• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Mencoba Membela Gen Z Dari Kenakalannya

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Quote:
Mencoba Membela Gen Z Dari Kenakalannya
anak muda cottonbro dari Pexels


Hai GanSis, beberapa waktu lalu saya sempat bikin thread seputar hal-hal yg menyebalkan dari generasi Z, ini silahkan ditengok thread-nya disini.

Di thread tersebut, mayoritas komentar negatif kepada Generasi Z. Jujur saja, sebagai yg tergolong Gen Z, saya jadi sedih & resah. Ini kok generasi muda makin aneh-aneh.

Maka wajar saja bila saya menciptakan sedikit pembelaan terkait tingkah aneh Gen Z. Berikut sisi negatif Gen Z & (percobaan) pembelaannya.

Memaksa semua orang harus sempurna di internet

Terbaru yg meresahkan dari Gen Z atau generasi 24/7 on internet ini adalah kegemaran mereka yg menyerang statement orang lain dengan ungkit-ungkit jejak digital dari zaman emyu treble winners alias sejak zaman dulu.

Misalnya nih saya meng-cuit satu pepatah bijak. Lalu ada orang gak jelas membalas tweet tersebut dengan status alay saya di Facebook. Gabut banget kan orang yg begitu.

Saya gak tahu orang-orang sekarang emang demennya debat atau apa. Tapi kalau kondisi terus seperti itu & jadi sesuatu yg lazim. Lama-lama orang jadi takut berpendapat di ruang publik, sekalipun lewat akun medsos pribadinya. Dengan mengatakan lain kita semua dituntut sempurna di mata netizen, tanpa cacat dimasa lalu

Bukan bermaksud mencari pembenaran atau alasan. Tapi saya coba jelaskan menurut pendapat saya mengapa Generasi Z berbuat begitu?

Sebenarnya tidak semua Gen Z berperilaku begitu & tidak semua orang yg berperilaku begitu adalah Gen Z. Namun karena Gen Z mayoritas populasi di internet, maka sedikit banyaknya mereka berpengaruh di setiap hulu hara di jagad maya. Koreksi aja kalau pernyataan saya ini salah.

Dari pengamatan saya pribadi, sifat menyerang kepada perseorangan bermodal jejak digital atau postingan lawas di internet, praktek seperti itu mulai marak terjadi sejak pemilu 2014 yakni ketika terjadi polarisasi politik. Ketika orang-orang mulai masif mengpakai media sosial & dibenturkan kepentingan politik.

Warganet jadi gemar debat & gak mau kalah. Lalu kebiasaan tersebut berlanjut hingga kini. Sebenarnya gak masalah kalau publik figur atau tokoh politik yg diungkit-ungkit jejak digitalnya mungkin masih dapat dimaklumi kalau itu terkait dengan profesinya. Namun kalau standar-standar tersebut dikenakan kepada siapapun orang di internet, maka ini uda gak sehat lagi cuy. Sebaiknya hentikan ya.


Cancel culture

Istilah ini termasuk baru, tetapi sebenarnya bukan suatu hal yg baru-baru amat. Toh banyak juga para orang tua yg suka cancel apa saja yg dilakukan anaknya. Hanya saja zaman dulu istilah bukan cancel culture. Tapi intinya tetap sama.

Misalnya orang tua yg menentang kebiasaan anaknya yg tidak sesuai dengan standar orang tua. Anak mau jadi ini gak boleh, mau kesana gak boleh & harus ikut apa keharapan orang tua.

Ibarat buah jatuh tak jauh dari pohonnya, sifat anak juga menular ke anaknya. Bedanya kini generasi milenial & Z hadir dengan gayanya sendiri. Mengpakai power yg berbeda, yakni internet. Itulah sebabnya gaung cancel culture kini lebih besar. Tapi tujuannya sama, yaitu untuk mendisiplinkan bahkan yg bukan keluarganya sendiri, melainkan hingga publik figur atau malah siapapun dapat jadi target di internet.

Berasa gak sih GanSis, bahwa sifat kritis kita sekarang ini sedikit banyaknya nurun dari orang tua yg banyak aturannya. Hehe..

Ini kesannya memang cukup menyebalkan. Namun sebenarnya cancel culture bertujuan bagus kalau target yg dituju tepat sasaran. Kenyataannya beberapa kasus cancel culture kini sering berujung blunder, dapat karena terlalu keras atau malah jadi salah paham.

Kembali lagi mencontoh orang tua, mereka yg keras mendisiplinkan anaknya dengan cara yg tepat & bijak dapat berbuah hasil anaknya yg berkualitas. Sementara sebaliknya, didikan yg buruk juga hasilnya akan buruk.


Berkata kasar & ngegas

Kalau kebiasaan "ngegas" di generasi muda kini rasa-rasanya gak usah dijelasin lagi. Kita tahu sendiri lah, hari-hari sekarang di berbagai platform online, entah itu game, medsos, YouTube, forum & lainnya. Sering kita temui orang-orang ngomong kasar, caci maki & terkesan tidak sopan. Namun Gen Z tetap menyangkalnya, beralasan bahwa gaya berbicara ngegas seperti itu SEBENARNYA tidak benar-benar bermaksud cacian. Melainkan cuma sebuah gaya bicara, seperti mengatakan "anjay". Bahkan saat ini, ketika ada teman anda menyisipkan mengatakan "anjing" ketika ngobrol denganmu, apakah anda akan tersinggung? Sepertinya tidak.

Saya gak tahu aturan normanya seperti apa. Namun setahu saya, gaya bicara dengan kosakata makian & kasar gitu sudah ada sebelum internet sebesar sekarang.

Dan yg berpengaruh akbar menormalisasi kosakata kasar tersebut di internet memang gen Z.

Sekali lagi ini pengamatan pribadi saya. Orang-orang generasi sebelumnya yg tidak aktif di internet juga terbiasa mengpakai mengatakan "kotor" dalam gaya komunikasinya.

Nah, karena Gen Z ini "hidupnya" di internet & terbiasa dengan lingkungannya, seolah meyakini bahwa gaya berbicara seperti itu sebuah hal normal bahkan di depan publik (dalam hal ini internet). Karena bagi Gen Z, sekat antara publik & private cukup tipis di internet. Sementara bagi generasi sebelumnya masih merasa sungkan berinteraksi di internet lewat medsos, sehingga masih mengpakai kosakata yg sopan, meskipun di dunia nyata juga sama bar bar-nya.


Childfree

Istilah ini semakin lazim terdengar di kalangan generasi sekarang, terkhusus di perkotaan. Tapi tunggu dulu, berhubung saya tinggal di desa, jadi kali ini NO KOMEN. Silahkan GanSis berkomentar sendiri. Terima kasih
emoticon-Smilie


Rianda Prayoga
Binjai, 13 Mei 2022 *draf lama Hari ini 03:37
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.