• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Menangkap Waktu (Part 2)

Satsujin

IndoForum Newbie E
No. Urut
71769
Sejak
30 Mei 2009
Pesan
32
Nilai reaksi
0
Poin
6
Lumayan juga. Kamarnya Nila. Tidak terlalu sempit, tapi tidak luas juga. Aku ditaruhnya di atas meja. Dia memandangiku, lalu berkata, “Syukurlah, aku bisa membelimu. Aku sudah menginginkanmu lama sekali. Mungkin... bahkan sebelum aku melihatmu. Namaku Nila. Mulai hari ini, bantu aku ‘menangkap waktu’ ya...”.

Lalu dia mengambil selembar tisu dan mulai mengelapku hati- hati.

“Ng... ‘menangkap waktu’ itu istilahku untuk memotret. Soalnya, memotret itu hebat sekali loh! Segala macam keadaan yang seperti apapun, sebesar apapun, bisa ditangkap dan direfleksikan dalam selembar kertas. Waktu yang cuma bisa terjadi saat itu dan tidak akan terulang lagi, ternyata bisa ditangkap lalu kita simpan untuk sewaktu- waktu dilihat lagi, dengan cara memotret. Makanya aku menyebutnya ‘menangkap waktu’. Dan kamu yang ‘menangkap waktu’ itu yang hebat sekali!! Apalagi kamu dalam hitungan menit saja sudah mampu ‘menuangkan waktu’ tersebut ke dalam film positifmu. Berbeda sekali dengan rekan- rekanmu yang lain, yang mesti dibawa ke tempat cuci cetak untuk menyetak negatif filmnya. Makanya, aku merasa kamu yang paling hebat diantara yang terhebat.”

Dan dia terus mengoceh, memuji- mujiku. Aku, jadi agak besar kepala nih.
“Oh iya, namamu Roid ya. Pendekan dari kamera polaroid. Dan sekarang...” dia mengangkatku.

“Kamu harus memotretku...” Nila menggeret kursi belajarnya dan memposisikannya di sebelah jendela kamarnya. Lalu ia duduk dan mengangkatku tinggi.

Sesaat, sebelum dia menekan tombol shutter, dia memandang jauh keluar jendela. Lalu, saat itu juga, angin kecil berhembus masuk, menerbangkan sebagian rambutnya dan gorden tipis. Detik kemudian, dia menekan tombol shutterku. JEPRET! Aku meminjam istilahnya, aku sudah ‘menagkap waktu’. Dia menurunkanku dan menungguku mengeluarkan positif filmku. Saat positif filmku keluar, dia langsung menyambarnya dan mengibas- ngibasnya. Samar- samar mulai muncul gambarnya....

“He...He... karya kita bersama yang pertama.” Katanya sambil tersenyum.
Aku melihat, ‘penangkapan waktu’ sukses. Tampak gambar seorang gadis yang sedang melihat ke luar jendela dengan rambutnya yang sedikit terangkat karena angin. Ah, lagi- lagi tatapan mata itu. Dewasa sekali, hm,.... bukan, bukan dewasa... tapi, apa ya? Aku tidak bisa mendefinisikan senyum itu. Lagi- lagi aku merasa perasaan ‘entahlah’ itu. Ah, entahlah!
“Roid, kau tahu, kenapa aku justru memilih membelimu dari pada kamera yang lain?” tanyanya kepadaku.

Lama, dipandanginya aku.Hm... kalau dia mau tau jawabanku, jawabanku adalah aku tidak tahu. Aku tidak tahu kenapa kamu membeliku. Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu membeliku. Dan Nila masih terus memandangku Tiba- tiba, dia berdiri dan berjalan ke arah pintu. Dibukanya pintu itu, “Karena kalau aku membeli kamera yang lain, aku takut tak punya waktu untuk mencetaknya...” jawabnya lirih.
Kemudian dia keluar kamar dan menutup pintu. Sosoknya hilang bersamaan dengan munculnya berjuta pertanyaan dalam benakku.

Hangat. Mataharinya cukup hangat. Sekitar tiga puluhan orang yang seusia dengan majikanku memakai seragam olahraga dan sedang asik berlatih lompat jauh. Nila sendiri justru asyik memotret teman-temannya. Dia ‘menangkap waktu’ ketika temannya tertawa, terjatuh, bersorak-sorai, mengobrol, dan momen-momen lainnya. Nila tidak berolah-raga tapi guru olahraganya tidak memarahinya. Kupikir orang seperti Nila menyukai olahraga. Ternyata tidak. Ah, Nila tertawa melihat temannya yang jatuh dengan posisi wajah menyentuh pasir. Tapi, temannya itu tidak tertawa.

“Kamu pikir lucu menertawakan orang yang terjatuh saat dia sedang berusaha untuk mendapat nilai saat pelajaran olahraga?” tanyanya sinis pada Nila.
“Ma.. maap. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk...”
Belum selesai Nila menjelaskan, temannya itu sudah pergi meninggalkannya. Nila terdiam melihat sosok temannya yang menjauh, berjalan menuju WC. Nila mengangkatku, mengarahkanku ke arah punggung temannya itu dan ‘menangkap waktu’. JEPRET!

Untuk apa sih dia memotret temannya yang menyebalkan itu? Positif filmku keluar, disambar oleh Nila, sambil mengibas-ngibaskannya, Nila berlari mengejar temannya itu. Berteriak- teriak memenggil nama temannya. Tapi temannya itu pura- pura tidak mendengarkan dan memutuskan untuk mempercepat langkahnya.
 
nice
lanjut terus
gw ikutin terus ceritanya
Your thread was saved from PertamaX Junkers

AzV
-IPC-
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.