yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Untuk mendapatkan air guna keperluan sehari-hari seperti mandi, memasak dan mencuci, masyarakat yang tinggal di wilayah Gunung Kidul tersebut harus berjalan berkilo-kilo meter. Namun, di bawah perbukitan yang kering dan tandus itu air berlimpah. Ada beberapa sungai yang mengalir di bawah tanah tersebut dengan kedalaman 100 meter, sungai bawah tanah Bribin salah satunya.
Sejak tahun 2000 Tim pengeboran bekerja sama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melakukan studi untuk mencari titik yang tepat untuk melakukan pengeboran, dan kemudian memompa air di dalam tanah untuk memenuhi kebutuhan 79.000 jiwa di tiga kecamatan Kabupaten Gunung Kidul yakni Kecamatan Semanu, Kecamatan Rongkop, dan Kecamatan Tepus. Dalam proses pencarian aliran sungai bawah tanah tersebut, di sanalah teknologi nuklir digunakan.
Untuk mencari sumber air bawah tanah melalui sungai yang terkoneksi, BATAN mencari sumber air tersebut dengan cara mendeteksinya dengan menggunakan aliran radioisotop. Jika air tersebut berada tak begitu dalam dari permukaan tanah, pencarian bisa dilakukan dengan sebuah alat bernama tracer. Mirip seperti alat gegana dalam pendeteksian bom, tracer pendeteksi air juga akan berbunyi nyaring dan cepat jika menemukan air.
Namun apabila air berada di kedalaman lebih dari 100 meter, radioisotop dilepaskan pada hulu air yang berada di gua, dan tracer kembali dilakukan pada sebuah gua bernama Bribin, teknologi pencari air dari nuklir itu dilakukan. "Radioisotop dilepas pada air sungai, dari situ dapat diketahui berapa debit air dan volumenya, apabila memenuhi kriteria akan dilakukan pengeboran," Ir. Iswantoro, peneliti dari BATAN Yogyakarta.
Penggunaan teknik nuklir dengan menggunakan radisoisotop yang dilepas ke sungai tak perlu dikhawatirkan akan mencemari air sungai dan merusak lingkungan sekitarnya. ”Radioisotop yang yang dialirkan dalam skal kecil dan akan sirna dalam waktu delapan jam,” imbuh Iswantoro.
Dari hasil tracer yang dilakukan BATAN tersebut, barulah dimulai dilakukan pengeboran pada tahun 2004. Proyek pengeboran dan pemompaan air Bribin merupakan kerjasama BATAN, Pemprov DIY, Kementerian Ristek melalui Riset Unggulan Terpadu Internasional (RUTI), dengan Pemerintah Jerman (Federal Ministry of Education Research), Universitas Karlsruhe-Jerman, dan perusahaan Herrenknecht Aktien Gesellschaft (AG) Schwanau asal Jerman.
Penanaman modul (seperangkat alat yang terdiri dari turbin, gearbox, dan pompa) pada kedalaman 105 meter dikerjakan dan selesai pada tahun 2010. Dengan modul tersebut, air dapat ditarik ke atas permukaan tanah Proyek Bribin II yang telah berhasil mengangkat air dari sungai bawah tanah Goa Bribin di Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul.
Pengeboran secara vertikal dilaksanakan menggunakan mesin bor M-862 M VSM 2500 berdiameter 2,4 meter. Diperkirakan, pengeboran akan mencapai kedalaman 102 meter, hingga menyentuh langit-langit Goa Bribin. Pengeboran dilanjutkan dengan membendung sungai bawah tanah, dan penempatan turbin yang berfungsi memompa air sungai bawah tanah.
Perangkat pengeboran dan pemompaan air di Bribin yang bernilai sekitar Rp70 miliar merupakan sumbangan Pemerintah Jerman, bekerjasama dengan Universitas Karlsruhe- Jerman. Alat-alat penunjang pengeboran, di antaranya mesin pengangkut (tower crane), generator set, dan pelapis baja, disumbangkan Pemerintah Indonesia dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Koordinator tim teknis Proyek Bribin II As Natio Lasman ketika selesai melakukan pengeboran menjelaskan, turbin dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik, sekaligus memompa air hingga kapasitas 138 liter per detik. Selanjutnya, air ditampung pada tandon (reservoir), dan dialirkan bersama air dari Proyek Bribin I yang debitnya 80 liter per detik dan bisa dinikmati oleh masyarakat setempat.
Dari sinilah kita bisa melihat bukti disebabkan teknik nuklir, masyarakat setempat bisa memperoleh air dengan mudah.