XiaoYanZi
IndoForum Beginner A
- No. Urut
- 144616
- Sejak
- 14 Jul 2011
- Pesan
- 1.118
- Nilai reaksi
- 38
- Poin
- 48
Jayapura sebuah kota yang berbukit-bukit. Wilayah kotanya terpisah-pisah di lembah-lembah. Karena itu, setiap saat bagian-bagian kota yang berbangunan dapat terlihat dari dari ketinggian 50-an, 100-an atau 300-an meter. Dan, itu indah, sebab terasa mereka menyerahkan diri kepada alam.
Pemandangan di teluk. Foto: Marco Kusumawijaya
Manusia, bahkan pada ciptaan kolektif terbesarnya — kota — tunduk mengikuti arahan alam. Kota, laut, pantai, danau, lembah, bukit, membentuk kesatuan bentang alam harmonis.
Tetapi, seketika juga Jayapura mengingatkan saya akan kata-kata penulis Linda Christanty di Aceh, "Saya tidak mau melihat kota dari mata burung."
Maksud Linda, dia ingin mengalami kehidupan sehari-hari yang sejati, yang hanya mungkin terjadi bila orang memandang kota dari dalam, dari ketinggian pejalan kaki biasa di dalamnya; dari ketinggian 1,55 meter.
Pada ketinggian itu, pandangan danau yang mengilap dan jalan-jalan yang hitam meliuk indah segera berubah. Sampah terlihat di tepian danau, laut dan jalan. Trotoar terputus-putus, berlubang, bergenangan air.
Terlihat pula hotel yang lerengan ke pintu masuknya curam tidak memenuhi syarat dan mengambil jatah trotoar pula. Pohon bercabang liar tidak dipangkas, apalagi membentuk deretan yang teratur satu bersama dengan lainnya. Angkutan umum tidak memiliki lajur dan naungan penurunan penumpang.
Bangunan indah di Jayapura yang wajib dipelajari hanya dua: Kantor Yayasan Pendidikan Kristen (YPK, gedung pertama yang berlantai dua di Papua, 1956) dan Katedral Katolik Kristus Raja.
Gedung Kantor Yayasan Pendidikan Kristen. Foto: Marco Kusumawijaya
Sisanya, banyak bangunan lain yang tidak memiliki karakter yang nyata dan dapat digambarkan. Mungkin mereka dibangun dengan maksud sementara.
Tetapi, bukankah beberapa kota lain di Indonesia juga demikian?
Kisah ini menerangkan beda antara arsitektur dan perencanaan kota. “Melihat dari atas” hanya berlaku bagi para perencana. Sehingga, sistem dan kedudukan terlihat. Selebihnya tidak.
Sedangkan para arsitek harus menemani masyarakat bersama “membangun” kota dalam tiga dimensi, dengan materialitas, dan sehari-hari bergelut dengan rincian sambungan-sambungan antara beragam bagian serta unsur kota: bangunan-halaman-trotoar-jalan-ruang terbuka.
Arsitek juga harus menemani seluruh proses dan mencari solusi dari waktu ke waktu. Bukan cuma menarik garis besar sekali jadi dan membiarkannya telantar. Keberantakan visual seharusnya juga tidak dianggap sepele dan dibiarkan, sama seperti kita sebenarnya bisa juga mengurangi kesaruan bising suara.
Kalau mau beradab, tidak ada yang terlalu sepele untuk diperbaiki.
Kota kita banyak yang tidak diurus rinci sehari hari. Padahal tidak ada cara lain. Sebagaimana rumah, kota pun harus dibersihkan, diperbaiki, dan dirawat setiap hari. Tidak ada yang sekali jadi, dan tidak akan ada keajaiban — misalnya proyek besar — yang dapat membuatnya tiba-tiba baik tanpa rutinitas di atas.
Kota juga tidak akan membaik bila tiap unsur baru (bangunan, sepotong jalan, mal, sebuah hotel) tidak menyumbang pada perbaikan kota dan malah membebani.
Di kota seperti ini, juga kota-kota lainnya, kita bertanya, apatah akan beda seandainya wali kota tidak ada?
Manusia, bahkan pada ciptaan kolektif terbesarnya — kota — tunduk mengikuti arahan alam. Kota, laut, pantai, danau, lembah, bukit, membentuk kesatuan bentang alam harmonis.
Tetapi, seketika juga Jayapura mengingatkan saya akan kata-kata penulis Linda Christanty di Aceh, "Saya tidak mau melihat kota dari mata burung."
Maksud Linda, dia ingin mengalami kehidupan sehari-hari yang sejati, yang hanya mungkin terjadi bila orang memandang kota dari dalam, dari ketinggian pejalan kaki biasa di dalamnya; dari ketinggian 1,55 meter.
Pada ketinggian itu, pandangan danau yang mengilap dan jalan-jalan yang hitam meliuk indah segera berubah. Sampah terlihat di tepian danau, laut dan jalan. Trotoar terputus-putus, berlubang, bergenangan air.
Terlihat pula hotel yang lerengan ke pintu masuknya curam tidak memenuhi syarat dan mengambil jatah trotoar pula. Pohon bercabang liar tidak dipangkas, apalagi membentuk deretan yang teratur satu bersama dengan lainnya. Angkutan umum tidak memiliki lajur dan naungan penurunan penumpang.
Bangunan indah di Jayapura yang wajib dipelajari hanya dua: Kantor Yayasan Pendidikan Kristen (YPK, gedung pertama yang berlantai dua di Papua, 1956) dan Katedral Katolik Kristus Raja.
Sisanya, banyak bangunan lain yang tidak memiliki karakter yang nyata dan dapat digambarkan. Mungkin mereka dibangun dengan maksud sementara.
Tetapi, bukankah beberapa kota lain di Indonesia juga demikian?
Kisah ini menerangkan beda antara arsitektur dan perencanaan kota. “Melihat dari atas” hanya berlaku bagi para perencana. Sehingga, sistem dan kedudukan terlihat. Selebihnya tidak.
Sedangkan para arsitek harus menemani masyarakat bersama “membangun” kota dalam tiga dimensi, dengan materialitas, dan sehari-hari bergelut dengan rincian sambungan-sambungan antara beragam bagian serta unsur kota: bangunan-halaman-trotoar-jalan-ruang terbuka.
Arsitek juga harus menemani seluruh proses dan mencari solusi dari waktu ke waktu. Bukan cuma menarik garis besar sekali jadi dan membiarkannya telantar. Keberantakan visual seharusnya juga tidak dianggap sepele dan dibiarkan, sama seperti kita sebenarnya bisa juga mengurangi kesaruan bising suara.
Kalau mau beradab, tidak ada yang terlalu sepele untuk diperbaiki.
Kota kita banyak yang tidak diurus rinci sehari hari. Padahal tidak ada cara lain. Sebagaimana rumah, kota pun harus dibersihkan, diperbaiki, dan dirawat setiap hari. Tidak ada yang sekali jadi, dan tidak akan ada keajaiban — misalnya proyek besar — yang dapat membuatnya tiba-tiba baik tanpa rutinitas di atas.
Kota juga tidak akan membaik bila tiap unsur baru (bangunan, sepotong jalan, mal, sebuah hotel) tidak menyumbang pada perbaikan kota dan malah membebani.
Di kota seperti ini, juga kota-kota lainnya, kita bertanya, apatah akan beda seandainya wali kota tidak ada?