Handyplast
IndoForum Beginner D
- No. Urut
- 10814
- Sejak
- 29 Jan 2007
- Pesan
- 608
- Nilai reaksi
- 219
- Poin
- 43
"Membobol” bunk dengan Data Guru
SEBANYAK 21 guru di SMPN 1 Cisayong, Kab. Tasikmalaya, kaget luar biasa ketika mendapat tagihan dari bro Cabang Tasikmalaya. Mereka diminta segera mencicil kembali kredit yang macet. Padahal, mereka sama sekali tidak pernah mengajukan kredit ke bro Tasikmalaya.
"Saya dibilang oleh pihak bunk telah meminjam ke bro Rp 28,5 juta. Lalu, istri saya meminjam Rp 30 juta. Padahal, saya bersama istri sama sekali tidak pernah mengajukan kredit ke bro. Begitu juga rekan-rekan guru yang lainnya ditagih untuk bayar cicilan, padahal sama sekali tidak meminjam ke bunk," kata Drs. Heri Sunardi, salah seorang guru di SMPN 1 Cisayong, Jumat (6/4).
Heri adalah salah seorang di antara 21 guru yang namanya digunakan untuk mengajukan kredit ke bro oleh tersangka Ny.Tik. bagian kepegawaian di SMPN 1 Cisayong.
Menurut Heri, pada Januari 2007, muncul isu di sekolahnya bahwa surat-surat resmi yang berkaitan dengan kepegawaian milik guru telah digunakan oleh tersangka untuk dijaminkan ke bunk. Pada awalnya, Heri tidak curiga karena bunk tidak mungkin mencairkan kredit kalau orang yang bersangkutan tidak melakukan akad kredit langsung.
Namun, Heri bersama istrinya, yang juga mengajar di sekolah yang sama, baru percaya isu itu ketika awal Maret mendapat surat tagihan dari bro Cabang Tasikmalaya. Ia harus mencicil kembali sisa utangnya yaitu 20 cicilan lagi. "Saya sempat heran kenapa Bu Tik sampai tega begitu terhadap guru-guru di sekolah ini," kata Heri.
Beberapa guru datang ke bro Cabang Tasikmalaya untuk melihat berkas-berkas serta akad kredit di bunk itu. Tapi, pihak bunk tidak memberikannya, dengan berbagai alasan. "Kenapa harus mencicil, toh kita tidak pernah pinjam uang. Silakan saja, Ny. Tik yang harus menutup semua cicilan itu," ujar guru lainnya.
Membobol bunk
Ny. Tik (50) warga Nendeut, Sindangreret, Kec. Cisayong, Jumat (5/4) ditangkap Kejaksaan Negeri Tasikmalaya, di kediamannya. Penangkapan Ny. Tik karena diduga yang bersangkutan telah membobol bro Cabang Tasikmalaya, Rp 1 miliar lebih.
"Modusnya dengan membuat pengajuan kredit fiktif sebanyak 42 nasabah. Rata-rata nasabah fiktif ini ”mengajukan” antara Rp 28 juta hingga Rp 40 juta. Di antara nasabah yang fiktif tersebut, memakai nama para guru yang mengajar di SMPN tersebut," kata Plh. Kajari Tasikmalaya, Heri Sunaryo, S.H.
Menurut Heri Sunaryo, aksi tersangka berlangsung sejak tahun 2004 hingga 2006. Kasus ini terbongkar setelah banyaknya guru yang merasa tidak meminjam uang ke bro, tetapi tetap ditagih. Bahkan, di antara guru ini ada yang mendapat teguran karena kreditnya macet. Padahal, korban sama sekali tidak pernah mengajukan kredit ke bunk tersebut.
Kasus tersebut akhirnya dilaporkan oleh para korban ke Kejaksaan Tasikmalaya. Atas laporan tersebut, kejaksaan melakukan penyelidikan. Dari hasil pengumpulan data selama kurang lebih satu bulan, akhirnya penyidik menemukan bukti-bukti bahwa Ny. Tik melakukan pengajuan kredit fiktif, hingga Rp 1 miliar lebih.
Ny. Tik memang memegang data semua kepegawaian, termasuk fotokopi KTP dan kartu keluarga (KK) para guru. Oleh Ny. Tik data tersebut digunakan untuk mengajukan kredit ke bunk. Tersangka lalu membuat surat keputusan (SK) kenaikan pangkat terakhir berikut daftar gaji dan lainnya.
"Setelah persyaratan lengkap, ia mengajukan kredit ke bro Cabang Tasikmalaya. Untuk mencairkan kredit itu, saat akad kredit dilakukan, tersangka menyewa para calo yang seolah-olah sebagai pasangan suami istri guru, yang mengajukan kredit. Ia membayar rata-rata Rp 300.000,00 kepada calo-calo itu," katanya.
Ketika dimintai keterangan, Ny. Tik kepada penyidik dari kejaksaan Yadi Rahmat, mengatakan, uang itu digunakan untuk menutup utang. Ketika ditemui wartawan, Ny. Tik malah menangis dan menolak memberikan keterangan.
Sunaryo mengatakan, ada dugaan pegawai bunk juga terlibat dalam kasus ini. Namun, semua itu tergantung hasil pemeriksaan yang akan dilakukan terhadap para pegawai bunk itu dan bukti-bukti lainnya. Kita mencurigai ada oknum bunk yang diduga terlibat, tapi lihat saja nanti. Untuk sementara, Ny. Tik yang menjadi tersangka dan ditahan," ujarnya.
SEBANYAK 21 guru di SMPN 1 Cisayong, Kab. Tasikmalaya, kaget luar biasa ketika mendapat tagihan dari bro Cabang Tasikmalaya. Mereka diminta segera mencicil kembali kredit yang macet. Padahal, mereka sama sekali tidak pernah mengajukan kredit ke bro Tasikmalaya.
"Saya dibilang oleh pihak bunk telah meminjam ke bro Rp 28,5 juta. Lalu, istri saya meminjam Rp 30 juta. Padahal, saya bersama istri sama sekali tidak pernah mengajukan kredit ke bro. Begitu juga rekan-rekan guru yang lainnya ditagih untuk bayar cicilan, padahal sama sekali tidak meminjam ke bunk," kata Drs. Heri Sunardi, salah seorang guru di SMPN 1 Cisayong, Jumat (6/4).
Heri adalah salah seorang di antara 21 guru yang namanya digunakan untuk mengajukan kredit ke bro oleh tersangka Ny.Tik. bagian kepegawaian di SMPN 1 Cisayong.
Menurut Heri, pada Januari 2007, muncul isu di sekolahnya bahwa surat-surat resmi yang berkaitan dengan kepegawaian milik guru telah digunakan oleh tersangka untuk dijaminkan ke bunk. Pada awalnya, Heri tidak curiga karena bunk tidak mungkin mencairkan kredit kalau orang yang bersangkutan tidak melakukan akad kredit langsung.
Namun, Heri bersama istrinya, yang juga mengajar di sekolah yang sama, baru percaya isu itu ketika awal Maret mendapat surat tagihan dari bro Cabang Tasikmalaya. Ia harus mencicil kembali sisa utangnya yaitu 20 cicilan lagi. "Saya sempat heran kenapa Bu Tik sampai tega begitu terhadap guru-guru di sekolah ini," kata Heri.
Beberapa guru datang ke bro Cabang Tasikmalaya untuk melihat berkas-berkas serta akad kredit di bunk itu. Tapi, pihak bunk tidak memberikannya, dengan berbagai alasan. "Kenapa harus mencicil, toh kita tidak pernah pinjam uang. Silakan saja, Ny. Tik yang harus menutup semua cicilan itu," ujar guru lainnya.
Membobol bunk
Ny. Tik (50) warga Nendeut, Sindangreret, Kec. Cisayong, Jumat (5/4) ditangkap Kejaksaan Negeri Tasikmalaya, di kediamannya. Penangkapan Ny. Tik karena diduga yang bersangkutan telah membobol bro Cabang Tasikmalaya, Rp 1 miliar lebih.
"Modusnya dengan membuat pengajuan kredit fiktif sebanyak 42 nasabah. Rata-rata nasabah fiktif ini ”mengajukan” antara Rp 28 juta hingga Rp 40 juta. Di antara nasabah yang fiktif tersebut, memakai nama para guru yang mengajar di SMPN tersebut," kata Plh. Kajari Tasikmalaya, Heri Sunaryo, S.H.
Menurut Heri Sunaryo, aksi tersangka berlangsung sejak tahun 2004 hingga 2006. Kasus ini terbongkar setelah banyaknya guru yang merasa tidak meminjam uang ke bro, tetapi tetap ditagih. Bahkan, di antara guru ini ada yang mendapat teguran karena kreditnya macet. Padahal, korban sama sekali tidak pernah mengajukan kredit ke bunk tersebut.
Kasus tersebut akhirnya dilaporkan oleh para korban ke Kejaksaan Tasikmalaya. Atas laporan tersebut, kejaksaan melakukan penyelidikan. Dari hasil pengumpulan data selama kurang lebih satu bulan, akhirnya penyidik menemukan bukti-bukti bahwa Ny. Tik melakukan pengajuan kredit fiktif, hingga Rp 1 miliar lebih.
Ny. Tik memang memegang data semua kepegawaian, termasuk fotokopi KTP dan kartu keluarga (KK) para guru. Oleh Ny. Tik data tersebut digunakan untuk mengajukan kredit ke bunk. Tersangka lalu membuat surat keputusan (SK) kenaikan pangkat terakhir berikut daftar gaji dan lainnya.
"Setelah persyaratan lengkap, ia mengajukan kredit ke bro Cabang Tasikmalaya. Untuk mencairkan kredit itu, saat akad kredit dilakukan, tersangka menyewa para calo yang seolah-olah sebagai pasangan suami istri guru, yang mengajukan kredit. Ia membayar rata-rata Rp 300.000,00 kepada calo-calo itu," katanya.
Ketika dimintai keterangan, Ny. Tik kepada penyidik dari kejaksaan Yadi Rahmat, mengatakan, uang itu digunakan untuk menutup utang. Ketika ditemui wartawan, Ny. Tik malah menangis dan menolak memberikan keterangan.
Sunaryo mengatakan, ada dugaan pegawai bunk juga terlibat dalam kasus ini. Namun, semua itu tergantung hasil pemeriksaan yang akan dilakukan terhadap para pegawai bunk itu dan bukti-bukti lainnya. Kita mencurigai ada oknum bunk yang diduga terlibat, tapi lihat saja nanti. Untuk sementara, Ny. Tik yang menjadi tersangka dan ditahan," ujarnya.

