SalmanAlFarisi2
IndoForum Beginner E
- No. Urut
- 31419
- Sejak
- 23 Jan 2008
- Pesan
- 429
- Nilai reaksi
- 10
- Poin
- 18
InsyaAllah ini artikel yang saya buat, dan sudah di publikasikan di blog saya
http://hadiyanfa.multiply.com/
Bismillaahirrahmanirrahiim.
A. PERMASALAHAN DUNIA
Ini adalah gambaran mengenai krisis bahan bakar fosil, krisis yang tidak pernah diprediksi oleh dunia, hingga akhir abad ke 20. krisi ini pada akhirnya akan berbuntut pada krisi energi. Hal ini disebabkan 85% pasokan energi dunia diperoleh dari bahan bakar fossil (minyak, batu bara dan gas alam) yang semakin lama cadangan bahan bakar fossil dunia semakin menipis, dan hal ini diperburuk dengan meningkatnya kebutuhan energi dunia seiring peningkatan jumlah penduduk dunia dan kemajuan teknologi.
B. UPAYA MENGATASI KRISIS ENERGI
Berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat dunia untuk mengatasi krisis ini, salah satunya adalah penggunaan energi altenatif biofuel. Namun penggunaan biofuel ini malah menimbulkan permasalahan lainnya. Karena kerika ingin meningkatkan produksi biofuel dunia maka dibutuhkan lahan pertanian yang lebih luas, atau menggunakan lahan pertanian yang sudah ada, namun mengubah fungsi laha pertanian tersebut, namun hal ini akan menimbulkan beberapa masalah yaitu
1. Jumlah lahan subur layak tanam di dunia semakin berkurang akibat lahan tersebut dipakai untuk perumahan, industri dan pertanian, sehingga akan menimbuklkan koflik kepentingan penggunaan lahan.
2. Pembukaan lah-lahan pertanian baru ntuk kepentingan biofuel kebanyakan dilakukan dengan melakukan pembukaan lahan-lahan hutan dan gambut yang notabene memiliki kesuburan yang tinggi, pembukaan lahan ini akan mengakibatkan percepatan akumulasi gas-gas rumah kaca di atmosfer, yang akan memperparah global warming, karena dengan pengurangan lahan kehutanan dan gambut, akan mengurangi kapasitas konversi gas rumah kaca dan daya tampung terhadap gas rumah kaca yang dimiliki bumi.
3. Alih fungsi lahan pertanian untuk pangan menjadi pertanian untuk bio fuel akan menyebabkan terjadi krisis pangan karena, pada dasarnya pengusangan lahan pertanian untuk pangan secara otomastis akan mengurangi produksi pangan dunia.
C. SOLUSI
Oleh karena itu dibutuhkan sebuah energi alternatif lain, yang dapat diperbaharui, dapat dilakukan dimansaja, dan yang terpenting adalah tidak menyebabkan konflik dengan sektor vital lainnya. Rupanya Allah Swr sudah memberikan jawaban dari krisis energi yang kita hadapi saat ini, solusi dari masalah energi ini adalah “laut”, mari kita lihat firman Allah SWT
Ini adalah solusi energi yang ditawarkan Allah SWT 15 abad yang lalu, sebelum ditemukan listrik, sebelum orang mengenal energi fosil, dan tentunya sebelum orang berpikir mengenai krisis energi. Dalam ayat iini Allah SWT memberikan satu paket solusi untuk dua permasalahan sekaligus, yaitu permasalahan food crisis dan energy crisis.
Mari kita baca kembali potongan ayatNya, "agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar", ini adalah jawaban untuk masalah food crisis, dan "supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya", dan ini adalah jawaban untuk masalah energy crisis. Walaupun Allah SWT tidak secara eksplisit menuliskan kata “energi”, namun yang dimaksud “keuntungan” disini bisa jadi keuntungan dalam bentuk apapun, termasuk energi, karena Allah SWT tidak memberikan batasan terhadap kata “keuntungan” itu sendiri.
D. POTENSI LAUTAN SEBAGAI SUMBER ENERGI
Pada surat An-Nahl ayat 14, Allah SWT setidaknya telah menyebutkan dua manfaat dari lautan
1. sumber makanan dan protein hewani
3. sebagai media transportasi
4. keuntungan lainnya, ini bisa berbagai macam keuntungan, apapun itu, termasuk energi.
Di dalam Al-Qur'an Allah SWT menunjukkan potensi dari lautan itu sendiri
Bumi kita hampir seluruhnya tertutup oleh lautan, yaitu sebesar 71%, sehingga dalam memanfaatkan lautan sebagai sumber energi tidak akan terkendala lagi oleh maslah keterbatasan lahan. Selain itu, hampir setiap negara dibelahan dunia manapun memiliki akses langsung terhadap lautan, sehingga setiap negara memiliki peluang yang sama dalam memanfaatkan lautan sebagai sumber energi.
Potensi energi dari lautan, melihat sifat fisika dari lautan itu sendiri terdapat beberapa fenomena yang dapat dijadikan sumber energi
1. Ombak
- Contoh bentuk perlatan pembangkit
• Sea Snake
http://www.youtube.com/watch?v=F0mzrbfzUpM&NR=1
http://www.alternative-energy-news.info/technology/hydro/wave-power/
• Peoduk yang dikebangkan bio power system
http://www.biopowersystems.com/biostream.php
• http://www.alternative-energy-news.info/technology/hydro/wave-power/
2. Arus
- Contoh bentuk peralatan pembangkit
• Produk yang dikembangkan fri el green power
http://www.fri-el.it/seapower/en/project_sea_power_device.php
http://www.youtube.com/watch?v=v07eJSYrNq4
• Peoduk yang dikebangkan bio power system
http://www.biopowersystems.com/technologies.php
3. Pasang surut
- Contoh bentuk peralatan pembangkit
• http://www.alternative-energy-news.info/technology/hydro/tidal-power/
• http://www.youtube.com/watch?v=Sp6v3eCUOAU&feature=related
4. Angin lautan
Potensi yang saya sebutkan diatas masih terbatas pada fenomena fisika yang terjadi dilautan. Namun sebenarnya lautan juga memiliki potensi energi yang bersumber dari aspek biologis, yaitu mikroalga. Mikroalga ini dimanfatkan dengan menjadikannya biofuel, sehingga dapat dijadikan sumber energi. Biofuel dari lautan ini tidak akan mengalami kendala keterbatasan lahan seperti halnya produksi biofuel di daratan. Hal ini karena mikroalga tidak membutuhkan lahan yang luas untuk dapat tumbuh bahkan dapat dilakukan produksi dalam ruang tertutup, untuk meningkatkan produktivitasnya, selain itu wilayah lautan dunia yang sangat luas sehingga memungkinkan untuk memperbanyak produksi mikroalga.
Beberapa negara maupun pihak swasta telah membangun pembangkit-pembangkit listrik tenaga laut ini, namun hasil yang didapatkan belum optimal, disebabkan oleh teknologi yang masih terus dikembangkan dan belum besarnya dukungan pemerintahan terhadap proyek ini. Namun inilah saatnya kita merubah paradigma bangsa kita yang saat masih saja meng"anak emas"kan bahan bakar fosil, dan terlalu terlena pada cadangan bahan bakar fosil yang ada. Saatnya Indonesia masuk kedalam era baru energi dunia, dan menjadi leader di sektor ini karena Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki potensi yang sangat besar.
Namun satu hal yang perlu kita sadari dan kita ingat, segala sesuatu itu memiliki batas, sebanyak apapun jumlah yang tersedia saat ini. Oleh karena itu dalam memanfaatkan dan mengelola manusia, hendaklah kita lebih bijaksana dan memperhatiakn segla aspek yang ada, dan tetap menjaga ketersediaannya juga keseimbangan alam. Allah SWT berfirman
Wallahu ‘alam bishowab.
1 = http://www.energyandcapital.com/articles/world-energy-crisis/622
2 = http://www.yelweb.org/08/04/04/30.html
3 = http://indrayogi.multiply.com/reviews/item/7
4, 5, dan 6 = http://www.energi.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1125749769
7 = http://planethijau.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=43&artid=1094
8 = http://www.dgtl.esdm.go.id/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=266
http://hadiyanfa.multiply.com/
MENERANGI DUNIA
DENGAN LAUT
Oleh : Hadiyan Faris Azhar
DENGAN LAUT
Oleh : Hadiyan Faris Azhar
second year student in IPB, Marine Science and Technology Departement
Bismillaahirrahmanirrahiim.
A. PERMASALAHAN DUNIA
“out of the ten largest oil fields in the world, only two are expected to increase production over the next decade. That's including the Tupis field off the coast of Brazil, which is going to take a massive amount of investment to bring into production.
Nearly all of the other giant fields have peaked or are in serious decline. Just looking at Cantarell over the last few years is all it takes to realize some of these older fields are in trouble.” Keith Kohl [1]
Nearly all of the other giant fields have peaked or are in serious decline. Just looking at Cantarell over the last few years is all it takes to realize some of these older fields are in trouble.” Keith Kohl [1]
Ini adalah gambaran mengenai krisis bahan bakar fosil, krisis yang tidak pernah diprediksi oleh dunia, hingga akhir abad ke 20. krisi ini pada akhirnya akan berbuntut pada krisi energi. Hal ini disebabkan 85% pasokan energi dunia diperoleh dari bahan bakar fossil (minyak, batu bara dan gas alam) yang semakin lama cadangan bahan bakar fossil dunia semakin menipis, dan hal ini diperburuk dengan meningkatnya kebutuhan energi dunia seiring peningkatan jumlah penduduk dunia dan kemajuan teknologi.
B. UPAYA MENGATASI KRISIS ENERGI
Berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat dunia untuk mengatasi krisis ini, salah satunya adalah penggunaan energi altenatif biofuel. Namun penggunaan biofuel ini malah menimbulkan permasalahan lainnya. Karena kerika ingin meningkatkan produksi biofuel dunia maka dibutuhkan lahan pertanian yang lebih luas, atau menggunakan lahan pertanian yang sudah ada, namun mengubah fungsi laha pertanian tersebut, namun hal ini akan menimbulkan beberapa masalah yaitu
1. Jumlah lahan subur layak tanam di dunia semakin berkurang akibat lahan tersebut dipakai untuk perumahan, industri dan pertanian, sehingga akan menimbuklkan koflik kepentingan penggunaan lahan.
2. Pembukaan lah-lahan pertanian baru ntuk kepentingan biofuel kebanyakan dilakukan dengan melakukan pembukaan lahan-lahan hutan dan gambut yang notabene memiliki kesuburan yang tinggi, pembukaan lahan ini akan mengakibatkan percepatan akumulasi gas-gas rumah kaca di atmosfer, yang akan memperparah global warming, karena dengan pengurangan lahan kehutanan dan gambut, akan mengurangi kapasitas konversi gas rumah kaca dan daya tampung terhadap gas rumah kaca yang dimiliki bumi.
Secara global lahan gambut menyimpan sekitar 329 - 525 giga ton (Gt) karbon atau 15-35 % dari total karbon terestris. Sekitar 86 % (455 Gt) dari Karbon di lahan gambut tersebut tersimpan di daerah temperate (Kanada dan Rusia) sedangkan sisanya sekitar 14 % (70 Gt) terdapat di daerah tropis. (Murdiyarso et al, 2004). Cadangan karbon yang besar ini pulalah yang menyebabkan tinggginya jumlah karbon yang dilepaskan ke atmosfer ketika lahan gambut di Indonesia terbakar pada tahun 1997, yang berkisar antara 0,81-2,57 Gt (Page, 2002). Sementara itu, pendugaan emisi yang dilakukan di lahan gambut di sekitar Taman Nasional Berbak, Sumatera menunjukan angka sebesar 7 juta ton karbon (Murdiyarso et al., 2004). Dengan demikian, gambut memiliki peran yang cukup besar sebagai penjaga iklim global. Apabila gambut tersebut terbakar atau mengalami kerusakan, materi ini akan mengeluarkan gas terutama CO2, N2O dan CH4 ke udara dan siap menjadi perubah iklim dunia (Najiyati et al, 2005). [2]
3. Alih fungsi lahan pertanian untuk pangan menjadi pertanian untuk bio fuel akan menyebabkan terjadi krisis pangan karena, pada dasarnya pengusangan lahan pertanian untuk pangan secara otomastis akan mengurangi produksi pangan dunia.
C. SOLUSI
Oleh karena itu dibutuhkan sebuah energi alternatif lain, yang dapat diperbaharui, dapat dilakukan dimansaja, dan yang terpenting adalah tidak menyebabkan konflik dengan sektor vital lainnya. Rupanya Allah Swr sudah memberikan jawaban dari krisis energi yang kita hadapi saat ini, solusi dari masalah energi ini adalah “laut”, mari kita lihat firman Allah SWT
"Dan Dialah Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar, dan kamu mengeluarkan dari lautan perhiasan yang kami pakai. Kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya supaya kamu bersyukur"
(QS An-Nahl:14)
Ini adalah solusi energi yang ditawarkan Allah SWT 15 abad yang lalu, sebelum ditemukan listrik, sebelum orang mengenal energi fosil, dan tentunya sebelum orang berpikir mengenai krisis energi. Dalam ayat iini Allah SWT memberikan satu paket solusi untuk dua permasalahan sekaligus, yaitu permasalahan food crisis dan energy crisis.
Mari kita baca kembali potongan ayatNya, "agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar", ini adalah jawaban untuk masalah food crisis, dan "supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya", dan ini adalah jawaban untuk masalah energy crisis. Walaupun Allah SWT tidak secara eksplisit menuliskan kata “energi”, namun yang dimaksud “keuntungan” disini bisa jadi keuntungan dalam bentuk apapun, termasuk energi, karena Allah SWT tidak memberikan batasan terhadap kata “keuntungan” itu sendiri.
D. POTENSI LAUTAN SEBAGAI SUMBER ENERGI
Pada surat An-Nahl ayat 14, Allah SWT setidaknya telah menyebutkan dua manfaat dari lautan
1. sumber makanan dan protein hewani
Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan.
(QS An-Nahl:96)
2. sumber perhiasan3. sebagai media transportasi
4. keuntungan lainnya, ini bisa berbagai macam keuntungan, apapun itu, termasuk energi.
Di dalam Al-Qur'an Allah SWT menunjukkan potensi dari lautan itu sendiri
Alquran dalam membahas soal lautan juga terlihat dari perbandingan jumlah ayat. Dalam Alquran terdapat 32 ayat yang menyebut kata 'laut'. Sedang kata 'darat' terkandung dalam 13 ayat Alquran. Jika dijumlahkan, keduanya menjadi 45 ayat. Angka 32 itu sama dengan 71,11 persen dari 45. Sedang 13 itu identik dengan 28,22 persen dari 45. Berdasar ilmu hitungan sains, ternyata memang 71,11 persen bumi ini berupa lautan dan 28,88 persen berupa daratan. [3]
Bumi kita hampir seluruhnya tertutup oleh lautan, yaitu sebesar 71%, sehingga dalam memanfaatkan lautan sebagai sumber energi tidak akan terkendala lagi oleh maslah keterbatasan lahan. Selain itu, hampir setiap negara dibelahan dunia manapun memiliki akses langsung terhadap lautan, sehingga setiap negara memiliki peluang yang sama dalam memanfaatkan lautan sebagai sumber energi.
Potensi energi dari lautan, melihat sifat fisika dari lautan itu sendiri terdapat beberapa fenomena yang dapat dijadikan sumber energi
1. Ombak
Sumber energi yang terbarukan dari laut adalah energi gelombang, energi yang timbul akibat perbedaan suhu antara permukaan air dan dasar laut (ocean thermal energy conversion/OTEC), energi yang disebabkan oleh perbedaan tinggi permukaan air akibat pasang surut dan energi arus laut. Dari keempat energi ini hanya energi gelombang yang tidak dapat diprediksi kapasitasnya dengan tepat karena keberadaan energi gelombang sangat bergantung pada cuaca. Sedangkan OTEC, energi perbedaan tinggi pasang surut serta energi arus laut dapat diprediksi kapasitasnya dengan tepat di atas kertas. [4]
- Contoh bentuk perlatan pembangkit
• Sea Snake
http://www.youtube.com/watch?v=F0mzrbfzUpM&NR=1
http://www.alternative-energy-news.info/technology/hydro/wave-power/
• Peoduk yang dikebangkan bio power system
http://www.biopowersystems.com/biostream.php
• http://www.alternative-energy-news.info/technology/hydro/wave-power/
2. Arus
Keuntungan penggunaan energi arus laut adalah selain ramah lingkungan, energi ini juga mempunyai intensitas energi kinetik yang besar dibandingkan dengan energi terbarukan yang lain. Hal ini disebabkan densitas air laut 830 kali lipat densitas udara sehingga dengan kapasitas yang sama, turbin arus laut akan jauh lebih kecil dibandingkan dengan turbin angin. Keuntungan lainnya adalah tidak perlu perancangan struktur yang kekuatannya berlebihan seperti turbin angin yang dirancang dengan memperhitungkan adanya angin topan karena kondisi fisik pada kedalaman tertentu cenderung tenang dan dapat diperkirakan. [5]
- Contoh bentuk peralatan pembangkit
• Produk yang dikembangkan fri el green power
http://www.fri-el.it/seapower/en/project_sea_power_device.php
http://www.youtube.com/watch?v=v07eJSYrNq4
• Peoduk yang dikebangkan bio power system
http://www.biopowersystems.com/technologies.php
3. Pasang surut
Interaksi Bumi-Bulan diperkirakan menghasilkan daya energi arus pasang surut setiap harinya sebesar 3.17 TW, lebih besar sedikit dari kapasitas pembangkit listrik yang terpasang di seluruh dunia pada tahun 1995 sebesar 2.92 TW (Kantha & Clayson, 2000). Namun, untuk wilayah Indonesia potensi daya energi arus laut tersebut belum dapat diprediksi kapasitasnya. [6]
- Contoh bentuk peralatan pembangkit
• http://www.alternative-energy-news.info/technology/hydro/tidal-power/
• http://www.youtube.com/watch?v=Sp6v3eCUOAU&feature=related
4. Angin lautan
Charlie Zender, associate professor di Earth system science University California, yang juga salah satu ilmuwan yang melakukan studi tersebut menjelaskan bahwa pada ketinggian tertentu, angin bergerak dengan sangat cepat dan semakin meningkat dengan bertambahnya ketinggian. Masih menurutnya, dengan kondisi seperti ini, angin menjadi sumber energi yang lebih baik dibandingkan dengan sumber energi lain.
Studi yang dilakukan Zender bersama dengan timnya merupakan yang pertama dilakukan untuk menghitung potensi energi angin di atas laut dengan ketinggian menara turbin pada umumnya.
Berdasarkan studi yang dilakukan selama tahun 2000 hingga 2006 tersebut, besarnya potensi energi angin setiap meter persegi luas sapuan rotor turbin menghasilkan 841 Watt. Jadi untuk sebuah turbin angin lepas pantai dengan ketinggian tipikal 80 meter, bisa menghasilkan 1 juta Watt, cukup untuk menyuplai 1.000 rumah.
Hanya saja jika dibandingkan dengan turbin angin di daratan, biaya yang dibutuhkan untuk membangunnya lebih besar 50%. Teknologi dan material yang mampu bertahan pada kodisi ekstrim laut memang diperlukan. Selain itu panjangnya transmisi yang dibutuhkan untuk mengalirkan listrik ke daratan juga menambah daftar tambahan biaya, belum lagi biaya pemeliharaan rutin yang harus dilakukan.
Setidaknya, jika studi yang didukung NASA dan National Science Foundation tersebut disertai dengan hasil-hasil studi potensi energi angin di daratan, maka akan bisa didapatkan potensi angin secara global. [7]
Studi yang dilakukan Zender bersama dengan timnya merupakan yang pertama dilakukan untuk menghitung potensi energi angin di atas laut dengan ketinggian menara turbin pada umumnya.
Berdasarkan studi yang dilakukan selama tahun 2000 hingga 2006 tersebut, besarnya potensi energi angin setiap meter persegi luas sapuan rotor turbin menghasilkan 841 Watt. Jadi untuk sebuah turbin angin lepas pantai dengan ketinggian tipikal 80 meter, bisa menghasilkan 1 juta Watt, cukup untuk menyuplai 1.000 rumah.
Hanya saja jika dibandingkan dengan turbin angin di daratan, biaya yang dibutuhkan untuk membangunnya lebih besar 50%. Teknologi dan material yang mampu bertahan pada kodisi ekstrim laut memang diperlukan. Selain itu panjangnya transmisi yang dibutuhkan untuk mengalirkan listrik ke daratan juga menambah daftar tambahan biaya, belum lagi biaya pemeliharaan rutin yang harus dilakukan.
Setidaknya, jika studi yang didukung NASA dan National Science Foundation tersebut disertai dengan hasil-hasil studi potensi energi angin di daratan, maka akan bisa didapatkan potensi angin secara global. [7]
Potensi yang saya sebutkan diatas masih terbatas pada fenomena fisika yang terjadi dilautan. Namun sebenarnya lautan juga memiliki potensi energi yang bersumber dari aspek biologis, yaitu mikroalga. Mikroalga ini dimanfatkan dengan menjadikannya biofuel, sehingga dapat dijadikan sumber energi. Biofuel dari lautan ini tidak akan mengalami kendala keterbatasan lahan seperti halnya produksi biofuel di daratan. Hal ini karena mikroalga tidak membutuhkan lahan yang luas untuk dapat tumbuh bahkan dapat dilakukan produksi dalam ruang tertutup, untuk meningkatkan produktivitasnya, selain itu wilayah lautan dunia yang sangat luas sehingga memungkinkan untuk memperbanyak produksi mikroalga.
Bahan bakar nabati dari mikroalga (fitoplankton) menjadi salah satu alternatif energi bersih andalan masa depan. Sebagai biofuel, mikroalga mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan biofuel lainnya. Mikroalga dapat tumbuh cepat, bahkan dalam waktu tujuh hari sudah bisa panen. Sementara tanaman jarak pagar misalnya, enam bulan baru bisa dipanen, dengan waktu efektif mencapai tiga tahun. Luas lahan budidaya mikroalga juga dapat dimaksimalkan dengan bantuan teknologi fotobioreaktor.
Dari segi kualitas, mikroalga merupakan mikroorganisme laut dengan kandungan minyak tinggi (mencapai lebih dari 50%), bahkan spesies mikroalga yang hidup di air tawar, Botroyococcus braunii memiliki kandungan lemak hingga 70%. Mikroalga juga masih menjadi sumber minyak terbaik di dunia. Hampir semua minyak yang kita peroleh dari perut bumi berasal dari sisa mikroalga yang hidup ribuan tahun lalu.
Selain di laut, mikroalga juga banyak ditemukan di air tawar. Mikroalga memiliki fungsi serupa dengan kebanyakan tumbuhan, yakni mengusir karbondioksida dari atmosfer dan menghasilkan oksigen melalui fotosintesis.
Dalam tubuh mikroalga terkandung protein, lemak, dan karbohidrat, yang semuanya dapat dimanfaatkan. Lemak diolah menjadi minyak diesel melalui proses ekstraksi, karbohidrat dari mikroalga diolah menjadi etanol (alkohol) dengan proses fermentasi yang sama dengan proses pembuatan tape singkong, dan protein-nya dapat dijadikan pakan ternak.
Lahan perkebunan saat ini berlomba-lomba memproduksi biodiesel dan bahan bakar lain dari kedelai, singkong, dan kelapa sawit. Jika semuanya diperbandingkan, kedelai menghasilkan 50 galon minyak per setengah hektar per tahun. Singkong menghasilkan 160 galon, kelapa sawit sekitar 600 galon, sedangkan sejumlah jenis mikroalga sanggup menghasilkan sekitar 2.000 galon per setengah hektar per tahun. [8]
Dari segi kualitas, mikroalga merupakan mikroorganisme laut dengan kandungan minyak tinggi (mencapai lebih dari 50%), bahkan spesies mikroalga yang hidup di air tawar, Botroyococcus braunii memiliki kandungan lemak hingga 70%. Mikroalga juga masih menjadi sumber minyak terbaik di dunia. Hampir semua minyak yang kita peroleh dari perut bumi berasal dari sisa mikroalga yang hidup ribuan tahun lalu.
Selain di laut, mikroalga juga banyak ditemukan di air tawar. Mikroalga memiliki fungsi serupa dengan kebanyakan tumbuhan, yakni mengusir karbondioksida dari atmosfer dan menghasilkan oksigen melalui fotosintesis.
Dalam tubuh mikroalga terkandung protein, lemak, dan karbohidrat, yang semuanya dapat dimanfaatkan. Lemak diolah menjadi minyak diesel melalui proses ekstraksi, karbohidrat dari mikroalga diolah menjadi etanol (alkohol) dengan proses fermentasi yang sama dengan proses pembuatan tape singkong, dan protein-nya dapat dijadikan pakan ternak.
Lahan perkebunan saat ini berlomba-lomba memproduksi biodiesel dan bahan bakar lain dari kedelai, singkong, dan kelapa sawit. Jika semuanya diperbandingkan, kedelai menghasilkan 50 galon minyak per setengah hektar per tahun. Singkong menghasilkan 160 galon, kelapa sawit sekitar 600 galon, sedangkan sejumlah jenis mikroalga sanggup menghasilkan sekitar 2.000 galon per setengah hektar per tahun. [8]
Beberapa negara maupun pihak swasta telah membangun pembangkit-pembangkit listrik tenaga laut ini, namun hasil yang didapatkan belum optimal, disebabkan oleh teknologi yang masih terus dikembangkan dan belum besarnya dukungan pemerintahan terhadap proyek ini. Namun inilah saatnya kita merubah paradigma bangsa kita yang saat masih saja meng"anak emas"kan bahan bakar fosil, dan terlalu terlena pada cadangan bahan bakar fosil yang ada. Saatnya Indonesia masuk kedalam era baru energi dunia, dan menjadi leader di sektor ini karena Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki potensi yang sangat besar.
Namun satu hal yang perlu kita sadari dan kita ingat, segala sesuatu itu memiliki batas, sebanyak apapun jumlah yang tersedia saat ini. Oleh karena itu dalam memanfaatkan dan mengelola manusia, hendaklah kita lebih bijaksana dan memperhatiakn segla aspek yang ada, dan tetap menjaga ketersediaannya juga keseimbangan alam. Allah SWT berfirman
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Ruum (31): 41)
Wallahu ‘alam bishowab.
1 = http://www.energyandcapital.com/articles/world-energy-crisis/622
2 = http://www.yelweb.org/08/04/04/30.html
3 = http://indrayogi.multiply.com/reviews/item/7
4, 5, dan 6 = http://www.energi.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1125749769
7 = http://planethijau.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=43&artid=1094
8 = http://www.dgtl.esdm.go.id/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=266