Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Quote:
gambar
Iya benar! Kalau cuma WhatsApp tang hilang dari peredaran, yg kemudian kita wajib meninggalkannya, masalahnya ada dimana? Ada berpuluh-puluh bahkan ratusan mungkin aplikasi komunikasi yg dapat dipakai.
Masalahanya cuma karena hampir semua orang sekarang mengpakai WA, termasuk atasan & instansi kita. Di sinilah letak masalahnya.
Seingat saya, sebelum tahun 2015 pernah suatu kali saya dibuat mangkel-jengkel yg kelewat batas.
Ceritanya kan pada saat itu komunikasi mengpakai WA masih belum membumi seperti sekarang. Hanya beberapa kecil orang mengpakai aplikasi ini.
Karena mendesak akhirnya saya diminta datang ke Dinas untuk menyelesaikan urusan katanya. Setelah hingga di sana, padahal perjalanan yg ditempuh mengpakai motor tidak kurang dari 3 jam pilang pergi. Jika jalan yg dilewati mulus beraspal dapat melaju sambil tertawa. Setidaknya sambil tersenyum.
Sehingganya di sana ternyata cuma diminta mengambil pengumuman. Masya Allah! Saya cuma mengurut dada. Padahal beberapa kali saya sudah meminta supaya mengpakai aplikasi WA dalam mengirim pesan & file. Tak digubris sama sekali. Katanya, silaturrahmi lebih penting. Toh nyatanya sekarang, apa saja kalau masih dikirim lewat WA tetap diminta mengirim juga.
Baru tahun 2016 ke atas, mulailah para pekabat dinas, entah dapat instruksi dari mana. Semua pegawai harus memasang aplikasi WA. Semenjak itulah bagia jamur di musim hujan. Para pegawai yg mulanya aktif dengan bbm harus pindah aplikasi.
Android yg tidak mendukung aplikasi WA disingkirkan. Berganti dengan android baru. Maka jadilah orang-orang pada kemaruk aplikasi baru ini. Yang mulanya nelppn dengan seluler biayanya mahal perlahan-lahan ditinggalkan. Bisa mengpakai fitur video pula. Lengkaplah!
Maka semenjak itu, berbondong-bondonglah komunitas memaksa anggotanya memasang aplikasi WA, katanya supaya informasi lebih cepat tanpa ribet. Grup-grup WA pun tumbuh menjamur. Hingga ada beberapa rekan yg terpaksa ganti android lagi yg baru. Katanya android lama tak sanggup memuat banyak grup.
Dengan begitu, komunikasi secara biasa berpindah mengpakai aplikasi WA. Saya pikir bukan kelebihan & kecanggihannya yg menarik. Melainkan karena dipakai banyak orang. Hingga akhirnya mau tidak mau untuk berkomunikasi kita harus mengpakai aplikasi ini.
Padahal banyak aplikasi lain yg juga tak kalah menarik & mudah dipakai. Seperti, imo, kaizala, telegram, bip, wechat, dll. Semua bagus dipakai untuk berkomunikasi.
Sebenarnya kuncinya ada pada Pejabat yg membawahi karyawannya. Jika meminta supaya karyawannya mengpakai aplikasi selain WA pasti akan dituruti. Dan lambat laun mereka akan terbiasa dengan aplikasi tersebut.
Semakin banyak orang yg meninggalkan aplikasi WA, & beralih ke salah satu aplikasi komunikasi lain lambat laun WA akan ditinggalkan.
Jadi biar pun tak ada WA, tetap bia berkomunikasi seperti biasa. Yang tidak biasa itu adalah ketika jaringan internet tidak ada baru macet komunikasi. Atau tidak ada kuota, kiamatlah komunikasi antar kita. Ha ha ha...
Hari ini 14:24
Iya benar! Kalau cuma WhatsApp tang hilang dari peredaran, yg kemudian kita wajib meninggalkannya, masalahnya ada dimana? Ada berpuluh-puluh bahkan ratusan mungkin aplikasi komunikasi yg dapat dipakai.
Masalahanya cuma karena hampir semua orang sekarang mengpakai WA, termasuk atasan & instansi kita. Di sinilah letak masalahnya.
Seingat saya, sebelum tahun 2015 pernah suatu kali saya dibuat mangkel-jengkel yg kelewat batas.
Ceritanya kan pada saat itu komunikasi mengpakai WA masih belum membumi seperti sekarang. Hanya beberapa kecil orang mengpakai aplikasi ini.
Karena mendesak akhirnya saya diminta datang ke Dinas untuk menyelesaikan urusan katanya. Setelah hingga di sana, padahal perjalanan yg ditempuh mengpakai motor tidak kurang dari 3 jam pilang pergi. Jika jalan yg dilewati mulus beraspal dapat melaju sambil tertawa. Setidaknya sambil tersenyum.
Sehingganya di sana ternyata cuma diminta mengambil pengumuman. Masya Allah! Saya cuma mengurut dada. Padahal beberapa kali saya sudah meminta supaya mengpakai aplikasi WA dalam mengirim pesan & file. Tak digubris sama sekali. Katanya, silaturrahmi lebih penting. Toh nyatanya sekarang, apa saja kalau masih dikirim lewat WA tetap diminta mengirim juga.
Baru tahun 2016 ke atas, mulailah para pekabat dinas, entah dapat instruksi dari mana. Semua pegawai harus memasang aplikasi WA. Semenjak itulah bagia jamur di musim hujan. Para pegawai yg mulanya aktif dengan bbm harus pindah aplikasi.
Android yg tidak mendukung aplikasi WA disingkirkan. Berganti dengan android baru. Maka jadilah orang-orang pada kemaruk aplikasi baru ini. Yang mulanya nelppn dengan seluler biayanya mahal perlahan-lahan ditinggalkan. Bisa mengpakai fitur video pula. Lengkaplah!
Maka semenjak itu, berbondong-bondonglah komunitas memaksa anggotanya memasang aplikasi WA, katanya supaya informasi lebih cepat tanpa ribet. Grup-grup WA pun tumbuh menjamur. Hingga ada beberapa rekan yg terpaksa ganti android lagi yg baru. Katanya android lama tak sanggup memuat banyak grup.
Dengan begitu, komunikasi secara biasa berpindah mengpakai aplikasi WA. Saya pikir bukan kelebihan & kecanggihannya yg menarik. Melainkan karena dipakai banyak orang. Hingga akhirnya mau tidak mau untuk berkomunikasi kita harus mengpakai aplikasi ini.
Padahal banyak aplikasi lain yg juga tak kalah menarik & mudah dipakai. Seperti, imo, kaizala, telegram, bip, wechat, dll. Semua bagus dipakai untuk berkomunikasi.
Sebenarnya kuncinya ada pada Pejabat yg membawahi karyawannya. Jika meminta supaya karyawannya mengpakai aplikasi selain WA pasti akan dituruti. Dan lambat laun mereka akan terbiasa dengan aplikasi tersebut.
Semakin banyak orang yg meninggalkan aplikasi WA, & beralih ke salah satu aplikasi komunikasi lain lambat laun WA akan ditinggalkan.
Jadi biar pun tak ada WA, tetap bia berkomunikasi seperti biasa. Yang tidak biasa itu adalah ketika jaringan internet tidak ada baru macet komunikasi. Atau tidak ada kuota, kiamatlah komunikasi antar kita. Ha ha ha...
Hari ini 14:24