Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Mending Pacaran atau Enggak, ya?
Pacaran
Penting atau gak sih pacaran itu, Gaes?
"Gaes ... Minta pendapatnya dong! Tapi jangan dibully, ya. Saya punya pacar udah berhubungan 38 bulan. Tapi pacarku tuh orangnya suka bohong. Sering chat cewek lain bahkan pernah jalan sama mantannya. Aku kesal. Tapi saya terus maafin dia karena dia gak mau saya putusin. Dan gak mungkin juga saya putusin karena hubunganku sudah lama saya pertahankan. Apa ya yg harus saya lakukan?"
Begitu kurang lebih salah satu curahan hati seorang remaja perempuan di sebuah grup remaja. Meski saya sudah bukan remaja, akan tetapi saya sangat suka untuk terjun ke dunia remaja.
Beberapa grup remaja saya ikuti demi mengetahui tabiat mereka, hal yg sedang booming di antara mereka, atau mempelajari gaya komunikasi yg mereka lakukan. Ya, saya butuh pengetahuan itu untuk bekal mendidik anak sendiri kalau mereka sudah remaja, juga jadi bekal mendidik remaja yg merupakan adik mentor saya.
Hasil mengamati beberapa grup remaja, sebuah simpulan yg dapat saya tarik bahwasannya, tak ada beda tabiat remaja zaman dulu dengan zaman sekarang secara signifikan. Yang berbeda hanyalah sarana atau objek dari tabiat tersebut.
Misal, tabiat seorang remaja adalah penuh semangat. Dulu atau sekarang, tabiat itu masih jadi tabiat yg dominan. Meski, beberapa ya ada saja kasuistik remaja yg tak punya gairah atas apapun. Nolep istilah zaman sekarang.
Simpulan lain, bahwa permasalahan persayangan remaja jadi bahan perbincangan yg paling banyak didengungkan. Sama saja sebenarnya kadarnya dengan zaman dulu. Meski zaman dulu tidak ramai di media sosial. Mungkin ramai di siaran radio dengan saling mengirimkan salam-salam. Namun jelas, masalah persayangan masih jadi permasalahan utama bagi remaja.
Melalui grup-grup remaja yg saya ikuti, ada simpulan lain yg saya dapatkan. Sebenarnya, simpulan tersebut bukan hal yg baru bagi saya atau bagi kita semua. Yakni keberadaan simpulan tersebut menambah keyakinan saya akan kerusakan & kerugian dalam pacaran.
Ya, puluhan curahan hati dari kaum remaja atau dewasa awal mengenai pacarnya yg begini & begitu, tayang setiap harinya. Atau setidaknya, curahan hati akan tersanderanya perasaan akibat rasa rindu akan pasangannya yg sedang LDR, menghiasi dinding grup-grup tersebut.
Saya sebagai emak yg sudah merasakan 'atmosfer' perkawinan & drama rumah tangga, terkadang senyum sendiri membacanya. Bukan, bukan karena saya merasa lebih pintar. Saya cuma merasa lebih mujur. Bahkan saya merasa kalau saya dulu tak mengkaji Islam secara benar, dapat jadi saya pun jadi salah satu orang yg curhat seperti di atas.
Sebenarnya dari komentar yg muncul, beberapa akbar dari remaja khususnya yg muslim tahu bahwa pacaran itu tak diperbolehkan dalam agama. Hanya saja, ada faktor lain yg mendorong mereka tetap berpacaran. Sebagaimana orang dewasa yg tahu dosa ghibah atau riba, namun masih bahagia mengerjakannya.
Adapun untuk kasus pacaran, kaum remaja mengerjakannya tanpa alasan yg kuat. Karena kalau dikatakan untuk menjajaki hubungan sebelum pernikahan, maka sungguh beberapa akbar dari mereka masih jauh dari niatan menikah. Terlebih, tak ada satupun penelitian yg menyatakan bahwa pacaran adalah jaminan kelanggengan berumah tangga. Bahkan dalam sebuah penelitian yg dilakukan oleh mahasiswa Universitas Islam Indonesia, menyimpulkan bahwa kepuasan hubungan perkawinan yg diawali dengan proses TA'ARUF sesuai tuntunan Islam lebih memiliki nilai yg tinggi secara signifikan dibanding rumah tangga yg diawali oleh pacaran.
Hasil Penelitian Mengenai Kepuasan Berumahtangga
Nah, adapun alasan yg kedua adalah mereka berpacaran cuma untuk having fun. Sayangnya, pacaran itu bukan cuma menciptakan perasaan happy. Yang ada malah banyak perasaan merananya. Entah karena dikhianati, dibohongi, diselingkuhi, atau cuma sekadar menahan rasa rindu sebagaimana banyak berseliweran curhatan mereka sendiri.
Jadi, adakah sisi positif dari pacaran? Maka kalau kita berpikir secara jernih, ternyata positifnya pacaran hampir tidak ada. Kalaupun ada, sungguh nilainya jauh sangat sedikit dibanding hal negatif yg jadi dampaknya. Apalagi bagi seorang muslim.
Jadi, bagi adik-adik yg belum menikah, tak usah berpacaran dengan alasan mengenal satu sama lain. Karena bagi seorang muslim, syariat Islam sudah menentukan jalannya. Apalagi yg cuma berniat untuk having fun. Sekali lagi, happy-nya cuma ilusi. Dan itu pun tak lebih karena hembusan setan yg menjadikan indah setiap kesesatan.
Bagi orang tua, yuk kita lebih dekat dengan anak kita. Jalankan fungsi utama kita sebagai pendidik mereka. Dekap erat mereka, didik dengan penuh kasih sayang sehingga kedekatan kita jadi salah satu penghalang mereka untuk mengerjakan kemaksiyatan termasuk berpacaran.
Sumber gambar: Google
Referensi: Opini pribadi Hari ini 13:38
Pacaran
Penting atau gak sih pacaran itu, Gaes?
"Gaes ... Minta pendapatnya dong! Tapi jangan dibully, ya. Saya punya pacar udah berhubungan 38 bulan. Tapi pacarku tuh orangnya suka bohong. Sering chat cewek lain bahkan pernah jalan sama mantannya. Aku kesal. Tapi saya terus maafin dia karena dia gak mau saya putusin. Dan gak mungkin juga saya putusin karena hubunganku sudah lama saya pertahankan. Apa ya yg harus saya lakukan?"
Begitu kurang lebih salah satu curahan hati seorang remaja perempuan di sebuah grup remaja. Meski saya sudah bukan remaja, akan tetapi saya sangat suka untuk terjun ke dunia remaja.
Beberapa grup remaja saya ikuti demi mengetahui tabiat mereka, hal yg sedang booming di antara mereka, atau mempelajari gaya komunikasi yg mereka lakukan. Ya, saya butuh pengetahuan itu untuk bekal mendidik anak sendiri kalau mereka sudah remaja, juga jadi bekal mendidik remaja yg merupakan adik mentor saya.
Hasil mengamati beberapa grup remaja, sebuah simpulan yg dapat saya tarik bahwasannya, tak ada beda tabiat remaja zaman dulu dengan zaman sekarang secara signifikan. Yang berbeda hanyalah sarana atau objek dari tabiat tersebut.
Misal, tabiat seorang remaja adalah penuh semangat. Dulu atau sekarang, tabiat itu masih jadi tabiat yg dominan. Meski, beberapa ya ada saja kasuistik remaja yg tak punya gairah atas apapun. Nolep istilah zaman sekarang.
Simpulan lain, bahwa permasalahan persayangan remaja jadi bahan perbincangan yg paling banyak didengungkan. Sama saja sebenarnya kadarnya dengan zaman dulu. Meski zaman dulu tidak ramai di media sosial. Mungkin ramai di siaran radio dengan saling mengirimkan salam-salam. Namun jelas, masalah persayangan masih jadi permasalahan utama bagi remaja.
Melalui grup-grup remaja yg saya ikuti, ada simpulan lain yg saya dapatkan. Sebenarnya, simpulan tersebut bukan hal yg baru bagi saya atau bagi kita semua. Yakni keberadaan simpulan tersebut menambah keyakinan saya akan kerusakan & kerugian dalam pacaran.
Ya, puluhan curahan hati dari kaum remaja atau dewasa awal mengenai pacarnya yg begini & begitu, tayang setiap harinya. Atau setidaknya, curahan hati akan tersanderanya perasaan akibat rasa rindu akan pasangannya yg sedang LDR, menghiasi dinding grup-grup tersebut.
Saya sebagai emak yg sudah merasakan 'atmosfer' perkawinan & drama rumah tangga, terkadang senyum sendiri membacanya. Bukan, bukan karena saya merasa lebih pintar. Saya cuma merasa lebih mujur. Bahkan saya merasa kalau saya dulu tak mengkaji Islam secara benar, dapat jadi saya pun jadi salah satu orang yg curhat seperti di atas.
Sebenarnya dari komentar yg muncul, beberapa akbar dari remaja khususnya yg muslim tahu bahwa pacaran itu tak diperbolehkan dalam agama. Hanya saja, ada faktor lain yg mendorong mereka tetap berpacaran. Sebagaimana orang dewasa yg tahu dosa ghibah atau riba, namun masih bahagia mengerjakannya.
Adapun untuk kasus pacaran, kaum remaja mengerjakannya tanpa alasan yg kuat. Karena kalau dikatakan untuk menjajaki hubungan sebelum pernikahan, maka sungguh beberapa akbar dari mereka masih jauh dari niatan menikah. Terlebih, tak ada satupun penelitian yg menyatakan bahwa pacaran adalah jaminan kelanggengan berumah tangga. Bahkan dalam sebuah penelitian yg dilakukan oleh mahasiswa Universitas Islam Indonesia, menyimpulkan bahwa kepuasan hubungan perkawinan yg diawali dengan proses TA'ARUF sesuai tuntunan Islam lebih memiliki nilai yg tinggi secara signifikan dibanding rumah tangga yg diawali oleh pacaran.
Hasil Penelitian Mengenai Kepuasan Berumahtangga
Nah, adapun alasan yg kedua adalah mereka berpacaran cuma untuk having fun. Sayangnya, pacaran itu bukan cuma menciptakan perasaan happy. Yang ada malah banyak perasaan merananya. Entah karena dikhianati, dibohongi, diselingkuhi, atau cuma sekadar menahan rasa rindu sebagaimana banyak berseliweran curhatan mereka sendiri.
Jadi, adakah sisi positif dari pacaran? Maka kalau kita berpikir secara jernih, ternyata positifnya pacaran hampir tidak ada. Kalaupun ada, sungguh nilainya jauh sangat sedikit dibanding hal negatif yg jadi dampaknya. Apalagi bagi seorang muslim.
Jadi, bagi adik-adik yg belum menikah, tak usah berpacaran dengan alasan mengenal satu sama lain. Karena bagi seorang muslim, syariat Islam sudah menentukan jalannya. Apalagi yg cuma berniat untuk having fun. Sekali lagi, happy-nya cuma ilusi. Dan itu pun tak lebih karena hembusan setan yg menjadikan indah setiap kesesatan.
Bagi orang tua, yuk kita lebih dekat dengan anak kita. Jalankan fungsi utama kita sebagai pendidik mereka. Dekap erat mereka, didik dengan penuh kasih sayang sehingga kedekatan kita jadi salah satu penghalang mereka untuk mengerjakan kemaksiyatan termasuk berpacaran.
Sumber gambar: Google
Referensi: Opini pribadi Hari ini 13:38