yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, (Efesus 1:18).
Petualangan Marcopolo sampai ke Asia membuahkan hasil yang luar biasa. Injil yang diberitakannya diresponi dengan bagus oleh pemimpin Mongol, Kublai Khan.
Tahun 1269, Kublai Khan mengirim permintaan dari Peking ke Roma, “Mohon datangkan seratus orang bijak dari agama Kristen, supaya saya dibaptis. Bila saya dibaptis, semua bangsawan dan orang perkasa saya dibaptis, dan bawahan mereka juga dibaptis, supaya ada lebih banyak orang Kristen di sini daripada di tempat Anda.” Paus Gregory X menanggapi permintaan Khan tersebut hanya dengan mengirim dua orang misionaris saja. Yang menyedihkan, ketika dua orang ini sampai di Armenia, mereka tidak tahan untuk melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi dan kembali pulang. Lenyaplah kesempatan terbesar untuk menghadirkan Kristus bagi Mongol dan juga China (Waktu itu Mongol sedang menguasai China).
Tuhan sudah memberikan panggilan Ilahi untuk mengabarkan Injil di daratan China namun sayang panggilan Ilahi tersebut ditanggapi ala kadarnya. Hingga hari ini kita tahu bahwa kekristenan tidak begitu populer di negara terbesar di Asia itu.
Panggilan Tuhan memiliki dimensi yang luas. Ketika mendengar kata tersebut kita selalu menghubung-hubungkan dengan pelayanan di gereja, menjadi hamba Tuhan atau pendeta, masuk ke sekolah Alkitab atau seminari, menjadi worship leader, singer, team kunjungan rumah sakit dan sebagainya, padahal bukan hanya sebatas itu. Kita dapat memenuhi panggilan Tuhan dengan tetap berada pada bidang pekerjaan atau profesi kita masing-masing selama bidang tersebut tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan. Alkitab menyatakan, “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.” (1 Tesalonika 4:7-8).
Apa maksud panggilan Tuhan bagi kita?
Dan apa yang harus kita kerjakan untuk memenuhi panggilanNya itu? Tertulis, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku." (Lukas 9:23). Bila kita menyadari bahwa setiap orang percaya harus menyangkal diri dan memikul salib, maka kita pun harus rela membayar harga. Jika saat ini kita diijinkan menglami ujian atau penderitaan, kita pun harus bisa tetap mengucap syukur karena itu adalah bagian dari proses pendewasaan iman. Kita tahu bahwa kehidupan kekal hanya dapat kita peroleh melalui iman kepada Kristus.
Oleh karena itu kita harus berjuang untuk mempertahankan iman dan mengerjakan keselamatan itu dengan hati yang takut dan gentar, sampai Tuhan datang kali yang kedua. Jangan sampai gagal di tengah jalan karena kita tidak taat mengerjakan panggilan dan tidak memelihara iman.
Petualangan Marcopolo sampai ke Asia membuahkan hasil yang luar biasa. Injil yang diberitakannya diresponi dengan bagus oleh pemimpin Mongol, Kublai Khan.
Tahun 1269, Kublai Khan mengirim permintaan dari Peking ke Roma, “Mohon datangkan seratus orang bijak dari agama Kristen, supaya saya dibaptis. Bila saya dibaptis, semua bangsawan dan orang perkasa saya dibaptis, dan bawahan mereka juga dibaptis, supaya ada lebih banyak orang Kristen di sini daripada di tempat Anda.” Paus Gregory X menanggapi permintaan Khan tersebut hanya dengan mengirim dua orang misionaris saja. Yang menyedihkan, ketika dua orang ini sampai di Armenia, mereka tidak tahan untuk melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi dan kembali pulang. Lenyaplah kesempatan terbesar untuk menghadirkan Kristus bagi Mongol dan juga China (Waktu itu Mongol sedang menguasai China).
Tuhan sudah memberikan panggilan Ilahi untuk mengabarkan Injil di daratan China namun sayang panggilan Ilahi tersebut ditanggapi ala kadarnya. Hingga hari ini kita tahu bahwa kekristenan tidak begitu populer di negara terbesar di Asia itu.
Panggilan Tuhan memiliki dimensi yang luas. Ketika mendengar kata tersebut kita selalu menghubung-hubungkan dengan pelayanan di gereja, menjadi hamba Tuhan atau pendeta, masuk ke sekolah Alkitab atau seminari, menjadi worship leader, singer, team kunjungan rumah sakit dan sebagainya, padahal bukan hanya sebatas itu. Kita dapat memenuhi panggilan Tuhan dengan tetap berada pada bidang pekerjaan atau profesi kita masing-masing selama bidang tersebut tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan. Alkitab menyatakan, “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.” (1 Tesalonika 4:7-8).
Apa maksud panggilan Tuhan bagi kita?
Dan apa yang harus kita kerjakan untuk memenuhi panggilanNya itu? Tertulis, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku." (Lukas 9:23). Bila kita menyadari bahwa setiap orang percaya harus menyangkal diri dan memikul salib, maka kita pun harus rela membayar harga. Jika saat ini kita diijinkan menglami ujian atau penderitaan, kita pun harus bisa tetap mengucap syukur karena itu adalah bagian dari proses pendewasaan iman. Kita tahu bahwa kehidupan kekal hanya dapat kita peroleh melalui iman kepada Kristus.
Oleh karena itu kita harus berjuang untuk mempertahankan iman dan mengerjakan keselamatan itu dengan hati yang takut dan gentar, sampai Tuhan datang kali yang kedua. Jangan sampai gagal di tengah jalan karena kita tidak taat mengerjakan panggilan dan tidak memelihara iman.