• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Menangkap Waktu [Part 4]

Satsujin

IndoForum Newbie E
No. Urut
71769
Sejak
30 Mei 2009
Pesan
32
Nilai reaksi
0
Poin
6
Dari tempatkupun aku bisa melihat gambar tersebut dengan jelas. Gambar Nila yang sedang menoleh saat mendengar bunyi gemerisik semak- semak. Makin diperindah dengan daun-daun semak yang seolah-olah membingkainya saja.
“Bagus kan! Tadi sebenarnya aku mau langsung memperlihatkan diriku. Namun saat kamu menoleh kearahku, sangat... indah... sekali... Sayang jika tidak diabadikan. Makanya aku memotretmu dulu, baru memperlihatkan diriku.” Kata gadis itu santai.

“Ternyata... hasilnya bagus sekali. Indah ya?” Gadis itu bertanya lagi pada Nila.

“...Iya....” sepertinya Nila sendiri terkejut dengan jawabannya yang mengiyakan pendapat gadis tersebut. Tapi, dia kembali asyik melihat foto dirinya itu lagi.

“Daniar. Panggil aku Daniar. Kamu?” Gadis yang ternyata bernama Daniar ini mengulurkan tangannya.

“Nila” Jawab Nila singkat sambil menyambut tangan Daniar.
“Wah, Polaroid!! KEREN!!! Beberapa hari yang lalu aku juga menemukan Kamera Polaroid yang persis dengan ini di toko barang antik depan mall itu loh. Tapi sayang. Saat aku mengambil uang di ATM untuk membelinya, Kamera Polaroid itu sudah keburu dibeli orang lain. Huh! Kalah cepat! Ah iya, kamu baru pulang sekolah ya?” Daniar tiba-tiba mengubah topik pembicaraan sambil melihat seragam Nila.

“Iya. Rasanya ingin cepat-cepat ke mari.” Nila memulai kebiasaannya memainkan jari-jari kakinya.
“Iya ya. Aku seharusnya saat ini sedang belajar di kelasku. Ah, aku kelas 3 SMA. Siswi ujian. Seharusnya aku belajar. Tapi aku merasa cuaca sebaik ini seharusnya kuabadikan.”

Nila berhenti memainkan jari kakinya dan memilih untuk menatap wajah Daniar ketika dia mendengar kata ‘abadi’ dari bibir Daniar. Daniar pun menatap Nila dan melanjutkan ucapannya sambil tersenyum.
“Karena waktu tak bisa diulang...”.

Nila terdiam. Daniarpun juga terdiam. Selama beberapa menit mereka asyik memandangi laut sambil menikmati waktu yang berjalan.
“Hei, cita-citamu apa?” Lagi-lagi Daniar mengubah topik pembicaraan.
Nila jadi sulit mengimbangi gaya mengobrol Daniar yang loncat-loncat itu. Dia terdiam sesaat dan berkata “Aku ingin jadi siswi SMA...”. pelan sekali dia menjawab, tapi cukup untuk didengar Daniar.

“He? Aneh sekali... Kupikir orang sepertimu memiliki cita-cita yang jauh lebih spektakuler dibandingkan jadi seorang siswi Sekolah Menengah Atas. Kamu punya Kamera Polaroid. Orang yang memiliki Kamera Polaroid cenderung orang yang terburu-buru, ingin mengerjakan sesuatu secepat mungkin dan melihat hasilnya secepat mungkin juga. Dan orang-orang ini biasanya memiliki cita-cita yang tinggi karena mereka merasa punya poin lebih dalam hal kerja cepat.” Daniar mengalihkan pandangannya dari laut ke wajah Nila.
“Kamu tidak pantas memiliki Kamera Polaroid. Kamu aneh!” kata Daniar tajam.
Nila yang dari tadi sudah menahan tangisnya, akhirnya tidah tahan juga dan tangisnya pun pecah. Dia terisak-isak seperti anak kecil. Lalu dia mulai memukul-mukul pelan Daniar.

“Memangnya aneh kalau aku punya polaroid?! Memangnya cita-citaku seaneh itu bagimu?! Memangnya aneh kalau aku ingin jadi siswi SMA?! Aku juga pasti akan memikirkan cita-cita yang jauh lebih tinggi seandainya aku memiliki lebih banyak waktu! Aku juga ingin jadi seorang Kameraman! Aku juga ingin bersikap santai seperti orang lain yang tidak pernah cemas memikirkan besok masih punya waktu atau tidak! Aku... Aku... hu...hu...”

Lalu Nila menangis hebat. Dia lepas kontrol. Dia terus memukul-mukul pelan Daniar. Daniar hanya diam saja. Seolah-olah dia berkata ‘pukulanmu tidak ada rasanya’.Rasanya aku ingin menyekik mati Daniar saat ini juga. Dia sudah membuat Nila yang lembut itu berteriak-teriak frustasi.
“Ceritakan semuanya ya... aku akan mendengarkanmu sampai akhir.” Tiba-tiba Daniar melembut dan memeluk Nila.

Nila berhenti memukuli Daniar. Tapi, tangisnya makin keras.
“Kau tahu tidak?!! Aku sakit!! Sebentar lagi aku akan mati!! Dan tidak akan ada temanku yang mengingatku, atau bahkan merasa sedih saat aku mati nanti!! Kau tahu kenapa? Karena aku anak yang menyebalkan!!! Aku akan dilupakan dan aku akan menghilang begitu saja!!” Nila makin histeris.
Badan Nila bergetar hebat dalam pelukan Daniar. Tapi, Daniar justru tenang sekali. Nila mulai menangis lagi.

“Tapi aku tidak mau... aku tidak ingin hilang begitu saja... Aku ingin meninggalkan sesuatu sebelum aku mati.. Aku ingin merasakan jadi anak SMA yang katanya lebih bebas dari pada anak SMP! Aku ingin pergi ke Afrika! Aku ingin memotret Aurora! Aku tidak ingin cepat-cepat mati!! Aku Takut meninggalkan Dunia!! Tapi aku lebih takut saat aku mati Dunialah yang meninggalkanku!! Aku tak mau seperti Putri duyung yang hanya jadi buih dan hilang di samudra luas!! Aku tidak mau!!! TIDAK MAU!!!!” Sekarang Nila berteriak-teriak dan mulai menangis lagi.

Makin lama... tangisnya makin pelan.. tapi masih diselingi kata-kata ‘tidak mau..’ yang mengiris-iris. Setelah tiga puluh menit, Nila mulai tenang dan melepaskan dirinya dari pelukan Daniar.

“Aku sudah menduganya. Pasti ada sesuatu. Tatapan matamu, seperti bendungan yang mau pecah. Ada suatu beban berat yang kamu tanggung sendirian. Dan kamu tahu? Kalau bendungan itu tidak segera dipecahkan, maka matamu akan bengkak.., pecah, dan kau akan mati karena itu..... Hahahaha... tidak kok aku hanya bercanda..” Daniar mengelus-elus pelan kepala Nila.

Kupikir, orang ini hebat sekali. Dia baru bertemu Nila sekali, tapi sudah bisa menangkap dan mendeskripsikan tatapan Nila yang selama ini selalu kuberi nama tatapan ‘entahlah’. Ternyata itu tatapan orang yang sedang menanggung sedih. Nila... kenapa kamu menyimpannya seorang diri?
“Kamu... sakit... apa...?” Daniar bertanya hati-hati.

“Hemofili..” jawab Nila pelan.

“Hemofili?? Oh, kau mau mengolok-olok aku yang suka membolos pelajaran biologi ini ya? Baiklah. Aku memang pernah mendengarnya. Tapi....Ah! Apa itu Hemofili?” Daniar berusaha menutupi ketidak-tahuannya tentang Hemofili.

Tapi akhirnya rasa penasarannyalah yang menang. Nila menatap Daniar dengan tatapan ‘benarkah kamu siswi SMU? Kenapa hemofili saja kamu tidak tahu?’ lalu menjawab dengan gaya menggurui.
“Hemofili itu penyakit yang menyebabkan darah tidak dapat membeku.” Nila mengalihkan pandangannya ke arah laut, jauh... “makanya, luka kecilpun dapat menyebabkan aku mati . Luka kecil itu menyebabkab pendarahan yang terus menerus. Tubuhku tidak dapat memproduksi faktor pembeku darah. Aku akan kehabisan darah dan...” Dibiarkannya kata-katanya menggantung karena dari ekspresi terkejut Daniar, Nila sudah tahu bahwa Daniar mengerti.
“Kalau begitu gampang kan! Kamu tinggal hati-hati saja biar tidak luka. Selesai! Apa yang susah?” tanya Daniar enteng. Nila tersenyum kecil.
“Lupa ya? Kamu lupa ya sama salah satu kodrat wanita?” Nila balik bertanya.
Yang ditanya melayangkan pandangan ‘aku tidak mengerti’ dan sedikit kesal Nila menjawab sendiri pertanyaannya “Menstruasi. Bodohnya kamu... Kita, tiap wanita pasti mengalami menstruasi kan? Tiap wanita pasti mengalami peluruhan dinding rahim tersebut kan...” Nila tersenyum penuh arti.

Daniar tetap berwajah ‘aku tidak mengerti’ dan bertanya “Lho...Lalu? Kenapa umur segini kamu masih hidup? Kamu bilang...” Nila langsung memotong omongan Daniar.

“Aku lebih lambat dari yang lainnya. Yang normalnya kan anak kelas 1 SMP-2 SMP sudah mendapat menstruasi pertama mereka. Tapi aku sudah kelas 3 SMP belum juga dapat-dapat. Awalnya aku sudah menyiapkan diriku bahwa aku akan mati saat kelas 1 SMP. Ternyata aku belum juga dapat menstruasi. Maka kutunggu saat kelas 2 SMP. Tapi aku tak kunjung menstruasi juga. Aku jadi berharap jangan-jangan tuhan ingin aku hidup lebih lama. Aku awalnya adalah anak yang tertutup dan sombong. Gara-gara aku berpikir ‘aku hanya akan hidup sampai kelas 1 SMP atau 2 SMP’ dan aku memilih untuk lebih menyenangkan hatiku sendiri dan menaikkan kemampuan diriku sendiri daripada harus sibuk bersosialisasi, bergaul, berteman, atau apapun itu namanya. Buat apa aku memikirkan orang lain saat waktu yang aku rasa untuk diriku sendiri saja kurang. Tuhan memberikanku anugerah otak yang cerdas. Aku yang merasa tidak punya apa-apa lagi yang bisa kubanggakan menjadi sombong dengan itu. Aku merasa semua orang bodoh karena meributkan hal semacam ‘aku harus punya teman’ atau ‘aku harus menjaga persahabatan’. Bagiku cukup bahwa aku lebih pintar dari pada mereka. Makanya aku menjadi kesayangan guru-guru dan hal ini menimbulkan kecemburuan bagi teman-temanku. Mereka berpikir guru-guru meberikan nilai yang tinggi padaku karena aku sakit dan sebentar lagi akan mati. Kebencian mereka didukung oleh sikapku yang sombong dan menyebalkan itu. Apalagi, makin hari nilai-nilai pelajaranku makin tinggi. Mereka makin beranggapan bahwa makin mendekati kematianku, guru-guru makin tidak tanggung-tanggung memberikan nilai padaku. Padahal mereka tidak tahu kalau aku hanya tidur tiga jam sehari gara-gara aku belajar dengan keras. Aku dulu selalu beranggapan ‘Tak apa-apa kalau mereka tidak mengenangku saat aku mati nanti. Yang penting aku sudah mengisi diriku dengan berbagai pengetahuan sebelum aku mati’. Tapi ternyata aku masih bisa hidup sampai saat ini. Dan, jujur saja, pikiranku mulai terbuka saat liburan kenaikan ke kelas 3 SMP. Saat itu aku sedang membereskan lemari bukuku. Dan mendapati buku dongeng ‘Putri Duyung’ yang dihadiahkan oleh ayahku saat aku masih TK. Aku sudah pernah membacanya. Tapi... saat aku membacanya lagi tiba-tiba aku berpikir apakah aku rela mati seperti Putri Duyung? Menjadi buih, tidak meninggalkan apa-apa, dan hilang di laut luas? Sementara Sang Pangeran yang tidak tahu apa-apa hidup bahagia dengan Putri Negeri Tetangga, tanpa sekalipun dia berpikir bahwa Putri Duyung pernah hidup dan sangat mencintainya? Dan yang kupikr paling bodoh adalah, kenapa Putri Duyung diam saja padahal dia bisa menggunakan berbagai cara agar Sang Pangeran tahu bahwa dialah yang menolong Sang Pangeran, bukannya Putri Negeri Tetangga. Dan saat itu juga, aku sadar. Kalau aku sama bodohnya dengan Putri Duyung. Seharusnya aku mencoba berteman dengan seseorang. Karena, pada hakikatnya, manusia adalah makhluk sosial. Walaupun aku lahir sehat, tidak kena penyakit hemofili pun aku pasti akan mati kalau aku tidak dibantu orang lain. Aku akhirnya menyadari, sebenarnya selama ini aku menghindari berteman dengan orang lain karena aku takut, kalau aku mati nanti ternyata tidak ada yang mau susah-susah mengenangku. Jadi lebih baik, aku memastikan diri dari awal bahwa tak ada orang yang akan mengenangku karena aku tidak mencoba untuk berteman dengan mereka. Lebih baik yang pasti-pasti saja walaupun itu menyakitkan. Tapi Tuhan memberikanku umur yang lebih panjang dari yang seharusnya. Kupikir Tuhan ingin, setidaknya aku mencoba untuk merasakan bagaimana rasanya berteman. Makanya aku mulai memperbaiki sifatku saat aku masuk sekolah kelas 3 SMP ini. Tapi ternyata... sifat menyebalkanku sudah berakar kuat pada hati setiap teman-temanku. Aku tetap diperlakukan berbeda oleh mereka, walaupun sebenarnya sedikit banyak hal ini dipengaruhi oleh sikap guru-guru padaku.

Mereka tetap merasa aku berbeda sehingga mereka tetap enggan berteman denganku walaupun aku sudah berusaha mengubah sifat. Aku bahkan pernah mencoba untuk ikut pelajaran olahraga walau aku tahu olahraga sangat berpeluang besar untuk membuat diriku terluka. Tapi guru olahragaku melarangnya. Aku pun jadi berpikir, memang, olahraga terlalu riskan. Dan... yah, aku tetap tidak punya teman walau ini sudah mendekati Ujian Akhir Sekolah dan itu berarti aku akan berpisah dengan mereka tanpa ada kemungkinan untuk dikenang menjadi pribadi yang lebih baik.” Nila menjelaskan panjang lebar. Daniar membisu. Dan aku rasanya ingin menangis mendengar curahan hati Nila.

“Makanya aku ingin memotret semua yang kulihat... kurasakan... kunikmati... Semua waktu-waktuku ini ingin ‘kutangkap’. Siapa tahu, suatu hari kelak, tiba-tiba ada temanku yang ingin mengenangku. Dan aku ingin memudahkanya dengan memperlihatkan hasil ‘penangkapan waktuku’ pada orang itu. Yah... walaupun sebenarnya kemungkinan itu kecil sekali.” Nila, lagi-lagi tersenyum sedih.

“Dan kau tahu, semakin aku ingin berusaha memperbaiki sikapku, tingkah lakuku, dan kebiasaanku. Aku... semakin merasa bahwa waktuku kurang, atau waktuku tidak akan cukup, atau aku akan segera mati, dan lain-lain. Makin hari aku makin ketakutan. Makanya... aku memilih untuk memiliki sebuah Kamera Polaroid untuk ‘menangkap waktu’ku. Jadi, saat aku mati nanti, orang-orang tidak perlu susah-susah untuk mencetak foto-fotoku karena aku menggunakan polaroid yang sangat praktis..... sebenarnya aku juga takut sih kalau-kalau aku menggunakan kamera biasa, tak ada yang mau mencetaknya.Hahaha...” Nila tertawa dipaksakan. Tapi Daniar diam saja.
“Aku... aku.... Cuma ingin ... tidak hilang begitu saja... aku cuma ingin berteman... dan... meninggalkan sesuatu... walaupun itu... hanya untuk dikenang....” mata Nila mulai memerah lagi.

“Kau tahu Nila, aku pernah berteman dengan seorang laki-laki. Yah... hubungan kami cukup spesial, kalau kau tahu maksudku. Namanya Al. Dia benar-benar orang yang indah. Kenapa? Karena dia memandang dunia dengan indah. Aku mengenal kamera pun dari dirinya. Aku benar-benar menyayanginya. Dia anak yang sehat dan sangat ceria. Namun suatu hari dia tertabrak sepeda motor dan puf... tiba-tiba dia tidak ada disekitarku. Dia hilang dari hidupku. Aku sedih. Tapi tidak berlarut-larut. Kenapa? Karena aku tahu, tak ada yang abadi di dunia ini. Yang abadi hanyalah perasaan saat itu.. hanya saat itu sajalah yang kusebut dengan abadi. Bahkan perasaan sukaku padanya pun tidak abadi. Hehehe... sekarang aku sudah mempunyai laki-laki lain yang kusayangi. Dan kupikir, Al pun ingin dikenang demikian. Al tidak hilang seperti teori buihmu itu. Dia hanya meninggalakan perasaan bahwa aku dulu pernah merasakan perasaan abadi. Kau seharusnya banyak bersyukur. Sebelum Al pergi, tidak ada tanda sama sekali kalau dia akan pergi. Tapi Tuhan memberikan tanda bahwa ‘kau akan segera pergi, jadi manfaatkan waktumu baik-baik. Jadilah pribadi yang baik’. Aku baru mengenalmu, dan kupikir kau adalah pribadi yang baik. Memiliki teman, tak perlu kuantitas. Yang penting adalah kualitas pertemanan itu sendiri. Kau, tidak akan jadi buih dan menghilang begitu saja tanpa ada yang mengenangmu. Karena aku, seorang Daniar, akan mengenangmu dan menceritakan ‘perasaan abadi’ kita saat ini pada siapa saja yang ingin mendengar. Kepada siapa saja yang juga ingin mengenangmu, apa adanya dirimu. Tak perlu kau mencoba beramah-tamah dengan teman-temanmu kalau kamu mengharapkan imbalan berupa pertemanan. Nila cukup berlaku ramah karena Nila adalah manusia. Cukup alasannya itu saja. Terserah mereka ingin memandang motif ramahmu itu seperti apa. Kamu cukup bersikap ramah karena Nila adalah manusia. Nanti, akan datang orang yang benar- benar ingin berteman dengan Nila, karena Nila adalah Nila. Bukan orang lain. Mengerti? Sekarang kamu cukup ‘menangkap waktumu’ untuk diperlihatkan pada ‘orang itu’ saat kalian sudah bertemu. Oke?” Daniar mengelus kepala Nila lagi.

“Iya.... Sudah kutemukan kok orangnya. ‘Orang itu’, adalah Daniar.” Nila memeluk Daniar. Daniar hanya tersenyum kecil.
Tak lama kemudian, Daniar sudah pamit untuk pulang (setelah sebelumnya mereka bertukar nomor handphone). Nila mengambilku, menggenggamku erat-erat dan menempelkanku ke keningnya. “bantu aku, ‘menangkap waktu’ku ya, Roid.”...Dan aku bilang “Iya”.
Tapi, tentu saja Nila tidak dapat mendengarnya.
 
wew
ternyata nila emang ada penyakit tertentu ya
bagus ceritanya
1 lagi dah
Your thread was saved from PertamaX Junkers

AzV
-IPC-
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.