• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Memetakan Virus: Sebuah Pelajaran dari Pandemi

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
0.jpg


Ente juga dapat juga nonton video di atas gan. Isinya sama persis, soalnya tulisan ini adalah script yg ane pake buat bikin videonya. Selamat membaca!

Virus merupakan sebuah benda mati tak kasat mata yg sangat berbahaya. Secara diam-diam, virus dapat jadi penyebab kematian. Dalam catatan sejarah, tercatat sudah ratusan juta orang mati karenanya.

Memetakan Virus: Sebuah Pelajaran dari Pandemi


Virus sulit sekali terdeteksi. Karena itu, sangat sulit untuk melawannya. Yang dapat kita lihat hanyalah efeknya. Penyebarannya, gejalanya, & kematian yg diakibatkannya

Bagaimana dapat kita berkutik atau bertindak, kepada sesuatu yg tidak dapat kita lihat? Sesuatu yg bahkan tidak kita ketahui keberadaannya? Orang-orang di masa lalu, bahkan seringkali menganggapnya sebagai sesuatu yg tidak masuk akal. Menganggapnya sebagai sebuah sihir, sebuah hal yg ajaib.

Namun sebenarnya, ada suatu cara supaya kita dapat melihat benda tak kasat mata ini. Untuk melihat apa yg sedang terjadi, apa efek yg sedang dia sebabkan, & bagaimana dia menyebar. Semua itu dapat kita lihat dengan memanfaatkan analisis data. Dan cara terbaik dalam menampilkan data, adalah dengan memetakannya.

GIF

Dalam catatan sejarah, pemetaan untuk melawan pembunuh tak kasat mata perdana kali dilakukan pada tahun 1854. Pada saat itu, di Broad Street, London terjadi sebuah kejadian yg luar biasa. Banyak sekali orang meninggal akibat suatu penyakit yg tidak dimengerti oleh siapapun.

Berbagai teori bermunculan. Dari yg ilmiah hingga yg mistis. Dari yg masuk akal, hingga yg tidak masuk akal. Dari penyebaran lewat udara, hingga oleh penyihir.

Namun di antara teori-teori tersebut, tidak ada satupun yg benar. Sehingga, justru menghasilkan saran-saran kesehatan yg tidak akurat, & cenderung misleading.
Orang-orang tetap terkena penyakit itu, & akhirnya mati.

Memetakan Virus: Sebuah Pelajaran dari Pandemi


Hingga suatu ketika, muncul seseorang bernama John Snow. Idenya pada saat itu dapat dibilang cukup sederhana. Jika kita sanggup mencari semua orang yg terkena penyakit, lalu menanyakan mereka apa yg mereka lakukan sebelumnya, apa yg mereka makan, apa yg mereka minum, apa yg mereka sentuh, tempat mana saja yg mereka kunjungi, maka kita dapat memetakan penyakit ini, yg kemudian dapat menolong kita untuk melihatnya, & memahaminya lebih dalam.

Memetakan Virus: Sebuah Pelajaran dari Pandemi

John Snow

Pada masa itu, pengumpulan data & pemetaan belum jadi sebuah metode yg biasa dipakai oleh para praktisi untuk mengerti suatu penyakit. Pada saat itu, orang-orang hebat di bidang kesehatan cuma bertindak sebagai dokter, yg memberikan saran-saran kesehatan kepada para pasien berdasarkan pengetahuan mereka. Ilmu kesehatan pada saat itu belum terlalu melibatkan data science.

Walaupun begitu, Jon Snow tetap gigih dalam mengumpulkan data sebanyak yg dia dapat. Setelah Jon Snow mengumpukan data-data yg dia dapat dari hasil survey kepada para penyandang penyakit, dia memetakannya.

GIF

Peta yg dihasilkan sangat jelas memperlihatkan bahwa terdapat suatu hubungan antara persebaran penyandang penyakit ini dengan sebuah pompa air yg jadi sumber dari air minum sehari-hari para penduduk. Usut punya usut, sumber air minum itu ternyata terkontaminasi kotoran manusia, yg membawa bakteri penyebab penyakit kolera. Dari situ, akhirnya diketahui bahwa penyakit tersebut menyebar melalui air minum. Bukan melalui udara, apalagi penyihir.

Dan sekarang, sekitar 150 tahun kemudian, kita dihadapkan dengan kondisi yg cukup mirip. Namun, sekarang kondisinya sudah jauh berbeda. Mobilitas manusia jauh lebih tinggi. Perjalanan antarkota, antarnegara, antarbenua, terjadi setiap harinya. Dan akibatnya, pembunuh tak kasat mata ini dapat menyebar ke seluruh dunia dalam sekejap.

GIF

Jon Snow pada saat itu cuma perlu mensurvei satu gang untuk memetakan penyakitnya. Namun saat ini tantangannya jauh lebih berat, karena yg perlu dipetakan bukan cuma sebuah jalan, bukan cuma sebuah kota, bukan cuma sebuah negara, tetapi seluruh dunia.

Namun di balik itu semua, kita di zaman sekarang juga sudah memiliki teknologi pemetaan yg jauh lebih canggih, yg menciptakan kita dapat mengerjakan hal-hal yg tidak mungkin dapat untuk dilakukan pada tahun 1850an.

GIF

The New York Times menciptakan sebuah visualisasi yg sangat bagus mengenai pola pergerakan manusia, mengpakai data yg dipublikasikan oleh lerusahaan telekomunikasi asal Tiongkok. Peta ini menunjukkan bagaimana orang berpindah-pindah, & bagaimana virus ini menyebar, keluar dari Tiongkok, & tersebar ke seluruh dunia. Hingga hampir semua negara di dunia terkena dampaknya.

Memetakan Virus: Sebuah Pelajaran dari Pandemi


Melawan virus Korona bukanlah suatu hal yg mudah. Meskipun demikiaan, diatara semua negara yg terdampak, terdapat beberapa negara yg terbilang cukup berhasil dalam melawan virus ini. Sebut saja Tiongkok, Korea Selatan, Taiwan, & Vietnam. Ya, kebanyakan adalah negara-negara asia timur. Sedangkan negara-negara seperti Amerika, Russia, Argentina, Brazil, termasuk negara kita Indonesia, terbilang gagal dalam melawan virus ini. Apa yg membedakan negara-negara tersebut, dengan negara yg lain?

Well, mereka mengerjakan pemetaan dengan baik. Sejak awal virus korona masuk ke Korea Selatan, mereka langsung mengerjakan tes secara masif, untuk dapat langsung melacak keberadaan virus ini. Sehingga berbagai upaya preventif dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran.

Memetakan Virus: Sebuah Pelajaran dari Pandemi


Katakanlah anda adalah salah satu orang yg dinyatakan positif terkena virus di Korea Selatan. Para petugas kesehatan akan mewawancaraimu, seperti yg dilakukan oleh John Snow. Kamu akan ditanyai mana saja tempat yg anda kunjungi beberapa hari terakhir, benda apa saja yg anda sentuh,siapa saja orang yg berkontak deenganmu, & berbagai pertanyaan lainnya. Data hasil wawancara tersebut kemudian diverivikasi dengan data dari sinyal GPS, transaksi kartu kredit, & gambar CCTV, untuk memetakan segala hal yg sudah anda sentuh, semua orang yg anda temui, semua transportasi biasa yg anda pakai, segala hal yg terkontak denganmu, & setiap hal yg memungkinkan virus tersebut berpindah dari dirimu ke orang lain.

Kemudian setiap orang yg pernah berkontak denganmu & berkemungkinan tertular darimu juga diwawancari, & diwajibkan untuk menjalani isolasi. Setiap orang yg berkontak dengannya pun juga demikian.
Ketika anda sedang menjalani isolasi, anda akan diwajibkan untuk menginstall sebuah aplikasi di handphonemu untuk mengetahui pergerakanmu, & memastikan anda tidak menularkannya lagi ke orang lain. Kalau anda melanggar aturan isolasi, anda akan terkena denda puluhan juta rupiah.

Memetakan Virus: Sebuah Pelajaran dari Pandemi


Pemetaan ini sangat sulit untuk dilakukan. Perlu banyak sekali data yg dikumpulkan, banyak sekali orang yg diwawancara, banyak sekali data yg harus dianalisis. Tapi itulah satu-satunya cara untuk memetakan virus ini, & menghentikan penyebarannya. Dan untuk melacak semua atau beberapa akbar virus, usaha ini perlu dilakukan sejak awal sekali virus masuk ke negara kita. Hal ini masih mungkin dilakukan apabila jumlah orang yg terjangkit masih puluhan, atau ratusan
Kalau sudah ribuan, dapat dibilang hamper tidak mungkin.

Sayangnya di negara kita usaha seperti ini dapat dibilang belum begitu serius dilakukan. Kasus virus korona perdana kali terdeteksi di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020. Padahal sebenarnya, saya yakin jauh sebelum itu sudah ada yg terjangkit. Kita saja yg gagal mendeteksinya. Padahal yg tidak terdeteksi ini jauh lebih berbahaya. Karena, tanpa kita ketahui dia menyebar, & kita tidak dapat berbuat apa-apa. Tau aja nggak.

Memetakan Virus: Sebuah Pelajaran dari Pandemi


Pada awal-awal virus ini menyebar ke seluruh dunia, pemerintah kita seakan meremehkan. Para pejabat kita seakan tidak sadar, bahwa bahaya akbar sedang mengancam. Dan dapat dengan santai menanggapinya. Bahkan salah satu Menteri ada yg mengatakan bahwa masyarakat Indonesia punya kekebalan tubuh untuk virus ini karena suka makan nasi kucing. Sekitar satu bulan kemudian, dia dinyatakan positif. Lelucon macam apa ini?

Namun selain Indonesia, banyak negara-negara lain yg juga dapat dibilang gagal dalam menanggulangi virus ini. Sebut saja Brazil, Russia, & Amerika Serikat.
Negara sehebat Amerika Serikat sekalipun gagal. Bagaimana dapat?

Memetakan Virus: Sebuah Pelajaran dari Pandemi


Amerika serikat sebagai sebuah negara yg mayoritas penduduknya menganut paham liberal, tidak suka dengan ide bahwa pemerintah dapat mengawasi mereka.

Bagi beberapa akbar orang-orang di Amerika Serikat, hal-hal seperti pelacakan GPS, pelacakan transaksi kartu kredit, pelacakan pergerakan, pelacakan kontak, dll itu dianggap sebagai sebuah privasi, yg dapat dibilang cukup sensitif, apalagi semenjak kasus Cambridge Analytica.

Pelacakan cuma dapat dilakukan apabila masyarakat cukup percaya dengan pemerintah. Kalau dibandingkan, di Korea Selatan, sekitar 86% penduduknya percaya pada saran-saran kesehatan yg dikeluarkan oleh pemerintah. Sedangkan di Amerika Serikat, cuma sekitar 59%. Di Indonesia? Poll di atas mungkin dapat menolong memberi citra gan.

Memetakan Virus: Sebuah Pelajaran dari Pandemi


Selain itu, negara-negara yg berhasil tersebut dapat dibilang sudah tau apa yg harus mereka lakukan karena sudah memiliki pengalaman dalam menangani wabah sebelumnya. Taiwan sempat diserang oleh wabah SARS pada tahun 2003, sedangkan Korea Selatan pernah diserang wabah MERS pada tahun 2015. Dari pengalaman tersebut, mereka tau cara untuk menangani wabah, sehingga lebih siap dalam menanganinya Sedangkan Indonesia, Amerika Serikat, & Russia, belum memiliki pengalaman tersebut.


Dan menurut beberapa pakar, dengan keadaan ekologis yg sepperti ini,
Hutan yg dibabat, habitat yg hilang, akan menciptakan kontak aantara manusia & hewan liar meningkat. Sehingga kemungkinan akbar penyakit zoologis lain akan muncul, & berpotensi jadi pandemi yg lebih parah dari virus korona.

Maka, saya berharap kejadian ini dapat jadi sebuah pengalaman berharga bagi kita, memberikan sebuah pelajaran. Supaya kedepannya kita dapat lebih siap dalam menangani hal semacam ini.

SUMUR

https://www.liputan6.com/global/read...-dunia
https://jogja.suara.com/read/2020/03...corona
https://en.wikipedia.org/wiki/1854_B...lera_outbreak
Kemarin 23:43
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.