• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Mengamati Kebiasaan Menjelang Tidur

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. magnum
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

magnum

IndoForum Activist C
No. Urut
1320
Sejak
27 Mei 2006
Pesan
14.143
Nilai reaksi
417
Poin
83
bc4284f8.jpg

Mengamati Kebiasaan Menjelang Tidur

Salah satu hal yang kerap terabaikan adalah kebiasaan menjelang tidur, terutama pada anak-anak. Padahal, kebiasaan ini bila tidak diwaspadai bisa berlanjut hingga dewasa, bahkan dapat menjadi tanda awal autis.

Dalam sebuah pertemuan, seorang ibu muda mengeluh anak perempuannya yang berusia dua tahun belakangan ini terlihat suka memasukkan ibu jari ke mulut. Ini memang bukan kebiasaan yang benar-benar baru. Kata si ibu, sejak anaknya berusia sekitar delapan bulan, saat menjelang tidur anak itu suka memasukkan dan mengisap-isap ibu jarinya.

"Saya pikir itu kebiasaan mengisap botol susu yang keterusan saja. Jadi, saya biarkan. Toh dia tidak rewel, enggak bahaya, dan enggak mengganggu pertumbuhan," ujar Risa (30) yang tinggal di Cinere, Depok.

Namun, belakangan ini kebiasaan putrinya itu berlanjut. Dia tak cuma mengisap jempol saat menjelang tidur, tetapi ketika bermain, saat menonton televisi, atau menikmati perjalanan dalam mobil pun jempol tangan itu masuk ke mulut. Risa khawatir kebiasaan ini akan semakin menjadi-jadi.

"Di mana saja, begitu ada kesempatan, dia mengisap jempol. Orang-orang bilang ini tidak baik karena akan membuat giginya tonggos. Tetapi, kalau saya larang dia menangis keras-keras. Saya enggak tahan dengar tangisnya, jadi saya biarkan saja," cerita Risa bernada frustrasi.

Kebiasaan serupa hingga saat ini dilakukan Rahma (8), murid kelas III SD yang tinggal di Duren Sawit, Jakarta Timur. Dia tak bisa tidur kalau tidak mengisap jempol. Awalnya kebiasaan itu tak menjadi masalah, namun ketika ada temannya yang tahu kebiasaan Rahma, dia kerap menjadi bahan olok-olok.

Rupanya tak hanya Rahma yang punya kebiasaan khas menjelang tidur. Adiknya, Sari (5), punya kebiasaan mengelus-elus jari kelingking ibunya. Oleh karena itulah, masalah "besar" akan muncul kalau Sari hendak tidur, sementara ibunya tak berada di sampingnya.

Ini terjadi saat kedua kakak-beradik itu menginap di rumah sahabat keluarga mereka. Ketika tiba saatnya tidur, Sari rewel. Ibu pemilik rumah berusaha menenangkannya dengan berbagai cara, tetapi tak berhasil. Ternyata dia kehilangan kelingking ibunya. Sesuatu yang sulit digantikan dengan hal lain, dan tentu saja merepotkan pemilik rumah.

Kebiasaan serupa juga dilakukan Ine (8) sejak bayi hingga kini. Murid kelas III SD di Jakarta Timur ini terbiasa berangkat tidur sambil mengelus-elus bagian siku tangan ibunya.

"Sambil tidur, tangannya yang satu pegang botol susu, dan tangan satu lagi mengusap-usap siku tangan saya. Kadang-kadang tangannya naik sampai pundak, dan enggak jarang juga dia milih mengusap-usap kuping saya. Geliii banget rasanya," cerita Icu (38), ibu Ine yang bekerja di perusahaan asuransi.

Berlanjut sampai dewasa

Kebiasaan yang awalnya dilakukan anak-anak menjelang tidur itu pada sebagian anak kemudian dikerjakan pula pada saat lain. Biasanya, ini karena tak adanya larangan tegas dari orangtua.

Airin (37), ibu dua anak usia delapan dan dua tahun, bercerita, ketika anak pertamanya menunjukkan tanda-tanda senang mengusap-usap ujung bantal menjelang tidur, langsung ditegur dengan keras. Ini berkaitan dengan pengalaman masa kecil Airin sendiri.

"Waktu SD, saya punya teman yang suka mengisap jempol. Kalau lagi main bareng, dia ngisap jempol sampai basah dan berkerut-kerut. Saya jijik dan malas main sama teman yang satu itu. Saya enggak mau anak saya nanti dijauhi teman karena punya kebiasaan aneh seperti itu," katanya.

Kebiasaan seperti mengisap jari, mengelus-elus suatu benda seperti bantal atau guling, menggoyang-goyangkan kaki, atau mencium-cium boneka, biasanya diawali sebagai pengantar tidur. Lama-kelamaan hal itu dapat berlanjut pada kegiatan lain, yang tak jarang melibatkan orang di luar keluarga inti.

Bahkan, seperti dialami Mella (27) yang tinggal di Jatinegara, Jakarta Timur, kebiasaan masa kecil itu berlanjut hingga kini, sampai dewasa dan telah menikah. Awalnya, saat Mella masih kecil, dia suka mengelus-elus bordir yang menghiasi celana dalam. Ibunya mencoba memindahkan kebiasaannya itu dengan membuat sarung bantal berbordir.

Maka, kebiasaan Mella mengelus-elus motif bordir pun berpindah pada bantal. Oleh karena selalu tersedia bantal berbordir, dan tak ada yang keberatan, maka kebiasaan Mella itu berlanjut.

Mella beruntung karena suaminya tak keberatan dengan kebiasaan tersebut. Ketika mereka menikah, untuk ranjang pengantin sengaja disediakan bantal dengan banyak bordir.

Meski tak lagi mengelus-elus boneka tikus, David (25) yang bekerja pada perusahaan komputer dan tinggal di kawasan Matraman, Jakarta Timur, tak bisa melupakan kesedihannya saat boneka yang telah menemaninya tidur selama enam tahun pertama hidupnya mendadak hilang.

Ibunya, Evita (43), bercerita, David tak hanya memeluk boneka tikusnya menjelang tidur, tetapi juga saat menonton televisi atau tengah bermain sendiri. Oleh karena setiap hari dipakai, maka bentuk dan warna boneka itu pun semakin lusuh, namun David tak mau membuang atau mengganti dengan boneka lain.

"Sampai sekarang, kalau kita bicara soal boneka, dia pasti cemberut. Waktu itu, saya terpaksa pakai cara keras. Saya keluarkan busa bonekanya, baru dibuang ke tempat sampah yang jauh dari rumah," cerita Evita yang selama beberapa minggu menemani David, membantunya menghapuskan rasa kehilangan boneka itu.

Perkembangan jiwa

Berbagai kebiasaan menjelang tidur pada anak-anak, bagi sebagian orang, dianggap sebagai sesuatu yang tak perlu dirisaukan. Namun, LS Chandra SpKJ, dokter spesialis kesehatan jiwa dari Sanatorium Dharmawangsa, Jakarta Selatan, mengatakan, ada baiknya orangtua mulai mengamati kebiasaan pada anak tersebut.

"Kebiasaan itu bisa terjadi karena si anak merasa kesepian atau dia menderita depresi ringan. Dia memerlukan sesuatu yang bisa selalu bersamanya," kata Chandra.

Kebiasaan tersebut merupakan perilaku yang timbul dalam masa perkembangan jiwa seorang anak. Ini merupakan suatu kebutuhan psikologis tertentu untuk yang bersangkutan. Kebiasaan ini biasanya muncul ketika anak berada pada tahap attachment atau pelekatan pada sesuatu. Ini biasa terjadi saat anak berusia sekitar satu tahun.

"Pada tahap ini sebenarnya yang diharapkan adalah anak melekatkan diri kepada orangtua. Jika dia melekatkan diri pada orangtua, maka terjadi proses identifikasi. Anak perempuan mengidentifikasikan diri pada ibunya dan anak lelaki pada ayahnya. Maka, di sini banyak sifat atau kebiasaan orangtua yang diserap anak, dan dijadikan kebiasaannya juga," tutur Chandra.

Namun, pada sebagian anak, proses pelekatan itu terjadi bukan pada orangtua, tetapi pada bantal, guling, boneka, jari tangan, dan sebagainya. Akibatnya, benda-benda tersebut atau kegiatan itu mengandung nilai emosional yang tinggi bagi si anak.

"Dia sudah merasa nyaman dengan kebiasaannya, tidak lagi rewel karena sudah asyik dengan dunianya sendiri," ucap Chandra.

Perilaku itu biasanya juga didukung sikap orangtua yang membiarkannya. Orangtua merasa anak tak lagi terlalu bergantung padanya dan dia pun bisa melakukan hal-hal lain.

Bagaimanapun, menurut Chandra, ada baiknya orangtua memerhatikan kebiasaan anak semacam itu. Kebiasaan tersebut bisa bersifat temporer, tetapi dapat menetap. Kalau kebiasaan ini berkembang secara patologis, orangtua harus waspada karena bisa menjadi salah satu pertanda autis.

"Perhatikan, apakah anak semakin senang menyendiri dan asyik dengan kegiatannya itu? Lalu, apakah dia juga tidak merasa perlu bersosialisasi dengan orang lain?" kata Chandra.

Kalau kebiasaan tersebut sifatnya temporer, relatif tak masalah. Namun, bila kebiasaan itu terbawa hingga dewasa, anak bisa terganggu dalam bersosialisasi. Ketika teman-temannya tahu kebiasaan anak yang dianggap aneh tersebut, dia bisa menjadi bahan olok-olok. Kondisi ini bisa mengganggu rasa percaya diri anak.

Tunggu sampai Usia Enam Tahun

Setiap orang pasti mempunyai kebiasaan tertentu. Kebiasaan seakan tak bisa dipisahkan dari diri seseorang karena menyangkut rasa nyaman dan aman. Begitu juga dengan kebiasaan menjelang tidur. Kesulitan tidur bisa menimbulkan masalah, karena tidur penting bagi metabolisme tubuh. Oleh karena itulah, orangtua biasanya bingung bila anak rewel dan tak kunjung bisa tidur.

Menurut LS Chandra SpKJ, dokter spesialis kesehatan jiwa dari Sanatorium Dharmawangsa, Jakarta, kebiasaan tersebut tidak bisa disebut kebiasaan baik, tetapi juga tidak bisa dibilang buruk.

"Sepanjang tidak mengganggu orang lain dan perkembangan diri, kebiasaan itu tak jadi persoalan. Ada balita berusia 26 bulan bisa berkembang baik tanpa punya kebiasaan seperti itu. Sementara saya juga menemukan seorang perempuan berusia 50 tahun yang sukses dalam hidup, walau pernah punya kebiasaan tertentu sebelum tidur ketika masih kecil," kata Chandra.

Walau tidak berbahaya, Chandra mengingatkan jika kebiasaan ini terbawa hingga dewasa, bisa mengganggu rasa percaya diri anak. Seorang remaja yang mempunyai kebiasaan mengisap jempol sebelum tidur bisa menjadi bahan ejekan teman-temannya. Menjadi bahan olok-olok terus-menerus bisa membuat dia malu dan tidak percaya diri. Jika tekanan terus berlanjut, bisa menimbulkan depresi.

Nilai emosional tinggi

Namun, untuk menghilangkan kebiasaan itu, Chandra mengingatkan agar orangtua melakukannya dengan bijaksana.

"Kebiasaan itu mempunyai nilai emosional yang tinggi bagi si anak. Biar bagaimanapun kebiasaan itu telah membantu pembentukan dirinya. Oleh karena itu, sebaiknya orangtua tidak terlalu menekan dan menjadikannya sebagai sebuah masalah besar," kata Chandra.

Jika orangtua menganggap masalah itu sebagai masalah besar dan buruk, lalu terus membicarakannya pada anak, maka perhatian anak justru semakin terfokus pada kebiasaannya. Dia akan merasa tidak aman dan takut kehilangan benda kesayangannya. Jika ini diteruskan, justru akan menyakitkan hati anak.

Jika orangtua ingin menghilangkan kebiasaan itu, lakukan ketika anak telah mencapai usia enam tahun. Hal ini karena pada usia enam tahun kepribadian anak sudah terbentuk.

"Kehilangan benda kesayangan tentu akan menimbulkan guncangan. Namun, jika kepribadiannya sudah terbentuk, guncangan itu tidak terlalu terasa berat," ujar Chandra.

Akan lebih baik bila sebelumnya orangtua sudah menumbuhkan rasa percaya diri anak, yakni dengan berbagai macam kemampuan, sebelum anak menginjak usia enam tahun. Rasa percaya diri akan membuat risiko depresi akibat kehilangan semakin kecil. Ketika rasa percaya diri anak sudah ada, tanyakan kepadanya, apakah masih memerlukan benda atau kebiasaan itu.

Chandra mengingatkan, sejak bayi seorang manusia memiliki refleks untuk mengisap. Dengan mengisap anak akan merasa tenang. Memutuskan kebiasaan ini secara paksa dikhawatirkan akan menimbulkan efek yang tidak baik bagi si anak di kemudian hari.
 
Hmm,.. gw punya teman,.. dia punya kebiasaan klo tidur pasti suka bawa guling yang kumal, gulling itu bawaan dia waktu mash kecil,..
Gimana solusi penyembuhannya biar ga punya kebiasaan bawa guling itu lagi yaa,..
Dia nya juga malu kalau ketahuan orang lain,... alasannya klo tidur bawa guling kumal itu, bisa cepat tidur. Klo ga pake guling itu, susah tidur /wah
 
sama kayak temen gw cc nya suka banget sama guling itu padahal udah dekil
Guling mah gpp,asal jangan di masukin mulut,Guling mah gpp.....ntar dah rusak jg dah ngak di pake lagi,suruh buang aja,diem2 buang truss ganti yg baru,emang ngak ada sarung nya?
 
Ada juga yang suka pake bantal dan klo mo tidur bantal ini ujungnya selalu di buat mainan, sampai ujung ny jeleeek dan kumal.
tapi herannya kenapa mereka yang suka benda khusus ini, di gantikan yang lebih baru kok ga mau yaaa,.. /? /?
 
mungkin gini...karena yg lama itu dah sesuai dgn yg biasa ia maenkan...kalo yg baru kan pasti lebih keras dan beda dong...
 
Nah, kebetulan saya punya kebiasaan yang aneh pula, saya sudah menarik kakiku waktu sebelum tidur, rasanya pegal :P

Wah, kalau jempolnya diisep terus, kemungkinan pada saat masa remajanya atau keatasnya akan mengalami perubahan posisi pada tulang, karena pada saat muda, tulang masih bersifat bisa diubah jalur posisi tulangnya, sehingga harus berhati-hati............. /no1
 
iya karena pertumbuhan gigi nya akan tertekan oleh jempol dan akan tonggos....

@wichiandy
kk suka narik kaki ?pegal mungkin rematik....rasa nya ngilu?
 
Narik-narik kaki adalah kebiasaan saya, akibatnya, bukan bagian punggung dan dan pundak yang tinggi, tetapi kakinya, huhuhu......

Tidak ada pegal dan rematik lho, tetapi rasanya kalau setelah ditarik lega........ /heh
 
kalo aku tidur gimana ya

kalo aku sih tidur kepala bisa jadi kaki, kaki bisa jadi kepala, alias bolak balik tidurnya
/heh /heh /heh
 
whew..aneh2 aja ya kebiasaan org sebelum tidur..
Klo wa sich, ngantuk ya langsung tidur..ada bomb disamping jg bodo amat dech../heh
 
@wichiandy
kaki nya di tarik apa jari nya???kayak gimn yah???

kalo gw tidur kayak kebo meskipun ada meteor jatoh,rudal lewat,ada gizila lewat,ada teroris masuk,ada orang gila teriak teriakan gw tetep ngak bangun....

gw kadang2 kalo tidur misalnya bangun jam 5 pagi,trus tidur lagi gw kedengeran suara kalo ada orang bangun,truss mereka ngomong apa,kayak gw ngak tidur,padahal gw lagi tidur ,1/2 tidur 1/2 bangun
 
Magnum, saya menarik kaki, bukan jari kaki /heh

Menarik begitu saja, akibatnya saya tinggi, tetapi kakinya yang tinggi /heh
 
wah seperti apa yah???bongkok(bungkuk)dong.....
cara mengilangkan nya kaki dua duanya di ikat ke tempat yg kuat.....CMIIW
 
ikat? Bukan bungkuk lho, sepertihalnya ditarik kedepan /heh

Nah, tidak ada cara menghilangkannya, karena, sudah lama terbiasa dengan beginian :P
 
harus ada cara pengganti nya,misalnya tarik jari tanggan,dulu gw sering tp ngak lama sih,ilang sendiri.....emang nyokap lu ngak nanya atau kawathir/curiga ???
 
Enggak :P

Kadang ke, seringkali saya tidak diacuhkan terhadap masalah ini, jadi........ :P

Tinggi saya menjadi 179 deh......... /heh
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.