Satsujin
IndoForum Newbie E
- No. Urut
- 71769
- Sejak
- 30 Mei 2009
- Pesan
- 32
- Nilai reaksi
- 0
- Poin
- 6
(Posting perdanaku adalah sebuah karya tulis, semoga bisa menghibur teman-teman disini)
Gadis itu lagi. Lagi lagi, gadis itu lagi. Ini hampir yang ketiga puluh kali, gadis dengan seragam putih birunya itu memandang nafsu ke arahku dari balik kaca etalase toko. Gadis yang rambut ikal sebahunya selalu digerai. Entah kenapa juga selalu jam- jam segini ia datang ke toko barang antik tempat aku dipajang.
Padahal jam- jam segini adalah jam di mana matahari tepat berada diatas kepala dan itu artinya sangat panas sekali. Seperti yang sudah-sudah, dia memandangiku sekitar tiga puluh menit sampai satu jam. Tiap inci diriku dijelajahinya. Seolah-olah tak pernah dia merasa bosan memandangiku. Memandang dan hanya memandang. Kupikir dia hanya mampu memandangku dengan rasa ingin memiliki yang teramat sangat.
Yah, secara logika, berapa sih duitnya anak SMP? Mana mungkin cukup untuk membeli diriku.
Gadis itu masih menatapku. Lebih lama dari yang biasanya. Tatapan matanya... dalam. Entahlah. Tak bisa kujelaskan dengan baik. Tapi yang kutahu, gadis ini terlalu dewasa. Terlalu dewasa jika dibandingkan dengan gadis seumurnya. Terlalu aneh menemukan gadis seusianya yang mau-maunya melihat Kamera Polaroid tahun 80an di sebuah toko barang antik selama berpuluh- puluh menit, setiap hari, dan dari Senin sampai Sabtu. Padahal Toko ini berseberangan dengan sebuah Mall paling besar di kota ini. Gadis seusianya? Tentu saja memilih pergi ke Mall.
Makanya, aku menaruh perhatian yang cukup besar pula ke gadis ini. Tidak sebanding sih dengan perhatiannya. Tapi, bagiku, dia berbeda dengan yang lain.
Tidak kusangka-sangka. Dia masuk ke dalam toko barang antik yang lumayan bau apek ini. Langsung menuju kasir. Sedikit (terlalu) bersemangat berbicara, gadis itu menunjuk-nunjuk ke arahku. Si Kasir yang sebenarnya hanyalah kerabat pemilik toko berjalan ke arahku. Aku tak suka Si Kasir ini. Dia cuma Pengacara (Pengangguran Banyak Acara) yang memohon-mohon untuk bisa dipekerjakan di Toko Antik ini. Sampah masyarakat. Aku benci. Tapi, sebenarnya tidak bisa disalahkan juga sih. Zaman ini persaingan makin ketat. Lengah sedikit, langsung disikat. Namun, yang membuatku sedemikian antipati terhadapnya adalah karena dia pernah menjatuhkanku. Dia merawat barang- barang di sini seenaknya. Dasar anak muda.
Lalu Si Kasir yang menyebalkan ini mengangkatku (dengan tidak hati- hati tentunya), mengguncang- guncangku. Lalu berjalan sambil membawaku ke mejanya. Dia mengambil sebuah kantung plastik dari lacinya dan berniat memasukkanku kedalamnya.
“Ah!! Tidak usah pakai kreseknya. Mau saya pegang saja.” Gadis itu berbicara.
Ini pertama kalinya aku mendengar suaranya. Lucu sekali. Suaranya berbanding terbalik dengan penampilannya yang dewasa. Suaranya masih jernih. Khas anak kecil. Tapi indah. Seperti suara tetesan embun. Membuatku merasa nyaman tanpa alasan yang jelas. Sekali lagi, aku merasa... entahlah. Tak bisa kujelaskan dengan baik. Si Kasir menyerahkanku ke arah gadis itu. Membuyarkan lamunanku.
“Terima kasih banyak” gadis itu sedikit mengangguk saat mengatakannya dan hanya dibalas lambaian tangan seadanya oleh Si Kasir.
Tanpa sempat mencerna makna katanya, aku sudah berada dalam genggaman gadis itu dan berada di luar toko barang antik. Lebih tepatnya sedang dibawa pergi menjauhi toko barang antik tempat aku tinggal.
Bagaimana bisa? Aku hanya bisa dibawa keluar dari toko itu kalau aku sudah dibeli.
Tunggu dulu. Itu berarti.... Ah! Gadis ini telah membeliku! Tapi... apa iya? Apa iya anak SMP punya uang untuk membeliku? Tapi nyatanya aku sudah berada dalam genggaman tangannya. Berarti, benar dia sudah membeliku. Syukurlah. Aku boleh lega kalau begitu. Selama ini aku terus bertanya- tanya, akan dibeli oleh siapa? Akan dibeli oleh orang yang bagaimana? Tapi, sekali lagi, syukurlah gadis ini yang membeliku. Aku yakin dia akan merawatku baik- baik. Mulai saat ini kita panggil gadis yang membeliku ini dengan nama Nila. Sebabnya saat aku melihat seragamnya, tertulis ‘MEGA NILA YUSTIRA’ di atas saku kemejanya. Salam kenal, Nila, majikan baruku.
Gadis itu lagi. Lagi lagi, gadis itu lagi. Ini hampir yang ketiga puluh kali, gadis dengan seragam putih birunya itu memandang nafsu ke arahku dari balik kaca etalase toko. Gadis yang rambut ikal sebahunya selalu digerai. Entah kenapa juga selalu jam- jam segini ia datang ke toko barang antik tempat aku dipajang.
Padahal jam- jam segini adalah jam di mana matahari tepat berada diatas kepala dan itu artinya sangat panas sekali. Seperti yang sudah-sudah, dia memandangiku sekitar tiga puluh menit sampai satu jam. Tiap inci diriku dijelajahinya. Seolah-olah tak pernah dia merasa bosan memandangiku. Memandang dan hanya memandang. Kupikir dia hanya mampu memandangku dengan rasa ingin memiliki yang teramat sangat.
Yah, secara logika, berapa sih duitnya anak SMP? Mana mungkin cukup untuk membeli diriku.
Gadis itu masih menatapku. Lebih lama dari yang biasanya. Tatapan matanya... dalam. Entahlah. Tak bisa kujelaskan dengan baik. Tapi yang kutahu, gadis ini terlalu dewasa. Terlalu dewasa jika dibandingkan dengan gadis seumurnya. Terlalu aneh menemukan gadis seusianya yang mau-maunya melihat Kamera Polaroid tahun 80an di sebuah toko barang antik selama berpuluh- puluh menit, setiap hari, dan dari Senin sampai Sabtu. Padahal Toko ini berseberangan dengan sebuah Mall paling besar di kota ini. Gadis seusianya? Tentu saja memilih pergi ke Mall.
Makanya, aku menaruh perhatian yang cukup besar pula ke gadis ini. Tidak sebanding sih dengan perhatiannya. Tapi, bagiku, dia berbeda dengan yang lain.
Tidak kusangka-sangka. Dia masuk ke dalam toko barang antik yang lumayan bau apek ini. Langsung menuju kasir. Sedikit (terlalu) bersemangat berbicara, gadis itu menunjuk-nunjuk ke arahku. Si Kasir yang sebenarnya hanyalah kerabat pemilik toko berjalan ke arahku. Aku tak suka Si Kasir ini. Dia cuma Pengacara (Pengangguran Banyak Acara) yang memohon-mohon untuk bisa dipekerjakan di Toko Antik ini. Sampah masyarakat. Aku benci. Tapi, sebenarnya tidak bisa disalahkan juga sih. Zaman ini persaingan makin ketat. Lengah sedikit, langsung disikat. Namun, yang membuatku sedemikian antipati terhadapnya adalah karena dia pernah menjatuhkanku. Dia merawat barang- barang di sini seenaknya. Dasar anak muda.
Lalu Si Kasir yang menyebalkan ini mengangkatku (dengan tidak hati- hati tentunya), mengguncang- guncangku. Lalu berjalan sambil membawaku ke mejanya. Dia mengambil sebuah kantung plastik dari lacinya dan berniat memasukkanku kedalamnya.
“Ah!! Tidak usah pakai kreseknya. Mau saya pegang saja.” Gadis itu berbicara.
Ini pertama kalinya aku mendengar suaranya. Lucu sekali. Suaranya berbanding terbalik dengan penampilannya yang dewasa. Suaranya masih jernih. Khas anak kecil. Tapi indah. Seperti suara tetesan embun. Membuatku merasa nyaman tanpa alasan yang jelas. Sekali lagi, aku merasa... entahlah. Tak bisa kujelaskan dengan baik. Si Kasir menyerahkanku ke arah gadis itu. Membuyarkan lamunanku.
“Terima kasih banyak” gadis itu sedikit mengangguk saat mengatakannya dan hanya dibalas lambaian tangan seadanya oleh Si Kasir.
Tanpa sempat mencerna makna katanya, aku sudah berada dalam genggaman gadis itu dan berada di luar toko barang antik. Lebih tepatnya sedang dibawa pergi menjauhi toko barang antik tempat aku tinggal.
Bagaimana bisa? Aku hanya bisa dibawa keluar dari toko itu kalau aku sudah dibeli.
Tunggu dulu. Itu berarti.... Ah! Gadis ini telah membeliku! Tapi... apa iya? Apa iya anak SMP punya uang untuk membeliku? Tapi nyatanya aku sudah berada dalam genggaman tangannya. Berarti, benar dia sudah membeliku. Syukurlah. Aku boleh lega kalau begitu. Selama ini aku terus bertanya- tanya, akan dibeli oleh siapa? Akan dibeli oleh orang yang bagaimana? Tapi, sekali lagi, syukurlah gadis ini yang membeliku. Aku yakin dia akan merawatku baik- baik. Mulai saat ini kita panggil gadis yang membeliku ini dengan nama Nila. Sebabnya saat aku melihat seragamnya, tertulis ‘MEGA NILA YUSTIRA’ di atas saku kemejanya. Salam kenal, Nila, majikan baruku.