Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Memahami Teologi Agama Lokal
Engkus Ruswana
Kabar Damai | Kamis, 24 Maret 2022
Jakarta I Kabardamai.id IDalam bincang series ketiga dalam kanal Suara Setara, Engkus Ruswana, Penghayat Kepercayaan menyampaikan topik tentang teologi agama lokal. Series ini sekaligus jadi bagian terakhir setelah sebelumnya dibahas tentang mengenal penghayat kepercayaan & juga pola pendidikan bagi penghayat kepercayaan.
Diawal pemaparannya, dalam aspek teologi & sisi terminologi, Engkus menyatakan bahwa penyebutan yg lebih nyaman yg sebaiknya disematkan kepada kelompoknya ialah Kepercayaan Terhadap Tuhan yg Maha Esa atau disingkat kepercayaan. Tidak disebut aliran, sedangkan komunitas atau pemeluknya disebut penghayat kepercayaan. Hal itu juga tertuang dalam UU Perundang-Undangan
Menurutnya, penyebutan aliran konotasi lebih memojokkan, seolah-olah ada induk agama & terpecah ada aliran-aliran. Sehingga ada kepentingan politis yg nantinya dapat menyebabkan perintah kembali kepada induknya seperti yg pernah dilakukan oleh Menteri Agama pada tahun 1978 lalu. Ini juga turut didukung dengan Direktorat yg dibentuk juga bernama Direktorat Kepercayaan Kepada Tuhan yg Maha Esa, bukan Direktorat Aliran Kepercayaan.
Penghargaan Terhadap Alam & Sesama Manusia
Penghayat kepercayaan sangat menjunjung tinggi alam dalam hidupnya. Menanggapi hal tersebut, Engkus mengungkapkan bahwa hal ini berangkat dari asal-usul diri sehingga ada penghargaan kepada leluhur. Hal ini didukung pula kemudian melalui adanya kajian tentang asal-usul raga yg berasal dari empat unsur sehingga kemudian sumbernya jadi unsur alam semesta. Alam semesta itu harus dijaga karena keberadaan kita yg ada disana & akan kembali kesana pula.
Kita harus merawat alam, karena alam juga merawat kita. Karena itu antara kita & alam tidak dapat dipisahkan, ungkapnya.
Implemetasi dari aspek diatas dituangkanlah dalam bentuk upacara-upacara adat, lagu-lagu spiritual yg terkait dalam alam. Implementasi misal dalam suatu aktivitas seperti menanam padi misalnya dilakukan upacara-upacara, itulah bentuk penghormatan kepada alam.
Kemudian, antara semua manusia berasal dari hal yg sama, empat unsur seperti yg sudah disebutkan sebelumnya. Hal ini berarti semua berasal dari unsur yg sama sehingga juga harus bersama-sama juga untuk merawat alam.
Ditengah terus menurunya kuantitas penghayat kini & kaitannya dengan bagaimana penghayat melihat agama lain. Engkus menanggapi bahwa dalam penghayat, melihat kepercayaan yg lain secara inti juga sama. Ajaran mestinya sama, yg menyebabkan disparitas ialah budaya hingga alam yg berbeda.Penghayatsangat menghargai alam karena pencerahan bahwa hidup ditopang oleh alam selain Tuhan.
Penghayat tidak pernah pula menganggap agama lain sebagai sesuatu yg berbeda, menyimpang sehingga dianggap sebagai ancaman. Hal ini juga terbukti saat agama-agama dari luar masuk maka diterima dengan baik & bahkan didukung.
Maka, salah satu inti ajaran dari kepercayaan ialah memandang diri orang lain sebagaimana kita memandang diri sendiri, tuturnya.
Penghayat hingga kini juga jadi kelompok yg terbuka, kelompok ini bahkan membebaskan anak-anaknya yg apabila harap memeluk agama tertentu & juga menikah sesuai dengan pilihannya. Ditanya soal tanggapannya soal kekhawatiran ditengah terus menurunnya kuantitas penghayat kini, Engkus mengungkapkan wajar kalau ada kekhawatiran. Namun berdasarkan pengalaman dari tingginya stigma, marjinalisasi & sebagainya masih banyak yg bertahan yg menciptakan ia yakin bahwa siklus terus terjadi.
Lebih jauh, Engkus juga menjelaskan bahwa jauh sebelum Hindu-Budha atau agama-agama masuk ke nusantara, leluhur kita sudah memiliki sistim keyakinan atau agama yg tidak lebih rendah daripada agama dari luar, ini tercermin dari perilaku, pola ajaran budi pekerti yg dituntun & diturunkan.
Kita harus belajar dari perilaku leluhur yg harmoni secara perilaku & daman tidak suka berkonflik. Sehingga, kalau ada disparitas berusaha untuk diharmonikan sehingga ada akulturasi. Leluhur kita sudah menerapkan konsep baik dari dulu, pungkasnya.
Penulis: Rio Pratama
https://kabardamai.id/memahami-teolo...i-agama-lokal/ Hari ini 05:57
Engkus Ruswana
Kabar Damai | Kamis, 24 Maret 2022
Jakarta I Kabardamai.id IDalam bincang series ketiga dalam kanal Suara Setara, Engkus Ruswana, Penghayat Kepercayaan menyampaikan topik tentang teologi agama lokal. Series ini sekaligus jadi bagian terakhir setelah sebelumnya dibahas tentang mengenal penghayat kepercayaan & juga pola pendidikan bagi penghayat kepercayaan.
Diawal pemaparannya, dalam aspek teologi & sisi terminologi, Engkus menyatakan bahwa penyebutan yg lebih nyaman yg sebaiknya disematkan kepada kelompoknya ialah Kepercayaan Terhadap Tuhan yg Maha Esa atau disingkat kepercayaan. Tidak disebut aliran, sedangkan komunitas atau pemeluknya disebut penghayat kepercayaan. Hal itu juga tertuang dalam UU Perundang-Undangan
Menurutnya, penyebutan aliran konotasi lebih memojokkan, seolah-olah ada induk agama & terpecah ada aliran-aliran. Sehingga ada kepentingan politis yg nantinya dapat menyebabkan perintah kembali kepada induknya seperti yg pernah dilakukan oleh Menteri Agama pada tahun 1978 lalu. Ini juga turut didukung dengan Direktorat yg dibentuk juga bernama Direktorat Kepercayaan Kepada Tuhan yg Maha Esa, bukan Direktorat Aliran Kepercayaan.
Penghargaan Terhadap Alam & Sesama Manusia
Penghayat kepercayaan sangat menjunjung tinggi alam dalam hidupnya. Menanggapi hal tersebut, Engkus mengungkapkan bahwa hal ini berangkat dari asal-usul diri sehingga ada penghargaan kepada leluhur. Hal ini didukung pula kemudian melalui adanya kajian tentang asal-usul raga yg berasal dari empat unsur sehingga kemudian sumbernya jadi unsur alam semesta. Alam semesta itu harus dijaga karena keberadaan kita yg ada disana & akan kembali kesana pula.
Kita harus merawat alam, karena alam juga merawat kita. Karena itu antara kita & alam tidak dapat dipisahkan, ungkapnya.
Implemetasi dari aspek diatas dituangkanlah dalam bentuk upacara-upacara adat, lagu-lagu spiritual yg terkait dalam alam. Implementasi misal dalam suatu aktivitas seperti menanam padi misalnya dilakukan upacara-upacara, itulah bentuk penghormatan kepada alam.
Kemudian, antara semua manusia berasal dari hal yg sama, empat unsur seperti yg sudah disebutkan sebelumnya. Hal ini berarti semua berasal dari unsur yg sama sehingga juga harus bersama-sama juga untuk merawat alam.
Ditengah terus menurunya kuantitas penghayat kini & kaitannya dengan bagaimana penghayat melihat agama lain. Engkus menanggapi bahwa dalam penghayat, melihat kepercayaan yg lain secara inti juga sama. Ajaran mestinya sama, yg menyebabkan disparitas ialah budaya hingga alam yg berbeda.Penghayatsangat menghargai alam karena pencerahan bahwa hidup ditopang oleh alam selain Tuhan.
Penghayat tidak pernah pula menganggap agama lain sebagai sesuatu yg berbeda, menyimpang sehingga dianggap sebagai ancaman. Hal ini juga terbukti saat agama-agama dari luar masuk maka diterima dengan baik & bahkan didukung.
Maka, salah satu inti ajaran dari kepercayaan ialah memandang diri orang lain sebagaimana kita memandang diri sendiri, tuturnya.
Penghayat hingga kini juga jadi kelompok yg terbuka, kelompok ini bahkan membebaskan anak-anaknya yg apabila harap memeluk agama tertentu & juga menikah sesuai dengan pilihannya. Ditanya soal tanggapannya soal kekhawatiran ditengah terus menurunnya kuantitas penghayat kini, Engkus mengungkapkan wajar kalau ada kekhawatiran. Namun berdasarkan pengalaman dari tingginya stigma, marjinalisasi & sebagainya masih banyak yg bertahan yg menciptakan ia yakin bahwa siklus terus terjadi.
Lebih jauh, Engkus juga menjelaskan bahwa jauh sebelum Hindu-Budha atau agama-agama masuk ke nusantara, leluhur kita sudah memiliki sistim keyakinan atau agama yg tidak lebih rendah daripada agama dari luar, ini tercermin dari perilaku, pola ajaran budi pekerti yg dituntun & diturunkan.
Kita harus belajar dari perilaku leluhur yg harmoni secara perilaku & daman tidak suka berkonflik. Sehingga, kalau ada disparitas berusaha untuk diharmonikan sehingga ada akulturasi. Leluhur kita sudah menerapkan konsep baik dari dulu, pungkasnya.
Penulis: Rio Pratama
https://kabardamai.id/memahami-teolo...i-agama-lokal/ Hari ini 05:57