• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Menebak nasib rupiah

T!T!~ch@/\/

IndoForum Banned
No. Urut
1035
Sejak
11 Mei 2006
Pesan
21.523
Nilai reaksi
1.324
Poin
113
Salah satu pertaruhan paling penting bagi pemerintah dan bunk Indonesia (BI) dalam meredam dampak krisis global adalah stabilisasi nilai kurs rupiah. Nilai tukar rupiah yang stabil akan memfasilitasi arus investasi dan ekspor. Sebaliknya, jika rupiah terus bergerak liar akan mendorong tingkat harga secara umum ke atas. Hal itu pada gilirannya akan mengikis daya beli masyarakat dan menekan tingkat konsumsi.

Juga jika nilai tukar rupiah tidak terkendali, hal itu meningkatkan ongkos produksi, mengingat hampir sekitar 60-70 persen impor nasional merupakan impor barang modal atau bahan baku. Dus, nilai tukar rupiah yang tertekan dan fluktuatif akan menekan, baik permintaan maupun penawaran agregat nasional, sehingga output akan turut tertekan lebih dari proporsional.

Depresiasi nilai tukar dan volatilitasnya yang tinggi juga menyebabkan lebih tingginya defisit anggaran, melalui dampaknya pada belanja barang-barang impor negara. Satu simulasi pada nilai impor minyak dan gas (migas) negara, misalnya, menunjukkan setiap depresiasi nilai rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp 100 akan menyebabkan peningkatan nilai impor negara Rp 1 triliun rupiah.

Dengan berbagai dampaknya yang merusak tersebut, nilai tukar jelas merupakan satu hal yang harus menjadi prioritas dalam jangka pendek. Dalam kerangka inflation targetting yang diadopsi BI, nilai rupiah sesungguhnya sudah merupakan salah satu jangkar dari kebijakan moneter. Hal itu mengingat penurunan nilai rupiah dan volatilitasnya yang tinggi akan meningkatkan laju inflasi inti yang merupakan tugas dan tanggung jawab langsung BI.

Intervensi Masif

Dalam konteks ini, tidak mengherankan bila selama dua bulan terakhir, BI melakukan intervensi masif ke pasar uang untuk menopang nilai rupiah. Tidak kurang dari delapan miliar dolar AS cadangan devisa negara digunakan BI untuk mengintervensi nilai rupiah. Sayang, intervensi tersebut tidak efektif. Rupiah semakin terkikis ke angka Rp 11.000-12.000 per dolar AS, dengan volatilitas kian meningkat.

Ketidakefektifan intervensi itu karena ada beberapa faktor yang secara bersama-sama menyebabkan capital outflow dalam jumlah besar -baik oleh pemodal asing maupun domestik, yang pada giliran menyebabkan rontoknya nilai tukar rupiah.

Penyebab capital outflow bisa dibagi ke dalam faktor pendorong dan penarik. Faktor pendorong larinya modal ke luar negeri adalah pertama, struktur neraca perdagangan yang lemah. Mayoritas ekspor Indonesia didominasi ekspor produk primer seperti migas, batu bara, dan kelapa sawit, yang mencapai 70 persen dari ekspor nasional.

Barang-barang itu rentan terhadap penurunan produksi bila terdapat gejolak sebagaimana yang ditimbulkan krisis global. Sementara, impor didominasi barang-barang modal dan bahan baku, yang fluktuasinya cenderung terbatas akibat ketergantungan dan fenomena bottleneck pada proses produksi dalam negeri.

Kelemahan struktur perdagangan Indonesia sudah terasa pada triwulan kedua 2008, yakni terdapat defisit transaksi berjalan. Seiring dengan pelemahan ekspor sebagai akibat krisis dan kekakuan impor, potensi defisit akan meningkat. Hal ini pada gilirannya menyebabkan tingginya proyeksi permintaan devisa, yang akan menekan kurs rupiah.

Faktor pendorong lain ialah kekakuan tata niaga dalam negeri karena tingginya konsentrasi produsen dan distributor. Kekakuan ini menyebabkan penurunan harga global tidak tertransmisi secara sempurna pada harga eceran domestik.

Hal ini terutama berlaku pada komoditas makanan dan bahan makanan yang memiliki sumbangan tinggi terhadap inflasi. Potensi akut inflasi ini menyebabkan tertekannya kesimbangan paritas harga domestik dan luar negeri, yang akhirnya menyebabkan arus modal keluar, dus menyebabkan depresiasi rupiah.

Ketiga, capital outflow yang terjadi juga didorong satu proses restrukturisasi dan realokasi modal, di mana unit usaha domestik dari transnational corporations merepatriasi aset-aset likuid sebagai upaya menyuntik induk perusahaan.

Keempat, derasnya arus modal ke luar juga disebabkan masih adanya sentimen negatif pada bursa saham domestik. Berlarut-larutnya suspensi terhadap saham Bumi dan tidak transparannya kebijakan pada pasar modal menyebabkan timbul ketidakpercayaan dan indikasi mulainya kepanikan pelaku bursa. Pengejawantahan dari kepanikan itu adalah penjualan portofolio dan pelarian modal yang kemudian berimbas pada terdepresiasinya nilai rupiah.

Derasnya arus modal ke luar yang kemudian menyebabkan depresiasi nilai rupiah juga disebabkan oleh dua faktor penarik eksternal. Pertama, tren deflasi di sebagian besar negara asing akibat penurunan harga komoditas pangan dan energi, yang menurunkan daya tarik rupiah.

Kedua, belum dijaminnya simpanan dan deposito domestik secara penuh. Sampai saat ini penjaminan yang diberikan pemerintah sebatas pada simpanan yang bernilai sampai dengan Rp 2 miliar.

Kondisi itu menyebabkan mereka yang memiliki simpanan di atas Rp 2 miliar memindahkan dana yang mereka miliki ke negara lain, seperti Malaysia, Singapura, dan Hongkong, yang sudah menerapkan jaminan menyeluruh pada seluruh simpanan dan deposito pada sistem perbankan. Para eksporter juga enggan menarik pulang dan mengonversi simpanan mata uang asing yang mereka miliki ke tanah air.

Dengan berbagai kondisi tersebut, capital outflow akan terus berlanjut dalam minggu-minggu ke depan. Upaya BI menghadang arus ini melalui instrumen suku bunga tidak akan sepenuhnya efektif. Begitu juga intervensi langsung BI pada pasar uang melalui penjualan dolar dan pembelian rupiah tidak akan efektif. Sebab, pelarian modal dan pelemahan rupiah, selain didorong ketimpangan imbal hasil, juga karena merebaknya kepanikan pemegang modal.

Sebaliknya, intervensi langsung justru menjadi bumerang dan kontraproduktif pada perekonomian, karena akan menyebabkan terkurasnya cadangan devisa. Tanpa ada langkah dramatis yang terorkestrasi secara baik, seperti halnya pemberlakukan kontrol devisa secara penuh, sulit mencegah keruntuhan nilai mata uang nasional.

*. M. Ikhsan Modjo, PhD , pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga

gmana menurut kalian nasib rupiah /hmm
 
Kalo rupiah melemah gini yg salah siapanya sih?
Salahin presidennya bisa gak? #-o
 
yah yang punya dolarnya juga lagi krisis, gimana kita yang pake doang...
nasib, makanya seharusnya Indonesia harus mandiri, mudah mudahan pemilu taun depan kita dapet presiden yang bisa buat indonesia mandiri dan maju, sapa yah yang bisa bawa indonesia kek gitu?
 
Yg tebakannya tepat siap2 jadi jutawan....
 
iya neh yang main dolar di kantor gw juga makin nipis , serem dech gw ...mulai terasa krisisnya
 
Menurut Teori ekonomi yang gw pelajari:

1. Amerika sebagai negara dengan Dolarnya, adalah biang kerok krisis ekonomi dunia. Maka... dolarnya pasti ambruk. Kalo sekarang justru menguat, ini fenomena yang unik sepanjang sejarah.
2. Bila Dolar anjlok... Kalau Indonesia bisa memanfaatkan peluang dengan kondisi yang kondusif untuk usaha dan pergerakan ekonomi, Rupiah bisa menguat.
3. tapi melihat lemahnya industri hilir dari produk produk ekspor Indoensia... Sukar mengharapkan rupiah pulih seperti dulu.
4. Tidak ada yang aman.... yang paling aman... jangan simpan duit. Investasi dalam bentuk barang. Itu paling aman. Karna mau rupiah menguat, atau dolar anjlok.... nilai barang akan relatif tetap sama.
 
/hmm klo gue prediksi susah rupiah untuk menguat melawan dolalr karena banyak dollar yag kluar tetapi yang masuk ke indo sedikit /sob
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.