• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

MEMBENCI KHILAFAH SAMA DENGAN MENAFIKAN SEJARAH

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
BENCI KHILAFAH SAMA DENGAN BUTA SEJARAH
MEMBENCI KHILAFAH SAMA DENGAN MENAFIKAN SEJARAH

Suatu ketika, saya pernah berada disebuah ruangan yg merupakan tempat yg biasanya dipakai untuk menyambut & menjamu tamu penting di ponpes Tebuireng, Jombang, Jatim yg didirkan KH. Hasym Asy'ari

Ruangan itu sangat bersejarah. Salah satu tempat penting KH. Hasym Asy'ari melahirkan ide pendirian NU pada 1926 lalu.

Di sana kala itu susananya tenang. Jauh dari hiruk-pikuk aktivitas politik praktis sebagaimana yg ditampilkan oleh oknum PBNU & PCNU di wilayah lain.

Dari sana kala itu saya dapat banyak cerita asli tentang sejarah pendirian NU di masa lalu.

Pendirian NU, tidak terlepas dari pembentukan Komite Hijaz di tahun yg sama. Sementara pendirian Komite Hijaz tidak terlepas dari upaya Kh. Hasym Ashari & muridnya KH. Wahab Chasbullah (kelompok Islam tradisionil) mendukung upaya HOS Tjokroaminoto & KH. Mas Mansur merespon kejatuhan Khilafah Utsmaniyyah di Turki.

Dalam setiap pembabakan Sejarah Indonesia, didapati Khilafah Islam memiliki pengaruh politik-keagamaan yg kuat. Mulai dari era Hindu-Budha, pencaplokan Barat, masa Hindia-Belanda, perjuangan kemerdekaan, pergulatan politik di BPUPKI & PPKI hingga pra kemerdekaan.

Sejak awal kemunculannya di nusantara, Masyarakat muslim tidak cuma berminat dalam memperbincangkannya saja. Melainkan juga merasa berkewajiban mendakwahkan & menerapkannya.

Oleh sebab itu ketika kejatuhannya di tahun 1924, umat Islam tanah air turut menunjukan perhatiannya.

Salah satu wujud perhatian itu adalah lewat digelarnya permusyawaratan, bernama Kongres Umat Islam yg muncul dengan penggagasnya H.O.S Tjokroaminoto & ulama Muhammadiyah, Agus Salim.

Kongres Umat Islam menghimpun para ulama di Nusantara untuk menemukan solusi keumatan terbaik. Terhitung dalam kurun waktu antara 1921 hingga 1941, kongres tahunan Umat Islam sudah dilakukan sebanyak 12 kali di berbagai tempat dari Cirebon, Garut, Surabaya hingga puncaknya di Yogyakarta pada November 1945.

Artawijaya dalam Belajar dari Partai Masjumi (2014) menulis, tujuan diadakannya Kongres ini adalah untuk menyikapi kondisi umat Islam di dunia pasca runtuhnya Khilafah Ustmaniyah di Turki sekaligus menyikap keadaan dalam negeri Indonesia yg pada masa itu banyak terjadi pelecehan kepada Islam & pemeluknya, khususnya dari kelompok sekuler & zending.

Sementara itu buku Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jawa Timur (1978) mencatat bahwa tujuan diadakannya Kongres Umat Islam adalah untuk menggalang persatuan umat, mengurangi perselisihan furuiyyah dengan semangat pan Islamisme yg digagas oleh Sultan Abdul Hamid II.

Tujaun paling pentingnya adalah mendorong persatuan kaum muslimin tanah air untuk saling bekerjasama mengembalikan kekuasaan khilafah global yg selama ratusan tahun jadi sandaran kekuatan umat Islam tanah air dari rongrongan pencaplokan & kekejaman Barat.

Menyambut ide Tjokroaminoto, pendiri Muhammadiyah, Kh. Ahmad Dahlan hadir dalam Kongres Umat Islam perdana di Cirebon pada 1921. Kongres ini kemudian dilanjutkan di Garut pada tahun 1922 di bawah pimpinan Agus Salim & Pengurus Besar Muhammadiyah.

Puncak kongres umat Islam tanah air terjadi ketika para Ulama Al-Azhar Kairo, Mesir menggelar Kongres Muktamar Dunia untuk merespon kejatuhan Khilafah Ustmani pada 3 Maret 1924.

Menanggapi undangan Al-Azhar, umat muslim kembali menggelar Kongres Al Islam luar biasa di Surabaya pada 24-26 desember 1924. Dihadiri oleh 1000 kaum muslimin, Kongres Umat Islam ini melahirkan berdirinya Centraal Comite Chilafat (CCC) yg digagas sebagai delegasi umat Islam Indonesia.

Centraal Comite Chilafat atau CCC sendiri adalah komite yg beranggotakan puluhan muslim dari berbagai latar belakang. Di dalamnya ada Tjokroaminoto dari Central Sarekat Islam, Syekh Ahmad Surkati dari Al-Irsyad, Haji Fachrodin dari PP Muhammadiyah, & Suryopranoto dari PSI. Meskipun pada akhirnya Muktamar Khalifah di Kairo batal digelar.

Tak mau ketinggalan, dalam Kongres Al-Islam keempat pada 21-27 Agustus 1925 di Yogyakarta, tokoh Islam tradisional, Kiai Wahab Chasbullah, murid Kh. Hasym Asy'ari turut ambil bagian merespon penaklukan itu dengan mengusulkan delegasi CCC di kemudian hari mendesak Raja Ibnu Saud untuk melindungi kebebasan bermadzhab.

Dari CCC inilah, oleh kelompok muslim tradisional membentuk satu utusan baru bernama Komite Hidjaz. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jawa Timur (1978) mencatat Komite Hidjaz dengan tokoh utama Kh. Hasyim Asyari dari Tebuireng, Kh. Wahab Chasbullah, Kh.i Bisri dari Denanyar, dll.

Lewat komite hidjaz dengan organisasi induk Nahdatul Ulama, Kh. Hasym Asy'ari, Wahab Cahsbullah & tokoh Islam tradisionil lainnya turut menggalang persatuan kaum muslimin tanah air bekerjasama menyelesaikan masalah khilafah yg saat itu jadi problem bagi dunia Islam.

Jika HOS Tjokroaminoto & kawan-kawan (kelompok Islam Modern) orientasi perjuangannya lebih ke arah politik kepemimpinan khilafah, maka Kh. Hasym Asy'ari lebih ke Keputusan untuk mengirimkan delegasi ke saudi dalam rangka memperjuangkan kebebasan hukum ibadah berdasarkan empat mazhab.

Perjuangan dakwah NU masa lalu, erat kaitannya dengan upaya mendukung penegakan khilafah baik secara aksioma maupun dogma. Maka sangat bersifat ahistoris & aidelogis kalau NU dipakai sebagai alat untuk mendukung pemerintahan sekuler melawan, mendiskreditkan, menentang setiap jengkal dakwah untuk mengembalikan penerapan Khilafah.

Dengan maraknya sikap antipati masyarakat kepada NU, sudah saatnya PBNU & PCNU mengembalikan jati diri NU ke jalan yg lurus, sebagaimana yg dicontohkan Kh. Hasym Asy'ari & Kh. Wahab Chasbullah !!!

***
Sumber Pendukung :

Kemarin 22:33
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.