemikiran-pemikiran keilmuan baru yg progresif. Jika tidak mau mengubah mindset dalam aplikasinya, bukan tidak mungkin pada waktunya nanti agama jadi tidak menarik lagi.
Sumber pendukung :
Ulasan Pribadi
Hari ini 08:03
Agama sejatinya adalah sebuah lembaga yg berisi aturan-aturan mengenai tata cara mendekatkan diri kepada entiti yg bernama Tuhan. Sebagian akbar masyarakat dunia diyakini adalah individu-individu pemeluk agama, which is terikat erat pada lembaga ini. Sebagai fakta setidaknya ada sejumlah agama akbar diyakini dijadikan sebagai preferensi pandangan hidup & hukum privat masyarakat dunia. Kristen, Islam, Yahudi, Hinduisme, Budhaisme, Taoisme, Konfusiusisme & Sikhisme adalah sederatan nama-nama akbar agama dengan penganut dominan.
Seiring perkembangan zaman & kemajuan sains & teknologi, skeptisime & kritisisme umat manusia yg dahaga akan ilmu pengetahuan mulai mengerjakan gugatan atau paling tidak mempertanyakan eksistensi agama. Doktrin yg seringkali tidak applicable & anti upgrading dianggap sebagai penghambat kemajuan oleh mereka yg menjadikan sains sebagai dewa (baca : Tuhan) yg baru. Fenomena kritis ini kemudian memunculkan kecemasan pada kaum religius & ultra konservatif tentang bagaimana kelangsungan eksistensi & relevansi agama & sumber-sumber yg bersifat teologia.
Keadaan ini kemudian diperparah lagi dengan kelakuan para kaum agamawan tradisional yg terkesan kaku & enggan membuka diri kepada realita. Diskusi-diskusi mengenai relevan atau tidaknya ajaran agama yg bersumber dari kitab suci adalah sesuatu yg haram hukumnya. Alih-alih memfasilitasi dialog yg berbasis pemikiran & sains, kelompok ini malah melabeli para ilmuwan sebagai pakar bid'ah. Bahkan tidak sedikit yg divonis sebagai kaum kafir & penghuni neraka. Sungguh pemandangan yg sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang manusia menjustifikasi manusia lain, mengerjakan tugas Tuhan.
Belum lagi gerakan-gerakan bernuansa kekerasan yg mengatasnamakan agama & begitu masif terjadi. Berbagai tindakan yg radikal dengan mengatasnamakan diri sebagai pembela hukum Tuhan ini menimbulkan korban yg tidak sedikit. Sebagai contoh, kekerasan dengan dalih menegakkan syariat berujung terbunuhnya Mahsa Amini, seorang gadis belia di Iran. Soalnya, Mahsa dianggap sudah melanggar aturan berpakaian di negara itu karena tidak memakai kerudung dengan sempurna sehingga memperlihatkan rambut & kepalanya di depan umum. Sungguh sebuah aturan yg bikin geleng-geleng sambil guling-guling & tidak substantif bagi kemaslahatan. Sesungguhnya, aturan-aturan ketat berkedok syariat Islam ini kerap dipakai sebagai modal untuk memperkuat hegemoni politik & kadang dijadikan sebagai bagian dari "jualan" saat kampanye politik. Pada dasarnya semua itu hanyalah tipu daya demi meraih kekuasaan & mempertahankan eksistensi kelompok penguasa. Jelas ini adalah tindakan zalim & brutal.
Keadaan-keadaan semacam ini tentunya akan menimbulkan tanya. Apakah jualan agama masih relevan dalam kehidupan sekarang? Apakah doktrik konservatif buta tanpa validasi dapat sering diterima padahal melawan akal sehat? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tentunya akan sering terlontar dari publik sejauh makin berkembangnya pemikiran-pemikiran keilmuan baru yg progresif. Jika tidak mau mengubah mindset dalam aplikasinya, bukan tidak mungkin pada waktunya nanti agama jadi tidak menarik lagi.
Sumber pendukung :
Ulasan Pribadi
Hari ini 08:03