• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Membangun Kampung, Membangun Manusia

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Rabu, 15 September 2021, seperti biasa, mentari terbit tak pernah ingkar waktu. Ya, hari yg cerah di pertengahan bulan September ini saya sudah terikat janji dengan seorang yg sangat istimewa. Bambang Irianto namanya. Bagaimana tidak, saya berkesempatan mengunjungi & berbincang langsung dengan beliau di Karawaci Kota Tangerang, Jawa Barat.

Pria kelahiran 65 tahun lalu tersebut bukan sosok sembarang, terlahir dari rahim seorang ibu asal Malang, Bambang Irianto adalah sosok pria penerima penghargaan Kalpataru. Yups.. kalau boleh saya katakan, beliau adalah donatur tetap oksigen bagi masyarakat.

Betul sekali, penghargaan tertinggi di Tanah Air bagi sosok ataupun kelompok yg berjasa dalam melestarikan lingkungan di Indonesia. Bagi pegiat lingkungan hidup khususnya, Bambang adalah pahlawan lingkungan. Berangkat dari Bogor, saya langsung bergegas dengan semangat 45 karena akan berjumpa dengan orang istimewa. Tak lupa, saya terlebih dahulu menjemput pengabadi momen, Wawan si fotografer berbadan tambun di bilangan Gandul, Depok.

Tepat pukul 11:00 WIB, saya tiba di Posko Dinas Pak Bambang, para pengurus & sesepuh di sana bahkan membanggil Pak Bambang sebagai Bapak Guru. Mengenakan kaos berkerah warna putih, lengkap dengan jam tangan klasik serta mengenakan blangkon. Bapak Guru langsung menyambut saya & regu dengan hangat. Oiya, rasa nasionalisme Bapak Guru ini sangat tinggi, itu saya lihat dari Lambang Garuda yg tersemat di dada bagian kiri kaos yg dikenakan beliau.

Cengkok Malang, saat menyapa masih sangat kental. Tak perlu waktu lama, saya langsung diajak ke kampung binaan beliau, tepatnya di Kampung Anggur, RW03, Uwung Jaya, Cibodas, Kota Tangerang. Letaknya tak terlalu jauh, dari pos dinas Bapak Guru, cuma beberapa menit saja, kami sudah hingga di sana.

Selama di perjalanan dengan mobil dinas, Bapak Guru bercerita banyak hal, mulai dari kisah membangun Kampung Glintung Go Green (3G) di malang, hingga hingga ke Tangerang pada 2017 lalu. Untuk mengubah sebuah kampung yg kita harapkan, yg perdana adalah merubah pola pikir masyarakatnya terlebih dahulu, itu prinsip, begitu nasehat Bapak Guru kepada saya.

Sembari memperhatikan rambu lalu lintas, beliau sangat fasih menceritakan detil yg harus dilakukan dalam menyulap sebuah lingkungan. Saya yg duduk sedari awal di sebelah beliau terus mengangguk, mengaminkan apa yg dikatakan Bapak Guru. Intonasi saat bercerita sangat ramah, mudah dipahami & runut.

Banyak pelajaran yg saya petik dari beliau, salah satunya, untuk merubah sebuah kampung jadi lebih baik, membutuhkan tahapan tahapan yg harus dilewati. Saya terus mengangguk & memastikan alat rekam di handphone saya bekerja sesuai tugasnya. Menangkap setiap mengatakan yg dilontarkan Bapak Guru.

Sehingganya di Kampung Anggur yg merupakan akronim dari Anggota Masyarakat Gemar Bersyukur kami langsung disambut para tokoh & pengurus Kampung Anggur. Sambil menyeruput teh hangat yg disediakan, Bapak Guru kembali melanjutkan, nasehat dalam membangun sebuah lingkungan.

Sesekali membetulkan letak blangkonnya, beliau mengingatkan untuk membangun sebuah kampung, harus bedasarkan potensi di lingkungan tersebut, mungkin potensinya di lingkungan hidup, UMKM, pendidikan, kesehatan & lain sebagainya.

Tapi Harus Dikolaborasikan dengan potensi-potensi yg lain, sebuah rumus awal saya dapatkan dari beliau. Dalam membangun kampung, bukan cuma membangun lingkungan tok, membangun kampung adalah membangun manusia seutuhnya, pendidikan, kesehatan, tenaga kerja.

Pertama, dengan nada tegas, identifikasi potensi & masalah sebuah lingkungan. Kalau kita tahu potensi & masalahnya, setelah itu susunlah cita cita membangun kampung, cita cita ini harus jadi milik warga. Konsultasikan dengan berbagai pihak terkait masalah-masalah yg ada di lingkungan. Kolaborasikan, kerjasamakan dengan berbagai stakeholder baik pemerintah kota, perguruan tinggi, media massa bahkan hingga TNI Polri.

Setelah itu semua dilakukan, merubah mindset warga, begitu beliau menjelaskan. Setelah itu, kampung harus masuk pada tahap, Green Business supaya kampung ini jadi produktif & berdikari tergantung dari potensi. Semua proses membangun kampung harus dipublikasikan, before after. Dulu seperti ini, sekarang dapat begini, tutur Bapak Guru. Tahap terakhir setelah berhasil, adalah reflikasi. Kampung itu harus direflikasikan dengan daerah-daerah lain.

Setelahnya baru kemudian dibentuk sebuah lembaga. Bisa berupa Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), koperasi, kelompok tani untuk menjamin keberlanjutan kampung. RT & RW mungkin dapat berganti, namun konsep kampungnya harus tetap abadi dari generasi ke generasi,. Duar... penulis merasa terperangah dengan penjelasan Bapak Guru yg sangat gamblang.

Di akhir, pebincangan, beliau berpesan, sebuah kampung harus mempunyai nilai-nilai edukasi. Orang datang mendapat ilmu, bukan cuma sekedar selfie-selfie saja. Maka semua kampung tematik, harus bernilai edukasi,. Panjang umur Bapak Guru, panjang umur untuk hal hal baik. Dari kampung untuk negeri.

Tangerang, 15 Sep. 21

Penulis : Maulana Yusuf

Hari ini 06:31
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.