• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

mencari kebahagiaan dalam buddha dhamma

marcedes

IndoForum Junior E
No. Urut
17648
Sejak
21 Jun 2007
Pesan
1.552
Nilai reaksi
20
Poin
38
Mencari Kebahagiaan Dalam Buddha Dhamma
Oleh: Ven. Olande Ananda Thera​


Sesungguhnya keberadaan atau usia Buddha Dharma adalah setua usia umat manusia, namun Buddha Dharma yang kita anut sekarang ini, adalah yang berasal dari Sang Buddha Gotama . Pangeran Siddharta yang mencapai Pencerahan Agung dan menjadi Buddha pada tahun 588 SM, dan mengajarkan kita tentang Empat Kebenaran Mulia. Sang Samma Sambuddha menyebutkan bahwa walaupun para Buddha tidak muncul di dunia ini, Empat Kebenaran tentang Adanya Dukkha, Sebab Dukkha, Akhir Dukkha, dan Jalan Menuju Akhir Dukkha. Dan semua Buddha yang muncul sebelum Sang Buddha Gotama, juga mengatakan dan mengajarkan hal yang sama, yaitu tentang Empat Kebenaran Mulia. Empat Kebenaran Mulia ini adalah bersifat universal, ia tidak hanya milik masyarakat India, Indonesia, Sri Lanka, atau yang lainnya, tetapi ia dapat ditemukan dimana saja di dunia ini dan di dunia lainnya.

Kita melihat bahwa Agama Buddha menyebar dari India ke Sri Langka, Burma, Thailand, Laos, Kambodia dan juga ke bagian Utara melalui Nepal menuju Tibet dan Cina, Jepang, Korea, Vietnam, sampai ke Indonesia. Dan sekarang Agama Buddha juga menyebar ke Australia, Amerika Utara, Amerika Selatan, bahkan sampai ke Rusia. Dalam perkembangan Agama Buddha seperti itu, kebudayaan dan tradisi masing-masing negara yang telah ada sebelum Agama Buddha datang, juga diadopsi ke dalam praktek keagamaan dari masing-masing negara tersebut. Oleh karena itu, Agama Buddha kelihatan sedikit berbeda bila dilihat dari sisi luarnya. Contohnya, bila kita melihat Buddha Rupam (Patung Buddha) di negara yang satu dengan yang lainnya, ada perbedaannya. Patung Buddha di Sri Lanka, China, Jepang, mereka semua memiliki ciri-ciri atau roman yang berbeda. Mungkin kalau Agama Buddha menyebar ke Afrika, kita juga akan menemukan Buddha yang hitam

Sesungguhnya aspek luar itu adalah tidak penting. Sang Buddha sendiri mengatakan: Ia yang melihat Dhamma, akan melihat Saya. Jadi sesungguhnya Dhamma-lah yang harus kita praktekkan dan realisasikan di dalam hidup kita masing-masing.

Kata/istilah Dharma atau Dhamma memiliki cukup banyak arti. Dhamma dalam Buddha-Dhamma-Sangha, berarti: Ajaran dari Sang Buddha. Dalam arti yang lebih luas, Dhamma dapat berarti: Hukum Alam, Hukum Sebab-Akibat, Hukum Paticca Samuppada, Hubungan Sebab-Musabab, Karma dan Vipaka. Kadang-kadang "Dhamma" juga dapat berarti: Kebenaran sejati.

Dalam puja bakti, kita selalu menguncarkan paritta Saccakiriya Gatha, yaitu Pernyataan Kebenaran, yang artinya: Buddha-Dhamma-Sangha adalah pelindungku. Tiada perlindungan lain bagiku, kecuali hanya Buddha, Dhamma, dan Sangha-lah sesungguhnya pelindungku.

Bila kita menerima BUDDHA sebagai pelindung kita, maka Buddha di sini sudah tentu adalah Sang Buddha Gotama, yang kita akui sebagai guru para dewa dan manusia, Ia yang kita terima sebagai Penuntun hidup, Penunjuk Jalan dari Dukkha (samsara) menuju Nibbana (Nirwana). Buddha, dalam arti yang lebih luas, bukan hanya Sang Buddha Gotama, tetapi Sifat Kebuddhaan atau Benih Kebuddhaan, yang mana hal ini sebenarnya sudah ada (terpendam) di dalam diri kita masing-masing. Ini adalah suatu fakta bahwa kita dapat mencapai Nibbana selaku makhluk manusia. Itu juga suatu perlindungan yang dapat kita pakai sebagai pelindung dan penunjuk jalan.

Dan bila kita menerima DHAMMA sebagai pelindung kita, maka kita tidak hanya berlindung katakanlah pada kitab-kitab suci yang berisi ajaran Sang Buddha, tetapi kita juga berlindung pada Hukum Alam; Hukum Dhamma; tentang Sebab-Akibat (Karma-Vipaka), Tiga Corak Umum (Tilakkhana); yaitu Anicca, Dukkha, Anatta—, dan Hukum Paticca Samuppada, menyadari mereka sebagai Hukum Alam, dan kita akan berjalan di atasnya.

Dan jika kita menerima SANGHA sebagai pelindung kita, kita dapat mengingat kembali ke jaman Sang Buddha Gotama, kepada lima orang bhikkhu pertama yang mencapai pencerahan ketika mendengar kata-kata Sang Buddha:

Sabbe Sankhara Anicca (Segala sesuatu yang berkondisi adalah tidak kekal).

Sabbe Sankhara Dukkha (Segala sesuatu yang berkondisi adalah tidak memuaskan).

Sabbe Dhamma Anatta (Segala fenomena alam adalah tanpa inti).

Kata-kata tersebut telah menjadi inspirasi bagi kelima bhikkhu, untuk merealisasikan Kebenaran di dalam diri mereka masing-masing, sehingga mereka terbebas dari lobha, dosa, dan moha. Kata-kata Sang Buddha itu telah membantu pikiran mereka untuk bebas dari beban derita dalam samsara ini dan mereka akhirnya menjadi Arahat. Sejak saat itulah Sangha dalam Buddha Sasana muncul. Dan sejak saat itu para bhikkhu dan bhikkhuni yang membentuk Sangha Buddhis telah meneruskan Sang Ajaran dengan mempelajari, mempraktekkan, dan mengajarkan Dhamma, sehingga sejak saat itu lebih dari 2500 tahun yang lalu sampai sekarang, terjalinlah satu garis yang tak terputuskan dari Sangha pertama, yang membimbing manusia untuk melewati Sang Jalan dari Buddha Dhamma ini.

Apabila kita berlindung pada Sangha, itu bukan bararti hanya pada Lokiya Sangha mereka yang memakai jubah bhikkhu atau bhikkhuni saja, tetapi juga kepada para Ariya Sangha, yaitu kumpulan makhluk yang berada di atas Sang Jalan, mereka yang telah masuk ke dalam Arus Menuju Nibbana. Itulah Ariya Sangha.

Jadi ketiganya Buddha, Dhamma, Sangha inilah yang disebut Sang Tiratana atau Tiga Permata atau Tiga Mutiara (Triple Gem) dalam Agama Buddha. Permata atau Mutiara sudah tentu adalah barang yang amat mahal, barang yang berharga; namun Permata Buddha, Dhamma, Sangha adalah jauh lebih berharga daripada semua jenis permata, emas atau berlian yang ada di dunia ini, karena Merekalah yang sesungguhnya dapat memberikan kita perlindungan yang lebih besar dan lebih tinggi daripada perlindungan yang dapat diberikan oleh segala macam jenis asuransi atau jaminan investasi emas-permata.

Karena manusia menginginkan keselamatan dan kelangsungan hidupnya, maka mereka mencoba untuk mengamankan/melindungi dirinya. Tetapi sering cara yang mereka lakukan adalah dengan mengumpulkan lebih banyak uang, rumah, mobil dan televisi, tetapi rupanya hal itu tidak membuat mereka merasa lebih bahagia. Jadi ada jaminan yang lebih tinggi di dunia ini daripada asuransi duniawi yang ada, yaitu kemungkinan tercapainya Pencerahan, yaitu bila kita menjalani Sang Jalan, mengikuti petunjuk Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Sang Buddha pernah mengatakan bahwa mereka yang mencari perlindungan pada sebuah pulau kecil, di langit, atau di pohon-pohon, mereka tetap tidak dapat menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sejati. Namun apabila mereka mengetahui bahwa di dalam diri mereka masing-masing telah ada benih-benih pikiran murni, batin yang bersih, cahaya Kebenaran, dan kebahagiaan Nibbana, maka mereka akan berhenti mengejar kesenangan duniawi yang tergolong kesenangan yang kecil, tetapi mencari jenis keselamatan, kedamaian, dan kebahagiaan di dalam diri mereka sendiri.

Memang sebenarnya tidak hanya para bhikkhu yang dapat merealisir kebahagiaan Nibbana, arus Jalan menuju Nibbana. Pada jaman Sang Buddha, kita dapat melihat bahwa terdapat banyak raja kaya, bankir, pedagang, yang mampu menapaki Sang Jalan dan sekaligus menikmati kebahagiaan duniawi. Mereka tidak melekat kepada harta duniawi, sehingga mereka dapat menikmati kebahagiaan di kedua dunia/alam (duniawi dan spritual).

Saya ingin memberikan sebuah contoh yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari agar lebih jelas, apa sebenarnya yang dapat membuat kita bahagia. Bila Anda mempunyai seorang anak kecil, dan si anak menginginkan sesuatu yang ia sukai misalkan es krim. Dia lalu minta es krim kepada ibunya, dan jika si ibu tidak segera memberikannya, si anak akan terus merengek, terus meminta, kadang-kadang sambil menangis dan berteriak-teriak minta es krim. Sehingga akhirnya ketika si ibu memberikan es krim kepada si anak, maka dengan serta-merta ia akan berhenti menangis atau berteriak, dan ia menjadi senang sekali. Si anak senang/bahagia, tetapi ia tidak menyadari dari mana datangnya rasa senang/bahagia itu. Ia mengira itu datang dari es krim tersebut. Tetapi bila kita melihat kejadian tersebut dari sudut psikologis, itu hanyalah penghentian yang sementara dari keinginannya terhadap es krim. Jadi dengan terbebasnya kita dari keinginanlah yang akan membuat kita bahagia.

Sama juga halnya dengan orang-orang dewasa, yang memiliki banyak keinginan yaitu ingin melihat benda-benda yang cantik atau indah, mendengar suara-suara yang merdu, mencium bau yang harum/segar, mengecap makanan yang lezat-lezat, mendapatkan sensasi sentuhan fisik yang mengenakkan, dan memikirkan atau merencanakan gagasan-gagasan yang menarik.

Sang Buddha tidak pernah berkata: "Jangan engkau nikmati hal-hal tersebut! Beliau juga tidak pernah berkata: "Jangan merasa gembira/bahagia! Dan Sang Buddha mengatakan bahwa bukannya dengan memiliki benda-benda (materi) yang akan memberikan kebahagiaan, tetapi dengan terbebasnya kita dari kemelekatan dan ikatan nafsu keinginanlah yang sesungguhnya memberikan kebahagiaan yang lebih tinggi.

Orang-orang yang tidak menyadari hal ini, tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang telah dimiliki. Bila mereka telah memiliki sebuah mobil, mereka ingin memiliki 2 buah. Bila mereka telah memiliki sebuah rumah kecil, mereka ingin rumah besar, bila mereka telah memiliki TV 29 inch, tahun depan mereka ingin model yang lebih besar atau model terakhir. Mereka pikir bahwa hal itulah yang akan dapat memberikan mereka kebahagiaan.

Jadi nafsu-nafsu keinginan dan penimbunan materi duniawi tersebut tidak akan pernah berakhir selama seseorang belum menyadari bahwa kebahagiaan bukannya datang dari hal tersebut. Sementara orang bahkan pergi ke tempat-tempat yang jauh, ke bulan misalnya, untuk mencari kedamaian dan keselamatan bagi dirinya. Atau ada juga yang ingin membekukan tubuhnya setelah ia mati, sampai orang menemukan cara pengobatan bagi penyakitnya, sehingga nanti ia dapat dihidupkan lagi, lalu disembuhkan dari penyakitnya, dan hidup untuk selama-lamanya. Mereka tidak segan-segan untuk mengeluarkan ribuan dolar untuk hal itu, dan tidak menyadari bahwa ada keselamatan dan kebahagiaan yang lain daripada itu. Kadang-kadang kalau kita minta kepada orang itu untuk memberikan sedikit saja dari uangnya untuk didermakan, untuk menolong anak-anak miskin agar mendapat pendidikan yang cukup, atau untuk melakukan kegiatan sosial yang berguna, maka kita akan menemui kesulitan, walau hanya untuk beberapa rupiah saja.

Sang Buddha telah menunjukkan bahwa adalah nafsu keinginan dan kemelekatanlah yang sesungguhnya menyebabkan kita selalu merasa tidak puas, yang menyebabkan kita menderita.

Saya akan memberikan sebuah contoh lain lagi, yaitu bagaimana cara menangkap seekor monyet. Dengan adanya perumpamaan, akan memudahkan bagi kita untuk mengerti. Sebenarnya kita dapat membandingkan atau mengibaratkan pikiran kita (pikiran manusia) dengan seekor monyet, yang selalu ingin pergi mencari kesenangan. Ia melompat dari satu pohon ke pohon lain, makan sedikit buah ini lalu membuangnya, makan sedikit buah itu lalu membuangnya. Ia selalu tidak bisa diam. Sekarang, orang telah menemukan sebuah cara untuk menangkap kera tersebut, dengan memakai umpan sebuah buah kelapa yang diberi lubang kecil yang mana dapat dimasuki oleh tangan kecil si kera, dan menaruh gula-gula di dalamnya. Buah kelapa itu lalu diikatkan pada sebuah rantai. Ketika sang kera mencium manis dari gula-gula tersebut, ia akan datang mendekat dan ingin mengambilnya, sehingga ia memasukkan tangannya ke dalam lubang kelapa, mengambil gula-gula tersebut, dan menggenggamnya. Ketika ia akan menarik dan mengeluarkan tangannya, tidak bisa, karena sekarang tangannya menggenggam sesuatu, sedangkan lubang kelapa itu hanya pas bila tangannya tidak menggenggam. Oleh karena kera itu sangat menginginkan gula-gula tersebut dan melekat dengan keinginannya, ia tidak mau melepaskan gula-gula itu, sehingga ia juga tidak bisa pergi/bebas dari tempat itu, sampai orang datang dan berhasil menangkapnya. Jika saja kera malang itu dapat menyadari bahwa dengan melepaskan kemelekatannya terhadap gula-gula itu, maka ia akan dapat membebaskan dirinya.

Demikian juga sama halnya dengan manusia, jika dapat menyadari bahwa nafsu keinginan dan kemelekatanlah yang menyebabkan ia terperangkap dalam lingkaran samsara, maka mereka sesungguhnya dapat membebaskan batinnya dan menjadi bahagia dalam hidup ini, tidak sesudah mati.

Jika kita dapat menerapkan prinsip tersebut —kemelekatan dan pelepasan, dan mencari kebahagiaan pada jalan yang benar, dan tetap hidup di dunia, menyelesaikan tanggung jawab hidup kita, melakukan perbuatan-perbuatan baik terhadap orang tua, kakak-adik, guru, pelayan, dan hidup dalam kesenangan yang bisa diberikan oleh materi duniawi tetapi tidak melekat, hidup dengan bijaksana dan seimbang, maka sesungguhnya kita dapat bahagia dalam dunia ini dan juga mampu menyadari banyak hal yang telah Sang Buddha ajarkan, seperti Kebenaran tentang Hukum Sebab-Musabab dari kebahagiaan dan penderitaan.

Hal lainnya lagi yaitu Sang Buddha tidak pernah memaksa kita untuk mempercayai sesuatu hanya karena adanya suatu kekuasaan. Beliau berkata, sekalipun mungkin itu telah dikatakan di dalam kitab-kitab suci, begini-begitu, dan juga bila sekalipun sesuatu itu dipercayai oleh sebagian besar orang, atau sudah merupakan tradisi yang mengajarkan begini-begitu, dan bahkan Saya, demikian Sang Budha berkata mengajarkan engkau sesuatu, jangan langsung percaya begitu saja, tetapi buktikanlah olehmu sendiri kebenarannya. Jika hal itu adalah bermanfaat, yang membuat engkau bebas dari rasa marah, takut, serakah, dan rasa benci, maka berpeganglah pada hal itu, karena itu adalah Dhamma. Namun jika sesuatu itu nenyebabkan semakin timbulnya rasa marah, takut, serakah, dan rasa benci, maka tolaklah hal itu karena itu bukanlah Dhamma.

Demikianlah uraian Dhamma saya kali ini dan saya berharap kalian dapat mempraktekkan lebih banyak rasa cinta kasih (metta) dan belas kasihan (karuna), seperti yang Sang Buddha ajarkan, juga kedermawanan dan kebijaksanaan dengan cara melatih sila, mempraktekkan samadhi, dan merealisir panna dalam hidup kalian masing-masing, baik di dunia ini maupun dunia berikutnya.
Dikutip dari Mutiara Dhamma IV
 
nah,bagaimana dengan pandangan beberapa pakar buddhism?..



Keluarga Bahagia Dengan Buddha Dhamma
Oleh: Yang Arya Bhikkhu Uttamo Thera

PENDAHULUAN

Buddha Dhamma atau Ajaran Kebenaran yang diberikan oleh Sang Buddha
kepada umat manusia telah hampir 3000 tahun usianya sejak pertama kali
dibabarkan di Taman Rusa Isipatana, Sarnath, India. Sejak jaman Sang
Buddha masih hidup, siswa Beliau selalu terdiri dari para bhikkhu dan
umat perumahtangga biasa. Oleh karena itu, jelas, mempelajari dan
melaksanakan Buddha Dhamma bukanlah monopoli para bhikkhu saja. Umat
sebagai perumahtangga pun hendaknya juga berusaha melaksanakan Buddha
Dhamma tanpa harus menjadi bhikkhu terlebih dahulu.

Dalam pelaksanaan Buddha Dhamma tidak perlu dibedakan warna kulit,
bangsa, jenis makanan, jenis kelamin, cara berpakaian maupun kondisi
tempat tinggal. Justru hal yang perlu diperhatikan dan dipersiapkan dalam
usaha melaksanakan Buddha Dhamma adalah ketekunan, keuletan, kesungguhan
dan semangat untuk membuktikan kebenaran Ajaran Sang Buddha. Sang Buddha
tidak pernah mengharuskan para pengikutNya untuk menerima begitu saja
segala yang disabdakan oleh Beliau dengan hanya bermodalkan kepercayaan
maupun keyakinan yang membuta. Sang Buddha sendiri justru menganjurkan
para siswaNya untuk selalu menguji dan terus menguji kebenaran Ajaran
Beliau sebelum menerima serta melaksanakannya bagaikan seorang tukang
emas yang harus menguji terlebih dahulu emas yang akan dibelinya agar
mengetahui kadar emas yang sesungguhnya. Buddha Dhamma apabila telah
diuji dan dilaksanakan dengan tekun maka akan memberikan kebahagiaan
lahir batin dalam kehidupan saat ini maupun kehidupan setelah kematian
nanti serta memberikan kondisi tercapainya kebahagiaan sejati yaitu
Nibbana / Nirvana atau Tuhan Yang Maha Esa.

PEMBAHASAN

Dalam pembahasan ini akan diuraikan beberapa persyaratan dasar yang
mendukung untuk mewujudkan kehidupan keluarga bahagia menurut Ajaran Sang
Buddha. Faktor-faktor pendukung itu adalah :

a. Hak dan Kewajiban

Telah disebutkan di atas bahwa Keluarga bahagia adalah komponen
terpenting pembentuk masyarakat bahagia. Untuk mendapatkan kebahagiaan
tersebut maka persyaratan utamanya adalah masing-masing anggota keluarga
hendaknya saling menyadari bahwa dalam kehidupan ini seseorang tidak akan
dapat hidup sendirian, orang pasti saling membutuhkan antara satu dengan
yang lainnya. Masing-masing fihak terikat satu dengan yang lain. Oleh
karena itu, dalam kehidupan berkeluarga agar mendapatkan kebahagiaan
bersama diperlukan adanya pengertian tentang hak dan kewajiban dari
setiap anggota keluarga. Setiap anggota keluarga hendaknya selalu
menanamkan dalam pikirannya dan melaksanakan dalam kehidupannya Sabda
Sang Buddha yang berkenaan dengan pedoman dasar munculnya hak dan
kewajiban tersebut yang terdapat pada Anguttara Nikaya I, 87 yaitu
'Sebaiknya orang selalu bersedia terlebih dahulu memberikan pertolongan
sejati tanpa pamrih kepada fihak lain dan selalu berusaha agar dapat
menyadari pertolongan yang telah diberikan fihak lain kepada diri sendiri
agar muncul keinginan untuk menanam kebajikan kepadanya'. Pola pandangan
hidup Ajaran Sang Buddha ini apabila dilaksanakan akan dapat menjamin
ketenangan, keharmonisan dan kebahagiaan keluarga.

b. Kemoralan

Dalam pengembangan kepribadian yang lebih luhur, setiap anggota keluarga
hendaknya juga dilengkapi dengan kemoralan (=sila) dalam kehidupannya
untuk dapat menjaga ketertiban serta keharmonisan dalam keluarga maupun
dalam masyarakat. Tingkah laku bermoral adalah salah satu tonggak
penyangga kebahagiaan keluarga yang selalu dianjurkan oleh Sang Buddha.
Bahkan secara khusus Sang Buddha menyebutkan lima dasar kelakuan bermoral
yang terdapat pada Anguttara Nikaya III, 203 yaitu lima perbuatan atau
tingkah laku yang perlu dihindari : 1. melakukan pembunuhan /
penganiayaan, 2. pencurian, 3. pelanggaran kesusilaan, 4. kebohongan dan
5. mabuk-mabukan. Pelaksanaan kelima hal ini selain dapat menjaga
keutuhan serta kedamaian dalam keluarga juga dapat untuk menjaga keamanan
dan ketertiban masyarakat. Manfaat ke dalam batin si pelaku dari
pelaksanaan Pancasila Buddhis ini adalah membebaskan diri dari rasa
bersalah dan ketegangan mental yang sesungguhnya dapat dihindari.

c. Ekonomi

Faktor pendukung kebahagiaan keluarga selain setiap anggota keluarga
mempunyai perbuatan yang terbebas dari kesalahan secara hukum moral
maupun negara seperti yang telah diuraikan di atas, tidak dapat disangkal
lagi bahwa kondisi ekonomi keluarga juga memegang peranan penting. Telah
cukup banyak diketahui, keluarga menjadi tidak bahagia dan harmonis lagi
karena disebabkan oleh kondisi ekonomi yang kurang layak menurut
penilaian mereka sendiri. Mengetahui pentingnya kondisi ekonomi untuk
kebahagiaan keluarga maka Sang Buddha juga telah menguraikan dengan jelas
hal ini pada Anguttara Nikaya IV, 285. Dalam nasehat Beliau di sana
disebutkan empat persyaratan dasar agar orang dapat memperbaiki kondisi
ekonomi keluarganya yaitu bahwa pertama, orang hendaknya rajin dan
bersemangat didalam bekerja mencari nafkah. Kedua, hendaknya ia menjaga
dengan hati-hati kekayaan apapun yang telah diperoleh dengan kerajinan
dan semangat, tidak membiarkannya mudah hilang atau dicuri. Orang
hendaknya juga terus menjaga cara bekerja yang telah dilakukannya
sehingga tidak mengalami kemunduran atau kemerosotan. Ketiga, berusahalah
untuk memiliki teman-teman yang baik, dan tidak bergaul dengan
orang-orang jahat, serta ke empat adalah menempuh cara hidup yang sesuai
dengan penghasilan, tidak terlalu boros dan juga tidak terlalu kikir.

Melaksanakan tuntunan cara hidup yang diberikan oleh Sang Buddha seperti
itulah yang akan mewujudkan kehidupan keluarga menjadi bahagia secara
ekonomis. Bila kondisi ekonomi keluarga telah dapat dicapai sesuai dengan
harapan para anggota keluarga tersebut maka untuk mempertahankannya atau
bahkan untuk meningkatkannya lagi dapat disimak Sabda Sang Buddha yang
lain dalam Anguttara Nikaya II, 249 yang menyebutkan bahwa keluarga
manapun yang bertahan lama di dunia ini, semua disebabkan oleh empat hal,
atau sebagian dari keempat hal itu. Apakah keempat hal itu? Keempat hal
itu adalah menumbuhkan kembali apa yang telah hilang, memperbaiki apa
yang telah rusak, makan dan minum tidak berlebihan, dan selalu berbuat
kebajikan.

Harus disebutkan pula disini bahwa kesinambungan adanya semangat bekerja
memegang peranan penting untuk keberhasilan berusaha. Sang Buddha
membahas tentang hal ini dalam Khuddaka Nikaya 2444 yaitu Bekerjalah
terus pantang mundur; hasil yang diinginkan niscaya akan terwujud sesuai
dengan cita-cita. Dan bila semangat dapat dipertahankan serta
dikembangkan maka tiada lagi kekuatan yang mampu menghalangi
keberhasilannya seperti yang disabdakan Sang Buddha selanjutnya dalam
Khuddaka Nikaya 881, bahwa seseorang yang tak gentar pada hawa dingin
atau panas, gigitan langau, tahan lapar dan haus, yang bekerja dengan
jujuh tanpa putus, siang dan malam, tidak melewatkan manfaat yang datang
pada waktunya; ia menjadi kecintaan bagi keberuntungan. Keberuntungan
niscaya meminta bertinggal dengannya.

d. Perkawinan harmonis

Istilah 'keluarga' tentulah mengacu pada unsur terpenting pembentuk
keluarga yaitu pria dan wanita yang terikat dalam satu kelembagaan yang
dikenal dengan sebutan 'perkawinan'. Kelembagaan ini akan terus
berkembang dengan lahirnya anak sebagai keturunan. Garis keturunan ini
juga akan dapat terus berlanjut menjadi beberapa generasi penerus
keluarga tersebut.

Suami dan istri sebagai unsur pertama pembentuk keluarga tentu menjadi
pusat perhatian Sang Buddha juga. Dalam salah satu kesempatan, Sang
Buddha menguraikan tentang empat persyaratan yang sebaiknya dipenuhi
untuk membina perkawinan harmonis dan membentuk keluarga bahagia baik
dalam kehidupan ini maupun sampai pada kehidupan-kehidupan yang akan
datang. Uraian mengenai hal tersebut dapat dijumpai dalam Anguttara
Nikaya II, 59 yaitu bahwa jika sepasang suami istri ingin tetap bersama,
baik dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan mendatang, dan keduanya
mempunyai keyakinan yang sama, kebajikan yang sama, kemurahan hati yang
sama, dan kebijaksanaan yang sama, mereka akan tetap bersama dalam
kehidupan sekarang maupun kehidupan mendatang.

Sang Buddha lebih lanjut menguraikan tugas-tugas yang perlu dilaksanakan
oleh suami terhadap istrinya dan juga sebaliknya. Oleh karena, keluarga
bahagia akan dapat dicapai apabila suami dan istri dalam kehidupan
perkawinan mereka telah mengetahui serta memenuhi hak dan kewajibannya
masing-masing seperti yang disabdakan oleh Sang Buddha dalam Digha Nikaya
III, 118 yaitu bahwa tugas suami terhadap istri adalah memuji, tidak
merendahkan atau menghina, setia, membiarkan istri mengurus keluarga,
memberi pakaian dan perhiasan. Lebih dari itu, hendaknya disadari pula
oleh suami bahwa dalam Ajaran Sang Buddha, istri sesungguhnya merupakan
sahabat tertinggi suami (Samyutta Nikaya 165).

Sedangkan tugas istri terhadap suami adalah mengatur semua urusan dengan
baik, membantu sanak keluarga suami, setia, menjaga kekayaan yang telah
diperoleh, serta rajin.

Konsekuensi logis lembaga perkawinan adalah melahirkan keturunan. Dan,
Sang Buddha juga memberikan petunjukNya agar terjadi hubungan harmonis
antara orangtua dan anak serta sebaliknya. Keharmonisan ini juga terwujud
apabila masing-masing fihak menyadari dan melaksanakan tugas-tugasnya.
Untuk itu, dalam kesempatan yang sama Sang Buddha menguraikan tugas anak
terhadap orang tua yaitu merawat, membantu, menjaga nama baik keluarga,
bertingkah laku yang patut sehingga layak memperoleh warisan kekayaan,
melakukan pelimpahan jasa bila orangtua telah meninggal. Lebih lanjut
dalam Khuddaka Nikaya 286 disebutkan bahwa Ayah dan ibu adalah Brahma
(makhluk yang luhur), Ayah dan ibu guru pertama juga Ayah dan ibu adalah
orang yang patut diyakini oleh putra-putrinya.

Mengingat sedemikian besar jasa serta kasih sayang orangtua terhadap
anaknya maka kewajiban anak di atas sungguh-sungguh tidak dapat diabaikan
begitu saja seperti yang telah disebutkan dalam Khuddaka Nikaya 33 yaitu
bahwa 'Penghormatan, kecintaan, dan perawatan terhadap ayah serta ibu
membawa kebahagiaan di dunia ini'. Sedangkan dalam Khuddaka Nikaya 393
disebutkan bahwa 'Anak yang tidak merawat ayah dan ibunya ketika tua;
tidaklah dihitung sebagai anak'. Oleh karena 'Ibu adalah teman dalam
rumah tangga' (Samyutta Nikaya 163).

Sedangkan tugas orangtua terhadap anak adalah menghindarkan anak
melakukan kejahatan, menganjurkan anak berbuat baik, memberikan
pendidikan, merestui pasangan hidup yang telah dipilih anak, memberikan
warisan bila telah tiba saatnya. Ditambahkan dalam Khuddaka Nikaya 252
bahwa 'Orang bijaksana mengharapkan anak yang meningkatkan martabat
keluarga, serta mempertahankan martabat keluarga, dan tidak mengharapkan
anak yang merendahkan martabat keluarga; yang menjadi penghancur
keluarga'.

Dengan adanya 'rambu-rambu' rumah tangga yang diberikan oleh Sang Buddha
di atas akan menjamin tercapainya keselamatan bahtera rumah tangga yang
sedang dijalani. Oleh karena itu, kesadaran melaksanakan Ajaran Sang
Buddha tersebut perlu semakin ditingkatkan sehingga akan meningkatkan
pula baik secara kualitas maupun kuantitas keluarga bahagia yang ada
dalam masyarakat kita maupun dalam bangsa dan negara kita.


PENUTUP

Satu kunci sederhana dalam usaha mewujudkan kebahagiaan keluarga adalah
dengan selalu mengingat prinsip Hukum Karma yaitu 'Sesuai dengan benih
yang ditaburkan, demikian pula buah yang akan dipanennya'. Jadi, apapun
yang ingin kita dapatkan dalam kehidupan ini, hendaknya kita laksanakan
dahulu hal tersebut kepada fihak lain.

(Dikutip dari Vihara Samaggi Jaya)
 
Agama dan Tujuan Hidup Umat Buddha



Pengertian Agama
Kata agama berasal dari kata dalam bahasa Pali atau bisa juga dari kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu dari akar kata gacc, yang artinya adalah pergi ke, menuju, atau datang, kepada suatu tujuan, yang dalam hal ini yaitu untuk menemukan suatu kebenaran. Adapun penjelasan maknanya di antaranya sebagai berikut:

1. Dari kehidupan tanpa arah, tanpa pedoman, kita datang mencari pegangan hidup yang benar, untuk menuju kehidupan yang sejahtera dan kebahagiaan yang tertinggi.
2. Dari biasa melakukan perbuatan rendah di masa lalu, kita beralih menuju hakekat ketuhanan, yaitu melakukan perbuatan benar yang sesuai dengan hakekat ketuhanan tersebut sehingga kita bisa hidup sejahtera dan bahagia.
3. Dari kehidupan tanpa mengetahui hukum kesunyataan (hukum kebenaran mutlak), dari kegelapan batin, kita berusaha menemukan sampai mendapat atau sampai mengetahui dan mengerti suatu hukum kebenaran yang belum kita ketahui, yaitu hukum kesunyataan yang diajarkan oleh Sang Buddha.

Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kata agama mempunyai arti tidak kacau. Bila memang dapat diartikan demikian, maka kata agama ini bias mempunyai makna yaitu menjalankan suatu peraturan kemoralan untuk menghindari kekacauan dalam hidup ini yang tujuannya adalah guna mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa timbulnya agama di dunia ini adalah untuk menghindari terjadinya kekacauan, pandangan hidup yang salah, dan sebagainya, yang terjadi pada waktu dan tempat yang berbeda; guna mendapatkan suatu kehidupan yang sejahtera dan kebahagiaan tertinggi. Memang, setiap orang di dunia ini pasti menginginkan adanya kebahagiaan dan kedamaian dalam hidupnya. Inilah alasan mengapa orang mau mencari jalan yang benar yang dapat membawa mereka kepada suatu tujuan, yaitu suatu kebahagiaan mutlak terbebas dari semua bentuk penderitaan. Semua agama di dunia ini muncul karena adanya alasan ini.



Agama Buddha (Buddha Dhamma)
Agama Buddha biasanya lebih dikenal dengan sebutan Buddha Dhamma. Seluruh ajaran Sang Buddha merupakan ajaran yang membahas tentang hukum kebenaran mutlak, yang disebut Dhamma. Dhamma adalah kata dalam bahasa Pali. Bahasa Pali adalah bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat di kerajaan Magadha pada masa sekitar hidupnya Buddha Gotama dulu.

Dhamma artinya kesunyataan mutlak, kebenaran mutlak atau hukum abadi. Dhamma tidak hanya terdapat di dalam hati sanubari atau di dalam pikiran manusia saja, tetapi juga terdapat di seluruh alam semesta. Seluruh alam semesta juga merupakan Dhamma. Jika bulan timbul atau tenggelam, hujan turun, tanaman tumbuh, musim berubah, dan sebagainya, hal ini tidak lain juga merupakan Dhamma; juga yang membuat segala sesuatu bergerak, yaitu sebagai yang dinyatakan oleh ilmu pengetahuan modern, seperti ilmu fisika, kimia, biologi, astronomi, psikologi, dan sebagainya, adalah juga merupakan Dhamma. Dhamma merupakan hukum abadi yang meliputi seluruh alam semesta; tetapi Dhamma seperti yang baru dijelaskan ini, adalah merupakan Dhamma yang berkondisi atau kebenaran mutlak dari segala sesuatu yang berkondisi; sedangkan selain itu, Dhamma adalah juga merupakan kebenaran mutlak dari yang tidak berkondisi, yang tidak bias dijabarkan secara kata-kata, yang merupakan tujuan akhir kita semua.

Jadi sifat Dhamma adalah mutlak, abadi, tidak bias ditawar-tawar lagi. Ada Buddha atau tidak ada Buddha, hukum abadi (Dhamma) ini akan tetap ada sepanjang jaman. Di dalam Dhammaniyama sutta, Sang Buddha bersabda demikian: "O, para bhikkhu, apakah para Tathagatha muncul di dunia atau tidak, terdapat hukum yang tetap dari segala sesuatu (Dhamma), terdapat hukum yang pasti dari segala sesuatu. …".

Buddha, adalah merupakan suatu sebutan atau gelar dari suatu keadaan batin yang sempurna. Buddha bukanlah nama diri yang dimiliki oleh seseorang, Buddha berarti yang sadar, yang telah mencapai penerangan sempurna, atau yang telah merealisasi kebebasan agung dengan kekuatan sendiri.

Dengan demikian, Buddha Dhamma adalah Dhamma yang telah direalisasi dan kemudian dibabarkan oleh Buddha (yang sekarang ini bernama Gotama); atau dapat juga dikatakan agama yang pada hakekatnya mengajarkan hukum-hukum abadi, pelajaran tata susila yang mulia, ajaran yang mengandung paham filsafat mendalam, yang semuanya secara keseluruhan tidak dapat dipisahkan. Buddha Dhamma memberikan kepada penganutnya suatu pandangan tentang hukum abadi, yaitu hukum alam semesta yang berkondisi dan yang tidak berkondisi.

Hal tersebut semuanya juga berarti menunjukkan bahwa selain ada kehidupan keduaniaan yang fana ini, yang masih berkondisi, atau yang masih belum terbebas dari bentuk-bentuk penderitaan; ada pula suatu kehidupan yang lebih tinggi, yang membangun kekuatan-kekuatan batin yang baik dan benar, untuk diarahkan pada tujuan luhur dan suci. Dengan mengerti tentang hukum kebenaran ini, atau dapat pula dikatakan bila manusia sudah berada di dalam Dhamma, maka ia akan dapat membebaskan dirinya dari semua bentuk penderitaan atau akan dapat merealisasi Nibbana, yang merupakan terhentinya semua derita. Tetapi, Nibbana, yang merupakan terhentinya semua derita tersebut, tidak dapat direalisasi hanya dengan cara sembahyang, mengadakan upacara atau memohon kepada para dewa saja. Terhentinya derita tersebut hanya dapat direalisasi dengan meningkatkan perkembangan batin. Perkembangan batin ini hanya dapat terjadi dengan jalan berbuat kebajikan, mengendalikan pikiran, dan mengembangkan kebijaksanaan sehingga dapat mengikis semua kekotoran batin, dan tercapailah tujuan akhir. Sehingga dalam hal membebaskan diri dari semua bentuk penderitaan, untuk mencapai kebahagiaan yang mutlak, maka kita sendirilah yang harus berusaha. Di dalam Dhammapada ayat 276, Sang Buddha sendiri bersabda demikian:"Engkau sendirilah yang harus berusaha, para Tathagata hanya menunjukkan jalan."



Tujuan Hidup Umat Buddha
Setelah kita dapat mengerti atau memahami apa arti Buddha Dhamma seperti yang telah dijelaskan sebelumnya tadi, maka kita sudah dapat mengetahui bahwa tujuan hidup umat Buddha adalah tercapainya suatu kebahagiaan, baik kebahagiaan yang masih bersifat keduniawian (yang masih berkondisi) yang hanya bias menjadi tujuan sementara saja; maupun kebahagiaan yang sudah bersifat mengatasi keduniaan (yang sudah tidak berkondisi) yang memang merupakan tujuan akhir, dan merupakan sasaran utama dalam belajar Buddha Dhamma.

Banyak orang yang masih memiliki salah pengertian mengatakan bahwa Agama Buddha (Buddha Dhamma) hanya menaruh perhatian kepada cita-cita yang luhur, moral tinggi, dan pikiran yang mengandung filsafat tinggi saja, dengan mengabaikan kesejahteraan kehidupan duniawi dari umat manusia. Padahal, Sang Buddha di dalam ajaran-Nya, juga menaruh perhatian besar terhadap kesejahteraan kehdiupan duniawi dari umat manusia, yang merupakan kebahagiaan yang masih berkondisi. Memang, walaupun kesejahteraan kehidupan duniawi bukanlah merupakan tujuan akhir dalam Agama Buddha, tetapi hal itu bisa juga merupakan salah satu kondisi (sarana / syarat) untuk tercapainya tujuan yang lebih tinggi dan luhur, yang merupakan kebahagiaan yang tidak berkondisi, yaitu terealisasinya Nibbana. Sang Buddha tidak pernah mengatakan bahwa kesuksesan dalam kehidupan duniawi adalah merupakan suatu penghalang bagi tercapainya kebahagiaan akhir yang mengatasi keduniaan. Sesungguhnya yang menghalangi perealisasian Nibbana bukanlah kesuksesan atau kesejahteraan kehidupan duniawi tersebut, tetapi kehausan dan keterikatan batin kepadanya itulah, yang merupakan halangan untuk terealisasinya Nibbana.

Di dalam Vyagghapajja sutta, seorang yang bernama Dighajanu, salah seorang suku Koliya, datang menghadap Sang Buddha. Setelah memberi hormat, lalu ia duduk di samping beliau dan kemudian berkata: "Bhante, kami adalah upasaka yang masih menyenangi kehidupan duniawi, hidup berkeluarga, mempunyai isteri dan anak. Kepada mereka yang seperti kami ini, Bhante, ajarkanlah suatu ajaran (Dhamma) yang berguna untuk mendapatkan kebahagiaan duniawi dalam kehidupan sekarang ini dan juga kebahagiaan yang akan datang." Menjawab pertanyaan ini, Sang Buddha bersabda bahwa ada empat hal yang berguna yang akan dapat menghasilkan kebahagiaan dalam kehidupan duniawi sekarang ini, yaitu:

1. Utthanasampada: rajin dan bersemangat dalam mengerjakan apa saja, harus terampil dan produktif; mengerti dengan baik dan benar terhadap pekerjaannya, serta mampu mengelola pekerjaannya secara tuntas.
2. Arakkhasampada: ia harus pandai menjaga penghasilannya yang diperolehnya dengan cara halal, yang merupakan jerih payahnya sendiri.
3. Kalyanamitta: mencari pergaulan yang baik, memiliki sahabat yang baik, yang terpelajar, bermoral, yang dapat membantunya ke jalan yang benar, yaitu yang jauh dari kejahatan.
4. Samajivikata: harus dapat hidup sesuai dengan batas-batas kemampuannya. Artinya bias menempuh cara hidup yang sesuai dan seimbang dengan penghasilan yang diperolehnya, tidak boros, tetapi juga tidak pelit / kikir.

Keempat hal tersebut adalah merupakan persyaratan (kondisi) yang dapat menghasilkan kebahagiaan dalam kehidupan duniawi sekarang ini, sedangkan untuk dapat mencapai dan merealisasi kebahagiaan yang akan datang, yaitu kebahagiaan yang dapat terlahir di alam-alam yang menyenangkan dan kebahagiaan terbebas dari yang berkondisi, ada empat persyaratan pula yang harus dipenuhi, yaitu sebagai berikut:

1. Saddhasampada: harus mempunyai keyakinan, yaitu keyakinan terhadap nilai-nilai luhur. Keyakinan ini harus berdasarkan pengertian, sehingga dengan demikian diharapkan untuk menyelidiki, menguji dan mempraktikkan apa yang dia yakini tersebut. Di dalam Samyutta Nikaya V, Sang Buddha menyatakan demikian: "Seseorang … yang memiliki pengertian, mendasarkan keyakinannya sesuai dengan pengertian." Saddha (keyakinan) sangat penting untuk membantu seseorang dalam melaksanakan ajaran dari apa yang dihayatinya; juga berdasarkan keyakinan ini, maka tekadnya akan muncul dan berkembang. Kekuatan tekad tersebut akan mengembangkan semangat dan usaha untuk mencapai tujuan.
2. Silasampada: harus melaksanakan latihan kemoralan, yaitu menghindari perbuatan membunuh, mencuri, asusila, ucapan yang tidak benar, dan menghindari makanan/minuman yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran (hilangnya pengendalian diri). Sila bukan merupakan suatu peraturan larangan, tetapi merupakan ajaran kemoralan yang bertujuan agar umat Buddha menyadari adanya akibat baik dari hasil pelaksanaannya, dan akibat buruk bila tidak melaksanakannya. Dengan demikian, berarti dalam hal ini seseorang bertanggung jawab penuh terhadap setiap perbuatannya. Pelaksanaan sila berhubungan erat dengan melatih perbuatan melalui ucapan dan badan jasmani. Sila ini dapat diintisarikan menjadi 'hiri' (malu berbuat jahat / salah) dan 'ottappa' (takut akan akibat perbuatan jahat / salah). Bagi seseorang yang melaksanakan sila, berarti ia telah membuat dirinya maupun orang lain merasa aman, tentram, dan damai. Keadaan aman, tenteram dan damai merupakan kondisi yang tepat untuk membina, mengembangkan dan meningkatkan kemajuan serta kesejahteraan masyarakat dalam rangka tercapainya tujuan akhir, yaitu terealisasinya Nibbana.
3. Cagasampada: murah hati, memiliki sifat kedermawanan, kasih saying, yang dinyatakan dalam bentuk menolong mahluk lain, tanpa ada perasaan bermusuhan atau iri hati, dengan tujuan agar mahluk lain dapat hidup tenang, damai, dan bahagia. Untuk mengembangkan caga dalam batin, seseorang harus sering melatih mengembangkan kasih saying dengan menyatakan dalam batinnya (merenungkan) sebagai berikut: "Semoga semua mahluk berbahagia, bebas dari penderitaan, … kebencian, … kesakitan, … dan kesukaran. Semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka sendiri."
4. Panna: harus melatih mengembangkan kebijaksanaan, yang akan membawa ke arah terhentinya dukkha (Nibbana). Kebijaksanaan di sini artinya dapat memahami timbul dan padamnya segala sesuatu yang berkondisi; atau pandangan terang yang bersih dan benar terhadap segala sesuatu yang berkondisi, yang membawa ke arah terhentinya penderitaan. Panna muncul bukan hanya didasarkan pada teori, tetapi yang paling penting adalah dari pengalaman dan penghayatan ajaran Buddha. Panna berkaitan erat dengan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak perlu dilakukan. Singkatnya ia mengetahui dan mengerti tentang: masalah yang dihadapi, timbulnya penyebab masalah itu, masalah itu dapat dipadamkan / diatasi dan cara / metode untuk memadamkan penyebab masalah itu.

Itulah uraian dari Vyagghapajja sutta yang ada hubungannya dengan kesuksesan dalam kehidupan duniawi yang berkenaan dengan tujuan hidup umat Buddha.

Sutta lain yang juga membahas tentang kesuksesan dalam kehidupan duniawi ini, bisa kita lihat pula dalam Anguttara Nikaya II 65, di mana Sang Buddha menyatakan beberapa keinginan yang wajar dari manusia biasa (yang hidup berumah tangga), yaitu:

1. Semoga saya menjadi kaya, dan kekayaan itu terkumpul dengan cara yang benar dan pantas.
2. Semoga saya beserta keluarga dan kawan-kawan dapat mencapai kedudukan social yang tinggi.
3. Semoga saya selalu berhati-hati di dalam kehidupan ini, sehingga saya dapat berusia panjang.
4. Apabila kehidupan dalam dunia ini telah berakhir, semoga saya dapat terlahirkan kembali di alam kebahagiaan (surga).

Keempat keinginan wajar ini, merupakan tujuan hidup manusia yang masih diliputi oleh kehidupan duniawi; dan bagaimana caranya agar keinginan-keinginan ini dapat dicapai, penjelasannya adalah sama dengan uraian yang dijelaskan di dalam Vyagghapajja sutta tadi.

Jadi, jelaslah sekarang bahwa Sang Buddha di dalam ajaran-Nya, sama sekali tidak menentang terhadap kemajuan atau kesuksesan dalam kehidupan duniawi. Dari semua uraian di atas tadi bisa kita ketahui bahwa Sang Buddha juga memperhatikan kesejahteraan dalam kehidupan duniawi; tetapi memang, Beliau tidak memandang kemajuan duniawi sebagai sesuatu yang benar kalau hal tersebut hanya didasarkan pada kemajuan materi semata dengan mengabaikan dasar-dasar moral dan spiritual; sebab seperti yang dijelaskan tadi, yaitu bahwa tujuan hidup umat Buddha bukan hanya mencapai kebahagiaan di dalam kehidupan duniawi (kebahagiaan yang masih berkondisi saja), tetapi juga bisa merealisasi kebahagiaan yang tidak berkondisi, yaitu terbebas total dari dukkha, terealisasinya Nibbana. Maka meskipun menganjurkan kemajuan material dalam rangka kesejahteraan dalam kehidupan duniawi, Sang Buddha juga selalu menekankan pentingnya perkembangan watak, moral, dan spiritual untuk menghasilkan suatu masyarakat yang bahagia, aman, dan sejahtera secara lahir maupun batin; dalam rangka tercapainya tujuan akhir, yaitu terbebas dari dukkha atau terealisasinya Nibbana.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.