Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
ILUSTRASI - Sekolah bebas perundungan bukan utopia, namun dapat terwujud kalau setiap guru jadi teladan empati, setiap siswa jadi agen kebaikan, & setiap orang tua hadir sebagai benteng kasih. IVOOX.ID/AI
Sekolah semestinya jadi rumah kedua bagi anak-anak, tempat tumbuhnya semangat belajar & tabiat yg kuat.
Namun, di balik dinding yg tampak tenang, sering tersembunyi luka yg tak terlihat, ketika ada ejekan yg menyesakkan, pengucilan yg perlahan mematikan semangat, atau kekerasan yg dikemas dalam bentuk candaan.
Perundungan di sekolah bukan sekadar perilaku nakal, melainkan ancaman kepada masa depan anak-anak bangsa. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa hingga awal 2024 terdapat 46 kasus bunuh diri pada anak, hampir separuhnya terjadi di lingkungan pendidikan.
Tahun 2025 pun belum membawa perubahan signifikan; beberapa kasus bunuh diri usia anak masih diduga kuat berkaitan dengan perundungan. Angka-angka ini semestinya jadi alarm nasional bahwa dunia pendidikan Indonesia sedang menghadapi krisis empati.
Salah satu upaya serius yg sudah dilakukan pemerintah adalah peluncuran program ROOTS Indonesia oleh UNICEF bersama Kemendikbudristek pada 2021. ROOTS (akronim dari Respect, Observance, Outreach, Togetherness, and Support) dirancang untuk membangun budaya sekolah yg menghargai, inklusif, & bebas kekerasan.
Dalam praktiknya, ROOTS melatih guru & memilih siswa yg berpengaruh di kalangan teman sebaya sebagai agen perubahan. Mereka tidak cuma diajarkan untuk menolak perilaku perundungan, tetapi juga menularkan nilai empati & saling menghormati kepada seluruh warga sekolah.
Momentum utamanya adalah Roots Day, saat seluruh sekolah mendeklarasikan komitmen untuk menolak perundungan. Hingga 2024, program ini sudah menjangkau lebih dari 33.777 satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Sebuah capaian luar biasa di atas kertas, tetapi belum tentu berakar kuat di setiap sekolah.
Budaya Positif
Masalahnya, perubahan perilaku sosial bukan sesuatu yg dapat tumbuh instan. Akar tidak akan kuat tanpa air pencerahan & pupuk konsistensi. Program seperti ROOTS membutuhkan dukungan & waktu yg panjang untuk membentuk budaya positif yg melekat dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Tantangan terbesar justru terletak pada implementasi, kesiapan sumber daya sekolah, kualitas guru fasilitator, koordinasi antar pihak, & kemampuan menjaga keberlanjutan.
Dalam beberapa kasus, program berjalan cuma sebagai formalitas atau sekadar kegiatan seremonial tanpa akibat yg mengubah perilaku.
Padahal, lingkungan sosial anak adalah ekosistem yg kompleks, hal ini tidak akan sehat cuma dengan aturan & pelatihan, tetapi memerlukan penguatan moral, afeksi, & sistem pendukung yg hidup.
Dari refleksi itulah muncul ide pelengkap bernama Kick The Bully (KTB), sebuah konsep yg tidak bermaksud menggantikan ROOTS, melainkan memperkuat & mempercepat dampaknya. KTB berangkat dari pandangan bahwa setiap manusia memiliki sisi baik yg dapat tumbuh kalau diberi ruang, & sisi buruk yg dapat ditekan dengan pencerahan moral & sosial.
Slogan utamanya tendang perilakunya, rangkul pelakunya mengandung filosofi sayang yg tegas: memerangi tindakan buruk tanpa menghapus asa pada pelakunya.
Pendekatan KTB lebih menyeluruh karena menggabungkan dimensi kognitif, emosional, & spiritual. Ia mengguncang kesadaran, bukan cuma mengubah perilaku, dengan menggugah sisi hati & naluri manusia.
Langkah-langkah konkret dalam KTB menampilkan strategi perubahan sosial yg lebih dinamis. Sekolah didorong untuk memproklamasikan gerakan anti-perundungan secara terbuka, melibatkan seluruh warga sekolah & orang tua, bahkan dengan simbol-simbol moral yg kuat seperti pakta integritas atau tayangan konsekuensi hukum bagi pelaku perundungan.
Pendekatan ini memanfaatkan psikologi dasar manusia termasuk di dalamnya otak reptil yg bereaksi kepada ancaman untuk menekan niat berbuat jahat.
Tekanan Moral
Selain itu, KTB memperkenalkan label sosial negatif bagi perilaku perundungan seperti pengecut, sombong, atau tidak beradab, supaya muncul tekanan moral yg menumbuhkan pencerahan diri. Namun, pendekatan ini bukan untuk mempermalukan, melainkan menumbuhkan kontrol sosial yg sehat, menciptakan siswa berpikir dua kali sebelum melukai orang lain.
Program ini juga menekankan penguatan nilai diri & harga diri siswa, karena banyak pelaku maupun korban perundungan memiliki persoalan serupa: kehilangan rasa berharga.
Sesi motivasi, video inspiratif, & ruang dialog terbuka dibangun supaya siswa memahami makna empati & keberanian moral. Di sisi teknis, sekolah didorong membangun sistem pelaporan yg kondusif & efektif, baik manual maupun digital, dengan jaminan kerahasiaan.
Kasus perundungan pun ditangani secara edukatif melalui pendampingan & konseling, bukan cuma hukuman. Pendekatan ini menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah proses memanusiakan manusia termasuk mereka yg pernah tersesat dalam perilaku negatif.
Inti kekuatan KTB terletak pada konsistensinya membangun aksi berkelanjutan. Ini mendorong sekolah mengintegrasikan nilai-nilai ROOTS ke dalam program tematik seperti Generasi Aktif Unggul Luhur atau Ayo Berubah Terus Bertumbuh. Setiap ruang belajar dapat jadi zona sayang kasih, tempat kondusif yg menghidupkan semangat positif.
Evaluasi berkala & observasi perilaku siswa jadi bagian penting supaya perubahan tidak berhenti pada slogan. Dengan sinergi yg kuat, ROOTS & KTB dapat saling melengkapi, yg satu menanam akar kesadaran, yg lain memberi air & cahaya bagi tumbuhnya tabiat yg sehat.
Pada akhirnya, pemberantasan perundungan bukan sekadar urusan anak-anak di sekolah, tetapi refleksi dari tabiat masyarakat. Setiap ejekan yg dibiarkan adalah tanda lemahnya akhlak sosial; setiap tawa atas penderitaan orang lain adalah potret retaknya empati kolektif.
Albert Einstein pernah berkata, Kita tidak dapat memecahkan masalah dengan cara berpikir yg sama ketika kita menciptakannya. Artinya, kalau selama ini pendekatan anti-perundungan cuma bersandar pada kampanye moral & hukuman, sudah saatnya beralih pada strategi yg lebih menyentuh pencerahan manusiawi menggugah hati, menumbuhkan rasa, & menguatkan karakter.
Sekolah bebas perundungan bukan utopia. Namun dapat terwujud kalau setiap guru jadi teladan empati, setiap siswa jadi agen kebaikan, & setiap orang tua hadir sebagai benteng kasih.
Sinergi ROOTS & Kick The Bully memberikan arah baru dalam pendidikan tabiat Indonesia, bukan sekadar menolak kekerasan, tetapi membangun generasi yg berani menegakkan kebaikan. Mencegah perundungan bukan cuma soal disiplin, tetapi panggilan moral untuk memastikan bahwa setiap anak Indonesia tumbuh dalam ruang yg aman, dihormati, & disayangi.
Dari situlah akan lahir generasi emas yg tak cuma cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara nurani, sehingga sanggup menggerakkan bangsa menuju masa depan yg lebih beradab, sejahtera, & bermartabat.
SUMBER